You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
42. Penjemput



Matanya terpejam dengan headset yang tertancap pas di telinganya. Punggungnya bersandar pada kursi tunggu. Pesawat yang akan membawanya kini sedang transit sebentar ke Singapore. Entah apa yang dilakukan. Ia tak begitu peduli.


Sebuah notif masuk. Ah. Iya. Dia lupa membuka mode pesawat pada handphonenya. Matanya membuka namun kepalanya tak ingin bangkit. Handphone yang ia angkat. Sebuah pesan dari kakaknya.


Kakak ada pekerjaan penting. Jadi, kamu menginaplah di rumah kenalan kakak. Dia yang akan menjemputmu.


Arfa mengernyit. Tubuhnya kini tak lagi bersandar pada kursi tunggu bandara. Ia membuka kolom balasan untuk memulai chattingan dengan kakaknya.


^^^Ini nomor siapa? Dan ada urusan apa? Bagaimana Cheon Gi?^^^


Beberapa menit kemudian balasan masuk.


Ini nomor teman kakak. Jika ada apa-apa telepon saja disini. Jangan di yang lainnya!


Cheon Gi baik-baik saja bersama kak Zahra. Dia akan menginap beberapa hari di sana. Nanti jika urusan kakak selesai, kakak akan menjemputmu.


Jaga diri baik-baik


Arfa memanyunkan bibir. Kalau begini lebih baik dia tidak pulang ke Korea. Tinggal bersama neneknya lebih enak. Tapi, misi itu.... huh. Kini dia bukan lagi Arfa. Dia Veronica. Lagipula acara sekolahnya sebentar lagi. Sudah lama ia tidak kembali ke melihat blackfire.


"Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Incheon, South korean please boarding from door A12, Thank you."


Arfa tidak sempat membalas lagi. Ya. Mungkin sudah cukup tanpa balasan. Ia melepas headset dan memasukkannya ke dalam tas kecil. Langkahnya mengintruksi menuju pintu yang dimaksud. Ia tak ingin ketinggalan pesawat pastinya.


Penerbangan berlangsung kurang lebih 6 jam 40 menit. Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Incheon. Sungguh. Selama penerbangan Arfa sangat tegang. Bukan karena ia takut ketinggian atau trauma naik pesawat. Tapi, ia teringat kata-kata Sheilla. Korea sudah tak aman. Dan juga ia sekarang sendiri.


Itu akan baik jika ia belum mengetahui jatidirinya yang sebenarnya. Tapi kini berbeda. Veronica punya banyak musuh. Bukan berarti di kehidupanya ia jahat. Tapi karena ia adalah putri mahkota dari kerajaan tertinggi di Smart World.


Ia tak memiliki banyak barang bawaan. Hanya tas kecil yang sedang menggantung melewati bahunya. Ya. Untuk apa bawa barang banyak saat ia ke pemakaman temannya. Huh. Arfa jadi teringat kembali tentang Anna. Sudah sudah.


Ia masih berkeliling di sekitar bandara. Siapa sih kenalan kakaknya itu? Tidak ada yang melambaikan tangan padanya apalagi memasang papan bertulis jemputan untuk Arfalia. Huh.


Gadis ini memilih duduk sejenak di kursi bandara. Meregangkan otot-ototnya yang mulai kaku. Terlalu lama berkeliling. Ahhh. Sudahlah. Ia tak ingin mencari. Biar orang itu yang kesusahan mencarinya.


"Lama sekali kau ini," ucap seorang pria yang duduk di samping Arfa. Entahlah. Ia tak menghiraukan. Masih untung orang yang di jemput pria itu datang. Lah dia. Bahkan siapa yang menjemput saja tidak tau. "Ayo!"


Ah. Ia benar-benar lelah. Dalam hati dia terus berdoa semoga sang penjemput cepat menghampiri. Ia juga berharap di rumah orang itu ada air hangat. Sungguh ia ingin berendam.


"Arfa?"


Ia juga lapar sekarang. Kalau di hitung-hitung sekarang waktunya ia makan. Bahkan tadi di rumah oma ia hanya memakan cemilan keripik singkong karena terburu-buru. Ia juga terlalu kalut untuk membeli di pesawat. Pikirannya tadi hanya tertuju pada kata-kata Sheilla. Ah. Buktinya sekarang tidak ada apa-apa.


"Arfa!"


Oh. Ya Tuhan. Kapan penjemput itu menghampirinya? Bagaimana jika para penjahat mulai mendekat lalu menculik? Oh. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.


"Kau masih mau tidur?" ngomong-ngomong kenapa orang yang dijemput pria itu menyusahkan sih? Menganggu masa merenung Arfa.


"HEY! PUNYA TELINGA TIDAK?!" Arfa langsung bangkit. Menggosok-gosokkan telinganya. Tiba-tiba saja seseorang berteriak di telinganya. Ia mengepalkan tangan. Meniupkan angin disana lalu meletakkannya di dekat lubang telinga.


"Eh. Bisa pellllaa- Eun Jae?" kagetnya. Bahkan tangan yang sedari tadi mengobati telinga dengan cara tradisional terhenti begitu saja.


"Ya. Ini aku. Bisa-bisanya ya kau buat aku menunggu lama. Setelah itu masih sempat tidur lagi?"


"Ya... mana ku tau kau ada disini. Lagipula kenapa kau menungguku?"


"Aku disuruh menjemput manusia aneh sepertimu disini. Kalau bukan karena kak Angel aku mana mau,"


"Ohhh. Jadi kau penjemputnya?" tangan Arfa sudah berkacak pinggang. "Kenapa tidak menungguku di pintu keluar? Aku mencari kemana-mana,"


"Kenapa aku harus menunggumu? Bukan orang penting juga,"


"Hey. Aku kesana kemari mencarimu. Capek tau,"


"Maaf. Tolong jangan buat keributan disini!" seorang ahjumma menghampiri mereka. "Kalau saling rindu jangan gengsi. Silahkan pulang! Jangan buat keramaian disini!"


"Eh. Ini ada kesalahpahaman. Kit-,"


"Maafkan kami, nyonya. Kami akan pulang sekarang," Eun Jae langsung menggeret Arfa keluar dari area bandara. Memasukkan wanita itu ke dalam mobil secara paksa. Ia masih saja mengomel.


"Kalau kau masih menjawab maka adu mulut dengan ibu itu tidak akan selesai," Arfa merengut kesal. Ia mengaku salah tapi tidak bisa begitu saja. Wanita selalu benar.


Eun Jae memasangkan sabuk pengaman padanya. Baru setelah itu ia menutup pintu lalu memutari mobil menuju kemudi. Setelah mesin menyala, mereka keluar dari area bandara.


***


Arfa masih terdiam di depan pagar tinggi rumah Eun Jae. Seperti terasa familier tapi seingatnya ia tak pernah ke rumah lelaki itu. "Mau membeku di luar?" tanya Eun Jae yang mengganjal pintu pagar dengan tubuhnya.


Wanita itu menggeleng. Ia langsung mengikuti Eun Jae yang mulai memasuki rumahnya sendiri. Arfa masih melihat-lihat sekeliling. Masih merasa tak asing.


"Barangmu sudah ku taruh di kamar tamu. Anggap rumah sendiri. Kau boleh masuk semua ruangan kecuali kamarku. Paham?"


Arfa mengikuti arah tunjuk Eun Jae. Sebuah pintu yang lebih menjorok ke dalam. "Untuk apa aku ke kamarmu?" ucap Arfa sinis. "Dimana kamar tamunya?"


Eun Jae menunjuk salah satu pintu. Setelah mendengar kata terimakasih dari Arfa, ia memilih pergi menuju kamarnya. Tanpa berpikir menjawab ucapan gadis tadi.


Arfa geram. Namun mau bagaimana lagi? Ia juga turut masuk ke dalam kamarnya. Oh. Bukan. Kamar tamu rumah Eun Jae. Tangannya memutar engsel pintu dan langsung terpaku pada sebuah koper di samping ranjang. Oh. Ya Tuhan. Ia akan menginap berapa lama memangnya?


Arfa memilih mengecek isi kopernya. Seratus persen yakin kalau yang menyiapkannya adalah kak Angel. Bahkan perlengkapan make up tidak luput. Ah. Satu yang lupa. Disini tidak ada pembalut. Dia sekarang sedang pubertas. Oh. Bahkan persediaan di tas kecilnya juga habis.


Arfa memilih untuk membeli ke supermarket. Harus cepat. Lagipula ia sudah tak sabar untuk berendam di air hangat berteman lilin aroma.


Ah. Iya. Dia juga harus menambahkan lilin aroma ke dalam daftarnya. Malam ini akan menjadi malam menyenangkan. Lagipula tidak akan ada Sheilla yang mengganggu. Tunggu. Arfa harus mengurus perutnya. Cacing disana telah menggeliat menagih jatah.


Ia akan membeli bahan masakan. Ah. Tidak. Itu akan memakan waktu yang lama. Makan roti mungkin cukup. Dan.... beberapa camilan. Malam ini ia juga ingin menonton drama nonstop. Ia tidak boleh terpuruk pada saat-saat seperti ini.


Langkah Arfa terhenti. Aroma lezat menggelitiki hidungnya. Membuat perutnya semakin melilit saja. Kakinya menuntun Arfa untuk menghampiri dapur.


Disana ada seorang lelaki dengan apronnya sedang memasak. Terlihat sangat tampan dengan pandangan yang fokus kepada alat-alat masaknya. Ia memotong beberapa lobak. Memasukkannya bersama dengan isi lain di dalam panci. Lalu ia sibuk lagi pada mie gandum yang sedang di rebus.


Arfa hanya memperhatikan. Tanpa sadar ia malah duduk di salah satu kursi makan. Memperhatikan kegiatan lelaki itu memasak. Ternyata lelaki juga bisa pintar memasak. Aroma daging sapi yang telah matang menggoda selera Arfa.


"Oh. Kau disini? Mau makan juga?" tanya Eun Jae yang tak sengaja menangkap sosok Arfa saat ia akan berbalik menuju rak mengambil mangkuk.


"Emm.... aku akan perg-,"


"Susah sekali mengatakan iya. Kenapa wanita selalu gengsi sih?" ucap Eun Jae sambil menyiapkan makanan untuk mereka. Arfa hanya merengut kesal. Tapi, benar juga sih.


Lelaki itu meletakkan dua mangkuk sup tulang sapi dengan kuah campuran jahe khas Korea. Memang cocok untuk musim dingin seperti ini. Oke. Sudah terlanjur dihidangkan Arfa tidak akan menolak. Tidak akan bisa meski ingin.


Mereka makan dalam diam. Tak ada pembicaraan. Dan memang tak ada yang perlu dibicarakan. Arfa merasa canggung dengan hal seperti ini. Sampai selesai makanpun mereka masih diam.


"Terimakasih makanannya. Masakanmu enak," ucap Arfa. Memang benar masakan Eun Jae sangat enak. Andai saja ia boleh meminta lebih ia sudah meminta. Masih ada ruang dalam perutnya.


"Hmm," ucap lelaki itu lalu meneguk minumannya sampai habis.


Hanya itu? Arfa sudah susah payah membuat suasana canggung hilang malah lawan bicaranya yang ingin mempertahankan suasana tak mengenakkan itu.


Tapi, tunggu dulu. Sepertinya ada yang ganjal. Arfa mulai berpikir. Ia melirik celana yang ia pakai. Sedikit mengangkat pantatnya dari kursi demi melihat noda merah disana.


"AAA!!" Eun Jae langsung menghentikan tangannya yang membersihkan peralatan meja makan. Ia memandang bingung ke Arfa yang berwajah pucat pasi.


...💕💕💕...