You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
44. Tidak Asing



Arfa keluar dari kamarnya, maksudnya kamar ruang tamu rumah Eun Jae. Ia membawa sepack tissu yang memang tersedia di tas kecilnya. Ia menuju kursi yang tadi ia duduki.


Sebelumnya, ia mengambil sebaskom air. Baiklah. Ia harus tanggung jawab. Untung saja kursi ini berbahan kulit jadi tak susah membersihkannya. Lagipula warnanya hitam gelap.


Setelah usai, ia memilih keluar dari rumah. Memesan taksi online dan pergi mencari supermarket. Ya. Kejadian sebelumnya tidak boleh terulang. Ia juga beli beberapa camilan. Ya. Rencana untuk bermalam dengan drama tetap jadi. Kali ini ia akan bermalam bersama ahjussi rasa oppa. Hyun Bin dalam drama di Granadanya. Ya. Memories of the Alhambra.


Awalnya ia berencana untuk menonton di dalam kamarnya. Namun, ia juga ingin menunggu Eun Jae pulang. Ia lupa berterimakasih tadi karena terlalu kesal. Jadi, ia memilih menonton di ruang tengah.


Yah. Beruntungnya dia telah memindahkan semua filmnya pada flashdisc. Karena jika tidak ia tidak akan bisa menonton karena semua ada pada laptopnya.


Ia menancapkan otg yang bersambung dengan sumbu lain flashdiscnya pada smartphone. Meski layarnya kecil namun masih beruntung bisa menonton. Tidak harus dengan laptopkan?


Ia melirik jam di ujung handphone. Sudah pukul 8 malam. Eun Jae belum pulang. Namun, itu bukan masalah. Ia juga masih ingin menonton aksi Hyun Bin dalam mengendalikan knp dan teror-teror dalam filmnya.


Arfa mulai tak menanggapi lagi jam. Ia sudah fokus total pada film yang sedang ditonton. Ini aksi peneroran oleh musuh dalam gamenya yang memang adalah sahabatnya sendiri. Mereka bermain game namun lelaki itu malah mati. Arfa sesekali mengusap tengkuknya saat merasakan hawa mencekam. Takut sosok seram disana muncul di sekitarnya. Meski itu mustahil.


.


Disisi lain, acara Fire telah usai. Mereka telah meninggalkan panti asuhan sejak pukul 7 tadi. Ya. Jam tamu untuk para anak yatim piatu itu hanya sampai sana. Sebagian besar masih stay di markas besar Fire. Namun ada juga dari mereka yang sudah pulang sejak tadi.


Di meja yang paling pojok, terdapat tiga manusia yang memang telah menjadi teman akrab. Dua orang asik mengobrol kesana kemari. Entah apa yang dibahas tapi mereka terlihat tertawa sangat lepas. Yang satu lagi sedang berkutat serius dengan laptopnya. Mungkin sedang membaca artikel. Terlihat tak terganggu sama sekali dengan dua sahabatnya.


Dia sedang membaca laman tentang.... PMS. Memahami hormon dari wanita yang tak stabil itu. Ia baru tau penyebab kemarahan Arfa tadi. Tapi, bukankah ini tidak adil? Disana tertulis bahwa sang lelaki harus mengerti atas sikap wanitanya. Kenapa begitu? Kenapa lelaki yang harus mengerti wanita?


"Kau benar-benar pacaran?" napas seseorang terdengar jelas di telinga Eun Jae. Ia menoleh ke samping dan menemukan Chun Seung yang juga ikut memandangi laptopnya. Disisi lain ada Yeol yang juga terlihat penasaran.


"Kalian kenapa sih?" buru-buru Eun Jae menutup laptopnya. Kenapa ia sampai tidak sadar dengan keberadaan kedua temannya itu.


"Wah. Kau jahat sekali tidak mengatakan kepada kita jika punya pacar!" ujar Yeol sambil menarik kursi terdekat. Belum sempat ia duduk kefokusannya sudah beralih pada Chun Seung


Lelaki itu menggebrak meja sangat keras. Meski di pojokan namun suaranya cukup membuat satu ruangan memusatkan perhatian padanya. "PIMPINAN KITA SUDAH BERKENCAN. BESOK DIA AKAN MEMBAWA PACARNYA SAMBIL MENTRAKTIR KITA DI RESTORAN SEPERTI BIASANYA,"


Tepuk tangan riuh menyambut. Membuat suasana seketika ramai. Eun Jae melotot ke arah sahabat sialannya itu. "Hey. Tidak. Tidak bisa,"


"APA?! PACARMU BESOK KE SALON?! BAIKLAH. ACARA DITUNDA LUSA,"


Eun Jae benar-benar kesal. Biarlah. Yang buat klarifikasi adalah Chun Seung. Berarti dia yang akan tanggung jawab pasal traktiran itu. Eun Jae tidak akan datang.


Lelaki ini langsung membawa laptopnya dan meletakkannya ke dalam loker khusus pimpinan fire. Disana juga ada banyak dokumen penting. Setelahnya, ia pergi dari gedung ini.


Chun Seung mengejarnya. "Hey. Kau marah?" Eun Jae tak menjawab. Ia menekan remote kontrol untuk mobilnya. "Hey. Eun Jae. Aku mau tanya,"


"Apa?" Ia terpaksa meladeni. Lelaki ini mencegahnya untuk menutup pintu mobil.


"Kau sudah jadian dengan Arfa? Kapan? Apa sekarang dia sedang di rumahmu lagi?"


"Kau bicara apa Chun Seung?"


"Berarti dia benar di rumahmu,"


"Sudah. Aku mau pulang," Eun Jae langsung menarik paksa pintunya. Sebelum tertutup Chun Seung berujar.


"Hey. Ingat! Tantanganmu besok malam,"


Eun Jae hanya menunjukkan ibu jari dan telunjuknya yang berbentuk o. Setelah itu bahkan mobilnya pun juga meninggalkan Chun Seung sendiri. Ia berbalik dan menemukan Yeol berdiri tak jauh dari tempatnya berada. "Eun Jae pacaran dengan Arfa?"


.


.


Sedangkan Eun Jae tak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya. Ia memasukkan mobil ke area parkir. Rumahnya terlihat sepi padahal ada Arfa di dalam. Mungkin dia sudah tidur.


Perlahan lelaki ini membuka pintu. Menutupnya secara perlahan. Ia tau Arfa sensitif dengan suara. Takut mengganggu tidur wanita itu. Eun Jae baru saja melepas sepatunya dan terpaku dengan Arfa yang malah tertidur di sofa.


Eun Jae mengambil smarphone itu lalu mematikan sistemnya. Ia kembali meletakkannya pada meja. Kemudian menfokuskan diri pada Arfa yang tertidur dengan bantal sofa.


***


Sinar matahari menembus gorden jendela secara paksa. Membuat Arfa yang memang menghadap tetap ke arah terbitnya matahari terganggu. Matanya berkedut namun tak lama kemudian membuka. Butuh beberapa detik sampai ia bisa menerima perubahan cahaya.


Setelah sadar sepenuhnya, ia mengedarkan pandangan. Sepertinya ini bukan kamarnya. Bukan juga kamar tamu rumah Eun Jae. Dan yang paling ganjil sepertinya ini bukan pertama kalinya ia kesini.


Matanya lalu terpaku pada satu titik. Eun Jae yang sedang tertidur di sofa sambil tangannya bersedekap. Tak ada apapun yang menemaninya kecuali sebuah bantal. Arfa tersenyum sekilas. Ia ingat sekarang. Kemarin dia tertidur dan lelaki itu yang memindahkannya. Pasti. Tapi kenapa ke kamar Eun Jae? Jadinya kan dia yang malah tertidur di sofa.


Arfa bangkit. Sekalian membawa selimut untuk melapisi tubuh lelaki itu. Sepertinya dia pulang sangat larut. Biarkan istirahat dulu.


Mata Eun Jae langsung terbuka saat merasakan sesuatu bergerak melapisi tubuhnya. Ia menemukan Arfa yang sedang melakukannya. "Ah. Maaf. Aku malah membuatmu bangun," wanita itu menjauh. Merasa jarak mereka terlalu dekat.


"Kau sudah bangun?" tanya Eun Jae sambil bangkit duduk. "Kenapa tadi malam tidak tidur di kamarmu?"


"Aku menunggumu,"


"Hah?" kesadaran Eun Jae mulai kembali. "Kenapa? Ada yang ingin dibantu lagi?"


"Itu.... tidak. Aku hanya ingin berterima kasih. Kau sudah banyak membantuku. Dan juga aku minta maaf karena kemarin marah secara tiba-tiba," ucapnya lancar. Bagaimana tidak? Semalaman ia berlatih itu sambil menonton drama.


"Tidak apa. Aku paham semuanya,"


"Hah?!"


"Sudahlah. Aku mau mandi. Bisakah kau keluar dari kamarku nona?"


"Eh. Tentu,"


Arfa bangkit dan menurut. Ia keluar dari kamar penuh aroma maskulin lelaki itu. Sedangkan Eun Jae, ia sama sekali tak berniat mandi. Terlalu dingin meski menggunakan air hangat. Tubuhnya menuju kasur dan tidur kembali.


Sedangkan Arfa langsung membersihkan tubuhnya setelah sampai kamar. Ia berniat masak makanan untuk hari ini. Ya. Sebagai balas budi.


Ia memilih memakai pakaian simpel. Rambutnya pun tak terikat dengan rapi namum tetap cantik. Tidak ada polesan make up sama sekali meski hanya bedak. Ia takut Eun Jae masak terlebih dahulu.


Langkahnya saat ingin ke dapur, terhenti. Tepat di ruang tengah yang penuh dengan sampah camilannya tadi malam. Sepertinya ini harus di selesaikan dulu. Handphonenya ia letakkan di kamar. Bahkan bukan hanya ruang tengah yang ia bersihkan, hampir seluruh rumah ini.


TIT TIT TIT CEKLEK.


Arfa menoleh saat pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya terlihat masuk ke dalam rumah. Apa ia ibu Eun Jae?


"Loh. Ada nona Arfa juga?" Arfa mengernyit. Wajahnya tidak asing tapi ia tidak bisa mengingat wanita itu. Dan. Kenapa bisa tau namanya?


"Ahjumma kenal saya?" tanyanya ragu.


Wanita paruh baya itu mendekat. "Tentu saja. Andakan pacar tuan muda. Saya belum pikun untuk lupa,"


Arfa masih diam. Ia melirik ke arah tas belanja yang dibawa wanita itu. "Apa ini bahan masakannya?" ia membantu membawakan salah satu tas belanjaannya.


"Iya. Apa nona akan memasak lagi?"


"Lagi?"


Seolah tak mengetahui kebingungan Arfa, ahjumma langsung berjalan terlebih dahulu ke dapur. Ia membuka lemari pendingin masih dengan mengajak Arfa bercakap.


"Nona lama tidak kesini. Apa ada masalah dengan tuan muda?"


"Aku pernah kesini?" pertanyaan itu membuat gerakan ahjumma terhenti.


...💕💕💕...