
Arfa dan Yeol sedang berada di sebuah restorant. Keduanya berdebat pasal penangkapan SH.
"Dia itu menolongku. Aku bukan diculik oleh pria itu. Yang menculikku itu......," ia tampak berpikir. "Joon Yeong. Entah. Itu sepertinya. Intinya...."
"APA?!" Yeol terbelalak. Ia sampai memajukan wajahnya untuk lebih dekat lagi. "Mae Joon Yeong maksudmu?"
"Mana ku tau. Dia saja tidak memperkenalkan diri,"
Yeol menjitak kepalanya cukup keras. "Mana ada penculik memperkenalkan diri,"
Arfa mengelus keningnya yang sakit. Lalu berdecak kesal. "Memang kau kenal dengan orang bernama Joon Yeong itu?"
"Emmm...," lelaki itu tampak berpikir. Tak menghiraukan pertanyaan Arfa. "Berarti yang ditangkap tadi..... Ya Tuhan. Bisa dipenggal habis aku,"
"Yeol. Kau mengenalnya?" Arfa menggoyang-goyangkan tangan lelaki itu yang ada di atas meja. "Yeol. Siapa dia? Siapa pria yang ditangkap itu? Siapa yang menolongku?"
"Apa dia memperkenalkan diri?"
"Kalau dia memperkenalkan diri pastinya dia tidak akan menutupi wajahnya. Aku pun tak akan bertanya padamu,"
"Itu tandanya dia tidak ingin kau tau,"
Arfa mengerutkan kening. "Mengapa? Apa salahnya aku tau?"
"Emmm..... mungkin dia takut dicintai olehmu,"
TAK !!!
Arfa menjitak dahi Yeol lebih keras. Membalas dendam saat ada kesempatan. "Kau kira aku semudah itu mencintai orang. Lagipun kenapa harus takut dengan cintaku?"
"Karena kau sadis,"
"Hey!!" lelaki itu berdiri dan menjauh saat Arfa akan melempar vas bunga di atas meja ke arahnya.
"Itu sadismu keluar," Arfa meletakkan vas dengan kasar. "Sudahlah. Aku akan memesankan makanan. Kau belum makan, kan?"
"Eh. Urus dulu orang yang salah ditangkap itu,"
"Dia bisa mengurus diri. Kau harus makan. Tunggu sebentar!"
Arfa diam saat tubuh lelaki itu telah menghilang. Ia jadi mengingat coklat yang tadi dibeli si serba hitam. Arfa bahkan hanya memakan setengah bar. Dan semua makanannya tertinggal di mobil hitam tadi.
Eh.
Sepertinya mobil tadi mirip kepunyaan Shi Ah. Kalaupun sama kenapa dipakai lelaki itu. Atau memang hanya mirip saja. Ya. Pabrik tak meluncurkan hanya satu. Seharusnya tadi ia mencatat nomor platnya supaya dapat ia lacak.
Disisi lain, Yeol baru sampai di meja pemesanan. Ia membeli beberapa jenis makanan yang tidak terlalu berat dan juga dua minuman menyegarkan.
Setelah selesai, ia membawa nampan berisi pesanannya menuju meja. Meletakkan di atas benda berbentuk lingkaran itu lalu mengedarkan pandangan. Ia tak bisa menemukan keberadaan Arfa.
Matanya tertarik pada secarik kertas hijau yang terletak di atas kursi Arfa. Tinta berwarna abu-abu itu menuliskan
Tak semudah itu kami akan menyerah
Cheonsa.
❄❄❄
Ini adalah kedua kalinya Arfa diculik. Ia terikat tali dan tergeletak di sebuah gudang. Seperti yang terjadi sebelumnya, ia sadar dan seorang pria datang. Di belakang pria itu, terdapat beberapa pengawal.
"Selamat datang kembali nona Arfa," ujar pria itu
"Kau lagi?"
"Kenapa? Kau rindu padaku?"
"Chih," Arfa memalingkan wajah dan lelaki itu terkekeh pelan. Sungguh wajah Arfa akan terlihat lebih menggemaskan saat kesal.
"Aku hanya ingin bertemu kekasihku," seseorang yang berjalan pincang itu mendekatinya dan berlutut tepat di depannya. Posisi Arfa sekarang bukan diatas kasur empuk atau pahatan kayu. Langsung menempel pada lantai. Untung gudang rumah ini tak begitu kumuh. "Kau benar-benar cantik. Sungguh sangat cantik," ujar pria itu.
"Berhenti membual! Aku bukan kekasihmu,"
"Emm. Calon kekasihku, bagaimana ? Aku akan membereskan semuanya, baby. Setelah itu kita mulai berkencan,"
"Chih. Aku tidak mau,"
"Meski setelah ini," tangan lelaki itu meminta sesuatu pada seseorang di belakangnya. Arfa hanya bisa mengerutkan kening.
Ia tau setelah apa yang ditunjukkan lelaki itu dengan sebuah ipad di tangannya. Sebuah video menayangkan aksi lempar-lempar pisau ke arah seorang lelaki. Tangannya tergantung dengan rantai di kedua sisi. Posisinya berdiri dan terlihat jelas jika ia kelelahan.
Arfa tau itu siapa. Meski kini tak ada jaket hitam yang terbalut. Tak ada topi yang menutupi kepalanya dan wajah yang menunduk. Tunggu. Meski tak menunduk pun ia tak akan tau dengan melihat wajahnya. Sepertinya ia tak memakai maskernya.
Itu.... si serba hitam. Penyelamat dalam kasus penculikan dan mungkin juga penyelamatnya saat kebakaran waktu itu. Arfa masih berpikir begitu.
"Lihatlah! Setelah ini aku akan memusnahkan dia,"
"Tidak. Jangan!" gadis ini memandang wajah pria itu penuh harap. "Kau hanya menginginkanku. Lepaskan dia!"
"Bukankah aku sudah katakan sebelumnya. Kau hanya umpan. Umpan baginya. Aku menginginkan dia datang ke sini,"
"Kalau begitu..... kenapa tidak melepasku?!"
"Lagipula, sekarang kau bukan hanya sebuah umpan. Kau sasaran. Bukankah kita akan berkencan nanti?"
Lelaki ini berdiri. Membersihkan beberapa debu yang menempel pada kemejanya. "Sepertinya kau perlu tau nama pacarmu ya Arfalia. Aku, Mae Joon Yeong,"
"Lepaskan dia! Kumohon,"
"Kau harus tau, baby. Aku tipe orang pencemburu. Dia menyukaimu. Dan aku membencinya," ia menggunakan nada sok kesal. "Jadi, aku harus menyingkirkannya,"
"Hey!!" teriak Arfa saat lelaki itu akan pergi. Memangnya dia psikopat? "Woy! Keparat! Sialan! Berhenti kau!"
"Terimakasih pujiannya, baby. Aku akan cepat kembali. I love you,"
BRAK !!!
Pintu dibanting. Chih. Cinta macam apa yang membiarkannya terkurung disini. Bukan ia menuntut cinta yang di utarakan. Tapi, lelaki itu terus saja membual.
Ah. Bukan itu yang harus ia pikirkan. Masalahnya ia wajib menolong si penyelamatnya. Tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Ia melihat sekeliling. Mencari sebuah benda yang mungkin bisa membantunya. Dan mata itu tertuju pada benda yang berada tak lebih dari satu meter di belakangnya. Zat hidrogen dan clorida(HCl), air api. Atau lebih dikenal dengan air keras.
Arfa tampak ragu. Ia kembali mengedarkan pandangan. Mencari sesuatu yang lain. Namun nyatanya tidak ada. Matanya kembali pada botol kaca bening itu.
Baiklah. Lelaki itu telah menyelamatkannya dan ia harus membalas budi. Perlahan ia memundurkan badan mendekati botol itu. Ia menghembuskan napas berat kemudian membuka tutup botolnya.
Sedikit. Hanya sedikit yang ia tuang tapi berhasil menghancurkan tali yang mengikat tangannya. Beberapa mengalir pada telapak kirinya dan sedikit mengenai pergelangan yang kanan. Meski begitu, cukup panas. Ia sampai berdiri tanpa memperdulikan ikatan pada kaki lalu menjauh dari botol itu sambil meniup-niup tangannya.
Berhenti. Ia teringat akan tujuan awal. Segera ikatan di kaki ia lepas sebelum akhirnya mengambil besi panjang entah apa itu di pojok ruangan. Sepertinya sisa-sisa meja. Situasi yang mendukung.
Ia berpikir cepat. Rasa perih di tangan memang harus diabaikan untuk sementara.
"Aaaa....!!!," teriaknya sekencang-kencangnya.
Para penjaga di luar langsung membuka pintu sesuai rencana. Dan......
BRUK!!!
Yang paling depan terjatuh dalam sekali pukul. Ternyata tangannya tidak begitu rusak. Yang satunya lagi langsung mengambil tindakan cepat. Ah. Tapi, kecepatan bukanlah segalanya.
Arfa menjatuhkan besi berat itu. Oh tidak. Melempar besi itu tepat pada kaki bersepatu sang penjaga kedua. Ia mengaduh kesakitan. Saat inilah kecepatan yang di utamakan.
Arfa menendang keras ******** lelaki ini. Lalu memukul kepalanya berulang kali dan diakhiri dengan tinjuan asal yang sangat keras di area perut. Lelaki itu terjatuh dan tak sadarkan diri setelah menabrak tembok karena tidak menjaga keseimbangan.
Arfa tak mengerti bela diri. Hanya tinju tendang pukul yang ia tau. Dan berbahan tekad ia berhasil dengan teknik asalnya.
Gadis ini mengambil sebuah pistol dari salah satu saku mereka. Untuk berjaga-jaga. Kalau yang ini ia sudah bisa mengunakannya meski belum mahir. Di ceknya isi peluru dan untungnya masih full.
Segera saja ia keluar dari ruangan kecil ini. Berjalan mengendap. Bersembunyi jika ada penjaga yang lewat. Hingga tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Membawanya merapat pada tembok di sebuah lorong kecil.
❄❄❄
Ini adalah kesekian kalinya SH disiram air es pada tengah malam begini. Serta untuk yang kesekian kalinya pula ia dihantam oleh pisau tajam meski hanya tergores.
Permusuhan. Persaingan. Hanya berdasarkan itu mereka menjadi musuh yang sangat besar. Antara Tiger dan Fire memang telah bertakdir berperang dari awal.
"Katakan! Dimana markas itu?!!" teriak Joon Yeong mendominasi suara di gedung serbaguna yang tak pernah terpakai ini. Lelaki di depannya masih tak bergeming.
"PIMPINAN FIRE!!! KATAKAN!!," masih tak ada reaksi. Joon Yeong melempar pisau di tangannya. Tepat menggores pelipis sasaran.
"Aku mencintai fire. Dan akan selalu begitu," ia memandang tepat ke manik mata di hadapannya itu.
Fire harus hancur. Dan itu yang diinginkan Tiger terutama pimpinan mereka, Mae Joon Yeong. Secara pribadi, ia sangat membenci fire.
Hantaman belasan pisau kembali menghujani. Mereka tak ingin membunuh. Hanya menyiksa. Menggores luka yang terasa sangat perih. Menyiram air es asin yang menambah keperihannya.
"Percuma kau begini," ucap SH pelan namun masih dapat didengar. "Kau tidak lebih dari anjing yang memohon makan,"
"Siksa dia terus. Sampai ia memohon padaku," titah sang pimpinan Tiger.
DOR!!!
Semua mata langsung teralih pada asal suara. Hanya ada 3 orang ditambah Joon Yeong dan SH disini. Lelaki ini langsung menyuruh dua bawahannya untuk mengecek.
Ditunggu. Dua orang itu tak kembali. Joon Yeong memilih mengecek sendiri dan satu bodyguard menjaga SH.
Lelaki itu berjalan mendekati rak-rak buku disampingnya sebagai tempat sumber suara tembakan tadi. Para penjaganya tadi masuk sini tapi tak kembali. Tiba-tiba....
BRAK !!!
Tubuhnya terpental jatuh. Sang bodyguard yang tinggal sendiri di balik tubuh SH sangat terkejut. Ia tak bisa mengalihkan pandangan dan hal itu membuatnya was-was.
Beberapa menit kemudian.....
BRAK !!!
Tubuh penjaga di belakang tubuh SH terjatuh tepat di sampingnya. Ia terkejut saat seseorang memasukkan sebuah potongan jepit pada lubang kunci dari rantainya. SH tak berani menoleh karena ia bisa tau itu siapa dari melihat tangan mulusnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang itu sambil membuka rantai yang satunya dengan penjepit rambut kecil. Akhirnya terlepas semua. Dirinya langsung beralih ke hadapan SH
Ia menangkup lalu mengangkat wajah pria itu agar paham seberapa parah lukanya. Sedetik kemudian, ia langsung melepasnya. Matanya terbelalak kaget.