
Seseorang yang sedang terlanjang dada dengan luka di punggung bagian atas tengah berada di ruang praktek Dr. Zahrana Salsabila. Di belakangnya ada seorang wanita sibuk mengotak-atik di atas meja besi. Dengan posisi duduk, pria yang telanjang dada tersebut sedang dioperasi untuk mengeluarkan benda asing yang telah bersarang di tubuhnya selama 5 jam.
Song Eun Jae. Itu nama pasiennya. Lelaki ini memang hanya percaya pada Zahra apabila butuh penanganan kesehatan. Selain profesional, ia juga akrab dengan dokter yang sering disapa Zahra ini.
"Bagaimana keadaannya?" Pertanyaan itu membuat suasana hening sejak awal operasi, sedikit terisi.
"Hah? Siapa?" Zahra tak begitu menanggapi. Ia sibuk memberi jahitan di punggung pria itu.
"Arfa," jawabnya sepelan mungkin. Tak ingin dianggap mengkhawatirkan seseorang oleh Zahra.
"Oh. Kenapa kau menanyakannya?" Zahra menggunting benang jahitnya.
"Apa salah? Aku yang menyelamatkannya. Aku harus tau bagaimana keadaannya,"
Zahra tertawa singkat sambil membenahi alat-alatnya. "Dia baik-baik saja,"
"Bagaimana dengan lebam di kakinya? Sepertinya tadi ia tertimpa tiang infus dengan keras. Apa dia sudah siuman? Apa ia terlihat panik? Kau harus menenangkannya! Lalu.....,"
"Sudah Eun Jae. Jika kau ingin menjaganya silahkan saja. Aku tidak melarang," lelaki itu mencibir akibat tawa lepas Zahra. "Aku tau bagaimana menjaga anak manja itu,"
"Hmmm," lelaki itu beranjak dari atas ranjang rumah sakit. Menuju sofa dan duduk disana. Lebih nyaman.
Suasana kembali hening. Tangan Eun Jae mengambil kemejanya yang ada di paperbag. Ya. Tadi ia menyuruh Chun Seung untuk mengambil baju gantinya. Ohya? Lelaki itu kemana sekarang?
Belum sempat Eun Jae memasangkan kemeja pada tubuh atletisnya, ia terpikir sesuatu. Gerakan tangannya terhenti.
"Dokter,"
"Hmmm," Zahra masih sibuk berbenah.
"Siapa wanita tadi? Aku seperti mengenalnya. Dimana ya?" kali ini gerakan tangan Zahra yang terhenti. Tapi Eun Jae tak menyadari karena gadis itu tengah memunggunginya.
"Mungkin hanya perasaanmu saja,"
"Apa kau mengenalnya?"
"Tidak. Aku baru bertemu dia hari ini,"
"Apa Arfa mengenalnya? Sepertinya wanita itu mengincar Arfa. Dan hal ini tak akan terjadi untuk sekali," ia memasukkan lengannya pada lubang kemeja.
Sebenarnya, ia pernah bertemu dengan wanita itu. Kalau tidak salah ia berpapasan dengannya di depan gedung kepala. Saat ia kembali untuk mengambil handphonenya yang tertinggal. Ya. Hari dimana ia menemukan Arfa telentang tanpa dosa di atas meja rapat. Tak sadarkan diri. Hari yang sama dimana ia berpapasan dengan Min Ho yang nampak sangat kesal melihat Eun Jae menggendong Arfa ala bridal style. Jadilah lelaki itu menggantikannya membawa sang gadis menuju rumah sakit secara paksa.
Helaan berat Zahra berhasil menyadarkannya.
"Entahlah,". Sang dokter ikut duduk di hadapan lelaki yang terpaut beda umur 13 tahun. "Aku harap dia tau,"
"Kenapa?"
Zahra hanya tersenyum tawar. Pandangannya kosong dan Eun Jae sama sekali tak melepas pandangan dari dokternya itu. Sepertinya ia akan berbicara lagi.
"Dia gadis yang cukup tangguh. Aku menyukainya. Menyayanginya. Sangat," ujar Zahra. "Banyak orang yang bersandiwara di depannya. Mungkin kau adalah selanjutnya,"
Eun Jae mengernyitkan dahi. "Untuk apa aku melakukan itu?"
"Kau yang lebih tau," hening kembali menyambut. "Eun Jae. Kalau kau mencintainya, tolong jaga dia! Kalaupun kau tak mencintainya, tolong jagakan dia demi aku. Kau punya banyak hutang nyawa padaku,"
Eun Jae tertawa pada kalimat yang entah itu termasuk serius atau bercanda. "Tanpa kau suruh akupun akan selalu menjaganya. Prinsip fire masih mengalir pada darahku,"
"Mafia saja bangga. Kau juga bukan ketua yang asli,"
"Kak Zahra. Kak,". Suara tersebut menggema, membolakan kedua mata sejoli ini.
"Arfa?" ujar Eun Jae dan dokternya hampir bersamaan.
And...
Ceklek. Pintu terbuka. Benar-benar Arfa yang membukanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang berada di dalam ruangan teman kakaknya itu. Itupun dengan posisi kemeja yang belum terkancing. Membuat dada bidangnya terlihat jelas.
"Ada apa?" tanya Zahra pura-pura lugu.
"Eh.....maaf mengganggu pemeriksaanmu. Aku akan kesini lagi nan...,"
"Tidak perlu," lelaki itu berdiri sambil mengancingkan kemejanya. "Aku sudah selesai. Dokter. Aku pamit,"
"Ya. Hati-hati. Jangan lupa minum obat!" ucapnya basi padahal ia tak menuliskan resep apapun padanya.
Kemudian Eun Jae berjalan keluar sambil menenteng paperbagnya. Berpaspasan dengan Arfa yang berjalan agak terhambat akibat kondisi kakinya. Ya. Ia tertimpa tiang infus saat berusaha turun ranjang sambil terbatuk-batuk ketika kebakaran tadi.
Kok aku minta maaf? Batin Arfa dalam hati.
Namun anehnya Eun Jae senyum-senyum sendiri seolah dapat mendengar kata-kata wanita itu.
"Kenapa Fa?" tanya Dr. Zahra saat gadis itu sudah duduk rapi di depannya. Tempat Eun Jae tadi.
"Dia periksa apa, kak?"
"Hanya kontrol biasa. Kau sudah baikan?"
Zahra menghembuskan napasnya jengah. Terbebas dari Eun Jae malah didatangi kloningannya. Kenapa mereka tidak saling tanya sendiri saja?
"Tidak. Dia hanya datang karena luka jahitnya lepas," jawabnya asal.
"Dasar anak nakal!" sambil memandang pintu yang sudah tertutup sejak tadi.
"Kau sudah baikan, Fa?"
"He em," sambil mengangguk semangat. "Tapi, aku lapar. Aku tidak mau makan makanan rumah sakit,"
"Pesen online gimana?" tawar Zahra sambil mengangkat handphonenya.
"Aku tidak menolak," kekehannya menyusul. "Aku mau jajangmyeon, jokbal, pizza, emm... "
"Meski bukan masakan rumah sakit kau juga harus makan yang sehat. Tidak ingin cepat pulang?"
"Ck! Dokter nggak asik,"
***
Kevin keluar dari mobilnya cepat. Barusaja ia keluar dari restorant tempatnya, Anna, dan Yeol berunding tadi, Zahra sidah menelepon jika Arfa didatangi lagi. Meski beberapa jam lalu wanita itu kembali mengabari adik iparnya baik-baik saja, namun ia masih tak tenang.
Kakinya mengetuk tak sabar menunggu lift yang tak kunjung sampai. Saat ia sampai di lantai yang dituju, dan pintu elevator membuka, langkahnya yang sudah terburu berhenti. Matanya berpapasan dengan Eun Jae yang menunggu lift datang.
"Eun Jae?" Kevin keluar dari lift, mendekat. "Kenapa kau disini?"
"Ah. Biasa. Cek up dengan dokter. Hyung sendiri?" kebiasaan 3 sohib klop itu,–Chun Seung Yeol dan Eun Jae–, jika diluar sekolah mereka akan memanggil Kevin dengan sebutan Hyung.
"Adik iparku dirawat disini,"
"Oh. Arfa? Sakit apa?" tanyanya sok bodoh. Tapi Kevin tak semudah itu mengalir dengan ucapannya.
Ia tersenyum tipis. "Gomawo,"
"For??"
"Aku paham semuanya sekarang. Jaga diri baik-baik! Aku pergi dulu," lalu Kevin berlalu setelah menepuk pundak Eun Jae dua kali. Tapi baru dua langkah ia berhenti. "Ah ya. Semoga beruntung dengan contest mu,"
Eun Jae memandang punggung lelaki itu dengan heran. "Ada apa dengannya?"
"Hey, nak! Kau jadi naik liftnya?" tegur seorang ahjussi dari dalam lift. Ia menahan pintu dengan kakinya.
Sedangkan Kevin langsung menuju ruangan Zahra. Ia memang tadi sempat menelepon Arfa menanyakan posisi sebelum sampai rumah sakit. Saat ia membuka pintu, gadis itu sedang berdebat dengan Zahra tentang menu makan.
Arfa nenoleh saat mendengar pintu berdecit. "Oppa?? Cepat sekali sampainya,"
Lelaki itu langsung menangkup wajah Arfa. Meneliti apa ada yang terluka. "Ada yang sakit selain kaki yang kau bilang tadi? Ada yang merasa kurang nyaman?"
"Kwenchana! Aku sehat dan tidak selemah itu. Oppa tidak perlu khawatir,"
"Jangan main-main, Fa! Kalau sampai kau terluka aku tidak jadi menikah,"
Semua yang ada di ruangan itu tertawa. "Kalau kau bersikap berlebihan, bisa-bisa aku yang dikira tunanganmu. Jangan sampai ada berita siswa termanis blackfire berebut pria dengan kakak kandungnya!"
Kevin menjitak kepala Arfa cukup keras. Zahra yang melihat awalnya terkejut tapi langsung tertawa sedetik kemudian. "OPPA!! Aku sedang sakit,"
"Kalau seorang Arfa sudah bisa usil maka dia baik-baik saja,"
Gadis itu langsung tersenyum aneh sambil mengelus bekas jitakan kakak iparnya. "Aku memang baik-baik saja. Seorang yang tampan, baik, dan keren menyelamatkanku. Kau tau oppa? Dia menggendongku sampai ke tempat aman saat kebakaran. Sayangnya aku langsung pingsan karena asap yang tebal,"
Kevin melirik ke Zahra meminta penjelasan tapi wanita itu terfokus pada pikirannya sendiri. Ingatan Arfa dimodif?
"Arfa? Apa kau ingat sesuatu saat panas tinggi terakhir kali? Kau bilang ada si aula lalu....?"
Pertanyaan dari Zahra juga menarik perhatian Kevin. "Aku ingat sesuatu Eonni saat kemarin aku melihat anak yang kau periksa tadi,"
"Eun Jae?" Zahra meyakinkan diri dan Arfa mengangguk. "Apa yang kau ingat?"
"Aku menemukan kertas tulisannya yang menyuruhku datang ke ruangannya untuk mengembalikan laptopnya. Tapi setelah itu aku lupa,"
"Sekarang kau tidak ingat apapun?" tanya Kevin juga ikut bingung. "Setelah kau bangun dari pingsanmu tadi, apa kau tidak ingat lagi?"
"Tidak,"
Kevin dan Zahra saling pandang. Seharusnya setelah didatangi untuk kedua kali, ia akan ingat semuanya. Kenapa ini?
"Aku lapar sejak baru bangun," tambah Arfa mengalihkan pikiran yang lain. "Oppa! Aku mau makan pizza. Boleh yaa??"
"Boleh. Mau oppa yang pesankan?" lelaki itu menawarkan dan dijawab antusias dengan Arfa.
"Kevin. Itu Arfa sedang sakit," tegur Zahra
Tapi lelaki itu hanya memandang ke arah sang dokter seolah mengatakan kau tau dia di rumah sakit karena apa.