You (ILY Omte)

You (ILY Omte)
Menuju launching



Hari silir berganti,siang menjadi malam dan malam pun menjadi siang.Tak terasa kandungan Raina semakin membesar dan memasuki bulan ke tujuh. 


Tak mudah menjalani kehamilannya ini,sudah banyak yang ia dan sang suami lalui.Rain bersyukur memiliki suami yang super sabar dan perhatian seperti Rayyan meski beberapa ngidamnya membuat Rayyan pusing tujuh keliling sampai berguling-guling dilantai saking frustasinya tapi semua berhasil keduanya lalui.


...Flashback On....


Setelah Rayyan,bang Edo dan mbak Ines sembuh dari ngidamnya bomil,sekarang gantian Raina yang mengalami ngidam.


Rain tengah merengek pada sang suami dari magrib tadi.


"Please sayang.. ayo kita kesana"rengek Raina terus yang ingin mengajak Rayyan pergi ke pasar malam.


"Dear,gak ya.. kapan-kapan aja aku ajak ke Dufan oke"tawar Rayyan membuat Raina mencebik dan langsung naik ke atas ranjang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Rayyan menjenggut kepalanya sendiri,ia sungguh belum pernah sebelumnya ke pasar malam dan ia takut jika disana nanti ada copet dan kembali membayangkan didalam sana berdesakan membuat ia makin frustasi. 


"Oke kita kesana"ucap Ray tiba-tiba membuat Raina langsung bangun dengan mata berbinar.


"Sungguh?"Raina memastikan.


"Iya,tapi cuma bentar"ucap Rayyan.


Wajah Raina yang sebelumnya berbinar kembali muram. 


"Sayang,gak bisa gitu.. Aku mau beli pentol sama paman yang nama awalnya huruf S,gak mau yang lain"permintaan aneh Raina yang benar-benar membuat Rayyan syok bahkan ia terjerembab ke lantai dan langsung berguling-guling memikirkan nasibnya nanti bakal sensus penduduk dadakan. 


"Dear.. gak bisa diganti,ya Allah.. Baru kemarin aku sensus seisi mall cari fried chicken yang kasirnya namanya Agus sekarang apa lagi ya Allah"usap kasar Rayyan pada wajahnya lalu kembali berguling seperti bocah bayi. 


"Sayang,ini permintaan baby"ucap Raina. 


Rayyan langsung menghampiri Raina lalu berjongkok dan mensejajarkan wajahnya pada perut sang istri. 


"Sayangnya daddy,yang lain aja ya sayang.. itu pentol gak baik buat kamu.Ya.. mau ya"pinta Rayyan dengan tatapan putus asa. 


"Gak mau dia yank..Maunya pentol paman S.Kamu mau dedenya ntar ileran,kan gak banget"sahut Raina.


Rayyan dengan gontai berdiri lalu membuang nafas kasar "Yaudah ayo"ucap Rayyan lesu membuat Raina langsung beranjak dari ranjang dan mencium bibir sang suami karna bahagia.


Dan akhirnya ngidam aneh Raina terlaksana.Meski di pasar malam Ray harus mencek satu-satu orang yang berjualan pentol bahkan mencek ktp mereka demi sang istri.Alhamdulillah setelah mengelilingi pasar malam yang sangat ramai itu,ada paman pentol yang jualan paling ujung bernama Susilo berinisial S.Saking senangnya bertemu paman pentol itu Rayyan sampai kegirangan memeluk tubuh orang tua yang menatapnya dengan bingung.Ray akhirnya menjemput Raina yang tengah menunggu di mobil. 


...Flashback Off...


🌸


🌸


🌸


Rain tengah duduk di ayunan bersandar di bahu sang suami yang berada di sebelahnya.Sekarang sepasang suami istri itu mulai menempati rumah yang disediakan oleh bapak,bapak sangat ingin dekat dengan calon cucunya dan sudah diketahui jenis kelaminya itu.Tak ingin terjadi sesuatu lagi dengan sang putri membuat bapak extra protektif.Bahkan setiap pagi bapak menyempatkan singgah kerumah Raina yang tak jauh dari rumah bapak hanya beda komplek.


"Gak kerasa mereka udah gede ya yank"ucap Raina mengeratkan pelukannya pada lengan sang suami. 


Rayyan mencium puncak kepala sang istri "Hhmm… sehat-sehat yang kesayangan daddy"sahut Rayyan penuh kasih sayang.Masih sangat teringat didalam ingatan mereka berdua saat Rayyan mendengar bunyi detak jantung baby mereka,Ray bahkan menangis tersedu dan sangat lama menenangkan suaminya itu. 


"Cih.. dibilang aku gak mau kalo anak kita manggil daddy mommy yank,bule amat.Emaknya aja jawa bapaknya sunda masa anaknya manggil mommy daddy.Gak suka lah..Yang enak dipanggilnya aja"protes Raina dari awal. 


"Ya kan emang kamu campuran dear,Jawa-Rusia.Gak inget bapak orang mana"Rayyan meingatkan.


"Tapi emak membiasakan cintai budaya sendiri sayang"


Rayyan memutar mata jengah "Terserah lah" 


"Panggil mamak abah aja ya"saran Raina.


"Atur aja deh dear,seenak kamu aja"ucap Rayyan karna biarpun berdebat sampai Firaun bangun juga ia takkan pernah bisa menang melawan istrinya ini.


"Ih gitu aja ngambek,jelek tau"ucap Raina menopangkan dagunya pada bahu Rayyan dan menatap suaminya dari samping. 


Rayyan menoleh lalu tersenyum "Siapa yang ngambek,ini lagi senyum gini"sahut Rayyan. 


"Nah,gitu kan cakep.. sini cium dulu"ucap Raina memonyongkan bibirnya dan langsung disambut oleh sang suami,kapan lagi kan ditawari candunya. 


Rayyan langsung menyergap bibir Raina dengan bibirnya,l*****n-l*****n lembut pun tercipta dari bibir keduanya ditambah angin yang berhembus menambah kesan romantis keduanya menikmati ciuman mereka. 


Puas dengan ciuman mereka melepaskan perlahan dan saling menempelkan kening keduanya.Mata keduanya saling mengunci,tatapan penuh cinta pun tercipta diantara keduanya.


"Love you" 


"Love you too"


Entah ungkapan cinta ke berapa ribu,keduanya seakan tak ada bosannya untuk mengungkapkan cinta satu sama lain. 


Rain pun kembali memeluk lengan sang suami,lalu perlahan memejamkan mata menikmati kembali semilir angin yang menyejukkan dengan dada keduanya yang terus berdetak dengan kencangnya.


🌸


🌸


🌸


Sore harinya rumah Rayyan dan Raina tampak ramai dengan para koki yang tengah masak berbagai macam masakan di dapur calon ibu muda itu. 


"Chef Rendy,chef udah punya pasangan belum?"tanya Raina.Ini hobinya setelah hamil,gemar sekali menggoda chef di Restorannya tak tau saja jika chef itu bisa baper karna gombalannya.


"Lah ibu,kan sering tanya itu.. pasti taulah jawabannya"sahut santai Chef Rendy.


"Ish.. tapi kan maunya denger dari mulut chef ganteng"ucap calon ibu muda sambil melihat semua kegiatan chef ganteng kesayangannya.Entah siluman apa yang kembali merasuki Raina yang semakin hari semakin genit saja. 


"Saya bakal awet ngejomblo buk,sampai calon istri saya lahir dan beranjak dewasa"sahut chef Rendi lagi nyengir kuda. 


"Wah.. masih didalem perut udah kamu cap jadi calon istri ya Chef" 


"Iya dong bu harus,takutnya pas udah gede banyak saingan saya deketin dia" 


"Pepet sono bonyoknya,biar bisa keep dari awal"ucap Raina malah bersemangat.


"Ini juga lagi usaha deketin calon mertua" 


Raina mendelik "Heh,maksutnya calon kamu anak saya.Dih,mana mau anak saya sama om-om kayak kamu"


Rendi terkekeh mendengar atasannya itu sewot karna ucapannya.Siapa suruh terus menggoda dirinya. 


"Sayang"panggil Raina saat Rayyan mendekat.


"Ya Dear"sahut Rayyan mencium pipi sang istri tak tau malu padahal disana ada chef Rendi dan dua asisten Chef Rendi yang sibuk membuat masakan.


"Masa anak kita mau dijadiin calon istri sama Chef Rendy.Netes aja belum ni bocah"ucap Raina pada sang suami,membuat Rayyan menatap Rendi.


"Bercanda pak,si ibuk sih suka banget godain saya.Mentang-mentang saya jomblo abadi"sahut Rendy pura-pura sedih.  


"Dear,mending kamu ke depan deh.. kayaknya Bapak sama Emak dateng deh"ucap Rayyan menyuruh Raina agar istrinya itu berhenti menggoda chef Rendy terus-menerus. 


"Gapapa pak,asal nanti putri bapak jadi istri saya.Saya ikhlas ibuk menggoda kejombloan saya ini" sahut chef Rendy lalu terkekeh.


Rayyan pun mendelik sama dengan yang Rain lakukan.


"Bercanda pak"Rendy nyengir kuda membuat Rayyan menggelengkan kepala dan pergi untuk menyusul sang istri. 


🌸


🌸


🌸


Sebenarnya hari ini acara tujuh bulanan kehamilan Rain,tapi mati-matian Raina menolak untuk melakukan acara itu.Ia sangat tak suka jika dirumahnya banyak manusia.


Bahkan saat ini hanya keluarga inti yang diundang oleh Raina setelah sekian lama emak merayu akhirnya calon ibu muda itu mau. 


Tiga mobil masuk kehalaman rumah minimalis milik Rayyan dan Raina,sudah bisa dilihat jika itu Bapak,emak lalu Edo bersama Amel dan mbak Ines serta suami dan putrinya.


"Selamat datang tuan-tuan dan nyonya-nyonya"sapa Raina saat mereka turun dari mobil.


"Berasa masuk ke restoran"sahut emak terkekeh.


"Ya kan ini CEO resto mak"ucap sombong Raina.


"Dih,CEO apaan.. CEO gadungan kamu tuh"sahut emak menoyor sang putri lalu merangkul calon ibu muda itu masuk.


Mereka duduk di karpet yang sudah di tata di ruang tengah.


"Mbeb kamu kenapa bang?"tanya Raina pada Edo,karna setelah tau Edo memanggil Amel dengan panggilan beb Raina ini terus mencibir panggilan lebay itu.Padahal dirinya juga lebay. 


"Mabok"sahut Edo mengelus rambut Amel yang tengah merebahkan kepalanya pada pahanya. 


"Mabok apaan?"tanya Raina mengrenyit.


"Mabok jengkol"sahut Edo lagi membuat Raina tertawa keras.


"Ngapa lu gak sekalian mabok pete Mel,astaga sejak kapan lu suka jengkol.Padahal dulu kalo gue makan juga lu ngacir"sahut Raina dengan terus tertawa.


Rain masih ingat jika sahabatnya ini tak menyukai jengkol,apalagi dulu saat dirinya mengajak kedua sahabatnya makan di warteg Amel akan pergi keluar jika Raina makan jengkol.


"Ini semua gara-gara abang lu juga Rain"rengek Amel yang seharian ini makan semur jengkol sewajan karna godaan dari suaminya saat sarapan memakan semur jengkol membuat ia tak tahan menahan godaan. 


Raina dan Niko tak berhenti tertawa mendengar penuturan kakak iparnya sekaligus sahabatnya itu,bukan hanya mereka berdua tapi emak pun sampai lari ke kamar mandi karna tak tahan menahan kencing karna terus menertawakan cerita sang menantu tergoda jengkol dipagi hari bahkan sang mantu bercerita dengan wajah melas.


"Sukurin lu,inget kan lu dulu pernah bilang sampai mampus lu gak bakal suka jengkol..Tapi sekarang sampai mabok lu makan tu jengkol haha…"sahut Raina dengan terus tertawa bahkan ia sampai memegangi perutnya karna kram terlalu terus menertawakan Amel yang lemas itu. 


Sejam berlalu acara itu pun ramai dengan obrolan keluarga adik-adik emak yang sebelas duabelas sengkleknya dengan emak ditambah dengan Raina,mbak Ines dan Amel tambah riuh saja suasana,jangan lupa pada Ais yang jaim jika tertawa.Sedangkan Ayah Rayyan berkumpul dengan bapak,suami tante Dian,bang Willy,Niko serta bang Edo.Air pun mulai akrab dengan sepupu Raina,anak dari tante Dian.


Tiba-tiba suara salam dari luar rumah dan langsung dijawab oleh semua orang yang berada didalam.


"Waalaikumsalam"jawab salam mereka dari dalam.


"Liat bi,siapa yang dateng"ucap emak menyuruh bibi mencek ke luar. 


Bibi pun mengangguk dan beranjak dari duduknya untuk melihat tamu yang datang.Karna saat makan tadi memang semua pekerja di rumah Rayyan dan Raina juga ikut serta,Emak dan Bapak tak pernah membedakan para pekerja dengan mereka.


Setelah beberapa saat bibi masuk diikuti oleh tiga orang laki-laki yang berjalan mengikuti langkah bibi. 


Mata Raina membulat melihat tamu yang datang.Terlihat lelaki paruh baya datang bersama lelaki yang mereka kenal.


"Daddy"


"Elang" ucap sepasang suami istri itu berbarengan.Kedua lelaki yang berjalan itu pun tersenyum menyapa semuanya diikuti oleh seorang ajudan yang membawa beberapa barang ditangannya.


"Aud...eh Raina masih mengenali daddy?"lelaki paruh baya itu tersenyum mendengar wanita cantik yang sangat dicintai putranya masih mengenali dirinya.Raina tersenyum melihat lelaki paruh baya yang sangat baik padanya. 


"Rendra"panggil bapak berdiri dan menghampiri sahabatnya.


"Adrian.. lama tak berjumpa brother"sahut daddy Elang memeluk sahabatnya. 


"Ya sangat lama,terimakasih sudah menjaga putriku..Aku belum sempat berterimakasih padamu"ucap bapak pada sang sahabat.


"Aku sudah menganggap dia seperti putriku sendiri brother"sahut daddy Elang menepuk pelan punggung sang sahabat.


Setelah selesai berpelukan,Elang dan Daddynya menghampiri Raina dan memberikan bingkisan yang mereka bawa. 


"Daddy,ini banyak sekali.Terimakasih"ucap Raina setelah menerima semua bingkisan lelaki paruh baya itu.


"Tak sebanding dengan hadiah yang kamu berikan pada kami putriku.. Bahagialah selalu"sahut lelaki paruh baya itu memeluk tubuh Raina yang tengah berbadan dua.


"Jaga selalu putriku nak"pesan daddy Elang melirik pada Rayyan yang juga tersenyum padanya.


"Itu sudah janji saya tuan,saya akan selalu membahagiakan dia"sahut Rayyan sopan.


"Panggil daddy,sama dengan Raina" 


"Baik tu..dad"sahut Rayyan.


Elang pun menghampiri Raina,menyerahkan paperbag yang di serahkan ahudannya pada Elang dan menyerahkan pada Raina.


"Apa dia menyusahkanmu?"tanya Elang pada Rain.


Raina menggeleng lalu tersenyum "Mereka sangat pengertian"sahut Raina.


"Mereka?"tanya balik Elang membulatkan matanya.


Rayyan ikut tersenyum melihat keterkejutan Elang,setelah Raina menyebut 'mereka' pada lelaki itu. 


"Ya.. karna mereka ada dua,jadi kami menyebut mereka"timpal Rayyan setelah melihat Elang yang terus bingung menatap dirinya dan sang istri.


"Oh my god"teriak Elang kesenangan membuat semua mata tertuju padanya. "Daddy,cucu daddy ada dua"lanjutnya malah sujud syukur dihadapan mereka semua.


Daddy Elang bahkan kaget melihat respon putranya yang begitu bahagia itu,ia tak menyangka undangan dari calon ayah pada putranya dan dirinya akan membuat putranya sebahagia ini.Meski wanita yang dicintai putranya memiliki anak bersama orang lain.


"Ya Tuhan,aku sangat bahagia"ucapnya lagi sudah menangis tersedu membuat mereka yang berada disana geli dengan tingkah lelaki imut itu.Bahkan tingkahnya tak beda jauh saat dengan Rayyan saat tau istrinya mengandung bayi kembar. 


"Terimakasih Raina,terimakasih Ray.. Kalian benar-benar baik padaku..Aku sungguh bahagia"racaunya lagi yang hampir memeluk tubuh Raina tapi ditarik lebih dulu oleh Rayyan untuk memeluknya.


"Boleh bahagia,tapi tetap harus ingat jika Raina istriku.. Jangan salah meluk orang"ucap Rayyan yang dapat didengar oleh Raina membuat istrinya terkekeh dengan sikap suaminya yang tak cemburu buta lagi pada Elang.


Sekarang semua orang berbaur bak keluarga besar,meski ayah Rayyan bingung kehadiran pembisnis muda sekaligus salah satu rekan bisnisnya yang sangat perhatian dengan menantunya.Tapi lelaki tua itu menutupi rasa penasarannya setelah bapak mengatakan jika Keluarga Wardhana ini sudah seperti keluarga membuat lelaki tua itu sedikit lega.


🌸


🌸


Prang 


"Ah….sakit"pekik Raina kesakitan saat kembali dari dapur dengan membawa sepiring buah.Ia terus memegangi perutnya.