You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
50. Angelia? What's Wrong



Mobil melaju cepat setelah meninggalkan rumah milik seorang direktur sekaligus dokter rumah sakit swasta di tengah kota Seoul. Angel pindah ke kursi depan. Menemani sang sopir yang masih fokus menekuni jalanan.


"Jadi, apa nama bumi mu?" tanyanya sambil mengencangkan sabuk pengaman. Lalu beralih memandang sang sopir.


"Apa itu penting, Nuna?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.


"Berhenti memanggilku nuna!" lelaki itu tertawa kecil. Terlihat sangat manis namun tidak bagi Angel. Itu mengesalkan.


"Tapi kau kakak iparku,"


"Ck. Aku masih muda. Aku perlu memanggil namamu disini. Tidak mungkinkan aku memanggil-"


"Joon Yeong. Mereka memanggilku begitu. Mae Joon Yeong,"


Angel manggut-manggut. Mobil berhenti di persimpangan lampu merah. "Nama yang sangat jelek. Sama seperti orangnya,"


TAK !!


"Au!" Angel mengelus kening yang baru saja dijitak oleh sopir itu. "Sakit tau! Nggak sopan! Aku nih lebih tua disini,"


"Tadi bilangnya masih muda,"


Angel membalas jitakan Joon Yeong lebih keras. Lalu ia tertawa lepas.


Lelaki ini mengelus pelipisnya pelan. "Kau baru beberapa hari menjadi kakak Arfa sudah seperti ini. Berani sekali,"


"Hey. Pakai perhitungan bumi. Aku menjadi kakaknya lebih dari 200 tahun,"


Traffic light berubah menjadi hijau. Joon Yeong kembali melajukan mobilnya. "Exhuman ya pakai perhitungan exhuman. Tempat asalmu Smart World jika kau lupa,"


"Ish. Up to me!" Angel memalingkan pandangan ke arah jendela. Menikmati pemandangan luar lebih mengasikkan dibanding wajah sang sopir. Sangat menjengkelkan.


"Perjalanan kita agak lama. Tidurlah lebih dulu! Kau pasti lelah,"


"Jangan bangunkan kalau sudah sampai! Gendong aku saja," ia mengambil posisi ternyaman.


"Aku akan menendangmu nanti,"


***


Wanita itu melenguh pelan sebagai upaya menyadarkan seluruh kesadarannya. Menggeliat meski masih berposisi terbaring di atas kasur. Benda ini cukup lembut dan nyaman. Tapi ia sudah terlalu lama tidur. Kepalanya pusing karenanya.


Angel terduduk. Memperhatikan sekeliling yang terasa asing. Oh ya. Ia tadi pergi bersama ka- maksudnya Joon Yeong. Mungkin ini rumahnya. Tapi pria itu benar-benar menggendongnya kan? Sudah dipastikan.


Ia bangkit. Berjalan keluar dan langsung disuguhkan oleh pemandangan area rumah yang besar. Tujuh langkah ke depan ia sudah berada di pinggiran lantai dua. Menyuguhkan tampilan lantai bawah yang sangat luas. Rumah yang ia tempati benar-benar besar.


"Cukup takjubnya, Nuna?" ia langsung menoleh. Terdapat Joon Yeong yang berdiri dengan secangkir americano panas di tangannya. Terlihat sedikit kepulan asap di sana dengan aroma khas dari kopi pahit tersebut.


Lelaki itu bersandar pada tembok disisi pintu kamar yang tadi ditiduri Angel. "Kau benar-benar kebo. Tidurmu hampir sehari,"


Angel langsung melirik ke arah jam ditangannya. Tanggal dan waktu memang berubah seperti ucapan lelaki itu. "Aku lelah. Maklumi saja,"


"Oke. Aku maklumi. Bagaimana dengan oma? Kita bahkan sudah membahas rencana besar. Kurasa dia... marah," ia berlalu begitu saja sambil menyeruput kopinya.


"Apa?! Kenapa kau tidak membangunkanku?" Angel berjalan cepat mengikuti Joon Yeong. Entahlah. Lelaki itu tak menjawab. Ia malah tanpa sengaja menuntun Angel ke ruangan dengan berbagai aneka komputer terpasang. Ada layar besar juga disana.


"Apa aku harus mengadukannya pada Kevin ya?" ia tampak berpikir. Mengambil duduk di satu-satunya kursi yang ada di sana. Angel sudah ketakutan.


"Ya Tuhan. Aku hanya tidur. Itu bukan kejahatan. Kenapa sampai memberitau Kevin?" sahutnya tak terima


"Ya Tuhan. Jika bukan kejahatan kenapa takut saat aku akan mengatakannya pada Kevin?" ucapnya meniru nada Angel. Membuat wanita itu mendengus kesal. Joon Yeong terkekeh pelan. "Aku tadi meminjam handphonemu karena harus memberitau agar Arfa tidak pulang ke rumah. Oma juga belum telpon kok. Tenang saja! Kevin akan sampai beberapa jam lagi,"


"Ck," Angel langsung berjalan menuju ke sofa panjang yang ada di sana. Mengambil posisi duduk dengan tenang. Tapi wajahnya masih menampakkan kekesalan maximum.


Suasana sunyi. Joon Yeong memilih fokus berkutat pada komputer-komputernya serta perangkat yang lain. Angel malah semakin kesal.


"Hemm?"


"Arfa! Dimana kau mengirimnya?"


"Rumah Eun Jae,"


"Hah?! Kenapa?!"


Joon Yeong menghentikan aktivitasnya. "Kau yang kenapa begitu terkejut?"


"Ya bagaimana aku tidak terkejut? Kenapa kau mengirimnya ke rumah lelaki? Aku sebagai kakak tidak terima,"


"Hey. Bahkan statusku lebih dekat darimu. Aku tidak marah. Lagipula dari semua teman dekatmu, hanya dia yang manusia,"


Angel terdiam sejenak. Namun tiga detik kemudian ia melongo. Sedangkan Joon Yeong sudah kembali berkutat pada pekerjaannya.


"Tunggu. Eun Jae manusia?"


"Hemm,"


"Tapi-tapi.... bagaimana bisa? Arfa bahkan-,"


"Mencintainya. Ya. Aku tau itu," jawab Joon Yeong yang semakin membuat Angel tak berkutit. "Tapi aku yakin saat semua kenangan tentangku kembali, dia akan meninggalkan lelaki itu,"


Joon Yeong menghembuskan napas beratnya. "Sudahlah. Sebaiknya kau bawa my future pulang. Rumahmu sudah kuberi keamanan ketat," lelaki itu mengetik sesuatu di laptopnya dan menampilkan area rumah Angel di layar besar.


"Kak Di-,"


"Kau harus membayar mahal padaku nanti. Sekarang, telpon Arfa! Aku ingin mendengar suaranya,"


Angel tak bergeming. Ia menatap Joon Yeong dalam-dalam. "Kakak ipar? Kau tidak merespon Mae Joon Yeong?"


"Ah. Ba-baiklah. Aku akan menelponnya,"


Angel merogoh sakunya. Tapi tak menemukan apapun. Lelaki di hadapannya langsung memberi isyarat pada handphone di atas meja. "Pakai punyaku! Aku juga ingin tau nomornya,"


Angel hanya tersenyum sebagai persetujuan kemudian menggapai benda pipih itu. Tidak ada lockscren yang berarti jadi ia langsung menuju keypad. Untung saja nomor milik Arfa sudah sangat ia hafal.


Yeoboseo?


"Arfa. Ini kakak,"


Oh. Kak Angel. Ada apa, kak? Kemarin kakak hanya mengirim pesan. Kenapa sekarang menggunakan nomor lain? Ada apa juga Arfa tidak boleh pulang?


"Itu... dijelaskan saja nanti. Kau boleh pulang sekarang. Jemput Cheon Gi juga di rumah kak Zahra! Kakak tidak bisa pulang sekarang. Ada urusan dengan kak Kevin,"


Apa kak Kevin sudah pulang? Sampaikan salamku padanya. Baiklah. Aku akan pulang sekarang


"Ya. See you,"


See you eonni.


Angel menutup panggilan. Ia menyerahkan kembali handphone itu pada Joon Yeong. Keduanya saling pandang sejenak namun semenit kemudian mereka sama-sama menghela napas beratnya. Lalu tertawa.


"Akting kita bagus,"


"Tentu saja. Ayo! Aku antar kamu untuk ke tempat aman, Nuna ?"


"Ck,"


...💕💕💕...