
Tangannya menari indah. Di atas tuts-tuts piano hitam putih dengan penuh penghayatan. Dua bulan lalu, ia genap 17 tahun. Tapi dua bulan lalu juga sweet seventeennya menghujam penuh luka. Ia sakit. Sangat sakit dengan luka lebar itu.
Lagu Symphony of Sorrowful Songs mengalun atas kendalinya yang penuh emosi. Mungkin mengalahkan Henryk Gorecki sebagai pemain aslinya.
Hingga gerakan tangannya terhenti lalu nada kelima menjadikannya sebagai penutup. Tepuk tangan riuh menyambut gadis itu. Kepalanya terangkat sambil menyunggingkan senyum palsu setelah telapak tangan menghapus jejak aliran sungai di mata itu.
Ia turun. Seorang mc yang berdiri di bawah panggung memberinya dua jempol. "Kau selalu hebat, Fa. Super goed. Tak ada yang tak berdiri menyambutmu,"
Gadis itu mengedipkan mata sebagai balasan. Tanpa berhenti melangkah. Namun setelah itu, senyuman manisnya luntur. Sunyi sepi seperti ini adalah hal terindah baginya. Karena ia tak perlu lagi menutupi rasa yang terpatri dalam hati.
Huhh
Lelah....
"Arfa!," tiba-tiba beku. Ia menatap kedepan. Seorang lelaki berdiri tepat di depan ruang tata riasnya. "Aku mencarimu kemana-mana," ia datang menghampiri tubuh yang kini hanya berdiri kaku
"Menjauh dariku!,"
"Ada apa denganmu?," tanya sang pria yang menapak maju selangkah. Gadis di depannya kembali menjauhkan diri.
"Menjauh," ia berujar lirih. Terus menghindar. "Apa yang kau mau Daniel?,"
"Berhenti memanggilku itu. Kita putus sekarang,"
"Hey. Ada apa ini?,"
Arfa menarik napas panjang. Rasa cintanya ternyata masih ada. Tapi mau bagaimana lagi? Ia masih sesak saat mengetahui lelaki itu ada hubungan dengan kematian sang mama.
"Aku hanya tak ingin berurusan dengan pembunuh," Dengan segera, wanita ini berjalan menuju ruangannya sambil sengaja menabrak pundak pria di hadapannya tadi. Ia langsung menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya.
"Arfa! Arfa! Buka sebentar! Sepertinya kau salah paham !!," teriak pria itu dari luar ruangan.
Sedangkan tubuhnya sendiri merosot tak berdaya. Sambil menyembunyikan kepala diantara lutut, ia menangis. Tak lagi kuasa. "Ck ck ck. Kau membuang air mata sia-sia," gadis itu tertegun. Ia mendongak.
Disana ada seorang wanita dengan dress putih yang sama persis dengan miliknya. Mata itu, membuat Arfa seolah-olah berkaca. "Hay. Lama tak bertemu," ia melambai sambil memamerkan sebuah pistol.Β "Arfa yang malang. Aku tak bisa hanya membiarkanmu terluka batin. Fisikmu juga harus merasakannya," tambahnya lagi sambil mengarahkan pistol itu tepat ke arah kepala Arfa.
^^^π₯DHUAR....π₯^^^
...πππ...