
Seperti janji sehari sebelumnya,tuan Arjuna mengajak bertemu untuk mempertemukan Ray dengan bocah cilik yang tak lain adik tirinya.
Rain dan Rayyan tengah duduk santai di kursi depan resto.Rain terlihat menyandarkan badannya pada bahu Rayyan.
"Apa yang mas pikirkan?"tanya Rain melihat Rayyan yang hanya diam.
"Em..aku cuma mikir.. Apa benar aku boleh bahagia? Mengingat aku yang membuat keluargaku hancur"sahut Rayyan dengan tatapan sendu.
"Hey ..hey.. kenapa mikir gitu lagi sih,bukannya kemarin sepakat untuk damai"ucap Raina menegakkan badan dan menatap serius pada sang suami.
"Benar,tapi.. tadi malam,ingatan itu kembali datang dear"sahut Rayyan lemah karna kenangan buruk kembali datang saat ia terlelap.Melihat bundanya yang menangis tersedu sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
Raina menarik tubuh sang suami untuk menghadap padanya,lalu saling menggenggam tangan "Semua manusia berhak bahagia,tak terkecuali kamu mas.Kamu berhak bahagia."ucap Rain "Maka dari itu,jangan takut dengan semua kebahagiaan yang kamu dapat.Karna semua ini nyata.Bunda pasti ikut bahagia Mas"lanjut Rain mengelus pipi kanan sang suami.
"Hhmm..Aku tau,tapi rasa takut itu masih ada"
"It's oke.. Perlahan,perlahan aja"ucap Rain,ia tau gak mudah untuk berdamai.Apalagi berdamai dengan diri sendiri itu sangat susah.
"Coba ikuti aku.."ucap Rain "Fokus.. Tenang dan pejamin mata kamu"lanjut Rain
Rayyan pun menuruti instruksi sang istri.
"Buka mata kamu"ucap Rain lagi. "Apa yang mas lihat dan rasakan?"tanya Rain menatap sang suami.
"Cuaca cerah dan ada didepan kamu"sahut Rayyan.
Raina tersenyum "Hhmm.. itu sudah cukup,ingat momen ini hanya kita berdua sudah cukup untuk saling mengisi kebahagiaan.Maka dari itu jangan pernah ragu dan takut dengan kebahagiaan yang nyata didepan kita"ucap Raina tersenyum menatap sang suami.
"Kamu selalu bisa buat aku tenang,tapi sayang.. Kamu sendiri,apa yang kamu rasakan?"
"Aku?"tunjuknya pada diri sendiri,Rain tersenyum "Aku cuma bisa merasakan satu hal"lanjut Rain.
Rayyan membalas senyuman sang istri,semakin penasaran. "Apa itu?"tanyanya.
"Aku cuma bisa merasakan,cinta ku ke kamu yang semakin,semakin banyak.Aku sangat mencintaimu mas"ucap Raina sungguh-sungguh.
Rayyan sempat terdiam lalu ia mengembangkan senyumnya "Aku juga cinta sama kamu..sangat cinta"sahut Rayyan memeluk tubuh sang istri.Begitu baiknya Tuhan padanya,mempertemukan dirinya dengan wanita yang sangat mengerti dirinya.Sangat ia cintai.
Keduanya berpelukan lama,tak sadar mereka tengah menjadi tontonan banyak orang.Termasuk tuan Arjuna yang melihat dengan bahagia tak jauh dari mereka bersama putra kecilnya.
🌸
🌸
🌸
"Ehem...ehem"deheman Tuan Arjuna membuat keduanya yang tengah berpelukan itu terkejut.
"Ayah"ucap Rain dan Rayyan bersamaan.Keduanya pun bangkit dan menghampiri lelaki paruh baya dan mencium punggung tangan tuan Arjuna bergantian.
"Ayah udah lama?"tanya Rain.
"Lumayan,sejak kalian mulai berpelukan tadi"sahut tuan Arjuna sambil tersenyum
Blussshh
Raina langsung merona karena malu ketahuan berpelukan dengan suaminya di tempat umum seperti ini.Apalagi yang memergoki mertuanya.
"Untung gak liat pas lagi encup-encupan si ayah"batin Raina.
"Gak usah malu gitu,gapapa kan udah sah juga"ucap tuan Arjuna melihat anak dan menantunya tengah salah tingkah dihadapannya.
"Hay ganteng"sapa Rain mensejajarkan badannya setinggi bocah itu.Bocah laki-laki itu terdiam disebelah tuan Arjuna.Ia hanya melihat saja tanpa berbicara.
Rayyan juga tampak diam.
"Kok diam aja,sini.. Kenalin aku kak Rain"ucap Raina lagi dengan melambaikan tangan.
Bocah itu tampak masih terdiam tapi matanya tak berhenti menatap Rayyan.Raina yang melihat itu pun berdiri dan menggenggam tangan sang suami.
"Sapa dia dulu,kayaknya dia takut sama kamu"bisik Rain.
"Air sapa kakak kamu"ucap tuan Arjuna menyuruh putranya yang bernama Airlangga Delano Sanjaya berumur 8 tahun itu.Bocah itu masih diam.
Rayyan berjongkok,mensejajarkan tubuhnya dengan sang adik.Bolehkah ia meanggap anak itu sekarang menjadi adiknya.
"Hay,nama kamu Air ya.. Sini,bukannya waktu itu kamu mau ketemu aku"ucap Rayyan dengan senyum mengembang menatap bocah cilik yang meremat tangan kecilnya pada bodyguard disebelahnya. "Jangan takut sama aku"lanjut Rayyan melambaikan tangan menyuruh bocah itu mendekat.
"Air bukannya nama maskapai penerbangan ya"cletuk Raina sambil terkekeh,tak taukah Rain ini lagi mode mengharu biru.
Seketika mertua dan beberapa bodyguard ikut tertawa karna cletukkan.Sang suami hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa pada ketawa.. maaf salah ngomong ya akunya"ucap Rain nyengir.
Hanya disahuti senyum oleh semua orang.
Rayyan meulurkan tangannya pada bocah cilik yang bernama Air tadi dan tanpa disangka bocah itu malah langsung menghambur ke pelukan Rayyan.Ia menangis.
"Kok kamu nangis?"tanya Rayyan.
"Aku takut liat kakak marah sama ayah dan Air kayak dulu"ucap polos bocah cilik itu.
Rayyan merasa bersalah mendengar kata-kata polos dari adik tirinya.
"Maaf,kakak waktu itu gak enak badan"ucap Ray beralasan.
"Iya,ayah juga bilang kakak sakit makanya kakak marah-marah"sahutnya lagi,sekarang bocah itu sudah tersenyum bersama Rayyan.
Rayyan menggendong Air dan menatap seluruh wajah Air yang mendominasi wajah sang ayah,seperti dirinya.
Tuan Arjuna terharu melihat akhirnya anak-anaknya dapat bertemu seperti ini,keinginan Air setiap hari akhirnya bisa ia wujudkan sekarang.Sesekali ia menghapus air matanya yang meleleh di pipi.
🌸
🌸
🌸
Setelah berbincang tadi sepasang suami istri itu serta tuan Arjuna dan Air makan bersama di Restoran milik Rain.
"Ayah sakit? Kok pucat banget aku liat dari tadi"ucap Raina yang memang melihat wajah mertuanya tampak pucat.
Tuan Arjuna tersenyum "Gak nak,ayah cuma kecapean aja..Akhir-akhir ini kerjaan ayah banyak"sahut lelaki paruh baya itu.
Rayyan terdiam hanya meamati sang istri yang berbincang dengan ayahnya.
"Orang kepercayaan ayah emang gak ada?"tanya Rain kasian melihat tubuh renta sang mertua yang seharusnya bisa menikmati hari tuanya dirumah tapi malah terus bekerja sendiri memimpin perusahaan.
"Ya syukurlah dia ada,jadi dia bisa bantu ayah mengurus perusahaan di New York saat Ayah harus berada di Indonesia"sahut tuan Arjuna.
Raina manggut-manggut mengerti.
"Kakak,boleh Air menginap di rumah kakak?"tanya bocah cilik itu dengan raut wajah memohon.
"Air,kapan-kapan kan bisa ketemu lagi..Gak usah minta macam-macam"ucap tuan Arjuna tegas membuat mata Air berkaca-kaca.
Raut Raina berubah sesedih mungkin,melihat wajah polos itu memohon ia terenyuh. "Eeemm mas.. bolehin ya,sad gitu mukanya"rengek Raina.
Rayyan malah tertawa melihat wajah Raina yang merengek seperti bocah,ia baru saja melihat istrinya bisa seperti itu.
"Mas.. boleh ya"pinta Raina mode memohon.
"Tapi dear,kita mau nginep di rumah bapak kan?"Rayyan mengingatkan pada sang istri
"Iya tau,gapapa kan Air ikut.. Lagian emak sama bapak gak akan keberatan" sahut Raina.
Rayyan membuang nafas kasar "Baiklah..Biarkan Air ikut sama kami yah"ucap Rayyan tersenyum pada bocah yang menundukkan kepala itu.
Raut wajah yang tadi sedih itu berubah gembira "yeeaayy"bahkan Air jingkrak-jingkrak bahagia.Raina ikut gembira bahkan ikut jingkrak-jingkrak seperti Air.Berpelukan bersama bocah cilik itu.
"Tapi Ray.."sahut Tuan Arjuna.
"Gapapa yah..Biarkan aku lebih mengenal Air"ucap Rayyan sebelum ayahnya menyelesaikan ucapanya.
Tuan Arjuna semakin bahagia melihat Rayyan mau menerima putranya sebagai adiknya sendiri.
"Makasih nak,makasih sudah menganggap Air ada dan Maafkan semua kesalahan ayah"ucap tuan Arjuna kembali meminta maaf.
"Sudahlah yah.. Semua sudah berlalu,sekarang saatnya kita bangkit melupakan masalalu yang pahit dan membangun kenangan baru yang diisi oleh kebahagiaan"sahut Rayyan tersenyum teduh menatap sang ayah.
🌸
🌸
🌸
Kembalinya sepasang suami istri itu dari Resto,sekarang keduanya tengah membawa Air untuk jalan-jalan.Rain duduk di kursi penumpang bersama Air di pangkuannya.
"Kak,kita mau kemana?"tanya Air dengan logat khas bocah cilik membuat Raina gemas sendiri.
"Air pengennya kemana?"tanya balik Raina meelus-elus pipi Air membuat Rayyan sedari tadi cemburu.Ditariknya tangan Raina untuk ia genggam.
"Kenapa sih mas?"tanya Raina bingung.
"Gapapa"sahut sewot Rayyan.
"Dih.. gak jelas"ucap Raina mencoba melepas genggaman tangannya dari Rayyan tapi malah Ray meeratkan genggamannya.
"Air gak mau kemana-mana kakak,Air mau ikut kalian"ucap polos bocah berumur tujuh tahun itu.
"Air suka main ke wahana bermain?"tanya Raina lagi pada Air.
"Gak,Air takut dulu Air pernah hilang dan itu buat ayah sedih..Air gak mau kesana lagi,takut ayah sedih"sahut polos bocah cilik itu.
"Oh gitu,tapi kan sekarang ada kak Rain sama Kak Ray"bujuk Raina.
Air menggeleng "Air gak mau"sahut bocah itu lagi.
"Air,Air kalo dirumah mainnya sama siapa?"tanya Raina penasaran.
"Air main sama nanny"sahut bocah cilik.
Air mengangguk "Nanny yang selalu temenin Air dirumah,karna ayah selalu sibuk.Dan ketemu Air saat makan aja"sahut polos bocah itu lalu menundukkan kepala. "Air tau,sebenarnya Ayah sering nangis..Ayah selalu liat foto ayah,bunda,kak Becca dan kak Ray.Disana gak ada aku"lanjut bocah itu tambah tertunduk sedih.
Rayyan bahkan langsung menepikan mobilnya,mendengar ucapan adik tirinya.
"Maksut kamu?"tanya Ray mendengar penuturan Air.
"Air tau,ibu Air bukan bunda..Air dulu dua kali ketemu sama wanita yang bilang kalau dia ibu Air,tapi sekarang Air gak pernah liat dia lagi"bocah sekecil ini bisa berbicara seperti itu.
Raina meremat tangannya sendiri,mengingat Putri yang meninggal karna dirinya.Karna Elang yang membela dirinya.
"Kenapa kamu gak ikut ibu?"tanya Rayyan
"Air gak suka ibu,ibu gak sayang Air.Setiap ketemu sama Air ibu terus minta uang sama ayah"Airlangga mengingat kejadian saat Putri bertemu dengannya. "Air ingin ibu Air itu bunda,ayah bilang bunda baik.Bunda sayang sama Kak Becca dan kak Ray.Air mau punya bunda,kenapa ibu Air bukan bunda kak?"lanjut bocah cilik itu dan Ray serta Raina tak menyangka jika bocah cilik itu menangis malah merindukan bunda.
Raina mengelus punggung Air yang tengah menangis untuk menenangkan.
Rayyan langsung memeluk adik tirinya,ia merasa kasihan melihat adiknya yang tumbuh dengan kasih sayang yang diberikan oleh ayah.Bahkan ayahnya masih sibuk bekerja.
"Maafkan kakak"ucap Rayyan pelan.
"Kenapa kakak lama,Air begitu rindu kakak.Air sudah lama ingin bertemu kakak"tangis bocah cilik yang ucapannya seperti dewasa sebelum waktunya itu membuat Rayyan dan Raina sedih.
🌸
🌸
Setelah bisa menenangkan Airlangga,Raina pun mengajak adik iparnya untuk membeli es krim.
"Udahan ha nangisnya..Gimana kalo kita ke kedai es krim,kamu suka es krim gak?"tanya Raina.
"Suka...suka…"sahut Air dengan antusias setelah menangis bahkan ia bertepuk tangan bahagia.Tapi,tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih lagi.
"Kok sedih lagi sih? Kenapa?"tanya Rain.
"Ayah gak bolehin Air minum es krim,nanti Air sakit perut"sahut polos bocah itu lagi.
"Tenang,ayah gak ada disini.Kita minum es krim sepuasnya,tapi ini cuma rahasia kita aja ya.. gimana mau gak?"Raina memberi penawaran yang menggiurkan membuat bocah berumur tujuh tahun itu tergiur.
"Dear,gak bisa.. berarti Air sama kayak aku,gak bisa minum es krim.Kamu tau kan aku kalo habis minum es krim pasti sakit perut"cegah Rayyan karna memang ia juga sama sedari kecil tidak dibolehi minum eskrim dengan alasan yang sama karna ia akan sakit perut jika memaksa meminum es krim.
Wajah Air tampak lebih sedih,Raina jadi merasa bersalah karna memberi penawaran ternyata tak bisa direalisasikan.
Akhirnya karna bingung mengajak Air kemana,Ray dan Raina memutuskan untuk memboyong bocah itu ke rumah bapak.
"Assalamu'alaikum"teriak Rain memberi salam langsung membuat Air menutup kedua telinganya.Keadaan rumah besar itu tampak sepi.
"Kenapa kakak harus teriak,kata ayah gak baik teriak-teriak"ucap Air yang yang memang dididik keras menjadi orang yang dewasa sebelum waktunya.Karna Tuan Arjuna takut jika ia tak ada takkan ada yang menjaga Air.
Rain hanya nyengir kuda karna ditegur oleh adik iparnya.
"Maafin kakak ya,udah kebiasaan dari orok"sahut Rain membuat Rayyan geleng kepala.
"Orok itu apa?"tanya penasaran bocah cilik itu.
"Waalaikumsalam"sahut emak dari dalam,sebelum Rain menjawab lagi kata-kata Air.
Emak berjalan menghampiri anak dan menantunya.
"Lho...lho.. anak siapa kamu culik ini?"tanya emak kaget melihat bocah tampan bersama anak dan mantunya.
"Adik Ray mak"sahut Rayyan lalu mencium punggung tangan mertuanya.
Plak
Emak malah memukul pelan punggung Rayyan "Mentang-mentang belum punya anak malah angkat anak orang jadi adek kamu Ray.Usaha aja kencengin,kalo bisa enaknya sehari 4 kali biar cepet jadi"ucap emak tanpa filter.
"Mak,ada bocah ini"sela Rain menutup telinga Air dengan mendelik kesal pada emaknya.
"Lah iya lupa ada bocah"ucap emak cengengesan.
"Who's bocah?"tanya polos Air pada ketiga orang dewasa itu.
Raina cekikikan pertanyaan aneh dari anak kecil ini.Ia mensejajarkan dirinya dengan Air,bocah kecil yang fasih bahasa Indonesia ini meski lama tinggal di New York ternyata sangat kepo.
"Gini kakak jelasin.. Orok tadi itu bayi,kalau bocah itu anak kecil kayak kamu"tutur Raina menjawil hidung mancung Air.
Raina terkekeh melihat wajah adik iparnya mengrenyit seperti orang dewasa.
"Jangan terlalu banyak berfikir Ai,kamu masih kecil"lanjut Rain lagi.
"Kasih salam dulu ke emak"perintah Ray pada Air.Air meraih tangan emak lalu mencium punggung tangan emak seperti yang Rayyan tadi lakukan.
"Perkenalkan nama saya Airlangga Delano Sanjaya"ucap bocah cilik yang memperkenalkan dirinya seperti orang dewasa.Makin gemas saja Raina.
"Jadi ini benar adik kamu?"tanya emak lagi memastikan.
"Iyalah mak,masa mas bo'ong ke emak"timpal Raina yang kini kembali berdiri.
"Jadi ini anak…."belum selesai emak berbicara,Rain langsung menyela.
"Ya… "sahut singkat Rain.Mengerjapkan beberapa kali agar emak tak melanjutkan ucapannya.
Emak yang mengerti langsung menyuruh ketiganya masuk tanpa melanjutkan ucapannya.Ia memandang penuh tanya pada sang putri,mengingat dulu kejadian buruk terjadi karna mama dari bocah itu yang menimpa menantu dan anaknya.
"Air main sama Kak Ray dulu ya,kak Rain mau ke dapur.. Kamu mau dibikinin apa? Mau puding coklat?"tanya Rain pada Air yang duduk di Sofa depan ruang TV bersama Ray.
"Iya kak Air mau"sahut antusias Airlangga.
"Aku gak ditawarin dear,mentang-mentang ada yang lain aku dilupain"cletuk Rayyan dengan wajah ditekuk.
"Ish.. suami aku cemburu nih"Menghampiri Rayyan dan duduk disebelahnya,memeluk lengan sang suami.
"Jelaslah"sahut singkat,padat dan jelas.
"Jangan glandot-glandot suami kamu,ada bocah inget"ucap emak mengingatkan "Ntar aja di servis dikamar biar gak cemburu lagi"
"EMAK"teriak Rain yang mendengar mulut emak yang tak difilter.
Air sampai terkejut mendengar lengkingan teriakan dari Raina,sedangkan emak langsung ngacir ke dapur lebih dulu.
"Kakak menyeramkan.. Suka teriak kayak hantu"ucap polos Air bahkan wajah bocah itu memucat karna kaget tadi.
🌸
🌸
🌸
"Dek,apa bener?"tanya emak ragu.Keduanya tengah berada di Dapur untuk membuat Puding coklat.
"Iya mak,dia anak Putri adiknya Ray"sahut Raina pelan "Aku mohon emak jangan ngungkit lagi ya,kasian dia masih kecil belum tau apa-apa.. Dan kabar baiknya Ray udah damai sama ayahnya,adek bisa ketemu sama mertua adek mak"lanjut Raina entah ia sangat amat bahagia.
"Sebahagia ini kamu dek?"tanya emak yang dipeluk sang putri.
"Hhmmm.. meski masih ada yang kurang,karna Ray belum ngajak Rain ke tempat bunda"sahut Raina. "Oh ya mak,ntar kalo ada abang atau yang lain.. Kalau tanya dia siapa tolong kasih tau pelan dan jangan bilang macem-macem didepan Air ya.. Rain takut dia sedih"ingatkan Rain pada emak.Karna dia juga tau sebenci apa abangnya pada wanita bernama Putri itu.Takut yang menjadi sasaran sekarang anak dari Putri.Ia pun melanjutkan kegiatannya untuk membuat puding coklat.
🌸
🌸
🌸
Dilain tempat,terlihat lelaki paruh baya dengan duduk bersimpuh di sebelah nisan tengah memeluk nisan itu erat.Seakan mencurahkan semua perasaannya disana.
"Sayang,Ray sudah memaafkanku..Dia memaafkan ayah dengan semua kemurahan hatinya,dia sangat mirip denganmu sayang"racau tuan Arjuna. "Sayang maafkan aku..Aku tak tau lagi harus bagaimana,aku tak tega meninggalkan Air kelak sendiri.Air hanya memiliki Becca dan Ray,yang aku lakukan benar kan sayang?"racaunya lagi.Tuan Arjuna ingat sang istri adalah orang yang sangat baik dan begitu perhatian.Bunda takkan keberatan dengan apa yang ayah lakukan saat ini sudah pasti mendukung pikir ayah.
Sepulangnya dari ia mempertemukan kedua anaknya tadi,tuan Arjuna memilih pergi ke makam sang istri.Curhat dengan benda mati dihadapannya,seakan berbicara dengan seseorang.Beribu kata cinta terus terucap dari bibir tuan Arjuna,menyadari cintanya sampai saat ini tak bisa hilang pada pemilik hatinya.
"Bukankah sudah cukup semua hukuman yang kamu beri sayang?? Datanglah kedalam mimpiku,Ku mohon..aku sangat merindukanmu..sangat rindu."pinta tuan Arjuna memohon dengan sangat seakan benda mati itu bisa mendengar.
(Jreeeng....Kalau sudah tiada baru terasa… bahwa kehadirannya sungguh berharga - author nyanyi ngenes liat Pak Juna)
🌸
🌸
🌸
"Yakkk…"teriak Ray.
"Mas…"teriak Raina
Bruk
Brak
Byurr
...💜💜💜...
...°TBC°...
...💜💜...
...KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...VOTE...
...VOTE...
...JANGAN LUPA YA 🤗🥰...
...SALAM SAYANG AMMA NADA 😍...