You (ILY Omte)

You (ILY Omte)
Flashback Cecek Off



Setelah kejadian yang membuat ya harus dirawat di rumah sakit karna kejadian yang membuat dirinya hancur,hari-hari selanjutnya Rayyan menjadi orang pendiam.Tak ada lagi canda tawanya didalam rumah megah itu,bahkan Rayyan memutuskan untuk pindah ke Apartemen. 


"Dek,lu sebenernya kenapa?"tanya Rebecca yang baru sampai di apartemen sang adik.Setelah sebelumnya terus di tolak kedatangan siapapun di Apartemen Rayyan termasuk Marinca.


Bundanya masih meanggap Marinca seperti anaknya,entah apa alasan sang ayah sampai tak ketahuan oleh sang bunda.Ia tak mau tau sekarang. 


"Kalo lu kesini buat bahas masalah ini,mending lu pergi"sahut dingin Rayyan. 


"Ray .. lu gak pernah sekasar ini ya sama gue,lu sebenernya kenapa? Lu tau sikap lu bikin bunda sedih"ucap Rebecca yang hancur melihat keluarganya sekarang.Apalagi ayah dan Rayyan yang tampak saling menjauh. 


Hati Rayyan remuk,hancur jika melihat sang bunda.Ia tak tega untuk mengungkap kebejatan sang ayah,apalagi sang ayah selingkuh dengan kekasihnya.Oh salah,Mantan kekasih karna Rayyan sudah meanggap Marinca sampah bukan kekasihnya. 


"Gue tetep Rayyan yang dulu.. Adek lu"sahut Rayyan dengan senyum miris. 


"Adek gue yang gue kenal gak kayak gini"ucap Becca duduk dihadapan Rayyan. "Lu ada masalah sama Marinca?"tanya Rebecca membuat tubuh Rayyan menegang dan bergetar hebat.Dadanya terasa sesak dengan tersengal ia mencoba meatur nafasnya. 


"Lu bisa pergi sekarang.. Gue banyak kerjaan"ucap Ray dengan menarik paksa tangan Rebecca untuk keluar dari apartemen. 


Setelah Apartemen tertutup Rayyan yang meremas sebelah dadanya itu dengan tertatih kekamarnya untuk mencari obat penenang miliknya. 


3 pil obat penenang pun masuk kedalam tenggorokan Rayyan tanpa membantunya masuk dengan air.Perlahan dadanya yang bergemuruh mulai normal kembali dan ia langsung merebahkan badannya keranjang untuk menenangkan pikirannya yang mulai mengingat kejadian menjijikan itu lagi. 


*


*


Penat sangat terasa ditubuh Rayyan,beberapa jadwal padat hari ini membuat otak dan tubuhnya lelah.Setelah memarkirkan mobilnya dibasement apartemen,ia pun disambut oleh satpam apartemen. 


"Malam pak Ray,maaf ada seseorang yang menunggu anda sedari tadi sore.Beliau bilang bahwa ibu anda"


"Dimana orang itu pak?"


"Masih ada di lobby pak" 


"Makasih pak,selamat bekerja"ucap Ray lagi lalu pergi meninggalkan satpam itu. 


Ia berjalan ke lobby Apartemen,pandangannya tertuju pada wanita paruh baya yang tengah duduk lesu dengan badan yang mengurus daripada terakhir mereka bertemu.Ray pun menghampiri sang bunda. 


"Bunda"panggil Ray. 


Bunda Inge pun mendongak,menatap dalam putra kesayangannya yang ia sangat rindukan.Sudah lama ia tak pernah lagi bertemu dengan sang putra,kerinduan menusuk dada.Pancaran rindu begitu terlihat di mata wanita paruh baya yang tengah menahan tangis itu. 


"Kita masuk ke apartemen aku ya bun"


Setelah sampai didalam Apartemen milik Rayyan,bunda Inge mulai menangis pilu.Suara tangisan sang bunda benar-benar menyayat hati.


"Kenapa… kenapa kamu gak pernah bilang ke bunda nak"ucap bunda Inge lirih.Membuat Rayyan tertarik pada ucapan bunda,lalu duduk disebelah wanita paruh baya itu dan merengkuh tubuh renta sang bunda. 


"Maksut bunda apa?" 


"Marinca hamil….dan Ayah dengan Marinca mereka menikah,kamu tau itu kan Ray?"ucap bunda Inge disela tangisnya. 


Tubuh Ray kembali menegang.Badannya kembali bergetar "Ap.. Apa...me..mereka me..ni..kah"sahut Rayyan tergagap,nafasnya terus tersengal. 


Tangis bunda Inge kembali pecah,ia tak tau apa yang sekarang terjadi pada anaknya.Kenapa tubuhnya bergetar hebat seperti ini.


Setelah menghubungi dokter dan saat tau ternyata sang anak menderita Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) membuat kesehatan sang bunda ikut menurun.Bahkan saat Arman sahabat sang putra menceritakan pemicu dari penyakit sang anak membuat bunda semakin terpuruk. 


Beban yang wanita paruh baya itu tanggung sungguh berat,setiap hari wanita paruh baya itu hanya menangis dan terus menangis meratapi nasip dirinya serta sang putra. 


Bahkan sekarang bunda Inge tak pernah pergi dari Apartemen sang putra,menemani sang putra yang tak bisa ceria lagi.Menemani hidup sang putra yang hidup dengan jiwa tanpa raga. Tak ada gairah dalam hidup putranya.


*


*


Malam sudah menunjukkan pukul 8 malam,wanita paruh baya itu menunggu sang putra datang.


"Sudah pulang sayang… bunda buatin kamu telur balado sama bakwan jagung kesukaan kamu.Makan ya"ucap wanita paruh baya yang melihat sang putra memasuki apartemen.Ia terus memaksakan senyumnya dihadapan sang putra,setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan. 


Ray hanya melirik sekilas lalu masuk kedalam kamar. 


Setelah beberapa saat,Rayyan keluar dengan menggunakan kaos oblong serta celana kulot selutut berjalan menghampiri meja makan.Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok bunda yang tak terlihat disana.


Ia melihat balkon yang terbuka dengan tirai yang terus melambai-lambai karna tertepa angin dari luar. 


"Aaaaaaaaa……"terdengar teriakan dari beberapa orang yang terdengar sampai Rayyan berlari cepat ke balkon. 


Terlihat banyak orang berkerumun dibawah.Perasaannya mulai tak enak,kembali badannya bergetar hebat dan dadanya mulai kembali tersengal. 


Ia berlari keluar Apartemen dan turun tergesa sampai lantai dasar,ia melihat kerumunan semakin banyak.Ray langsung berlari membelah kerumunan. 


Bruk


Tubuhnya lemas,apa yang ada dihadapannya.Tubuh renta sang bunda sudah tak bernyawa,dengan darah yang mengalir deras dari kepala. 


Ia langsung meraih tubuh sang bunda dan memeluk tubuh yang tak bernyawa itu lagi didalam dekapannya.Hidupnya semakin hancur,dengan kehilangan bundanya dihadapan matanya sendiri. 


"BUNDAAA…..!!!!"teriak Rayyan histeris dengan tangis yang membuat siapa saja ikut merasakan kesedihannya. Rayyan begitu bersalah pada sang Bunda karna secara tidak langsung ia sudah memasukkan hama kedalam keluarganya,itu yang membuat Rayyan Sanjaya merubah dirinya dan sangat teramat muak dengan wanita.


...Flashback Off...


"Bundaaaaa..."teriak Cecek dan langsung bangun dari tidurnya.


Tubuh Cecek berkeringat dingin,dadanya kembali tersengal setelah mimpi kehancurannya kembali hadir. Ia mengusap wajahnya dengan kasar,lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang.


Memutuskan hubungan keluarga dan mengganti kepribadian lalu nama tanpa embel-embel keluarga Sanjaya tetap tak membuat Rayyan lupa dengan kehancurannya. Meskipun setahun setelah kehilangan sang bunda ia mencoba mengikuti metode hipnotis yang disarankan oleh sahabatnya ternyata itu tak bertahan lama karna rasa sakit itu kembali hadir seiring berjalannya waktu. Ketidak tertarikan dan rasa jijik pada wanita semakin dalam Cecek rasakan sampai saat ini.


Tapi aneh rasanya,kenapa dengan gadis itu ia tak merasakan hal sama seperti pada wanita yang lain. Cecek masih akan mencari tau.


Setelah kedatangan dan ciuman dari Rain sore tadi membuat Cecek galau sendiri dan memutuskan istirahat di Apartemen miliknya dan sekarang ia terjaga karna kenangan pahit itu lagi.


Cecek berjalan turun untuk meambil air putih lalu berjalan ke balkon untuk menghirup udara malam.


"Omte....."teriak gadis yang ia kenal sekali suaranya.Ia mendapati Raina yang tengah melambaikan tangan di sebelah Apartemennya. Dengan cepat Raina memanjat balkon dan pindah sampai ke balkon milik Cecek.


"Hay Omte... Jodoh aku"sapa Rain dengan gaya kerennya.Lalu menaik turunkan alisnya menggoda Cecek yang masih syok dengan tingkah gadis unik disebelahnya.