
Myung Hae menyilahkan Cheon Gi untuk memasuki rumahnya. Besar. Kesan pertama dimata lelaki cilik itu. Mewah. Itu yang kedua. Lalu. Sepi. Itu yang aneh.
Gadis dihadapannya menuntun langkah menuju kamar tamu. "Orang tuamu benar-benar di Eropa?" tanya Cheon Gi yang membuat langkah Myung Hae terhenti. Atau mungkin ia berhenti melangkah karena telah sampai tujuan. Di depannya terdapat sebuah pintu kamar.
Ia berbalik. "Iya. Tapi kamu tak perlu takut. Banyak penjaga dan juga pelayan disini,"
Cheon Gi mengangguk paham. "Aku tidak takut. Mungkin kamu saja yang takut," Myung Hae mencibir pelan. "Apa ini kamar tamu itu?"
"Hemm," Myung Hae memutar gagang pintu. Kamar besar itu sekali lagi membuat takjub Cheon Gi. "Aku sendirian disini?" gumam Cheon Gi lebih kepada bertanya sendiri.
"Kenapa? Kamu takut?" goda Myung Hae dengan senyum jahilnya.
"Cih. Untuk apa aku takut. Dulu aku pernah mencari sahabatku yang tersesat di hutan seorang diri,"
"Ya. Terserahmu saja. Kamarku ada dilantai atas. Nomor dua dari tangga. Pintu yang paling imut. Tertulis namaku disana,"
"Tidak usah terlalu detail. Aku juga tidak akan menghampirimu,"
"Oh ya? Bisa jadi kamu tiba-tiba ketakutan dan menghampiriku,"
"Yang ada kamu ketakutan dan turun kesini,"
"Immposible. Kita lihat nanti,"
"Oke. Sudah. Sana! Keluar!"
"Hey. Ini rumahku,"
"Oh. Jadi kamu ingin tetap disini bersamaku?" goda Cheon Gi sambil menaik-naikkan alis.
"Ih. Apaan sih?" tanpa diminta dua kali Myung Hae langsung keluar dari kamar tamu. Menyisahkan Cheon Gi yang langsung tertawa tepat saat pintu tertutup.
"Dia lucu juga,"
"AKU MENDENGARNYA!!" teriak seseorang dari luar.
"KENAPA?! APA KAU INGIN MASUK LAGI?!!!" balasnya berteriak. Terdengar suara tendangan pada pintu lalu suara langkah kaki cepat. Myung Hae berlari.
Cheon Gi masih tertawa melihat perlakuan gadis kecil itu. Ia berkeliling. Melihat-melihat tapi tak ada banyak barang di kamar tamu ini.
Disisi lain, Myung Hae sudah memasuki kamarnya. Ia membanting pintu kuat-kuat. Berani-beraninya lelaki itu mempermainkannya. Lebih baik di bully daripada dipermalukan seperti ini.
Gadis ini menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Memandang langit-langit kamar yang dipenuhi tempelan bintang-bintang bercahaya.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia belum memberitau tentang Cheon Gi yang menginap di rumah kepada kedua orang tuanya. Tangannya mengambil handphone dan memilih salah satu kontak untuk dihubungi.
"Myung Hae? Ada apa sayang? Amma dan appa akan pulang besok," jawab seorang wanita di ujung sana.
"Oh ya? Aku akan menjemput kalian besok," ucap Myung Jae bersemangat.
"Ya sudah. Amma tutup yaa. Amma dan appa masih banyak pekerjaan. Kita lanjutkan besok saja ya...,"
"Eh. Tunggu. Aku hanya ingin bilang. Temen Myung Hae menginap hari ini,"
"Teman? Teman yang mana?"
"Amma akan tau besok. Ya sudah. Selamat bekerja. Myung Hae akan tidur dulu,"
"Ya. Good night my honey,"
"Selamat bekerja amma. Selamat bekerja appa,"
Myung Hae menjauhkan hp dari telinganya. Baiklah. Ia harus bersiap untuk tidur sekarang. Besok dia akan sibuk menjemput orang tuanya dibandara. Tapi, haruskah ia mengajak Cheon Gi?
Itu dipikir nanti saja. Dia membersihkan badan lalu beranjak mematikan lampu. Ini sudah larut malam. Ia harus tidur.
.
.
Disisi lain,
Malam semakin larut. Tapi Cheon Gi sama sekali tidak bisa tidur. Kamar ini terlalu luas. Kasurnya terlalu lebar. Ia tak mudah menyesuaikan diri. Ditambah lagi pikirannya masih tertuju pada Arfa. Apa yang terjadi dengan kakaknya yang satu itu?
Di kamar ini ada televisi besar. Kini ia sedang mencari channel yang mungkin bisa memberikan dongeng sebelum tidur. Tapi, benar-benar tak ada yang seru. Ia tak bisa melakukan banyak hal di rumah orang. Ia juga takut untuk berjalan-jalan menikmati angin luar. Bagaimana jika tersesat? Saat masuk tadi, rumah ini sepertinya terletak di tengah hutan. Yaaa. Itu menurutnya.
TOK TOK TOK
Suara itu mengalihkan imajinasi liarnya tentang keadaan mencekam di tengah hutan. Tersesat tanpa ada yang tau dimana lokasi kita. Sungguh buruk.
TOK TOK TOK
Ketukan pintu kembali terdengar. "Cheon Gi? Kau sudah tidur?" itu suara Myung Hae. Apa gadis itu juga kesulitan untuk tidur? "Sepertinya sudah ya?" suara Myung Hae memelan tapi Cheon Gi masih bisa mendengar karena ia telah berada di depan pintu.
KLEK...
"Eh. Kau belum tidur? Atau aku menganggu tidurmu?" ucap gadis kecil yang kini sedang memeluk bantal berbentuk bunga.
"Tidak. Aku belum tidur," jawabnya singkat.
"Bagus. Aku juga tidak bisa tidur,"
Apanya yang bagus?
"Bagaimana jika kita menonton film bersama-sama?"
"Salurannya tidak ada yang bagus,"
"Tidak. Kita menggunakan player. Aku punya film train to busan. Tertarik?"
"Emm... Boleh,"
***
"AAA," Cheon Gi untuk kesekian kalinya menutup telinga. "LARI! CEPAT LARI!" teriakan Myung Hae benar-benar memenuhi kamar ini.
"Kamu berteriak sekencang apapun mereka tidak akan dengar," komen Cheon Gi ketus. "Lebih baik diam,"
"Ini respon refleks. Tidak bisa diam. Tidak bisa disalahkan,"
Cheon Gi kini malah sedang memikirkan Arfa. Kenapa pikirannya tidak bisa teralih sama sekali? Ia merasa bersalah. Andaisaja tadi ia tak memecahkan gelas, dia tidak akan ke supermarket dan meninggalkan Arfa sendiri. Andai tadi ia tak bertengkar dengan Myung Hae. Mungkin ia masih bisa mencegah kecelakaan ini.
Kata Eun Jae tadi, Arfa berhasil di temukan. Dia di rumah sakit dan baik-baik saja. Tapi... eh. Lelaki itu kenapa belum menghubungi juga. Kini dia yang menghilang? Atau jangan-jangan dia juga diculik seperti Arfa?
"HIKS. HIKS,"
Cheon Gi berhenti melamun. Pikirannya sudah membubarkan diri menuju tempat tinggal masing-masing. Seperti kesadarannya yang langsung merefleks kepala untuk menengok ke samping.
Myung Hae menangis. Itu yang ia lihat. Gadis itu menangis. Kenapa? "Eh. Ada apa, Myung Hae? Kenapa menangis?" tanya Cheon Gi khawatir. Kelemahannya hanya satu. Tangisan wanita.
"Itu. -Hiks- Ayahnya kasihan -hiks- Dia digigit -hiks-zombie. -Hiks-. Terus bunuh -hiks- diri, demi -hiks- anaknya,"
Mata Cheon Gi langsung beralih pada layar televisi di depannya. Nampak adegan saat seorang anak kecil menangis dalam pelukan ibu hamil. Entah apa yang terjadi. Sejak tadi ia kan tidak memperhatikan film.
"Sudahlah! Itu cuman film. Kamu cengeng banget, sih"
"Kamu bener-bener nggak punya hati. Itu kasihan anaknya,"
"Iya iya. Aku kasihan. Jangan tambah nangis dong!"
.
Keesokan harinya,
Rumah besar keluarga Jang terlihat sepi. Sangat sunyi saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan rumah tingkat dua ini. Para pelayan perlahan keluar dan menyambut siapa yang datang.
Seorang lelaki keluar lebih dahulu. Membukakan pintu untuk wanita yang tadi duduk disisinya. Tanpa menunggu lama, seorang pria kekar berlari menghampiri.
"Maafkan kami tuan besar. Kami tidak mendengar tentang kepulangan tuan dan nyonya besar. Maafkan atas keterlambatan kami," ucap lelaki itu
"Tidak apa. Mana putriku?" tanya Mr. Jang sambil melirik kesana kemari. Biasanya anak terakhirnya itu akan muncul dan memberi kejutan tapi tidak ada sama sekali sekarang.
Kata istrinya malah gadis itu akan menjemput ke bandara. Tapi, ia tidak datang sama sekali.
"Nona masih tidur, tuan," ucap salah satu pelayan yang berjejer.
"Tidur?" beo Mrs. Jang yang baru bersuara. "Tidak biasanya ia masih tidur jam segini," ia berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan sang suami yang langsung mengikuti dibelakang.
"Nona muda tidak ada di kamarnya, Nyonya," ucapan pelayan tadi membuat langkah Mrs. Jang yang akan menaiki tangga terhenti. "Nona muda tidur di kamar tamu,"
"Kamar tamu? Kenapa?" tanya Mr. Jang bingung. Setaunya, anaknya yang satu ini tidak bisa tidur selain di kamarnya sendiri. Saat perjalanan jauh pun ia tidak pernah ketiduran.
"Oh. Mungkin karena temannya yang menginap itu. Mereka pasti main bareng," ujar Mrs. Jang sambil membelokkan langkah menuju kamar tamu.
"Teman? Memang dia punya teman? Sejak kapan?" Mr. Jang mengikuti.
"Sejak kemarin katanya," pintu dibuka olehnya. Sang suami juga ikut masuk. Keduanya terkejut dengan pemandangan yang tersuguh.
Televisi masih menyala. Dan dua insan kecil sedang tidur tanpa tentu arah. Kaki Myung Hae menyentuh naik ke atas dada Cheon Gi. Sedangkan kepala temannya itu sedang di ujung kasur. Mereka sangat terlelap meski tanpa memakai selimut. Ya. Benda itu telah berada di lantai bersama pasangannya. Bantal guling.
"Ya Tuhan. Dia anakmu sayang," ujar Mr. Jang yang masih memandang dua sejoli itu.
"Hey. Kau yang tidur memutar seperti jarum jam. Dia ikut padamu," balas istrinya tak terima.
"Dia lahir dari rahimmu. Kau sih kebanyakan jalan-jalan saat hamil,"
"Eh. Kau yang membawaku jalan-jalan kesana-kemari,"
BRUAKK....
"Aduh....," lenguh Cheon Gi yang sudah tergeletak di lantai. Mr. dan Mrs. Jang yang terkejut langsung menghampiri. Rupanya lelaki ini jatuh karena di tendang Myung Hae.
"Kamu tidak apa-apa, nak?" tanya Mrs. Jang yang membantu Cheon Gi untuk duduk. Lelaki kecil ini mengangguk dengan masih memejamkan mata. Rasa kantuk menguasai meski rasa sakit masih mendominasi.
"Myung Hae. Bangun sayang! Sudah siang," ucap sang ayah sambil menggoyang-goyangkan tubuh anaknya. Beberapa kali panggilan ia mulai mengerjap dan duduk.
"Emmm..... Sudah siang? Memangnya jam berapa?" tanyanya dengan mata masih terpejam. Bahkan ia tak sadar siapa yang membangunkannya.
"Jam 2,"
"Hah. Jam 2. Masih terlalu pagi. Amma dan appa sampai jam 9 nanti,"
"Sekarang jam 2 siang putriku,"
"Iya. Aku tau. Jam dua si....ANG !!" matanya langsung membuka. Ia terkejut. Tapi lebih terkejut karena ayahnya ada di depan mata. "Appa? Kok disini?"
"Kamu lama. Appa di jemput oleh Pak Hong tadi,"
"Oh. Myung Hae ketiduran. Maaf ya," ujarnya pelan. Ia melirik ke samping. "Loh. Mana Cheon Gi? Eh. Amma,"
"Kamu itu ya. Kasihan temanmu ini. Dia jatuh karena kamu tendang," terlihat wanita itu membantu Cheon Gi berdiri dan duduk di sisi ranjang.
"Cheon Gi? Memang beneran aku tendang? Aku tidurnya cantikkok. Nggak tingkah," kata Myung Hae membela.
"Cantik apanya? Cantik kayak jarum jam di kamarmu itu,"
"Ck," Myung Hae kesal. Sudah bangun kesiangan. Masih kena omelan.
"Nggak apa-apa kok tante. Gerak tanpa sadar. Nggak bisa di salahin,"
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Mereka menoleh ke sumber suara. "Nona muda. Handphone anda berdering terus,"
"Oh ya? Bawa kemari," perintah Myung Hae. Dalam batin Cheon Gi mengejek gadis itu yang sungguh manja. Mengambil hp saja masih menyuruh orang.
"Yeoboseo," sapanya langsung mengangkat panggilan tanpa melihat siapa pengirimnya.
"Oh. Myung Hae. Dimana Cheon Gi. Kata kak Angel dia bersamamu. Benarkah?,"
Myung Hae langsung menjauhkan hp dari telinga demi melihat kontak bertajuk Arfa Eonni itu. "Kenapa?" tanya Cheon Gi. Gadis kecil itu langsung saja menekan tombol loudspeaker.
"Halo? Myung Hae? Apa kau disana?"
"Apa ini Arfa Eonni?" tanyanya ragu.
"Tentu saja. Dimana Cheon Gi?"
...💕💕💕...