
Arfa masih diam di atas ranjangnya. Belum beranjak setelah bangun tadi pagi. Malam kemarin entah kenapa baginya begitu indah. Eun Jae mengantarkannya sampai pintu apartement dengan menggendong lewat punggungnya.
"Wah. Kalian benar-benar berkencan?" itu yang diucapkan Kevin pertama kali melihat.
"Kakinya sakit lagi," sahut Eun Jae sambil menurunkan Arfa. "Hyung, aku pulang" pamitnya langsung berbalik.
Arfa sedikit kecewa tapi ia pendam. "Hati-hati," teriaknya lepas itu. Eun Jae menoleh dan hanya memberikan senyuman manisnya. Ah. Apa Arfa sedang jatuh cinta sekarang
"Kau tidak gila kan, Fa?" tegur Kevin saat melihat Arfa masih saja memandang tikungan di ujung sana. Padahal Eun Jae sudah menghilang sejak tadi.
"Ah. Matta! Oppa, siapa namanya?"
"Dugu?? Eun Jae-ah?"
"Ohh. Eun Jae. Marga apa?"
Kevin terkekeh pelan. "Kenapa kau tiba-tiba tertarik?"
"B-bukan begitu. Kita sepasang model fashion. Kalau ada yang bertanya, siapa partner modelku bagaimana? Aku tidak mengenalnya,"
"Alasan. Udah ayo masuk!" Kevin memapah adek iparnya ke dalam.
Suara ketukan pintu membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. "Fa!! Kau sudah bangun,"
"Ya! Sudah!" teriak Arfa menyahuti Kevin.
Pintu terbuka kemudian. "Kamu diam saja di rumah. Aku ada urusan sebentar,"
"Oke. Oppa aku mau ke toko di seberang sana. Sebentar saja,"
"Cepat kembali. Kalau ada apa-apa cepat hubungi,"
Arfa memberikan bentuk jari oke nya sebagai jawaban. Setelah Kevin pergi ia bersiap mengenakan baju kemeja ungu dan celana jeans hitam, keluar dari wilayah apartementnya bersama sepasang sepatu tanpa hak berwarna hitam. Mantel musim dingin berwarna abu-abu turut membalut tubuhnya. Rambut ia gelung rapi di atas. Ditemani dengan tas selempang berwarna hitam, ia berjalan menyusuri jalanan dan masuk ke Restoran Aurora.
Baru saja ia memasuki toko tersebut, seorang pelayan wanita menyapanya. Arfa mendekatinya dan memesan seporsi cabonara serta jus stoberi. Kemudian ia duduk di bangku nomor 10. Melepas mantelnya yang ia sampirkan ke sandaran kursi.
Arfa yang baru saja akan membuka handphone, tiba-tiba dikejutkan dengan seseorang yang menghampirinya.
"Permisi," ujar pria yang baru saja datang itu. Aksen koreanya begitu kental.
"Ya," jawab Arfa. Ia sedikit mengerutkan kening saat mendapati lelaki yang biasannya ia temui di tangga darurat gedung fisika ada di sana.
"Bolehkah aku duduk di sini?"
"Tentu,"
Pria itupun duduk tepat di hadapannya. Tapi, dari awal pria itu duduk Arfa serasa terus diperhatikan. Ia pun mencuri kesempatan dengan melihat-lihat sekeliling.
Pria yang dari tadi memperhatikan Arfa langsung pura-pura mengalihkan pandangan. Meski begitu Arfa telah mengetahui terlebih dahulu. Namun, yang lebih mengejutkannya adalah , masih banyak bangku kosong di restoran ini. Bahkan hanya terisi 2 bangku. Milik Arfa di dekat kaca dan satu lagi lebih dekat pada pintu utama.
Gadis ini berusaha berpura-pura biasa saja. Firasatnya bekerja. Ada yang aneh dan sepertinya ini tanda bahaya. Lelaki misterius ini harus segera dijauhi.
"Kau ingin kemana nona?," tanya pria itu
"Aku punya janji dengan temanku. Aku duluan," ia menunduk sebentar sambil menyambar mantel. Berjalan ke pintu seraya mengenakannya. Langsung begitu saja keluar dari tempat ini. Biarkan saja pesanannya tadi.
Baru saja ia berjalan beberapa langkah menjauhi restoran, dentingan pintu resto yang tertutup tertangkap pendengarannya. Lelaki dengan sweater biru navi tadi mengikutinya. Bersama dengan mantel yang senada dengan Arfa, ia melangkahkan kaki terbalut celana hitam itu keluar dari restoran.
Dengan segera ia mempercepat langkahnya. Dari kepekaan telinganya, terbukti jelas lelaki itu berjalan mengikuti. Arfa semakin ketakutan. Semakin cepat dan terus cepat.
Tiba-tiba benda kotak yang ia genggam berdering. Sebuah panggilan masuk dari Shi Ah. Ia mengangkatnya tanpa menghentikan langkah.
"Masuk ke dalam mobil hitam di pinggir jalan! Cepat!," terlihat jelas jika Shi Ah sedang ketakutan sepertinya.
Arfa melihat ke sekeliling dan menemukan mobil yang dimaksud berada tak jauh darinya. Ia sampai berlari untuk masuk ke sana.
Pintu langsung di tutup dan Shi Ah menjalankan mobilnya dengan terburu. Arfa bisa melihat seseorang di belakang sana berhenti berjalan dan memandangi mobil yang melaju kencang ini.
"Ternyata benar dugaanku. Kau..... datang padanya," ujarnya tanpa melepas senyum menyeramkan.
Tak lama setelah itu, ia berbalik namun tanpa sengaja menemukan seseorang berdiri di seberang jalannya. Seorang lelaki dengan tangan yang tergenggam erat.
Lelaki restorant ini mengeluarkan tangannya lalu melambai. "Mari kita bermain!" ujarnya tanpa suara. Hanya menggerakkan mulut.
Rahang lelaki di depan sana mengeras. Andai saja di depannya tidak ada pagar pembatas dan jalan raya yang ramai.... oh tidak. Itu bukan sebuah alasan ia menahan diri untuk tidak menghantamkan pukulan padanya. Tapi, kini mereka berada di tempat umum.
Kembali lagi pada Arfa dan Shi Ah yang sudah berhenti di depan sebuah rumah. Mobilnya terparkir rapi. "Kwenchanayo?," tanya Shi Ah.
"Ne. Kwenchana," jawabnya meyakinkan. "Tapi, bagaimana kau tau aku dalam bahaya?"
"Emm.... firasat. Apa kau tau firasatku kuat? Sudahlah. Kau belum sarapan,kan? Ayo! Aku sudah memasak,"
"Firasat lagi?," Shi Ah tertawa.
"Kali ini meramal. Ayo! Ada eomma juga di dalam,"
Shi Ah membuka pintu mobil dan keluar. Diikuti Arfa. "Wah. Sepertinya aku harus berkenalan,"
Dia bertindak cepat. Ini belum tamasya. Aku harus mengabari Min Ho
"Shi Ah. Kenapa bengong?" gadis itu hanya tersenyum lalu menyamakan langkah dengan Arfa. Mereka masuk bersama.
"Ada sepupuku juga di da—,"
Belum selesai berujar, sesorang mengambil atensi mereka. "Arfa?!"
"Loh. Min Ho?" kaget Arfa juga.
"Eh. Dia sepupu yang ku maksud," timpal Shi Ah. Arfa melotot horor.
***
"Ayolah, Fa. Ini demi kebaikanmu," andai saja ada kapas disini, mungkin Arfa sudah menyumpal telinganya sedari tadi.
Tanganya masih menyendokkan kuah kuning ke dalam mulut saat Shi Ah kembali berujar. Sungguh. Ia jenuh. Ada apa gerangan dengan dua orang di hadapannya ini. Min Ho dan Shi Ah seolah berpasangan memiliki rencana terselubung.
"Fa. Kau percaya padaku, kan?," tambahan dari Min Ho membuat ia memberhentikan aktifitas sarapannya ini. Ia memandang ke depan.
"Kapan aku tak pernah percaya padamu? Aku selalu dan akan selalu percaya padamu, Min Ho. Kecuali perselingkuhanmu waktu itu. Aku juga akan percaya padamu, Shi Ah. Tapi, kalian yang tidak mempercayaiku? Aku hanya butuh sebuah alasan. Why?! Kenapa aku tidak boleh ikut tamasya? Kenapa kalian bilang aku dalam bahaya? Aku hanya butuh alasan. Itu saja," ucapnya penuh penekanan meski dengan suara lemah. Posisi mereka yang di pojok ruangan sedikit menguntungkan.
Memang akhir pekan nanti akan diadakan liburan sejenak sekaligus pengambilan foto album kenangan sekolah. Semua murid kelas akhir wajib ikut. Dan ada apa teman-temannya ini malah bersikeras melarang?
Apa ini tujuan Shi Ah mengajak Arfa sarapan di rumahnya?
Min Ho terlihat menghembuskan napas beratnya. "Oke. Aku akan memberitaumu. Tapi, tidak sekarang, Fa. Aku tidak ingin mereka merubah rencana,"
"Kenapa? Mereka siapa? Rencana apa? Aku bisa berpura-pura tidak tau. Aku akan berakting tidak tau," seperti sebelumnya. Penuh tekanan.
"Fa. Dengarkan aku! Ini....,"
"Kau yang dengarkan aku Min Ho!!! Aku tidak akan menurut. Aku akan tetap pergi. Aku akan tamasya. Siapa yang akan menolak untuk memiliki waktu bersama teman-temannya?
"Dengarkan baik-baik!! Meskipun nantinya aku ada dalam bahaya, aku akan mati, aku tetap akan ikut," gadis ini berdiri. "Terimakasih perhatian kalian. Terimakasih atas ajakan tamasya kalian ke luar negri yang lebih menggiurkan. Tapi, maaf. Aku menolak,"
Gadis itu membereskan alat makannya. Lalu bergabung dengan mama dari Shi Ah yang sibuk merawat tanaman di rumah kaca belakang rumah.
Sedangkan Min Ho dan Shi Ah saling pandang kemudian berbarengan mengeluarkan napas berat mereka masing-masing.
"Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa membantu lagi," ucap Shi Ah sambil menyelonjorkan lengan kanannya di meja lalu menjadikannya sebagai tumpuan kepala. "Maaf, Min Ho. Sepertinya hanya sampai sini aku bisa bertindak,"
Mata gadis itu memandang Min Ho bersalah. Lelaki yang bersangkutan mengelus rambutnya pelan. Ia sudah menceritakan semuanya pada Shi Ah. Sepupunya yang juga sahabat terdekat Arfa. "Kwenchana. Gomawo, Shi Ah. Sudah berusaha membantu"