
Apa yang dikatakan suaminya tadi,e**n? Yang benar saja bahkan ini sudah pagi dan suaminya harus pergi kerja.
"Sayang,kamu udah ditunggu lho"tolak halus Raina.
Kembali Rayyan membenamkan wajahnya pada dada sang istri."Gak mau,mau e**n dulu biar semangat.. Kamu gak kasian liat aku loyo"sahut Rayyan dengan sendu.
"Heh,ya Tuhan tatapan itu lagi.. Siapa yang bisa tahan"batin Raina yang sekarang memiliki hati bagai hello kitty.
"Ya..ya.."mohon Rayyan ndusel kembali.
"Cuma e**n,gak yang lain oke"
"Siap madam"girang Rayyan bahkan melipat tangan hormat.
Rayyan dengan semangat menyibak selimut yang istrinya gunakan,tanpa membuka kaos oversize itu ia masuk dalam kaos membuat Raina kegelian karna gesekan hidung Ray serta nafas yang menerpa kulit badannya.
Sudah menjadi kebiasaan Rain tak pernah menggunakan br* jika tidur malam,dengan mudah Rayyan langsung melancarkan aksinya.Dan Rain harus sekuat tenaga menahan hasratnya,takutnya sang suami kembali meminta lebih dan yang terjadi malah Ray tak jadi kerja.
🌸
🌸
🌸
Sepasang suami istri itu turun setelah menuruti dahaga sang suami.Raina kembali mengulum bibirnya melihat sosok laki-laki yang tengah tengkurap menjadikan paha emak sebagai bantalan.
"Calon manten lesu amat.. Semangat dong bang"ucap Raina yang sudah berada didekat mereka.
Edo mendongak lalu berdecak. "Ini tuh gara-gara anakmu"sahut sewot Edo.
Raina terkekeh "Eh,dia tuh sayang sama omnya.Sebelum omnya nikah udah dikasih tutorial sama dia kalo nanti Amel hamil mengalami hal yang sama kayak aku bakal gitu.Nah itu tuh rasanya orang ngidam pas hamil,makanya jangan sering bikin kesel emak.Ngerasain tuh rasanya hamil kayak gimana"oceh Raina tak sadar diri bahwa dirinya malah sering bikin emak istighfar setiap saat.
"Kalo Aira sama bapak mana mak?"tanya Rain lagi.
"Bapak ngajak Aira ke kantor.."ucap Emak sambil menatap layar tv yang tengah menayangkan gosip yang tengah ramai diperbincangkan.
"Wuwuwu.. udah diajarin ngantor aja sibocil sama bapak,keren"sahut Raina.
"Kalo Mbak mana mak?"tanyanya lagi pada emak karna tak melihat mbak Ines.
"Dikamar sama bang Willy,baru muntah dia tadi"sahut emak.
Kembali Raina tertawa,padahal dirinya tak tega tapi mau gimana lagi ini bukan kemauannya.
"Seneng banget liat orang lain sengsara"sahut sewot Edo kembali,ia duduk dan menyandarkan badannya ke sofa.
"Terima aja sih.. Anggep aja ini hadiah dari calon ponakan sendiri"ucap Rain. "Sayang,udah cepet jalan..Kasian Miya nunggu lama"lanjut Raina karna sang suami masih setia nemplok disebelahnya.
"Aduh,aku mendadak gak semangat lagi dear"sahut lemas Rayyan.
"Ish.. kan tadi udah aku kasih semangat,ndusel sama e**n tadi juga udah lama.Yang bikin gak semangat apa coba" ucap vulgar Raina membuat mata Edo langsung melotot.Bukan cuma Edo,emak pun langsung tersedak saat minum.Keduanya menatap sepasang suami istri yang berdebat tak berfaedah dihadapan mereka.Sedangkan Rayyan sudah merona malu.
"Bahasa lu dek,ya Allah.. Disini ada perjaka ini,gak sadar lu"cletuk Edo kembali.
"Heh,perjaka bentar lagi jadi mantan perjaka.Tinggal Dua minggu lagi"sahut enteng Raina.
"Kutilperawan emang gak ada akhlak..Emakmu disini,dasar anak durjanahhh"lengkingan emak kembali terdengar,terkejut dengan kata-kata si bungsu.
Raina cengengesan "Abis Ray gak mau kerja mak,padahal ada job lho dia"ucap Raina kembali kesal melihat suaminya yang terus nemplok ini.
Ting 💡
Tiba-tiba,entah ilham darimana datangnya sebuah ide cemerlang memenuhi otak kecilnya.Ia menyeringai.
"Sayang aku ngidam"ucap Raina tiba-tiba.
Degh!
Badan Rayyan menegang.
"Kena kan lu"batin Raina melirik wajah Rayyan yang berubah.
Ia membalik badan mendongak menatap sang suami.Perlahan ia belitkan tangannya ke pinggang sang suami.
"Sayang,aku lagi pengen makan……"
"Dear,aduh.. udah mepet banget ternyata,aku berangkat dulu ya.. Takut macet"sahut tiba-tiba Rayyan sebelum Raina menyelesaikan ucapannya.Bisa gawat jika Raina minta yang aneh-aneh seperti semalam.Masih teringat jelas ,tadi malam Raina ingin makan seblak yang berada di Kota B.Harus beli di kota B,dengan terpaksa Rayyan mengemudikan mobilnya menuju kota B yang membutuhkan waktu dua Jam untuk ke tempat seblak jelotot yang dimaksud istrinya itu dan sampai rumah saat tengah malam.
"Sayang"panggil Rain lagi saat Rayyan sudah berlari menuju pintu utama.
Rayyan menoleh.
Raina menaik turunkan alisnya membuat Rayyan menepuk jidatnya,ia lupa kebiasaan yang ia buat.Berlari kecil menghampiri sang istri kembali.
Berlutut di hadapan sang istri lalu mengecup mesra beberapa kali perut rata Rain. "Papa pergi dulu ya cari cuan,doain pulang bawa sebongkah berlian"
"Dih,malah nyanyi.Dikira situ bang Toyib"sahut Raina yang mendengar ucapan sang suami pada perut ratanya seakan mengajak bayinya berbicara.
Rayyan pun berdiri lalu menciumi seluruh wajah Raina dengan ciuman bertubi-tubi dan berakhir di bibir istrinya.
Bugh
"Pasangan sengklek gak ada akhlak" kesal bang Edo melihat adik dan suaminya pamer kemesraan didepan dirinya.Membuat darah Edo berdesir,dia kan juga mau.Eh.
"Amel...mana Amel,tolong calon istriku kesini"batin Edo meronta.Mengingat dirinya dan Amel tengah dipingit.
Untung saja emak pergi ke toilet saat Rayyan tadi berlari menjauh.
"Dih...syirik aja sih"cibir Raina melihat kekesalan abangnya yang menimpuk bantal sofa.
"Cium lagi yank,terakhir"ucap Raina lagi membuat Edo kembali mendelik kesal.
Cup
Rayyan membubuhkan ciumannya kembali pada bibir sang istri. "Love you Rainku"
"Love you too Omte"sahut Raina lalu melambaikan tangan saat Rayyan menjauh darinya.
🌸
🌸
🌸
Setelah kepergian Rayyan,Rain bersiul sambil mendekati abangnya membuat Edo alarmnya siaga satu.Apa yang akan dilakukan oleh bomil atau bocah hamil ini pikir Edo.
Raina duduk disebelah abangnya lalu menoleh dengan menopang dagunya dan tersenyum manis menatap abangnya.
"Merinding dek abang liat kamu senyum-senyum gitu"ucap bang Edo mendekap tubuhnya sendiri.
Ting
Raina mengedipkan mata sebelah.
"Astagfirullah.. kelilipan tuh mata"ucapnya lagi,adiknya semakin mencurigakan.
Raina kembali menegakkan badannya lalu mengelus pelan perut ratanya.
Semakin merinding saja Edo dibuatnya.
Degh!
Ia mulai paham.
"Ya Allah,keponakan om yang om sayang sangat cinta.. Jangan minta macem-macem ya sayang,boleh minta apa aja tapi yang deket ya.. Jangan minta yang aneh-aneh plus jauh.Om lagi dipingit ini"ucapnya seakan berbicara dengan bayi yang bahkan belum terbentuk sempurna.
Mata Raina berbinar,saat abangnya membolehkan dirinya meminta apa saja asal dekat.Tambah semangat saja dia.
"Kebetulan sih Rain ngidam yang deket-deket sih bang.."sahut Raina dengan menyandarkan badannya pada sofa.Membiarkan sang abang masih mengelus perutnya.
Senyum Edo mengembang,bakal mudah permintaan adiknya kali ini pikir Edo.
"Yaudah bilang ke abang kamu mau apa?"tanya Edo antusias.
"Rain mau ini,Rain mau sekarang"sahut Raina menyodorkan ponselnya menampilkan sebuah benda yang benar-benar membuat Edo membulatkan matanya.
"Dek,ini susah nyarinya.. gimana abang ngadain sekarang juga"
"Gak mau tau,kan tadi abang yang nawarin.."
"Lagian kamu kan gak pernah suka mobil,kenapa sekarang pengen beli mobil?"
Rain menaikkan kedua bahunya,ia pun tak tau sangat ingin membeli mobil klasik itu.
"Si dede maunya itu bang"sahut Rain
"Coba abang tanya temen abang dulu"ucap Edo akhirnya membuat Raina langsung menghambur kepelukan sang abang.
"Makasih abangku"
"Kalo gini aja,baik-baik sama abang"cibir Edo.
"Dih,Rain kan emang selalu baik sama abang"sahut Raina.
"Masa… "
"Iya dong,ini buktinya Rain ngidam gak nyusahin abang kan.."
"Gak nyusahin tapi bikin bangkrut"sahut Edo.
"Ish.. ini kan yang mau dede bang"ucap Rain lagi.
"Iya.. Iya..demi ponakan om"sahut Edo mengelus perut rata adiknya membuat Rain mengembangkan senyum karna jawaban abang.
🌸
🌸
🌸
Jangan ditanya bagaimana terkejutnya Edo dan Rain karna sejam setelah percakapan keduanya telah bertengger mobil Toyota Corolla KE70 Dx berwarna kopi susu di halaman luas milik Syahreza.
"Aaaa… abang ini keren banget,makasih"girang Raina bahkan ia berloncat-loncat kecil karna bahagia.
Edo masih melongo melihat mobil yang bahkan temannya masih menego harga.Terus ini mobil milik siapa pikir Edo.
"Dek,hati-hati jangan loncat-loncat"Edo memperingati karna tingkah Rain yang seperti bocah cilik yang mendapat mainan baru.
"Rain seneng tau bang"sahut Raina lalu menghambur kepelukan abangnya lagi.
"Dek,tapi ini mobil bukan dari abang"ucap Edo "Temen abang bahkan baru dapat mobil yang kamu mau dan masih nego harga"lanjutnya membuat Raina mendongak.
"Elang"ucap Raina tiba-tiba karna hanya lelaki itu satu nama yang ia ingat.
"Bocah itu"Tiba-tiba Edo menggeram.Amarahnya kembali berkobar hanya dengan mendengar nama lelaki yang membuat adiknya hancur.
"Bang,jangan gitu.. Abang ingat,dia pernah bantu aku"sahut Raina.
Pikirannya mulai berkelana,dari mana lelaki itu tau keingainannya untuk memiliki mobil ini.Apa lelaki itu cenayang pikir Raina lagi.
Rain menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar "Bang,tolong simpenin mobil ini.Rain takut Ray salah paham"ucap Rain meski ia bahagia mendapat mobil yang ia inginkan tapi ia masih mengingat ada hati yang harus ia jaga.Kekasih hatinya,suami tercintanya.
🌸
🌸
🌸
...Flashback On ...
Sehari sebelum Rain keluar dari rumah sakit,ia tengah melakukan konseling dengan mommy Amira.Tiba-tiba pintu kamar VIP diketuk dari luar.
Ray yang juga berada dalam ruangan berjalan menghampiri pintu dan
Srek
Matanya membulat.
"Sayang siapa?"tanya Raina melihat suaminya tak beranjak atau mempersilahkan masuk orang yang datang.
Mommy Amira dan Raina memandang Rayyan.
"Silahkan masuk"terdengar Ray mempersilahkan masuk.
Degh!
Badan Raina menegang reflek ia memeluk perutnya posesif,lelaki yang membuatnya trauma sekian tahun kembali berada dihadapannya.Elang tersenyum melihat Raina tengah duduk bersandar di ranjang.
"Hay Rain,apa kabar"ucap Elang.Sangat terlihat raut bahagia lelaki itu.
"Sayang,mommy pulang dulu ya.. "pamit mommy Amira karna memang sudah selesai sesi konselingnya.Wanita paruh baya itu menghampiri Raina lalu memeluk Rain pelan.
"Mommy tau ini lelaki itu,tenangkan diri kamu.Atur nafas,mommy yakin kamu bisa sayang"bisik mommy Amira pada telinga Rain yang langsung Rain lakukan.Mommy mencium kening Rain seperti biasa,wanita paruh baya ini menyayangi Raina seperti putrinya sendiri.
Dan benar,dadanya tak sesak seperti tadi.Padahal waktu itu ia sudah berjanji untuk berdamai dan mengajak Elang berteman.Tapi tadi dengan keadaannya yang tengah mengandung entah membuat Rain takut Elang menyakitinya.
"Mommy pulang Ray"pamit mommy Amira pada Ray.Ia memang menyuruh Ray memanggilnya sama seperti Raina.
"Iya mom,apa mau Ray antar ke bawah"tawar Ray.
"Gak usah,temenin Rain aja"sahut mommy Amira lalu menepuk bahu Rayyan dan tersenyum dibalas Ray dengan senyuman kaku.
🌸
🌸
🌸
"Silahkan duduk Lang"ucap Raina setelah mommy Amira keluar dari ruangan.
"Boleh aku duduk disini?"tanya Elang.Ia ingin duduk di kursi samping ranjang Raina.
"Silahkan"ucap Raina mengangguk lalu tersenyum."Sayang,kemarilah"lanjutnya lagi memanggil Ray dengan menekan semua katanya tak membuat Elang bergeming atau merasa canggung.Elang terus tersenyum melihat wanita dihadapannya.
Rayyan menghampiri Raina dengan senyumnya yang juga terus mengembang lalu berdiri disebelah kiri ranjang sang istri.
"Ini untukmu.. "Elang menyerahkan buket bunga lily.Entah Raina suka atau tidak,yang ia tau Audrey dulu sangat menyukai bunga Lily.
"Terimakasih.. "sahut Raina,menghirup aroma bunga lily sebentar lalu meletakkannya di nakas.
Raina menggenggam tangan Rayyan.
"Selamat,atas kehamilan kamu"ucap Elang "Aku tak sabar menanti dia lahir"lanjutnya lalu tersenyum lagi.Senyum yang jarang Elang tampilkan pada orang lain.
Raina mengeratkan genggamannya.
"Terimakasih..Kamu tau dari siapa aku hamil?"tanya Raina.
"Aku tak sengaja melihatmu waktu kamu keluar dari ruang dokter kandungan dengan dibopong sama tuan Syahreza"sahut Elang "Dan akhirnya aku tau kalau dia sudah ada disini..Aku bahagia,sangat bahagia"lanjutnya seolah ialah bapak dari bayi itu.
Tak taukah ada manusia yang terbakar api cemburu sejak tadi.
Raina manggut-manggut.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu ingin sesuatu? Perlu aku carikan sekarang? Kata orang ibu hamil akan mengalami ngidam dan mungkin kamu juga mengalaminya kan..Mumpung aku disini,aku akan menuruti semua keinginanmu.Ayo katakan"berondong pertanyaan keluar dari lelaki yang irit berbicara itu.
"Kamu berlebihan.. Tenang,aku gak ngidam dan sekarang yang ngidam malah suami aku sama bang Edo"sahut Raina lalu terkekeh.
Elang mengernyit "Sungguh? Dia dan abang kamu yang mengalaminya?"tanya balik Elang dengan pandangan menatap Rayyan.
Raina semangat menganggukkan kepalanya.
"Kenapa aku tidak? Aku ingin sekali mengalaminya"sahut sendu Elang.
"Kamu aneh.. asal kamu tau,suamiku saja sampai bolak balik kamar mandi hanya untuk muntah dan ia sangat sensitif dengan sinar matahari pagi dan itu membuatku sangat sedih"ucap Raina lalu menatap Rayyan dan tersenyum. "Kalau kamu juga ingin,sebaiknya cepatlah menikah"lanjut Rain.
Elang menghembuskan nafas kasar "Ya,kalau aku gak lupa"
"Lang"
"Oke..oke.. apapun untukmu tuan putri"
"Lang"
"Ups.. maaf"sahut Elang dengan tatapan beralih pada Rayyan.
"Dear,aku mau ke kamar mandi bentar"ucap Rayyan tib-tiba.
Raina menatap Rayyan,tampak suaminya tersenyum terpaksa dan ia sadar itu.Rain pun mengangguk.
"Rain?"panggil Elang
"Ya"
"Sisipkan nama Arasie di namanya kelak.."
"Lang,kamu bisa menyelipkan namamu untuk anakmu sendiri"
"Aku tak yakin untuk itu.Ku mohon Rain,demi dia yang lebih dulu pergi"
Degh!
Hati Rain mencelos,dadanya kembali berdenyut nyeri.Tapi sekarang ia mulai bisa mengendalikan dirinya.
"Aku sangat mencintainya Rain,ku mohon"mohon Elang lagi pada Raina.Wajah lelaki imut di hadapannya tengah memohon dengan tatapan yang menyedihkan.
Akhirnya Raina menganggukkan kepalanya,ia menyanggupi.
"Kuharap kelak,kau benar-benar menyayanginya"
"Jangan khawatir,aku sangat menyayanginya.Bahkan mendengar kehamilanmu membuatku sangat senang Rain"sahut antusias Elang.
Keduanya pun tersenyum.
"Apa suamimu masih lama,aku mau kembali"ucap Elang setelah beberapa saat.
"Mungkin sebentar lagi,kalau mendesak silahkan pulang.Aku akan menyampaikan salammu padanya"
Elang menggeleng "Aku gak mau ninggalin kamu tanpa pengawasan"
"Kau bercanda,itu sangat lebay"
"Biarlah"sahut Elang
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka dan muncullah lelaki yang Raina cinta.Tapi ada apa dengan wajah suaminya itu,Raina memicingkan matanya.
"Karna suamimu sudah kembali,aku pamit Rain."pamit Elang beranjak dari duduknya "Senang bisa mengobrol denganmu"lanjutnya.
"Hhmm.. hati-hati dijalan"sahut Raina.
Elang pun berjalan keluar dengan senyum yang terus mengembang.
"Oh iya,dapat salam dari daddy.. Semoga kamu dan dia sehat-sehat terus"
"Daddy? Daddy disini?"tanya Rain ingat dengan lelaki paruh baya yang sangat menyayanginya dulu.
"Hmm,aku dan daddy akan berangkat ke Paris hari ini"sahut Elang.
"Sampaikan salamku juga untuk beliau,agar sehat selalu untuk melihat cucunya lahir"sahut Raina.Ia melupakan suaminya yang tengah menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Elang tersenyum lalu pergi.
"Sayang"panggil Raina pada sang suami karna Ray tak beranjak juga dari depan kamar mandi.
Ia merentangkan tangan agar sang suami memeluknya.
Srek
Dengan kasar Ray duduk ditempat Elang duduk tadi.
"Kamu marah?"
"Tidak"
"Sungguh?"
"Hhmmm"
"Fixs kamu marah"ucap Raina.
"Gak dear"sahut Rayyan memaksakan senyumnya.
"Kok gak peluk kalo gak marah?"
"Biasa kamu kan tau sendiri aku lagi mood swing gara-gara gantiin kamu ngidam"
"Masa?"
"Iya.. kamu lebih baik istirahat deh,udah terlalu lama kamu memforsir tenaga"
Raina mengrenyit "Aku gak banyak gerak kok"
"Iya gak banyak gerak,tapi banyak ngoceh"sahut sewot Ray.
Raina mengulum senyumnya,ia yakin suaminya cemburu.
"Sayang mau peluk"
"Tidurlah"
"Gak mau,mau peluk"ucap Raina lagi membuat Rayyan memutar mata malas,ia pun berdiri dan duduk di pinggir ranjang langsung diterjang pelukan oleh Raina.
"Aku tau kamu cemburu.. kamu gak bisa sembunyiin cemburu kamu didepan aku"ucap Raina dalam pelukan Ray. "Dari keluar kamar mandi juga udah keliatan"lanjutnya melerai pelukannya.
Ia menggenggam tangan Ray.
Panas
Merah
Punggung tangan Ray terasa panas dan sangat merah,membuat Raina membulatkan matanya.
"Sayang,kamu apain tangan kamu?"tanya Raina panik.
"Gapapa kok"
"Bohong"
"Kamu nonjok tembok?"tebak Raina.Ia pernah melakukannya jadi ia tau bagaimana rasanya.
Ray diam.
"Sayang aku gak mau kamu nyakitin diri kamu sendiri ya.. aku gak suka"ucap Rain
Rayyan menghembuskan nafas kasar,lalu merengkuh kembali tubuh sang istri "Cemburuku gak bisa dikendaliin dear,liat ada lelaki yang begitu mencintai kamu bikin dada aku kayak ditusuk-tusuk jarum.Sakit banget"
"Maaf ya.. maafin aku"
Rayyan menggeleng "Bukan kamu yang salah,tapi aku yang terlalu lebay menyikapinya"
"Gak yank,kamu wajar kok cemburu.Aku juga akan cemburu kalo ada yang perhatian sama kamu"
"Tapi itu gak akan"
"Gak ada yang tau sayang bagaimana masa depan nantinya"
"Tapi aku jamin,gak akan ada yang bisa gantiin kamu dihati aku.."
"Aku pegang kata-katamu yank"sahut Raina.
"Hhmmm"ucap Rayyan mencium bertubi-tubi puncak kepala sang istri "aku cinta kamu" lanjutnya.
"Aku lebih cinta sama kamu"sahut Raina mengeratkan pelukannya.
...Flashback Off ...
Raina menghembuskan nafas kasar mengingat kecemburuan Rayyan yang menyakiti dirinya sendiri,Rain tak ingin itu terjadi lagi.
...💜💜💜...
...°TBC°...
...💜💜...
...KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...VOTE...
...VOTE...
...JANGAN LUPA YA 🤗🥰...