
"Eonni! Aku benar-benar benci sekolah tatap muka!" Arfa menggila dalam video callnya dengan sang kakak yang kini masih mengenakan jas dokternya. Wanita itu baru selesai membantu operasi dokter atasannya.
Sedangkan ia sendiri sedang memakan mie ramyoen yang sudah siap sejak lima belas menit lalu. Tapi baru sesuap yang masuk ke mulutnya ia sudah tidak bernafsu. Semua itu gegara lelaki sialan yang menyebutnya sampah. Harga diri Arfa memang sangat tinggi.
"Eonni! Dia itu benar-benar menyebalkan! Aku akan ingat wajahnya lalu memberi perhitungan agar tidak bisa main-main lagi,"
"Kau sudah mengucapkan itu 7 kali semenjak kita video call an. Habiskan makanmu dulu,"
"Huh. Aku sudah tidak mood," Arfa menggeser mangkoknya menjauh dengan wajah cemberut. Angel yang bisa melihat semua gerak-geriknya karena ponsel diletakkan agar jauh malah terkekeh. Adeknya memang lebih imut saat marah.
"Memang siapa namanya? Apa perlu eonni bantu?"
"Nama tidak penting eonni. Aku sudah menscreenshot wajahnya dengan jelas. Jika kita bertemu lagi, akan kucincang tubuhnya itu,"
Angel lagi-lagi tertawa. "Ceritamu seperti novel yang enddingnya kau akan jatuh cinta nantinya,"
"Eonnii!!"
"Setidaknya ceritanya lebih asik daripada perselingkuhan Min Ho,"
"Aku benci membahas ini," ujarnya tegas.
"Baik-baik. Tapi bukankah tatap muka membuatmu lebih paham materi daripada secara daring? Kau bisa bertanya dengan leluasa tanpa membuat antrian dulu. Bagaimana pelajaran dikelas?"
Dokter muda itu mengalihkan pembicaraan dengan sengaja. Arfa yang sadar hanya menghembuskan napas beratnya karena memang sesi curhat tadi belum selesai. Tapi mau bagaimana lagi?
"Lumayan. Ruang musiknya sangat besar. Jauh lebih besar daripada punyaku,"
"Menyesal tidak tatap muka sejak awal?"
"Sedikit. Tapi itu lebih baik daripada aku diganggu Min Ho setiap hari. — Ck. Kenapa nyambung ke dia lagi sih. Eonni gimana study nya?? Kapan kembali?"
***
Shi Ah pagi-pagi sudah menjemput Arfa di depan apartementnya dengan berseragam rapi. Gadis itu juga yang mengantar Arfa kembali dengan mobilnya saat badmood kemarin.
"Kelihatan lebih segar? Selesai meditasi cemberutnya?" sindir gadis itu bergurau.
"Belum. Aku badmood lagi mengingat hari ini akan sekolah,"
Shi Ah tertawa renyah. "Apa perlu kita jalan-jalan dulu? Kelas masih dimulai jam 10 untuk hari ini. Pergi belanja mungkin bagus,"
"Shi Ah. Kau tau kartuku hilang. Lagipula toko mana yang sudah buka jam segini,"
"Hahahaha. Aku lupa. Ya sudah. Pergi ke tam–"
Handphone Arfa berdering tepat saat mereka sudah mencapai basemant. Panggilan suara dari Kevin. Gadis itu langsung berjingkrak senang sambil memamerkan layar handphone di depan Shi Ah.
"Ke ruanganku sekarang," perintah di ujung sana dengan tegas.
"Apa kartuku ketemu? Wahh. Cepat sekali," balasnya sambil memasukkan diri ke dalam mobil. Shi Ah lalu menyalakan mesinnya.
"Datang kemari saja. Cepatlah!"
"Iya-iya. Ini aku berangkat," Telepon lalu dimatikan secara sepihak. "Kalau bukan kakak iparku, sudah kubunuh kau," gerutunya kesal.
"Ada masalah apa lagi?"
"Biasa. Kevin yang sok penting,"
Shi Ah menggeleng heran dengan masih tetap fokus ke jalanan. "Beruntung kau punya kakak ipar seperti Mr. Kevin. Dia sangat baik, sangat tampan, sangat pintar, sangat—"
"Berhenti memujinya Shi Ah. Sebelum aku berargument kau suka pada tunangan kakakku,"
Shi Ah malah menanggapi dengan tertawa. "Semua gadis bilang seperti itu, Arfa. Tidak. Bahkan murid pria juga berkata begitu,"
Arfa tersenyum kecil. Ternyata kakaknya memang pintar memilih pasangan. Perjalanan setelahnya hanya diisi dengan obrolan ringan sampai mobil memasuki area parkiran. Mereka berganti kendaraan blackfire menuju gedung masing-masing. Maksudnya, Shi Ah langsung menuju gedung seni sedangkan Arfa masih harus memenuhi panggilan Mr. Kevin ke ruangannya di gedung fisika.
Ia buru-buru berjalan menuju lantai tiga gedung tersebut sebelum hal gila terjadi lagi. Kali ini ia sempat mengetuk tapi tanpa menunggu jawaban langsung masuk dengan wajah riang.
"Good morning, Mr. Kevin. Apa kartuku sudah siap?" gadis itu meletakkan sebuah kotak makan di atas meja lalu duduk anggun di kursinya.
Kevin bukannya memberikan kartu milik Arfa malah mengeluarkan dua buah map yang sudah terlihat akan sobek karena basah itu. Sepertinya tidak asing.
"Apa ini?" tanyanya polos.
"Hasil perbuatanmu kemarin," Arfa mengerutkan kening. Memang apa yang ia lakukan kemarin? Bukankah—
Pintu ruangan terketuk lalu muncul seorang lelaki yang langsung masuk dan menutup pintunya kembali. Ia duduk di samping Arfa.
"Ada masalah apa, Mister?"
Arfa langsung saja melotot kaget. Apa-apaan ini. "Hey! Kenapa kau kemari?!" lelaki disampingnya itu tidak menghiraukan sama sekali.
"Jaga sikapmu, Fa!"
"Oppa! Dia kemarin yang—"
"Dia kemarin yang mapnya kau buang sembarangan hingga jadi seperti ini. Kau tidak tau ini catatan yang berharga, Fa!" gadis itu sedikit bergetar. Dalam sejarah hidupnya ia tidak pernah melihat Kevin yang semarah ini. Tidak. Ia bahkan tidak pernah melihat Kevin marah.
"Tapi kan dia duluan—"
"Berhenti menyalahkan orang! Intropeksi diri,"
"Ck. Jugaan pastikan ada salinan softfilenya,"
Kevin menghembuskan napas beratnya. Ia tau karakter Arfa memang akan sangat mirip dengan tunangannya. Tidak ingin kalah. "Kertas di map ini adalah corat-coret hasil revisinya. Belum disalin di word, Fa. Kompetisinya akan diadakan dua hari lagi. Oppa yang bertanggungjawab atas proyek Eun Jae. Tapi lihatlah? Revisinya sudah hancur sedangkan kita belum merevisi ulang produk yabg kita buat,"
Kali ini lelaki itu bicara sedikit sabar. Ia tak ingin Arfa tiba-tiba menangis karena dibentak berulang. Harga diri wanita ini memang sangat tinggi.
"Mianhae," bisiknya pelan sambil menunduk. "Aku akan bantu sebisa mungkin. Aku akan bantu mengoreksi ulang,"
"Aku menolak," lelaki di samping Arfa itu berkata tegas. "Dia tidak tau apa-apa, Mister. Biar aku sendiri yang merevisinya," Arfa langsung menoleh garang.
"Ck! Kau—,"
"Arfa. Jaga sikap!" gadis itu langsung terdiam tanpa meredakan nyala api di matanya. Ia buru-buru berpaling sebelum menjadi semakin marah. "Eun Jae. Waktu kita sebentar. Gadis ini akan membantumu menulis essaynya,"
"Ta—,"
"Ingat! Kita belum merevisi produknya. Aku tidak punya banyak waktu untuk membantumu. Jadi—"
"Aku takut dia malah menjadi pengganggu,"
"Yak! Aku bukan pengganggu!"
"Sudah-sudah. Arfa cukup cermat dalam bahasa penulisan. Grammar dia juga lumayan bagus. Jangan khawatir!"
"Dengar tuh!"
Lelaki itu sama sekali tak menghiraukan Arfa. Membuatnya semakin jengkel.
"Sudahkan, Oppa? Aku ada kelas pagi ini," bualnya. Ia lalu bangkit lebih dulu. "Bye-bye,"
Gadis itu langsung keluar dengan melambaikan tangan sejenak. Ruangan ini tiba-tiba saja hadi pengap. Tapi baru saja ia berjalan beberapa langkah dari pintu masuk ruangan Kevin, seseorang mencekal tangannya.
"Datang ke lab praktikum sepulang sekolah," lelaki tadi sudah ada di belakangnya. Arfa langsung berbalik.
"Hey! Aku pulang jam 8 malam,"
"Bukan urusanku," lelaki itu sudah melangkah menjauh. Arfa menggeram pelan. Awas saja yaa!!!