You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
14. Apa Ini Kencan???



Eun Jae langsung menoleh menatap istri pimpinan yayasan tersebut. "Kemana dia?,"


"Emm.... ada sebuah masalah. Jadi, ia tidak tinggal bersama kita," Arfa ber oh ria sedangkan Eun Jae mengangguk paham yang tanpa sadar juga memberikan senyum kecil.


"Pasti ia tampan sekarang," ujar Arfa asal. Hanya ingin memecah keheningan sesaat.


Namun tiba-tiba, Eun Jae menyentil dahinya cukup keras. Membuat wanita itu mengaduh kesakitan. "Jangan memuji pria lain!,"


Astaga. Dia masih sempat-sempatnya berdrama.


Arfa mengelus dahinya pelan sambil mengerucutkan bibirnya pelan. Sedangkan Mrs. Kim malah tertawa kecil akibat ulah mereka. Ia memandang lekat wajah Arfa dengan sorot mata penuh kerinduan.


"Sudahlah. Ayo makan!," Mrs. Jang berjalan terlebih dahulu. Menyisakan Arfa dan Eun Jae yang siap mengikuti.


Dengan segera, gadis itu menjitak kepala Eun Jae dengan persendian jari-jemarinya. Membuat yang punya kepala mengaduh pelan. "Balasan. Sakit tau," cibir Arfa kemudian berjalan mengikuti Mrs. Jang terlebih dahulu.


Sedangkan Eun Jae yang ditinggal malah senyum-senyum sendiri sambil mengelus pelipisnya yang dijitak Arfa. Sebelum akhirnya mengikuti langkah dua wanita itu.


"Eonni. Eonni,"panggil Myung Hae yang mendekat sebelum mereka bertiga mencapai meja makan. Arfa menoleh begitupun yang lain juga ikut berhenti melangkah. "Aku ingin menunjukkan sesuatu,"


"Myung Hae. Mereka masih mau makan," tegur Mrs. Jang lembut.


"Eomma. Sebentar aja. Nggak lama kok,"


"Nggak papa kok Mrs. Jang. Aku nggak keberatan,"


"Kan. Sebentar aja, ya. Oppa aku pinjam eonni sebentar," langsung pergi menyeret Arfa setelahnya. Membawanya menuju ke kamarnya.


Mungkin Myung Hae sangat menyukai Thumble Lina, peri kecil yang imut itu, karena entah dinding ataupun peralatan lainnya, mencerminkan kartun barbie tersebut. Arfa saja duduk pada sofa kecil berbentuk bunga.


"Kau menyukai Thumble Lina?,"


"Iya," jawab Myung Hae atas pertanyaan eonninya tanpa menoleh. Ia sedang membuka laci meja belajar. "Thumble Lina itu pintar dan pemberani. Aku suka," ia mendekat. "Ini!," sambil menyodorkan sebuah gelang perak elegant.


"Gelang? Untuk apa?," tanya Arfa bingung


"Untuk dipakailah eonni," gadis cilik itu langsung mengambil pergelangan Arfa dan memasangkannya. "Ini akan membantuku untuk menemukan eonni jika menghilang. Tidak seperti oppa yang susah dicari,"


"Memang oppamu kemana?"


"Dicuri hantu,"


Keduanya lalu terkikik bersama. "Lalu, emang eonni bakal menghilang kemana?,"


"Entah. Kali aja ke bulan," keduanya lagi-lagi tertawa


"Gomawo,"


"Eonni tau. Kata eomma, oppa akan pulang ke rumah tahun depan,"


"Oh ya? Seru dong,"


"Pasti. Nanti eonni harus berkunjung ke rumah ya. Kalian harus kenalan. Eh, tapi....,"


"Kenapa?,"


"Eonni sudah punya pacar ya? "


"Memang kenapa?,"


"Jadi in eonni kakak ipar. Tapi, biarlah! Kalian tampak cocok kok,"


Sepertinya aku harus cepat-cepat keluar dari sini menghentikan dramanya.


"Appa? Masuklah!" ujar Myung Hae saat baru menyadari ayahnya tengah berdiri di ambang pintu.


Lelaki itu menggeleng. "Tidak perlu. Ayo! Eomma mu telah menunggu,"


"Oh iya. Aku lupa," dengan cengiran lebarnya. "Ayo eonni!," ia melangkah keluar diikuti Arfa di belakangnya.


Saat melewati Mr. Jang, tangannya tiba-tiba dicekal


"Arfa," panggil lelaki itu pelan. Myung Hae yang sudah hilang mendahului tak dihiraukannya.


"Iya Mister??,"


"Emm... kata Mrs. Kim kamu dari Indonesia ya?"


"Eh. Iya mister,"


"Alamatnya dimana? Aku juga punya kenalan disana,"


"Jalan Cilandak Tengah 3 No. 48. Saya di Jakarta Selatan Mister,"


"Ohh.—Kenal yang namanya Daniel nggak?,"


"Emm... Daniel siapa ya mister? Saya tidak punya teman bernama Daniel,"


"Oh. Bukan siapa-siapa. Ayo kita makan saja!," lelaki itu berjalan terlebih dahulu. Menyisakan Arfa yang kebingungan.


Gadis ini berjalan perlahan namun tiba-tiba terhenti. Aku punya ide.


***


"Oppa," Arfa menghampiri Eun Jae yang berdiri bersama Mrs. Jang. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius.


Lelaki itu menoleh. Memandang Arfa yang baru datang dari kamar Myung Hae. Kenapa lama sekali? Gadis kecil ini saja sudah duduk rapi di kursi makan bersama sang ayah. Sedangkan Eun Jae dan Mrs. Jang agak menjauh. Ya. Mereka membicarakan hal penting.


"Ada apa?," tanya Eun Jae saat baru menyadari wajah khawatir Arfa.


"Ibuku sakit. Ayahku tidak ada di rumah. Bisakah kita pulang sekarang?," tanyanya pada Eun Jae sambil berbisik. Meski begitu suaranya cukup jelas terdengar di telinga Mrs. Jang. Memang sengaja sihh.


"Kalau begitu cepatlah pulang!," suruh Mrs. Jang


Yes. Berhasil. "Tapi, anda sudah menyiapkan makanan......," ucapan Arfa terpontong.


"Ibumu lebih penting. Masakanku bisa dihabiskan para pelayan. Cepatlah pulang! Ibumu pasti menunggu,"


"Terimakasih Mrs. Jang. Maaf sekali lagi," sahut Arfa


"Kami pamit. Maaf karena tidak bisa turut makan," tambah Eun Jae.


"Sudahlah. Cepat pulang! Ibunya Arfa pasti butuh dia sekarang,"


Keduanya menunduk sebentar kemudian pergi dari hadapan Mrs. Jang. Myung Hae dan Mr. Jang yang sudah duduk rapi hanya memandang dari kejauhan.


"Kemana eonni pergi eomma?," tanya Myung Hae


"Ibunya sakit. Jadi mereka harus pulang duluan,"


Sedangkan disisi lain, Arfa terburu-buru menuju mobil. Meninggalkan Eun Jae yang terheran-heran. Lelaki itu segera duduk di kursi kemudi kemudian menyalakan mobil. Lalu dengan segera melajukan mobil hitam itu keluar dari area rumah besar keluarga Jang.


"Apa ibumu benar-benar sakit?," tanya Eun Jae penasaran saat mobilnya telah melaju keluar dari gerbang utama lingkungan wastu ini.


"Ibuku telah tiada,"


"Tidak baik mempermainkan orang yang sudah mati,"


"Tidak akan. Justru ia akan bahagia karena aku terbebas dari kebohongan yang lebih lama. Aku yakin di acara makan nanti akan banyak pertanyaan untuk kita. Seperti mulai kapan berpacaran? Bagaimana awal bertemu. Dan banyak lagi,"


"Kau terlihat layaknya ahli,"


"Terimakasih,"


Eun Jae hanya mencibir. Lalu setelahnya perut Arfa mengadakan konaer dadakan. Membuat Eun Jae berusaha menahan untuk tidak tertawa


"Salah siapa nolak masakan Mrs. Jang. Dia bela-belain masak sendiri loh,"


"Alasan,"


Arfa memberengut tak suka. "Kita mampir ke tempat makan sebentar. Kelamaan kalau nunggu sampai apartement,"


"Hey. Kau kira aku sopir?,"


"Iya. Kau seharusnya beruntung bisa duduk berdampingan bersamaku seperti ini,"


Mobil langsung berhenti. Untung jalanan sepi. Kalau tidak bisa terjadi kecelakaan karena aksi rem mendadak lelaki itu. Arfa mengelus jidatnya yang kepentok dashboard.


"Ah. Aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati. Hari ini hari prank, kan," aroma keburukan tercium.


"Kalau begitu, aku prank kau untuk keluar dari mobilku,"


"Tega?,"


"Seorang sopir harus tega pada kucing liar,"


Arfa berdecak kesal. Dengan sekali tekan tombol, pintu mobil milik Eun Jae terbuka. Lelaki itu tak main-main.


"Huh," ia segera melangkah keluar. Lalu membanting mobil dengan sekali ayunan tangan.


Mesin biru itu langsung meninggalkannya. Arfa menghembuskan napas beratnya. "Apa aku terlalu kejam, ya," gumamnya pelan. "Tapi kalau begini dia lebih kejam. Ahhhh,"teriaknya frustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Tiba-tiba, sebuah genggaman tersemat di jari-jemarinya. Sontak ia menoleh dan menemukan Eun Jae yang tersenyum manis padanya.


"Ayo! Katanya kau lapar?," gadis ini tak berkedip. Eun Jae langsung membalikkan badan Arfa. Membuatnya bisa memandang sebuah restoran dengan papan bertulis,'Velvet,'. "Aku tidak bisa membiarkan pacar pura-puraku kelaparan," Arfa masih tercengang.


❄❄❄


Dan disinalah mereka berada. Duduk berdua menikmati pemandangan langit malam di balkon restaurant. Arfa masih tak menduga, pria itu menurunkannya bukan karena marah. Tapi, Eun Jae akan memarkirkan mobil di basemant sedangkan ia ditinggal sebentar di depan toko ini.


Memikirkan hal itu membuat Arfa kembali malu. Bisa-bisanya ia berpikiran negatif. Dan kini ia tengah memandang wajah lelaki itu yang sedang memejamkan mata. Punggungnya bersandar pada kursi. Apa yang ia lakukan?


Dilihat-lihat wajahnya tampan. Dengan kulit putih dan bulu mata yang lebat memperindah struktur rahangnya yang tegas. Bibirnya terlihat segar, tidak menghitam akibat rokok. Hidungnya mancung, membuat Arfa membayangkan jika dipadukan dengan hidungnya....


Eh.


Tunggu. Ada apa dengannya ? Cepat-cepat Arfa mengerjap-kerjapkan mata sambil menggelengkan kepala. Bagaimana bisa ia membayangkan hal seperti itu?


"Apa yang kau bayangkan ?" sontak saja gadis itu memandang ke arah datangnya suara. Sejak kapan ia telah bangun.


"Apa kau terpikat dengan ketampananku?" goda Eun Jae


"Ti-tidak," mendengar jawaban gugupnya membuat Eun Jae tersenyum kecil. "Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi. Jatuhnya sakit," tambahnya ketus. Menutupi merona pipinya akibat tertangkap basah.


"Kau saja yang bermimpi indah sambil menatapku. Lagipun, tak akan jatuh. Dilangit masih ada awan,"


Arfa mencibir tak suka. Dan setelahnya tak ada lagi perdebatan akibat pelayan yang telah datang dengan pesanan mereka masing-masing.


Saat itulah Arfa sempat memandang sekeliling. Tempat ini, restorant ini, sepertinya dikhususkan untuk para pemuda-pemudi yang ingin bercengkrama di malam minggu. Apa di Korea juga berlaku kencan setiap malam sakral ini?


"Apa kalian ingin hiburan?," Arfa memalingkan pandangan pada lelaki yang tadi membawakan mereka makanan. Ternyata di tangan kirinya juga membawa biola beserta alat geseknya. Lalu pandangannya beralih pada Eun Jae yang akan menjawab.


"Boleh," jawabnya sambil mulai mengambil sumpit dan mencicipi rasa ramyeon yang ia pesan.


"Untuk pasangan muda mudi seperti kalian, aku punya lagu yang cocok,"


"Kami ti....," jawab Eun Jae terpotong.


"Nyanyikan saja," pinta Arfa. Tanpa sadar, Eun Jae menarik ujung bibirnya keatas.


Lagupun teralun. Arfa kenal nada ini. Lagu ini sangat familiar di telinganya. Arfa benar-benar merasa terhibur. Ia menghayati makna lagu yang ia dengar sambil memejamkan mata dan mengukir senyum. Sedangkan Eun Jae terus memperhatikan wajah imut gadis di depannya.


Lagu selesai teralun. Arfa membuka mata dan tersenyum ke arah sang pelayan sekaligus penghibur restaurant ini. "Terimakasih. Sangat indah,"


"Sama-sama. Saya permisi. Silahkan nikmati!,"


Arfa mengangguk dan setelah itu sang pelayan pergi. Tersisa dua orang yang kini mulai menikmati makanannya.


"Kau menyukainya?" Eun Jae bertanya


"Tentu. You are my everything. Aku mengenalnya dari filmnya Song Jong Ki,"


"Descendant of the sun?,"


"Yes. cheoeumbuteo geudaeyeottjyo


naege dagaol han saram," (Sejak awal, kamulah Yang datang padaku)


"dan han beonui seuchimedo


nae nunbicci mareul hajyo," (Meskipun kita hanya saling melewati Mataku memberitahu bahwa aku mengenalmu)


"Wah. Kau tau juga ternyata,"


"Tidak banyak. Hanya sekilas,"


"Emmm. Eh iya. Siapa na....,"


Ucapannya terputus akibat handphone Eun Jae yang tiba-tiba berbunyi. Membuat sang pemilik berhenti memandang Arfa juga. Ia langsung mengangkat panggilan dengan name, Kevin.


"Kalian dimana ?," tanya suara di ujung sana.


"Ah... Kita masih makan,"


"Pulanglah lebih cepat! Kau melewati batas jam malam," Eun Kae terkekeh kecil. Membuat Arfa merasa ada yang aneh dengan dadanya.


"Kita pulang sekarang,"


"Bagus," lalu telepon dimatikan secara sepihak oleh Kevin. Eun Jae bahkan sampai geleng-geleng melihat perlakuan hyung nya itu yang tidak seperti biasanya.


"Siapa?" tanya Arfa


"Kevin hyung. Sepertinya kita harus cepat-ceoat kembali. Katanya aku melewati bayas jam malam,"


Arfa tertawa pelan. Membuat hati Eun Jae menghangat. "Ya sudah. Ayo!" gadis itu menyeruput jus jeruknya sebelum akhirnya melangkah pergi.


Tanpa sadar, di depan Arfa terdapat turunan kecil seperti tangga. Alhasil, ia hampir saja terjatuh jika Eun Jae tidak menangkap bahunya. Membuat tubuh mereka sangat dekat.


Mata Arfa terus memperhatikan wajah Eun Jae di atasnya dengan jantung yang terus berdetak. Apalagi dada bidang lelaki itu kini menempel di punggungnya. Tapi, berbeda dengan Eun Jae. Ia malah membantu membenarkan posisi Arfa lalu agak menjauh. Memecah keromantisan.


"Terimakasih," ucap Arfa


Mengabaikan jantungnya yang belum sembuh, ia berniat berjalan kembali. Namun, sepertinya ia terkilir. Kembali lagi ia akan terjatuh jika Eun Jae tak mengulang pertolongannya.


"Perlu bantuan?" tanyanya lembut


"Tidak. Tidak perlu,"


"Seharusnya aku tidak bertanya," dan setelahnya lelaki itu membopong Arfa ala bridal style menuju parkiran basemant. Beberapa orang yang berpapasan bahkan sampai berdecak kagum.


Sedangkan Arfa, hal ini membuat jantungnya tak henti-hentinya meledak-ledak. "Jangan gugup! Aku hanya membantumu,"


"Si-si-siapa yang gu-gugup,"


"Jantung siapa yang menggila ini? Bukan punyaku,loh,"


"Bukan punyaku juga," balas Arfa ketus. Membuat Eun Jae terkekeh pelan dan itu berhasil menambah kekesalan Arfa.


Mereka sampai di depan mobil. Eun Jae menurunkan gadis tersebut tepat di samping pintu. Membukakannya lalu menuntun Arfa untuk masuk kedalam. Ia menutup pintu lalu beralih ke tempat kemudi.


Arfa diam-diam menarik napas dalam-dalam. Menetralkan jantungnya.