You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
63. Cheon Gi's Birthday



Hari ini, mata pelajaran yang diujikan tak begitu penting.Lagipun Arfa sepertinya juga tak akan melanjutkan masa kuliahnya di bumi. Jadi, sejak pagi-pagi sekali, ia berkutat di dapur. Hari ini ulang tahun Cheon Gi dan mereka berencana merayakannya di panti asuhan tempat adiknya dulu menetap. Bahkan Myung Hae menginap untuk bantu-bantu. Meski buktinya tidak.


Angel memang ada urusan di rumah sakit hingga jam sembilan nanti. Saat Arfa baru selesai menata kue yang baru selesai ia oven, gadis itu harus menahan kegaduhan yang diciptakan para adiknya. Myung Hae dan Cheon Gi sibuk berlarian kesana kemari. bilangnya sedang menyiapkan busana tapi nyatanya, mereka bahkan belum mandi.


Arfa jadi sedikit teralihkan pikirannya karena dua anak itu. Tak lagi bingung seperti tadi malam hingga menyebabkannya susah tidur. "Bagaimana, Fa? Sudah?"


Angel berjalan mendekat dari luar sambil menggulung lengan blusnya hingga siku. Kala itu Arfa baru selesai membalut browniesnya dengan coklat setelah menambahkan es krim di dalam lapisan kue, bercampur potongan chocochips juga.


"Wow. Aku jadi pingin juga," Arfa sontak memukul tangan kakaknya yang akan mencuil kue. "Au!,"


"Nggak usah kesini kalau ujung-ujungnya ngerusak,"


Angel terkekeh. "Nggak-nggak. Sini, aku bantu! kamu siap-siap gih sana,"


"Awas! Jangan sampai jelek!" Arfa mulai membersihkan tangannya. Lalu melepas apron yang ia gunakan.


"kakakmu ini kreatif titisan dewa. Tenang!" dokter itu menggantikan posisi adiknya. Mulai mengambil alih krim mentega dan hiasan coklat lainnya. "Sana mandi! Bau,"


Arfa menjulurkan lidahnya mengejek lalu berlari ke kamar. Bukannya langsung mandi, ia malah mengambil smartphone di atas nakas. Ada beberapa notif yang menggantung.


Manusia Purba


Aku berangkat


Apa pulangnya perlu ku jemput?


^^^Me^^^


^^^Semangat!^^^


^^^Tidak usah.^^^


^^^Mungkin aku selesai agak malam.^^^


^^^Titip salam buat yang lain.^^^


Meski tak ada balasan. Mungkin ia sedang fokus dengan acaranya. Pesan ini terkirim sejam yang lalu. Saat Arfa selesai membalas beberapa pesan yang lain. Saat ia akan mengembalikan benda pipih itu ke tempat semula, sebuah kontak mentransfer pesan tanpa diundang. Ada gambar sampul buku yang sobek kecil di ujungnya.


Serba Hitam


Bukuku rusak


Aku minta pertanggungjawaban


Gadis itu sedikit mengingat-ingat. Memang saat mereka belajar dulu, buku itu masih sangat mulus. Malah seperti buku baru. Tapi, bukan berarti diakan yang merusaknya? Kenapa ia yang jadi dikambinghitakan?


Serba Hitam


Tanggung jawab


Atau ku tuntut


Arfa yang akan mengetik balasan langsung terhenti. Dia sengaja memancingku. Gadis itu menutup forum obrolan lalu menonanktifkan telepon. Tidak. Sepertinya apa yang dikatakan Chun Seung benar. Lelaki itu cukup pintar untuk memahaminya dengan mudah. Tapi ia tak boleh kalah.


"Fa! Sudah selesai?" suara kakaknya itu berhasil membuatnya bangkit. Langsung berlari menuju kamar mandi. Benar saja. Tepat saat ia menyalakan sower, suara pintu kamar terbuka terdengar jelas. Tanpa dijawabpun kakaknya pasti tau kalau Arfa masih mandi. "Fa! Sudah kuhias. Kakak keluar sebentar ya,"


"Eh. Iya kak!" teriaknya menyahut


Sampai 30 menit kemudian, ia keluar dari kamar. Sudah siap dengan blus maroon berpadukan jeans panjang. Ia mengikat rambutnya jadi satu.


Hiasan kue yang dibuat Angel lumayan cantik. Bahkan ia sempat-sempatnya membuat gambar-gambar kecil yang menggambarkan kumpulan anak-anak panti asuhan. Arfa memasukkan kue bertingkat tiga itu pada kotak kardus yang memang sudah disiapkan dari kemarin.


"Eonni! Kita sudah siap," Myung Hae dan Cheon Gi berjalan mendekat. Mereka telah rapi dengan pakaian masing-masing. Gadis cilik itu mengenakan drees motif bunga timbul berwarna pink. Sedangkan sohibnya, rapi dengan kemeja putih dan setelan jasnya. Cukup cocok pada tubuh imut itu.


"Mana kak Angel?"


"Bentar lagi paling dateng. Tadi katanya mau ambil souvenir buat temen-temen panti," kali ini pria kecil itu berujar.


Tak lama kemudian, sebuah klakson mobil terdengar. Itu milik Angel. Arfa langsung saja menggotong kue yang sudah dibungkus itu keluar. Samar-samar ia juga mendengar Cheon Gi berucap. "Semoga hyung datang,"


...***...


Arfa diam terpaku. Bukan ia yang mendapat kejutan tapi disini dirinya yang terkejut. Anak-anak panti membuat surprise untuk Cheon Gi. Mereka melakukan musikalisasi puisi untuknya. Tapi bukan itu masalah Arfa. Orang yang duduk dibalik piano, yang menggiring nyanyian anak panti dengan alat itu, yang juga ikut bersenandung untuk Cheon Gi, membuat gadis ini tercekat.


Kenapa dia bisa disini?


"Hyung!"teriak Cheon Gi setelah lagu berakhir dengan kalimat terakhir dari sang pianis. "Aku kira hyung tak akan datang,"


"Eun Jae oppa sudah ada disini sejak pagi. Dia yang nyiapin ini,"seorang gadis berujar semangat. Langsung berdiri di samping Cheon Gi. Bahkan menyingkirkan Myung Hae yang sebelumnya ada di posisi itu terlebih dahulu.


Lelaki ini tanpa sadar bertubruk pandang dengan Arfa. Namun tak butuh waktu lama untuk ia memutuskannya terlebih dahulu. Dan saat itu, entah kenapa Arfa merasa sakit.


"Saengil chukkahaeyo. Semoga jadi lebih baik ke depannya," ujarnya sambil mengusap kepala Cheon Gi sayang. "Hyung punya hadiah untukmu," ia mengeluarkan sebuah paperbag hitam. Aktivitasnya tak jauh dari pandangan Arfa. Kenapa? Ia tak salahkan memandangi lelaki itu? Semuanya juga sedang memperhatikan interaksi dua sejoli ini.


"Wahh.." entah apa hadiahnya, tapi mata anak itu nampak berbinar sekali. "Gomawo,hyung!"


...***...


Gadis cilik itu tampak kesal. Dengan langkah tegasnya ia mengambil duduk di pojokan ruangan. Arfa yang ada di sana langsung tertegun heran. Ada apa?


Tadi setelah pemotongan kue, makan bersama, dan kegiatan formal lainnya, lelaki yang datang dari mana menjadi pusat perhatian anak-anak panti. Mereka bercerita banyak hal dan saat itu Arfa baru tau. Eun Jae memang sering kesini dan dekat dengan anak panti. Tak terkecuali Cheon Gi. Ia kira adiknya itu baru tau saat status pacaran itu terjalin. Ah. Kenapa jadi bahas kesana?


"Ada apa, Myung Hae?" tanya Arfa. Tapi gadis kecil di sampingnya hanya diam saja. Sibuk menatap tajam ke arah depan sana. Ada Cheon Gi sedang seru bercerita dengan teman seumurannya, lebih tepatnya ia hikmat mendengar cerita dari temannya itu. "Ohh... itu Alina Azriella kan? Sahabat Cheon Gi. Dia sering bercerita pada eonni,"


Myung Hae langsung menoleh. "Sungguh? Seberapa dekat mereka?"Arfa tersenyum tipis. Kenapa gadis ini selalu bersikap terlalu dewasa.


"Pastinya lebih dekat daripada denganmu. Mereka berteman sejak kecil," goda Arfa lalu berpaling menghadap depan. Saat itu dia langsung tercekat.


"Eonni?! Kan...."


Ucapan Myung Hae tak terhiraukan lagi dengannya. Mata Arfa sibuk menatap tajam ke arah depan sana. Gadis dengan wajah imut kemanis-manisan itu sedang bersenandung sejajar dengan Eun jae. Yang ia maksud adalah Maria, anak smp blasteran amerika itu. Mana tau ia umur gadis ini, dia terlihat tinggi.


Mereka berdua berkolaborasi bersama. Eun Jae bermain gitar sedangkan Maria bernyanyi. Yaaa.... seperti biasa. Tapi berbeda menurut perspektif Arfa.


"Heart beat fast colours and promises


How to be brave? How can i love when i'm affraid


To far"


Maria menatap lekat ke arah Eun Jae. Membuat Arfa semakin was-was. Bahkan gadis itu tersenyum. Oh my God. Kali ini mereka bernyanyi bersama.


But watching you stand alone (Eun Jae sedikit melirik ke arah Arfa. Sayangnya gadis itu tak menyadari)


All of my doubt


Suddenly goes away some how


(lelaki itu berhenti sejenak. Membiarkan Maria yang beraksi)


One step clo.....ser (Napas Maria yang habis akibat nada tinggi membuat Eun Jae mengawali reff. Menatap Maria tapi sering melirik Arfa)


I have tried everythung waiting for you


Darling down be affraid


I love you for a thousand years....


(dia diam, Maria melanjutkan) I love you for a thousand more...


Nada petik terakhir gitar menjadi penutup. Bahkan Myung Hae yang menonton setengah ikut takjub. Arfa bangkit berdiri kemudian berlalu saat Eun Jae mengacak rambut Maria penuh sayang.


Kenapa aku begini? Batinnya setelah mengambil duduk di kursi taman. Berharap Eun Jae yang di dalam tak mendengarnya.


Semilir angin musim semi sedikit menghantarkan ketenangan bagi gadis Indonesia itu. Ia memejam. Menarik napas panjang-panjang lalu membuangnya perlahan. Kalau dipikir lagi, begini saja ia sudah kalang kabut saat menyaksikan aktivitas Eun Jae tadi. Padahal itupun terlampau sangat biasa bagi orang lain. Lalu bagaimana sikap dan perasaan lelaki itu saat Arfa malah hadir menjadi kekasih musuh terbesarnya. Musuh bebuyutannya. Mengaku melakukan sandiwara sejak awal mereka bertemu. Arfa ikut sakit sendiri hanya dengan membayangkannya.


BUK!


Ia membuka mata saat sesuatu terasa jatuh di pahanya. Sebuah buku berjudul "The Life of Physichs" yang sangat ia kenal ada disana. Kala itu bisa nampaklah sobekan kecil di ujung cover bukunya. Menyebabkan sudutnya tak lagi lancip, membentuk garis lagi sepanjang satu senti.


Arfa juga merasa ada yang duduk di sampingnya. Sudah dapat ditebak siapa itu. Dari ekor matanya ia dapat melihat lelaki disana sedang menyeruput secangkir kopi—ituaroma yang Arfa cium.


Sunyi menyergap. Gadis ini bahkan berniat tak peduli pada buku di pahanya. Memindahkan benda itu di sisinya, menjadi pembatas antara dirinya dan Eun Jae. "Kau tau" lelaki itu memecah. "Seberapa sakit saat melihat orang yang kita cintai bersama orang lain?" Arfa diam membeku. Ia tau arah pembicaraan ini. Tapi, Eun Jae malah tak berniat melanjutkan. Ia diam.


Sampai Cheon Gi datang menghampiri mereka. Meminta Eun Jae untuk ikut foto bersama dan menarik paksa Arfa karena anak itu tau kakak perempuannya sedikit bad mood, entah karena apa.


Sambil berjalan ke dalam, Cheon Gi berujar. "Eun Jae hyung dan Arfa nuna janjian ya pake baju cuople? Biar spesial buat ulang tahunku? Kata kak Maria, kalian serasi," Arfa membuka aplikasi chat di handphonenya.


"Emang Maria tau dari mana kalau kita kenal?" tanya Eun Jae sok serius.


"Katanya, tadi dia liat hyung terus ngelirik ke nuna. Aku juga kasih tau kalau kalian pacaran,"


Ada desiran aneh di hati Arfa. Bahagia dan sakit tertumpuk jadi satu. Ia memutuskan menekan tombol SEND seusai mengetik.


Manusia Purba


Bisakah kau menjemputku?


Alamat yang tadi


Ada dia disini


...💕💕💕...


...Beberapa part lagi Arfa akan tamat...


...happy or sad nih?...


......Salam hangat dari penulis......