You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
3. Gedung Fisika



Arfa mundur selangkah saat ia merasakan ada seseorang di hadapannya. "Sorry," ujarnya lepas itu. Tapi lelaki yang hampir saja bertabrakan dengannya itu malah melangkah lebih dalam ke ruangan Kevin tanpa menjawab permintaan maaf Arfa. "Sombong amat," ia langsung keluar dari sana.


Tangannya merogoh handphone di saku blazernya. Menatap map menuju kelas seninya. Gedungnya tidak terlalu jauh. Sama seperti yang ditunjuk Myung Hae tadi.


Ah. Arfa lupa meminta nomornya pada Kevin. Tidak terlalu pemtomg juga. Gadis itu memilih berjalan kaki menuju gedung sekolah yang akan ia tempati untuk setengah tahun ini.


***


"Mau pulang bareng? Kita searah," Min Ho sudah berdiri di hadapan bangku Arfa. Membuat gadis itu memghembuskan napas kesal. Kenapa tahun terakhirnya harus sekelas lagi dengan lelaki ini.


"Kau begitu agresif dengan Arfa. Jatuh cinta yaa," ejek Shi Ah. Gadis di sebelah bangkunya itu memang sangat humble. Dia sudah menjadi tema delat Arfa sejak masuk kelas tadi pagi.


"Bukan jatuh cinta. Susah move on," jawab Min Ho dengan enteng. "Jadi pulang bareng?"


"Maaf. Aku ada janji,"


"Sama?"


"Bukan urusanmu. Kepo amat sih,"


"Cowok baru?"


Arfa mengerling malas. Dan Shi Ah tertawa saat itu pula. "Dia ada janji sama aku. Nggak bisa asal culik begitu yaa," lanjut gadis itu.


Dengan cepat ia menarik Arfa keluar dari kelas masih dengan selingan tawa yang kental. "Jadi, mantan yang kau sebut sampai ambil kelas daring dari awal itu si Min Ho? Gila banget sih jadi mantannya most wanted,"


"Playboy dibanggain,"


Shi Ah lagi-lagi tertawa bertepatan dengan Arfa yang berhenti melangkah. Ia melepas tas kecilmya saat sadar bahwa kartu yang tadi pagi Kevin berikan tak ada di dompet. "Kenapa? Ada yang hilang?"


"Sumber uangku. Kayaknya jatuh deh,"


"Terakhir liat dimana?"


"Dimana ya..? Ya yang waktu dikasih Kevin Oppa tadi pagi. Kayaknya jatuh di jalan deh. Bodoh banget tadi nggak ngecek,"


"Ya udah. Ayo cek ke gedung fisika! Yakin deh jatuh disana," timpal Shi Ah dengan mata berbinar yang tak disadari oleh Arfa. Ia langsung saja mengikuti arahan untuk berjalan ke gedung yang tadi pagi baru dikunjunginya.


Tangannya masih sempat untuk mengetik pesan di handphone untuk Kevin. Menanyakan posisi yang sialnya lelaki itu sedang ada di tempat kerja prioritasnya, pecinta mesin pesawat memang.


"Kalau nggak ketemu besok dibantu share info ke anak fisika. Kamu tunggu sini aja. Biar aku yang naik ke atas. Kalo nggak ketemu langsung cepet-cepet balik kok,"


"Oke,"


Arfa langsung melangkah memasuki gedung. menelusuri jalan yang ia lewati tadi pagi. Tapi semua nihil. Tidak ada apapun di jalan. Ia bersedekap sejenak memikirkan dimana ia harus mencari lagi. Pasalnya sekarang sekolah mulai sepi kecuali beberapa orang yang sengaja melakukan penelitian di lab atau ruang praktikum. Arfa pun masih awam dengan sistem blackfire.


Akkkhhhhh. Sial sekal—


BRUKK!


Gadis itu tersungkur mulus di lantai dengan badan yang mencium sempurna. "Au! Sshhh-," Arfa berusaha bangkit duduk sambil memegangi punggungnya. Ia langsung menoleh pada si penabrak yang malah sibuk membereskan beberapa map yang ikut terjatuh.


"Yak! Kau tidak bisa melihat jalan apa?!"


Lelaki yang menabraknya mengangkat kepalanya sedikit masih dengan posisi yang membungkuk. "Kau yang berdiri di tengah jalan. Aku mana tau kalau ada orang yang berdiri di belakang lift sepertimu," ucap lelaki itu penuh tekanan.


"Yak! Kau–sshh," ia meringis pelan saat bangun dari duduknya untuk berdiri. "Apa salahku berdiri disini?! Kau saja yang tidak melihat saat jalan. Kalau punya mata dipake. Liat tuh kedepan,"


Entah sejak kapan beberapa murid sudah ada yang berkerumun. Mulai berbisik-bisik ria. Arfa sama sekali tak peduli dan lelaki itu sepertinya tak terlalu menghiraukan.


Ia malah memasang senyum tipisnya. Beberapa wanita sudah cukup histeris. "Lalu apa yang kau inginkan sekarang nona? Aku meminta maaf?"


"Menurutmu, apa yang pantas kau lakukan?" tanya Arfa tajam.


"Apa yang pantas kulakukan?" lelaki itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Arfa. Kepalanya sudah mencondong seolah ingin membisikkan sesuatu. "Tidak usah menghiraukan sampah adalah hal yang bagus,"


Arfa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Beberapa orang sudah mulai berbisik tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Sedangkan lelaki itu sudah berjalan menjauh dengan tampang tanpa dosa.


Gadis itu berbalik dan mengejar. Lalu menarik map-map yang dipegang oleh anak fisika itu dan melemparnya asal ke belakang. Entah jatuh kemana atau terkena siapa. Ia sama sekali tak peduli.


"Kau benar-benar brengsek yaa. Lihat! Apa yang akan kulakukan atas penghinaanmu,"


Lalu ia berlalu pergi meninggalkan gedung yang mungkin akan menjadi tempat paling ia benci. Bahkan Shi Ah yang ia lewati sampai tak dijawab panggilannya berulang kali. Gadis itu bertanya-tanya.


Tanpa sadar, seseorang memperhatikan kejadian itu dari awal. Ia juga sempat memantau Arfa sampai menghilang seluruhnya dari jendela kaca.


"Aku menemukanmu," bisiknya tajam.