You (ILY Omte)

You (ILY Omte)
Menyerah



Ting tong


Ting tong


Ting tong


Dengan berlari Niko membuka pintunya yang di tekan dengan tak sabaran.Ia tau siapa pelakunya,dengan cepat Cecek menerobos masuk membuat Niko sampai terjengkang ke dinding saking kuatnya dorongan Cecek. 


Greb


"Dear maafin aku"ucap Cecek langsung memeluk Raina yang tengah makan. 


Teng !!


Sendok Raina sampai terjatuh karna terdorong kedepan saat kekasihnya memeluknya.


"Ngapa semua orang minta maaf ke gue sih .. Emang gue kenapa?"monolog Raina bingung. 


Amel hanya bisa menepuk jidat karna lemotnya sang sahabat serta ketidak pekaan sahabat kesayangannya ini. 


"Sweetheart,aku emang kenapa? Kamu punya salah apa ke aku?"tanya Raina akhirnya membalik badan menatap Cecek. 


Lelaki itu tampak acak-acakan dengan rambut yang amburadul.Lalu ia melirik sahabatnya Niko yang sedang menggosok-gosok kepala belakangnya.Kenapa tu anak pikir Raina. 


"Lu kenapa Nik?"tanya Raina 


"Kejedot pintu.. Pacar lu sih gak kira-kira bukanya,gak sabaran banget"sahut Niko memberengut kesal malah ditertawakan oleh kedua sahabatnya.


Sedangkan Cecek lelaki melow itu tetao menatap intens kekasihnya.Pada akhirnya Raina sadar seseorang tengah menatapnya,ia pun kembali menatap intens kekasihnya.


"Sweetheart kamu kenapa?? Rambut kamu juga kenapa berantakan gini?"tanya Raina sambil menyisir rambut Cecek menggunakan tangannya. 


"Dear maafin aku"sahut Cecek "Maaf udah mengabaikan kamu tadi.. Maaf dear"lanjutnya. 


"Iya gapapa sweetheart,aku sempet kesel sih tapi it's oke gapapa.. Aku maklum kok" sahut Raina sambil tersenyum teduh.


"Jangan tinggalin aku dear"ucap Cecek memeluk tubuh Raina. 


Heh,tak sadarkah mereka berdua jika ada dua jomblo yang tengah menyaksikan adegan romantis mereka.Amel sampai memalingkan wajahnya karna baper sendiri. 


(Ngenesss….ngenesss 😭😭-author ikut prihatin)


"Aku gak akan ninggalin kamu kok,kenapa bilang gitu sih?" 


"Aku takut kamu marah,kamu ninggalin aku.. Bahkan kamu ninggalin barang yang kita beli tadi di depan Apartemen.Itu bikin aku takut." 


Raina merenggangkan pelukannya lalu menatap kekasihnya. 


"Itu karna aku tau mood kamu lagi gak baik,jadi aku taruh disitu deh.. Aku mau hubungi kamu juga tadi,tapi baterai aku Lowbat dan di Apartemen semewah ini yang punya Apartemen gak punya charger"menekan semua kata-kata terakhirnya. 


"Sialan napa gue yang disalahin"umpat Niko mendelik tajam pada Rain. 


"Emang lu yang salah… besok gue beli charger banyak disini,biar kalo baterai gue lowbat lagi gak kesusahan.wlek"ucap Raina lagi dengan menjulurkan lidah mengejek Niko. 


Kkkrrruuukkk….kkkrrruuukkk…. 


Kembali perut Raina kembali berdendang,karna baru satu suap saja yang masuk ke dalam perutnya.Ia belum makan semenjak tadi siang,tidur memang membuat dirinya begitu lapar saat bangun.


Cecek menatap geli kekasihnya yang tampak menahan malu.Tertangkap basah kelaparan seperti ini membuat Raina malu jika di hadapan kekasihnya.Biasanya juga malu-maluin.


Amel dan Niko pun sama halnya dengan Cecek,mereka berdua juga menatap geli tingkah Raina yang seperti itu.Jatuhnya ke jijik karna memang bukan Raina yang biasanya jika bertingkah malu-malu seperti itu. 


"Dih… muka lu biasa aja sih Rain"cletuk Amel.


"Diem lu jomblo"sahut Raina mendelik.


"Kamu laper dear?" 


Raina mengangguk malu "iya ini,baru nyuap sekali tadi..Eh kamu malah peluk-peluk aku,jadi tertunda deh makannya"sahut Raina lembut. 


Niko menggelengkan kepalanya sambil tersenyum,terdengar suara ponselnya berdering ia pun meninggalkan ketiga manusia itu di ruang makan untuk meambil ponselnya. 


Tertera kembali nama Tristan di ponsel Niko. 


"Banyak banget yang khawatirin lu Rain.. hedehhh"monolog Niko sebelum menjawab telfon Tristan.


"Haloo"


"Gimana Nik,Rain udah ketemu? Gue nyariin sampe muter-muter juga gak ketemu.Gue ke Cafe sama David juga dia gak ada disana.. Kira-kira dimana ya dia"cerocos Tristan membuat Niko menjauhkan ponselnya lalu berjalan menghampiri Raina dan yang lain di ruang makan. 


Niko mengulurkan ponselnya pada Raina.Mata Raina melotot dan menaikkan alisnya seakan bertanya "siapa?" 


Raina menerima ponsel Niko dan mendengarbsuara laki-laki tengah beebicara. 


"Halo"ucap Raina.


"Rain.. ini lo,lo Raina kan?"


"Iya ini gue… kenapa Tan,suara lu kayak orang cemas gitu" 


"Ah… syukurlah Rain lu udah ketemu,gue hampir gila denger lu hilang.Lu gapapa kan?" 


"Gue? Hilang gimana? Gue tidur kali kaga hilang.Ini kayaknya banyak yang salah paham deh" 


"Udahlah gak penting,yang penting gue seneng lu udah ketemu dan gue bisa dengerin suara lu… yaudah gue matiin dulu,gue mau balik.Jangan ngilang lagi Rain"


"Thanks udah khawatir sama gue.. hati-hati lu" 


"Hhmmm… bye Rain" 


"Bye Tristan" 


Panggilan itu pun mati.


"Lu liat,semua orang kelimpungan nyariin lu doang"ucap Niko. 


"Iye maaf… mana gue tau bakal kayak gini kejadiannya"sahut Raina lalu menarik tubuh Cecek untuk duduk di kursi sebelahnya. 


Tak tau kah mereka jika Cecek tengah menahan cemburu,mendengar obrolan lelaki tadi dengan kekasihnya.Ah.. seperti ini rasanya kembali cemburu,sudah lama ia tak merasakannya.Ternyata menyesakkan dan membuatnya ingin mengamuk saat ini juga. 


"Om,om mau makan sekalian.. Aku ambilin nasi"ucap Niko pada Cecek.


"Tidak usah,terima kasih"sahut Cecek lalu diam,hanya menggenggam telapak tangan kekasihnya dengan posesif. 


"Sweetheart kenapa diem aja sih?"tanya Rain. 


"Hah.. em gapapa..Dear,aku sebaiknya pulang dulu.Setelah ini kamu ke Apartemen aku ya.. Ada yang mau aku omongin sama kamu"ucap Cecek lalu berdiri. 


"Kok buru-buru sih?"


"Aku belum mandi dari sore...Aku mau mandi dulu" 


"Ih… pantesan aku cium-cium bau asem dari tadi"goda Rain dengan mengapit hidungnya.Membuat Cecek gemas sendiri.Ah.. kenapa kekasihnya ini begitu menggemaskan,pantas saja banyak yang menyukai Raina pikir Cecek.Memikirkan ini membuat dada Cecek kembali berkobar karna cemburu. 


Akhirnya Raina meantarkan Cecek sampai ke pintu Apartemen Niko.


"Aku pulang dear" 


"Hhmmm…ntar aku kesana abis makan ya" 


"Iya.. love you,jangan tinggalin aku ya"ucap Cecek lagi kembali memeluk tubuh ramping kekasihnya.


"Cih… berasa mau pisah jauh gini"sahut Raina terkekeh sambil membalas pelukan kekasihnya. 


🌸


🌸


🌸


"Rain,kayaknya Omte lu cemburu deh"ucap Amel saat Raina kembali makan disebelahnya. 


Raina menaikkan sebelah alisnya bingung "Cemburu? Sama siapa?" 


"Dari pengamatan gue sih sama Tristan"sahut Amel. 


"Sejak kapan lu pindah profesi jadi detektif"ucap Rain tak percaya. 


"Keliatan banget sih pas lu ngobrol sama Tristan tadi,si Om nahan cemburu.Ekspresi mukanya gak bisa dibohongin"timpal Niko yang juga melihat jelas bahwa Cecek tengah cemburu. 


"Masa iya"ucap Raina tak percaya lalu melanjutkan makannya. "Oh ya Mel,gimana perasaan lu sama abang gue? ada peningkatan?" lanjutnya bertanya pada Amel membuat Amel seketika terdiam.


Niko mengode pada Rain agar tak bertanya masalah sensitif ini pada Amel dengan mengibaskan tangan tapi dasar Rain tak paham dengan kode-kode,Rain malah acuh dan menatap Amel untuk menanti jawaban dari Amel.


Amel meminum air mineral di dalam gelas sampai tandas,entah kenapa ia butuh tenaga untuk menyahut ucapan Raina.


"Gue nyerah.. Gue gak mau kecewa lagi,bang Edo sangat sulit buat gue gapai.Gue gak mau terlalu berharap,biar gue doang nyimpen perasaan ini tanpa harus dia tau"sahut Amel akhirnya dengan raut wajah sedih membuat Raina tak tega langsung menghampiri sang sahabat lalu memeluknya.


"Maafin abang gue,tapi gue juga gak bisa apa-apa kalo masalah hati..Gue bakal selalu dukung lu apapun keputusan lu.Gue seneng ada cewek kayak lu yang tulus cinta sama abang gue"tutur Raina mencoba memberi semangat pada sahabatnya.


🌸


🌸


🌸


Sedangkan di Apartemen Cecek,lelaki lemah gemulai itu tengah memukul-mukul sofa untuk melampiaskan amarahnya yang tengah menggunung karna cemburu. 


"Sial… siapa tu cowok yang telfon sama cewek gue..dikira Raina itu milik dia,Cih.. jangan harap"ucapnya kesal dengan terus memukul sofa.


"Aaarrrgggg……"Ia mengacak rambutnya kasar.


Ting tong 


Ting tong 


Suara bell Apartemen membuat Cecek mengembalikan moodnya,ia tak mau sang kekasih melihat wajah amarahnya.Beberapa kali ia menghembuskan nafas untuk menetralkan suasana hatinya,lalu menarik bibirnya keatas. 


Cklek 


"Sweetheart"sapa Raina mengembangkan senyum.Lalu wajahnya melihat ada sesuatu yang aneh dari kekasihnya. 


"Sweetheart,kata kamu tadi mau mandi.. Kok masih belum mandi sih?"tanya Raina sambil berjalan masuk ke Apartemen Cecek. 


Cecek malah cengengesan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Disini habis ada gempa? Kenapa porak-poranda gini?"tanya Raina lagi melihat sofa yang acak-acakan dengan bantal yang tak berada pada tempatnya. 


"Hehe… olahraga dear tadi"


"Olahraga apa?? Olahraga lampiasin cemburu kamu"sahut Rain. 


Deg 


Badan Cecek menegang,ia mengulum bibirnya merasa malu ketahuan cemburu oleh kekasihnya. 


"Kelihatan banget ya"ucap Cecek melemah. 


Raina diam-diam tersenyum,ternyata benar ucapan kedua sahabatnya dan dirinya memang orang yang tak peka. 


"Kok gak bilang kalo cemburu.. Aku bahagia"sahut Raina menggelayut pada lengan Cecek. 


"Bahagia?" Ucap Cecek menatap Raina yang tengah menatapnya juga. 


"Iya.. aku suka kamu cemburu...Artinya kamu beneran cinta sama aku" 


"Gak perlu aku bilang,aku benar-benar cinta sama kamu..Aku takut kalo perlihatkan kecemburuanku,aku takut lepas kontrol"tutur Cecek.


"Masa sih emang bisa?" 


"Kamu mancing?"Tanya Cecek mengernyitkan keningnya.


"Ya boleh sih.. pengen liat kamu cemburunya gimana hehe…."sahut Raina malah cekikikan.


"Beneran nih… kamu yang mau ya dear,awas aja kalo sampe ngeluh liat aku cemburuan"ucap Cecek mengapit hidung mancung kekasihnya. 


"Aw.. aw.. sakit ih,mandi sana.. bau tau" sahut Raina mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah.


"Emang kamu udah mandi?aku liat baju kamu juga sama kayak tadi siang" 


"Biar gak mandi kalo aku mah selalu wangi"ucapnya percaya diri.


"Gak percaya aku"sahut Cecek. 


"Lah gak percaya.. masa gak cium sih bau wangi aku" 


"Coba deh deket sini"ucap Cecek,Raina pun mendekatkan dirinya pada sang kekasih. 


Cup 


Cecek mencium pipi Raina,membuat Raina langsung membulatkan matanya.Badannya menegang tak berani menoleh pada kekasihnya,entah kenapa badannya menjadi kaku sekarang. 


"Biasa aja sih mukanya"ucap Cecek yak menyadari sesuatu yang aneh pada kekasihnya. "Iya,kamu wangi banget kok.Yaudah kamu tunggu sini,aku mandi ya"lanjutnya lalu meninggalkan Raina yang tengah terdiam. 


Kepergian Cecek membuat Raina leluasa meambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya,beberapa kali ia lakukan itu untuk mengembalikan kesadarannya.Ia ingin melawan trauma nya,ia ingin sembuh.


🌸


🌸


🌸


Lelaki gagah dengan setelan kantor itu tampak masuk dengan santai di kediamannya,rumah besarnya terlihat sangat sepi.Entah kemana semua orang yang ada dirumah ini. 


"Huh.."ia membuang nafas lelah.Lalu pandangannya menatap pada figura besar yang berada di Ruang tamu. 


"Abang kangen kamu dek"gumamnya melihat foto keluarga yang terdapat dirinya serta adik bungsunya disana.Ia menatap sedih figura foto itu.


Edo berjalan masuk kedalam lagi,sampai pada tangga bibi dari dapur pun menyapa. 


"Den Edo.. ya Allah,pulang kok gak ngasih kabar? Nyonya sama Tuan lagi dirumah nona Ines"sahut bibi."Sini bibi bawakan den,,aden pasti capek"lanjut wanita paruh baya itu ingin meraih koper Edo.


"Gapapa bik,biar aku bawa sendiri.Tolong buatkan air jeruk hangat ya bik,antar ke Kamarku"tolak Edo. 


"Baik den,siap"sahut bibi riang.


Edo pun melanjutkan jalannya,tapi tiba-tiba jalannya pun terhenti.


"Bik"kembali Edo memanggil bibi.


"Iya den" 


"Rain ada di Kamar?" 


Wajah bibi memucat "Non Rain… em...Nona ada di tempat den Niko"sahut bibi. 


"Bibi gak lagi nutupin sesuatu kan?"tanya Edo menyelidik.


"Ti...tidak den,bibi gak menutupi apa-apa.Kalo gitu bibi ke dapur dulu den,bikinin pesanan Aden.permisi"sahut bibi lalu pergi meninggalkan Edo yang tengah terdiam. 


Edo harus memastikan sesuatu,dengan cepat ia melangkahkan kakinya ke lantai dua.Kamar pribadinya. 


Setelah membersihkan badannya,Edo lebih terlihat segar dan mempesona dengan kaos oblong serta celana kolor warna hijau tua.Ia menggosok-gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk. 


Ia menatap ponsel mahalnya,ia ingin menghubungi seseorang.Tapi ia ragu,ia menimang-nimang apakah tak apa menghibungi dia pikir Edo.


Edo meaktifkan ponselnya dan membuka kontak seseorang yang tak terlihat online di whatsapp.Ia menekan icon panggilan pada satu kontak tersebut. 


Tut….tut…. 


Tak lama kemudian suara seseorang terdengar sangat merdu bagaikan angin sejuk yang menyapa di telinga Edo membuat tanpa sadar membuat Edo tersenyum.


"Hallo… hallo"ucap seseorang disebrang sana. 


...💜💜💜💜...


...💜💜💜💜💜💜...


...💜💜💜💜...


...Ritualnya sahabat jangan lupa ya.Kasih love,like dan komen ya sahabat.Sangat-sangat ku nanti gengs komen kalian 🤗...


...Salam sayang Amma,Omte dan Raina 🥰🤗...