You (ILY Omte)

You (ILY Omte)
Hanya Beban



Perjalanan yang panjang ketiga sahabat dengan burung besi itu berakhir sejak pendaratan dengan mulus di lintasan pacu.


Raina tampak merenggangkan badannya dengan senyum mengembang,sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasihnya.Membayangkan wajah kekasihnya yang tengah merajuk karna dirinya yang tak memberi kabar membuat Raina terkikik geli.Pasti sangat menggemaskan. 


Tapi ia harus pulang ke rumah terlebih dahulu,selain meletakkan koper ia juga harus mandi.Tak mungkin kan menemui kekasihnya dengan bau keringatnya. 


Ketiga sahabat itu akhirnya dijemput oleh supir pribadi keluarga Amel dan pertama yang diantar adalah Niko,karna Apartemen Niko lebih dekat dari Bandara ketimbang rumah Raina. 


"Sampai ketemu nanti"ucap Raina saat Niko turun dari mobil.


"Sebaiknya lu pulang dan tidur,gak usah klayapan"sahut Niko memperingatkan sahabatnya yang kelewat aktif ini.Amel hanya menjadi penonton sambil tertawa melihat Niko yang memang sudah seperti kakak bagi keduanya.


"Dan lu Mel,sebaiknya lu juga istirahat.Sampai ketemu besok"ucap Niko lagi sekarang pada Amel dan disambut anggukan mengerti dari Amel. 


Akhirnya mobil Alphard hitam itu melenggang pergi untuk ke kediaman Syahreza. 


🌸


🌸


🌸


"Lu gak mampir dulu Mel"ucap Raina saat turun.


"Jangan konyol.Lu mau gue pergi lagi setelah ketemu bang Edo?"sahut Amel. 


Raina menepuk jidatnya "oh..gue lupa,lu kan patah hati gara-gara bang Edo ya.. "ucap Raina "Yaudah lu balik sana..Jangan kesini sebelum hati lu bisa damai.Semangat lupain si brengs*k bang Edo oke…"lanjutnya memberi semangat. 


Amel memutar mata malas "Eemm..lu mah semua juga lupa kecuali tidur sama makan"sahut Amel.


"Hehehe.. tau banget deh sayangnya aku"ucap Rain dengan menampilkan sederet gigi putih dan rapinya "Pak.. jalan aja,hati-hati jangan ngebut ya"lanjutnya memperingatkan pada supir Amel. 


"Yaudah gue balik"ucap Amel 


"Oke.. bye"sahut Raina melambaikan tangan pada sahabatnya. 


Raina menatap kediamannya dari luar Pagar,ia melihat jam tangannya masih menunjukkan pukul 4 pagi,sebaiknya ia masuk dan beristirahat sebentar.Satpam rumah yang melihat kedatangan Raina dengan sigap membukakan gerbang.


"Non udah pulang"ucap Pak Slamet menyambut Raina. 


"Udahlah pak.. ini kan aku dihadapan bapak"sahut Raina. "Masih pada tidur kali ya pak?"tanya Raina melihat lampu kamar-kamar masih padam. 


"Sepertinya iya non.."sahut pak Slamet. 


"Yaudah deh.. aku lewat garasi aja,gak enak kalo bangunin emak"ucapnya "Aku masuk dulu ya Pak"lanjutnya lalu melangkah menarik koper.


🌸


🌸


🌸


Sinar mentari pagi sudah memasuki celah-celah gorden kamar Raina,Rain yang sedari datang tadi hanya mandi dan langsung menunaikan sholat subuh saat adzan berkumandang sekarang hanya berbaring sambil memainkan game online.Matanya seakan enggan untuk tertutup. 


Kkkrruukkk…. Kkkrruuukkk


"Minta jatah ya lu"monolognya dengan mengelus perut ratanya. "Emak udah masak apa belum yak.. gue laper"ucapnya lagi dan memutuskan untuk turun ke lantai bawah. 


Baru beberapa hari Raina meninggalkan rumah megah ini,kenapa sekarang terlihat sepi.Kemana semua orang pikir Raina. 


"Pagi bibi"sapanya pada bibi yang tengah berkutat dengan masakan.Tapi tak terlihat emak disana.


Bibi menoleh dengan raut wajah terkejut "Pa...pagi non"sapa balik bibi.


"Aneh"batin Raina melihat tingkah bibi yang seperti menyembunyikan sesuatu. 


Raina duduk di ruang makan dengan mengoleskan selai ke roti,ia meamati bibi yang sedari tadi tengah salah tingkah sendiri.Padahal Raina tak suka jika makan hanya menggunakan roti ini tak membuat kenyang,tapi karna nasi belum siap apalah daya dia hanya bisa makan roti. 


"Bi.. emak sama bapak kemana?"tanya Rain.


"Eng...nyo..nyonya ada kok non.Kalo bapak lagi keluar kota"sahut bibi masih takut-takut. 


Tak….tak...tak…


Suara langkah kaki dari belakang Raina membuatnya menoleh,ia mengembangkan senyum melihat emak yang tengah berjalan menuju ke arahnya.Tapi aneh kenapa tak ada senyum dari bibir emak yang biasa emak berikan padanya. 


"Pagi em…"


Plak 


Tamparan keras dari emak mengenai pipi Raina,sampai-sampai roti di tangan Raina pun jatuh karna empunya tubuh terhuyung hampir jatuh dari duduknya. 


Raina memegang pipinya yang terasa panas karna tamparan emak. 


"Kenapa emak nampar Rain? Apa salah Rain?"tanya Rain langsung berdiri. 


"Anak gak tau diri…Dari dulu emak gak pernah ngajarin hal buruk ke kamu... emak tau kamu pernah rusak,kamu pernah dihancurkan tapi bukan kayak gini..Kamu semakin ngerusak diri kamu sendiri.Emak kecewa sama kamu Raina" ucap marah Emak.


"Apa maksut emak..Rain gak ngerti"sahut Raina tak trima.


"Gak ngerti… "ucap Emak "Bi… ambil semua barang itu kesini.. biar dia ngerti apa yang aku maksut..Cepat"ucap Emak lagi dengan marah. 


Bibi membawa kardus kecil dan langsung diraih paksa oleh emak.


Tampak beberapa suntikan,botol kaca dan sedotan dari kaca,lalu serbuk dalam plastik dan beberapa pil kb yang sudah habis beberapa slot berserakan diatas meja. 


"Kasih tau sama emak.. ini buat apa?"tanya emak pada Raina.


Raina tampak mengerjap-ngerjap melihat semua barang yang tak pernah ia miliki itu.


"Rain gak tau.. emang ini punya siapa?"tanya balik Raina.


"Kamu bilang gak tau… "


Plak 


Kembali emak menampar pipi Raina dengan keras. 


"Lalu jika kamu gak tau ini apa… Kenapa semua barang ini ada di kamar kamu Raina…."teriak emak yang sangat kecewa. 


Raina hanya memejamkan matanya,perih tamparan emak benar-benar membuatnya sakit.Ini kali pertama emak benar-benar marah padanya. 


"Sejak kapan kamu makai barang haram ini.. Sejak kapan kamu semakin merusak diri kamu sendiri Raina...Jawab emak"teriak emak frustasi.


Dari kemarin saat ditemukannya semua barang haram ini,emak mengurung diri dan menyalahkan diri sendiri karna kembali kecolongan tak becus mendidik anaknya.


Edo terlihat tergopoh-gopoh menghampiri emak yang tengah tersulut emosi,sampai emak terhuyung hendak pingsan.Untung Edo sigap meraih tubuh emaknya. 


"Emak.."panggil Raina ingin menggenggam tangan sang emak langsung di tepis oleh Edo dengan kasar. 


"Abang kecewa sama kamu Rain"ucap Dingin Edo membawa tubuh emaknya masuk kedalam kamar.


Bibi yang tak tega melihat nonanya tengah bersimpuh dengan tangis pilu pun ia hampiri.


"Jangan pernah kasihani manusia seperti dia,hanya bisa menjadi beban keluarga.Sebaiknya bibi kerjakan tugas bibi"ucap dingin Edo saat keluar dari kamar Emak.Dengan terpaksa bibi mengurungkan niatnya. 


"Kamu hanya membuat semua kecewa dengan kelakuanmu.Sebaiknya kamu pergi"ucap dingin sang abang kembali. 


Raina mengusap air matanya. 


"Baik kalau itu mau kalian..Aku akan pergi dari rumah ini"ucap Raina.Ia langsung berlari ke kamar untuk meambil ponsel,tas kecil serta kunci motor. 


Ia kembali turun,masih dapat Raina lihat Edo berdiri disana.Raina pun menghentikan langsung dihadapan Edo. 


"Satu yang perlu abang dan semua tau.. Aku gak pernah sedikitpun nyentuh barang haram itu.. Dan lagi,kalau kalian pikir traumaku sembuh sampai aku bisa melakukan hal laknat itu kembali kalian salah.Selama ini aku masih merasakan semua sakitnya sendiri.Beban kalian akan pergi.Selamat berbahagia"ucap Raina dengan bibir bergetar dan air mata yang sudah deras mengalir dari matanya.Hatinya begitu diremas karna ucapan keluarganya yang menyakiti hatinya.


Bbbrrrruuummmmm 


Dengan nyaring,suara deru motor milik Raina menggelegar dan melaju kencang. 


🌸


🌸


🌸


Raina terus melajukan motornya dengan kencang,air matanya yang terus mengalir membuatnya semakin frustasi.Ia tak ingin lemah,ini bukan salahnya.Ia ingin menghampiri sang kekasih,setidaknya kekasihnya harus tau tentang apa yang terjadi. 


Raina melihat arlojinya,ini masih terlalu pagi untuk kekasihnya ke Salon.Jadi masih ada kemungkinan kekasihnya berada di Apartemen.


Setelah memarkirkan motornya,Raina berlari menuju lantai 9 tempat kekasihnya tinggal. 


Ting tong ting tong 


Dengan sesegukan Raina terus memencet bell.Ia berkali-kali menghapus air matanya tapi tetap,air matanya seolah menolak berhenti. 


Cklek 


"Sweetheart"sapa Raina dengan memaksa senyum melihat Rayyan yang membuka pintu Apartemennya.


"Ada apa kamu datang kesini"sahut Rayyan. 


Degh! 


Kenapa kekasihnya bersikap seperti ini,apa masih marah karna dirinya tak membalas chat pikir Raina. 


"Sweetheart,kamu masih marah karna aku gak balas chat kamu.. Maaf"ucap Raina menggenggam tangan Ray.


"Sama sekali tidak,bahkan aku tak peduli"sahut dingin Ray. "Untuk apa kau kembali,bukankah enak disana.Kau bisa bermain dengan pria lain"lanjutnya dengan nada sinis.


Degh! 


Hati Raina kembali diremas.


"Ada apa sebenarnya'batin Raina.Perlahan ia melepaskan genggaman tangannya pada sang kekasih. 


"Kamu sengaja tak membalas chat ku karna tak ingin mengganggu kesenanganmu disana..Benar begitu"ucap marah Rayyan lagi,ia bahkan mencengkram kedua bahu Raina dengan kuat dan mengguncangnya. "Jawab aku Raina.. Kenapa kamu tega hah..Kamu tega mempermainkan perasaan aku"lanjutnya dengan marah. 


Otak Raina sudah tak dapat berpikir lagi,tatapannya kosong menatap hampa sang kekasih yang terus mengguncang tubuhnya.Air mata yang terus mengalir tak mengindahkan aksi Rayyan untuk berhenti.Pipi yang masih terasa panas karna tamparan sang emak,sekarang bertambah dengan cengkraman dari Rayyan.


"Aku tak pernah mempermainkan Om"sahut Raina lirih. 


"Ya.. wanita akan terus menjawab seperti itu,kamu sama saja seperti Marinca...Bahkan kamu lebih kejam.."ucap Rayyan dengan mata berkabut amarah "Kamu tega membunuh buah hatimu sendiri demi kesenanganmu"lanjutnya. 


Degh! 


Rain menatap Rayyan,ia tak menyangka hal ini diketahui oleh Rayyan.Badannya bergetar hebat,dadanya mulai sesak. 


Dengan segala kekuatan yang tersisa didirinya Rain mencoba untuk melepas cengkraman Rayyan.Kepalanya mulai berdenyut. 


"Aku pembunuh" monolognya.Langkahnya mulai mundur menghindari Rayyan.


"Lebih baik kita akhiri semuanya.. Aku harap takkan bertemu denganmu lagi"ucap Rayyan.


Brak 


Pintu Apartemen Rayyan tertutup dengan kencang. 


🌸


🌸


🌸


Brrrraaakkkk


Bbbrraaakkkk 


Bbbraaakkkkkk 


Motor warna hitam yang melaju dengan kencang itu terpental jauh saat truk menghantamnya dari depan.Darah yang terlihat terus mengalir dari tubuh pemiliknya pun membuat beberapa orang takut untuk mendekat. 


"Cepat panggil Ambulance… "teriak seorang laki-laki dengan sigap menjadi tumpuan korban yang tengah tergeletak itu.


Kaki korban yang tak sesuai dengan tempatnya menandakan bahwa kaki itu patah. Ia kembali meraih tangan korban masih terdengar nadinya berdenyut.


Lelaki itu terus berteriak memanggil nama sang korban. 


"Bertahanlah ku mohon bertahanlah"ucapnya tanpa melepas helm milik sang korban yang mungkin juga luka di lehernya. "Aku takkan melepaskanmu setelah ini.Kamu milikku"lanjutnya berbisik menatap sedih perempuan didahapannya. 


...💜💜💜💜...


...Hay sahabat,gimana puasanya hari ini?? Semoga lancar ya ...


...Nulis part ini menguras emosi banget sad banget liat Raina....


...Rain kuat.. Rain kuat... 😭😭😭😭...


...💜💜💜💜...


...💜💜💜💜💜💜...


...💜💜💜💜...


...Ritualnya sahabat jangan lupa ya.Kasih love,like dan komen ya sahabat.Sangat-sangat ku nanti gengs komen kalian 🤗...


...Jangan jadi readers bayangan ya,paling gak kasih jempolnya aku udah seneng kok 😘...


...Salam sayang Amma,Omte dan Raina 🥰🤗...