You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
47. Kolam Renang



Arfa terbelalak. Bagaimana bisa seseorang hanya memakai celana renang dan siap melompat ke arah kolam saat musim bersalju seperti ini? Gila atau hilang kendali? Dan yang paling membuatnya terkejut, orang itu adalah Eun Jae. Pria yang sedang ia cari.


Spontan ia berlari menjauh dari balkon. Menuruni tangga menuju taman belakang. Kolam renang Eun Jae memang bertema outdoor dengan pemandangan taman indah. Tapi, ini musim dingin. Lagian kalauย  ngidam renang kan ada kolam yang indoor meski lebih kecil.


Arfa langsung mendorong pintu kaca yang menjadi penghalang jalannya. Tidak bisa. Oh. Ini pintu geser. Langsung saja ia menggeser pintu. Kembali berlari sambil melepas mantel. Eun Jae sudah tak terlihat lagi di permukaan. Tepat setelah ia mencapai pinggiran kolam, kaki Arfa meloncat. Tak peduli lagi dengan suhu dingin yang mencekam.


Tangannya berusaha kontras dengan gerakan kaki. Kolam ini jauh lebih dalam dari yang ia kira. Terlihat Eun Jae sedang mengambang di tengah-tengah air. Arfa langsung menghampirinya. Menarik salah satu tangan yang terjuntai lemas. Ia membawa lelaki ini keluar dari kolam. Sedikit kesusahan saat memindahkan tubuh berat Eun Jae ke sisi kolam.


Arfa ikut naik. Udara semakin mencekam. Ditekan-tekannya dada pria itu sedalam 5 senti namun tak ada hasil. Sesekali Arfa menempelkan telinganya pada dada sisi kanan. Mengecek detak jantung. Namun ia tak bisa mendengar apapun. Sekali lagi ia menekan pada bagian yang sama namun percuma. Tak ada gerakan.


Gadis ini mendekatkan wajahnya. Ingin memberi napas buatan. Meniupkan udara masuk agar membuka saluran pernapasan. Namun tak kunjung juga sadar. Terus begitu. Menekan dada memberi napas buatan menekan dada dan memberi napas buatan. Namun ia sama sekali tak membuahkan hasil.


Arfa lelah. Kekuatan tekanannya berkurang. Matanya mulai berair. Mengeluarkan mutiara bening yang langsung bercampur dengan pipi basahnya. Tangan yang masih di dada bidang Eun Jae mengepal erat. Seolah-olah memberikan kekuatan.


Namum hal itu tak berlangsung lama. Tangannya dengan cepat menghapus air mata yang sempat membobol benteng pertahanan. Ia kembali menekan dada Eun Jae. Pada hentakan ke tiga, ia terjatuh. Kepalanya langsung menempel pada dada bidang Eun Jae. Tangisnya kembali pecah. Isakan menyusul setelah detik pertama.


"Eun Jae bangun. Aku minta maaf," ia menarik ingus yang mulai meleleh. "Aku cuman bercanda tadi. Aku -hiks- minta maaf. -hiks-. Plese, bangun," Arfa diam sejenak. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu,"


Angin kembali berhembus. Namun Arfa sama sekali tak bergeming. "Aku juga mencintaimu,"


.


.


Mata Arfa yang sempat terpejam langsung terbelalak. Ia bangkit dan memandang wajah Eun Jae yang sudah memasang senyuman menyebalkannya. "Ciumanmu sangat manis,"


"Kau... kau... kenapa?โ€“" Eun Jae terduduk. Ia menoleh ke arah Arfa. "Tadi kau tenggelam,"


"Siapa yang bilang aku tenggelam ," Arfa masih mencerna kata-kata itu. Eun Jae bangkit berdiri lalu mengulurkan tangan untuk membawa Arfa juga bersamanya. Gadis itu tak bergeming. Ia langsung memaksa Arfa berdiri dengan menarik pinggang wanita itu.


"Tunggu. Ini maksu-,"


BRAK !!


Keduanya langsung tertuju pada pojokan taman. Eun Jae mengumpat pelan. Ia lupa tentang para temannya yang beraksi di ujung sana. Matanya kembali pada Arfa. Ia langsung memeluk gadis itu.


"Siapa yang menyuruhmu ikut masuk air?" ujar Eun Jae kesal.


"Hah?"


"Badanmu tercetak jelas," sedetik kemudian matanya langsung terbelalak.


***


Arfa merapatkan jaket yang ia kenakan. Kini dirinya sedang terduduk di sofa single ruang tengah. Dikelilingi oleh para manusia yang sama sekali tak ia kenal. Kecuali satu orang, Chun Seung yang berdiri menyandar pada sofa yang ia duduki.


Ia menengadah. Memperhatikan satu-satu wajah mereka yang menatapnya. Entah tatapan apa itu, tapi sungguh ia merasa risih.


Eun Jae menghampiri. Meraih tangannya dan meletakkan gelas disana. Ia membuatkan corn tea untuk meringankan kedinginan di tubuh Arfa akibat menyelam di tengah malam musim salju.


"Makasih," ucapnya sambil menyunggingkan senyum. Beberapa orang mulai berbisik-bisik.


TING TUNG


Arfa yang dapat melihat dari ruang tengah langsung bangkit. Menyingkirkan bantal sofa yang tadi ia letakkan di atas paha. Ia menghampiri sang bapak supir sambil nyengir malu-malu. Gadis ini lupa pasal taksi yang tadi mengantarnya.


"Maaf tadiโ€”"


"Dia tidak jadi pergi," ucap Eun Jae sambil mengambil dompet di saku celana jeansnya. Menarik beberapa lembar uang dan memberikannya pada sang sopir. Ia lalu menukarnya dengan koper di samping lelaki itu. "Terima kasih pak,"


Sopir itu pamit. Sedangkan Arfa mulai jengkel. "Hey. Aku ingin pulang," ujarnya protes.


"Ini sudah malam. Lagipula kakakmu bilang jangan datang ke rumah. Daripada tinggal di hotel, lebih baik di rumahku,"


Eun Jae membalikkan badan. Begitupula dengan Arfa yang akan menyusul protesannya. Namun mereka terhenti. Terpaku karena pandangan semua orang kini tertuju pada keduanya.


"Sebaiknya kau meletakkan kopermu di kamar," Eun Jae memposisikan badan menghadap Arfa. Gadis di depannya sedikit terkejut dan bingung saat lelaki itu mengelus rambutnya perlahan. Tambah aneh lagi saat ia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Aku akan mengurus mereka. Jangan keluar sampai mereka pulang dulu!"


"Ah. Terimakasih," ia menarik koper yang dikomando oleh Eun Jae. Kemudian berjalan menuju kamar tamu. Untung saja lorong kamar ini terletak sebelum ruang tengah. Jadi ia bisa lebih cepat menghindari tatapan aneh para teman Eun Jae. Ini semua pasal kejadian di kolam renang. Tunggu. Arfa masih belum mengerti alur ceritanya.


Ia memasuki kamar. Menutup pintu namun tidak dengan telinga. Malahan ia menempelkan benda kenyal itu ke daun pintu. Berusaha menguping. Oke. Tanpa begitupun ia bisa mendengar suara yang bahkan sekedar berbisik di luar sana.


Disisi lain, Eun Jae yang baru saja ditinggal oleh Arfa menarik napas berat. "Demi apa pimpinan pacaran sama Arfa ?" tanya Annie, adik juniornya tepat saat ia akan duduk menggantikan posisi Arfa tadi. Ia adalah adik tingkat Arfa di jurusan seni.


"Wah. Jadi kemarin itu suaranya Arfa?"


"Nggak nyangka. Pinter banget nyembunyiinnya,"


"Iya, pinter banget Eun Jae nipu kita,"


"Sejak kapan?"


"Traktiran kapan?"


"Eh. Mereka tinggal serumah loh,"


"Kok bisa? Bahaya ini,"


"Iya. Cewek tadi bawak koper lagi,"


"Ini baru pacaran udah satu atap,"


"Sebaiknya kalian pergi sekarang. Darenya batal aja. Ganti yang lain," ujar Chun Seung menengahi. Ia tak ingin menambah beban sohib setianya ini.


Ya. Mereka, beberapa anak fire, main TOD beberapa hari yang lalu. Dan malam ini jatuh tempo hari dimana Eun Jae harus ngelaksanain darenya. Nyelem di kolam renang 7 menit saat musim salju dengan pakaian renangnya. Siapa sangka Arfa akan datang dan malah melakukan itu.


"Dare apaan?"


...๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•...


...HALLO SEMUA...


...STAY WITH MY STORY YA.......


...I LOVE YOU...