You (ILY Omte)

You (ILY Omte)
Perasaan aneh



 "Rain pingsan"telfon wanita dari seberang dengan menangis itu terngiang terus dikepalanya.


Lelaki berwajah tampan itu tergopoh-gopoh panik setelah mendengar berita tentang seseorang yang ia sayangi tengah dirawat di rumah sakit.Ia bahkan sampai lupa jika dirinya tak sendiri kesini. 


"Ais"panggil Niko pada Ais yang tertinggal jauh.Wanita itu tampak kepayahan mengikuti langkah lebar kekasihnya."Maafkan aku"lanjutnya ia merasa tak enak hati karna meninggalkan kekasihnya.


Wanita itu tersenyum sambil menggeleng "Aku tau mas khawatir,ayo cepat kita kesana.Rain butuh mas"sahut wanita itu penuh pengertian. 


"Terimakasih sayang"ucap Niko tersenyum sesaat dan wajah khawatirnya kembali hadir.


🌸


🌸


🌸


Semua tampak cemas didalam ruangan VIP itu,Rain tak kunjung membuka matanya.Saat dokter Zidan masuk,beliau menceritakan pada dokter Clara tentang apa yang dulu dialami Rain.Dokter muda itu terkejut,tatapan sedih pun terlihat jelas diwajah cantiknya. 


"Syukurlah kandungannya dalam keadaan baik,dia kuat"ucap dokter Clara setelah melakukan pemeriksaan kembali.


"Kita harus melakukan konseling lagi untuk nona"ucap dokter Zidan pada bapak setelah berunding tadi dengan dokter Clara. 


"Baik,lakukan apapun untuk putri saya dok"sahut bapak.Lelaki tua itu kembali hancur melihat tubuh putrinya yang terbaring di ranjang pesakitan.Dan ucapan dokter yang mengatakan kemungkinan ini ada hubungannya dengan trauma yang dulu Rain rasakan semakin membuat hati bapak hancur.


Dokter Zidan dan Dokter Clara pun pamit untuk keluar ruangan.


Srek 


Pintu ruangan VIP terbuka kasar,terlihat lelaki tengah ngos-ngosan itu menatap nanar wanita yang tengah terbaring dengan selang infus tertancap di punggung tangan.Diikuti oleh wanita berkerudung maroon berlari kecil ikut masuk ke dalam ruangan.


Ia berjalan cepat menghampiri bankar itu,ia menatap tubuh lemah wanita itu dengan iba.Kenapa tak kunjung usai kesedihanmu pikir Niko.


Tak beda jauh dari Niko,Rayyan pun menatap penuh kekhawatiran dengan terus menggenggam tangan sang istri.


Amel sendiri terus menangis di pelukan sang kekasih,tak menyangka jika trauma itu kembali dan sekarang terbongkar di hadapan keluarga sahabatnya yang sebenarnya ingin Rain tutup rapat-rapat.


"Niko,apa yang dikatakan Amel benar?"tanya bapak karna beliau sudah mendapat penuturan dari calon menantunya tentang trauma yang dialami Raina setelah kehilangan calon bayinya dulu.Cerita lama terbuka kembali. 


"Maksut bapak?"tanya balik Niko tak mengerti. 


"Apa benar Rain mengalami trauma setelah kehilangan bayinya dulu?" tanya bapak menatap Niko intens


Niko memejamkan mata sebentar,lalu menghembuskan nafas kasar "Ya.. benar,dulu Rain sering mengalaminya"sahut pelan Niko menatap wajar sahabatnya yang masih tenang terlelap. 


"Kenapa kalian semua tak ada yang memberitahu kami,kami keluarganya.. Kami berhak tau"bentak bapak Emosi karna tak tau apa-apa yang dialami putrinya dulu.Betapa hancurnya putrinya dulu membuat dada bapak merasakan sesak.Emak menggenggam tangan bapak yang tampak emosi,ia juga sedih dan terpukul dengan semua ini.


"Maaf pak,tapi ini semua keinginan Raina..Raina tak ingin kalian sedih dengan keadaannya"sahut Niko membuat emak semakin sesegukan.Ia membuka ponselnya lalu menunjukkan video dari awal gejala itu muncul hingga Raina yang menjerit histeris itu terjadi sudah hampir 3 tahun.Sampai Rain bertemu dengan Rayyan,ia hanya beberapa kali mengalami kembali traumanya." Niko menjelaskan semuanya. 


Bapak benar-benar syok melihat putrinya depresi di dalam video dan kedua sahabatnya mencoba menenangkannya.Badan bapak limbung,untung Edo berada tak jauh dari tempat bapak berdiri dapat menangkap tubuh bapak sebelum jatuh ke lantai.


Bapak digiring ke sofa agar istirahat,bapak memejamkan matanya.Hatinya begitu remuk mengetahui kenyataan ini,ia yang terus sibuk dengan perusahaan sampai tak tau apa yang terjadi pada putri bungsunya Ia merasa bersalah.Orang tau mana yang tak hancur melihat buah hatinya depresi dan hancur. 


🌸


🌸


🌸


Rayyan terus menatap sang istri,tak memperdulikan semua orang yang berada didalam ruangan.Matanya terus terfokus pada wanita yang tengah terlelap.Ia terkejut saat di apotik menebus obat mendapat telepon dari mertuanya bahwa istrinya pingsan,membuat Rayyan tunggang-langgang menghampiri sang istri berada.


"Maafkan aku.. maaf"rapal dalam hati Rayyan.Ia merasa bersalah pada sang istri karna disaat ia bahagia justru itu menjadi kesedihan bagi istrinya.


Tiba-tiba tangan yang ia genggam bergerak pelan,mata yang terpejam itu pun perlahan mengerjap. 


"Dear"panggil Rayyan. 


Mata itu terbuka "Aku kenapa?"tanyanya pada sang suami. 


"Kamu tadi pingsan"sahut Rayyan.Semua orang langsung mendekati bankar melihat wanita yang tampak lemah di ranjang pesakitan.


"Masa.. gak tidur ya,kirain aku tadi tidur.Aku mimpi ngetrack sama temen-temen tadi"ucap Raina. 


Gubrakk 


(Ya Allah anak siapa ini woy,yang lain pada mode sedih..Dianya santuy🤦)


Rayyan mengulas senyum terpaksa,istrinya ini benar-benar ajaib.Tak taukah jika hampir semua orang di ruangan ini khawatir dengannya. 


Ray mengelus pipi sang istri "Apa sekarang yang masih sakit dear?"tanya Ray. 


Raina menggeleng "Gak ada yang sakit kok..Ini tangan aku kenapa pake diinfus sih yank,kenapa gak kamu aja..Yang muntah-muntah kan kamu"rengek Raina melihat jarum infus yang menancap di punggung tangannya.


"Panggil dokter"utus bapak pada Edo. 


Tak lama Dokter Clara kembali masuk ke ruang VIP,mengecek kondisi Raina. 


"Kondisi nona sudah stabil,tak ada yang perlu dicemaskan lagi.Tunggu habis infus nona baru bisa pulang..Hanya saja,saran saya secepatnya dilakukan konseling karna tubuh nona seperti terus menolak dan kondisi emosinya yang terus berubah karna pengaruh hormon bisa juga memicu traumanya kembali"tutur dokter Clara pada bapak.Karna Rayyan sendiri dari tadi tak bisa diajak bicara,lelaki itu terlalu fokus dengan istrinya.


🌸


🌸


🌸


Raina seolah tak mengingat apa yang terjadi sebelumnya,ia senang karna sahabatnya berkumpul bahkan keluarganya juga. 


"Mas Iko sama eneng Ais barengan ya kesini.. Udah lampu hijau belum nih,apa masih lampu kuning aja"cletuk Raina melihat Niko dan Ais di sebelahnya. 


Niko yang melihat sahabatnya itu tampak mengernyit bingung,lalu ia teringat sesuatu.Ia beranjak dan ingin berbicara berdua dengan bapak. 


Di luar


"Bapak,bisa kalian tinggalkan dulu kami..biar saya dan Amel berbicara dulu dengan Raina.Ada yang aneh dari dia"ucap Niko saat di luar. 


Gerak gerik sahabatnya ia paham betul jika Rain tengah berakting seolah tak terjadi apa-apa. 


Tanpa ba-bi-bu bapak langsung mengangguk dan mengirimkan pesan pada Edo dan emak untuk keluar ruangan. 


Niko pun kembali masuk dan membisikkan sesuatu pada Ais dan diangguki oleh wanita itu. 


"Kok pada keluar?"tanya Rain melihat Ais yang beranjak. 


Amel mendekat. 


"Dia mau beliin gue kopi dibawah"sahut Niko. 


Dan sekarang hanya mereka berempat,Rayyan,Rain,Niko dan Amel.


Niko menggenggam tangan sebelah kiri sahabatnya sedangkan tangan sebelah kanan sudah digenggam Ray sedari tadi.Lelaki itu juga tak mengerti dengan tatapan Niko dan Amel yang tampak aneh menatap istrinya. 


"Lu bisa lepasin sekarang semuanya,disini cuma ada kita"ucap Niko tiba-tiba.


"Apaan sih lu Nik"sahut Raina mulai salah tingkah,matanya kesana kemari mencoba untuk tak menatap Niko. 


Keanehan Rain benar-benar Niko sadari saat wanita itu terbangun,beberapa kali Rain meambil nafas panjang lalu dengan wajah tampak tersenyum ia mengeluarkan kasar tanpa diketahui orang lain.Bahkan cengkraman tangan kiri Rain pada ranjang tak luput dari pandangan Niko.Rain tak bisa menipu Niko tentang keadaannya. 


Amel merangsek didepan Niko dan langsung merengkuh tubuh sahabatnya dan seketika tangis Raina mulai terdengar.


"Gue pembunuh Mel,baby Mel"racau Raina dengan menangis dipelukan Amel. 


Tangis Raina pecah,teringat kembali dengan calon bayinya dulu.Mungkin banyak orang menganggap Raina terlalu lebay,tapi sungguh tak mudah kehilangan seseorang.Apalagi Rain sebelumnya tak tau jika ada kehidupan di perutnya dulu.Tiba-tiba calon bayinya hilang begitu saja,itu adalah pukulan terberat bagi Raina.Dan sekarang ia belum siap untuk kembali memiliki bayi karna bayangan di masa lalu masih menghantuinya. 


"Hiks...hiks…. Gimana kalo gue gak bisa jaga dia Mel,gue pembunuh Mel.Baby,gue bunuh baby Mel"racaunya dengan terus menangis.


Amel menggeleng dengan tangisnya "Gak,lu bukan pembunuh.. Baby udah bahagia disana Rain,lu harus bangkit.Dia bakal sedih kalo liat lu terus-terusan kayak gini.. "sahut Amel. 


Tangisan Raina benar-benar pilu,tangan yang masih menggenggam tangan sang suami pun semakin kuat.


"Dear"panggil Rayyan,Amel pun merenggangkan pelukannya pada Raina.Membiarkan Rayyan yang sekarang meambil alih. 


Raina masih menangis menatap wajah Rayyan,tersirat diwajah suaminya kesedihan serta kekhawatiran.Rayyan berdiri,lalu merengkuh tubuh istrinya.Wanita yang ia cinta. 


"Dear, jangan gini please… aku sakit liat kamu kayak gini,aku cinta kamu dear"bisik Rayyan pada Raina.


"Aku takut bunuh baby lagi .. aku takut"


"Kamu gak bunuh siapa-siapa dear,itu sudah takdir Tuhan.Baby pasti senang sekarang kamu lagi mengandung adiknya..Baby pasti ikut bahagia disana dear"ucap Rayyan,merasakan tubuh istrinya yang terus bergetar karna menangis. 


Rayyan menuntun tangan kanan Raina ke perut milik istrinya itu,lalu membantunya mengelus perut yang masih rata itu.


Degh 


Perasaan aneh menjalar didadanya karna elusan lembut itu,terasa sangat menenangkan dan membuat hatinya menghangat.


"Disini,disini ada adik baby dear.. Kamu rasain kan,dia disini"ucap Rayyan lagi "Hey baby sehat-sehat ya sayang.kami menunggu kamu disini"ucap Rayyan kembali. 


"Hiks..hiks..hiks.. maafin mama ya sayang"racau Raina memeluk perut ratanya posesif seakan takut jika ia kembali kehilangan.


Rayyan merengkuh tubuh istrinya yang tengah menangis "Ya Dear,baby seneng kalo kamu peluk dia gitu.Kita jaga dia sama-sama ya dear.Aku cinta kamu"bisik Rayyan pada sang istri lalu membubuhkan kecupan di kening Raina. 


Niko dan Amel yang melihat pun terharu sahabatnya menangis bahagia,bukan tangisan memilukan seperti tadi. 


🌸


🌸


🌸


Sudah tiga hari,Rain diizinkan pulang setelah selama 2 hari di rumah sakit langsung melakukan konseling dengan mommy Amira yang tak lain mommy Niko.Sekarang Rain mulai menerima semua.


"Hoek..hoek..hoek"Terdengar kembali suara muntah bersahutan di kediaman Syahreza.


Bukan hanya Rayyan dan Edo saja,Ines pun ternyata memiliki gejala yang sama bahkan ia sampai bingung karna waktu periksa ke rumah sakit ia tak sedang hamil. 


"Udah enakan?"tanya Raina membuka lengannya lebar-lebar karna ia tau setelah morning sickness suaminya pasti merangsek diketek Raina untuk ia endus.Ajaib memang. 


Rayyan hanya ndusel tanpa menyaut. 


Raina membelai rambut sang suami,merasa kasihan karna terus muntah saat bangun tidur.Tak bisa ia bayangkan bagaimana tersiksanya Edo dan mbak Ines,okelah kalo mbak Ines Rain tak terlalu khawatir karna ada mas Willy disampingnya tapi apa kabar dengan Edo.Calon manten yang tengah diberi ujian oleh calon keponakannya sendiri,Raina jadi membayangkan bagaimana tersiksanya Edo saat ini. 


Raina terkikik geli. 


Deringan ponsel milik Rayyan membuat Rayyan terganggu hingga berdecak. 


"Siapa sih nelfon pagi-pagi banget.Gak tau orang capek"gerutunya tapi tangan mencari letak ponselnya. 


"Gak boleh gitu"sahut Raina lembut. 


"Iya dear"ucap patuh karna sungguh sejak Raina kembali dari rumah sakit dia mendadak menjadi orang kalem sedunia. 


Nama Miya tertera disana tengah memanggil. 


"Hallo Miya" 


"....."


"Ya Tuhan.. aku lupa,kamu jalan aja dulu..Aku nyusul pakai mobil,kita ketemu dilokasi"ucap Rayyan tapi dengan membenamkan wajahnya pada ketek sang istri. 


Setelah mendengar sahutan Miya,Ray mematikan ponselnya lalu kembali ndusel di ketek Rain.


"Apa kata Miya yank?"tanya Rain.Ia kembali memanggil Rayyan dengan sebutan sayang karna terus dicibir oleh calon kakak iparnya yang tak punya akhlak itu.Katanya terlalu menggelikan jika Rain yang menyebutkan panggilan seperti itu.


"Aku lupa hari ini ada job di kota D,tapi aku kok males ya dear.. Maunya gini aja"sahut Rayyan malas terus menyurukkan kepalanya di ketek sang istri dengan tangan membelit tubuh ramping istrinya. 


"Udah cepet sana jalan,kasian kan Miya nunggu" sahut Raina.


"Mmm… gak mau,maunya gini aja"ucap Rayyan manja. 


"Ishh.. udah ndusel dari subuh kamu yank" 


"Biarin ish.."ucapnya lagi dengan mencebik manja. 


"Ayo cepet berangkat,ntar macet lho" 


"Emm..gak mau,gak mau.. maunya peluk aja ih"


"Manja banget sih suami aku"cubit Raina gemas sendiri. 


"Biarin.."ucap Rayyan yang sekarang malah membenamkan kepalanya dibelahan d**a Raina yang tertutup kaos oblong kesukaannya.


"Cepetan sayang,udah sana pergi cari uang yang banyak buat beli mobil jeep kayak punya Niko."sahut Raina.


"Kamu pengen mobil?"tanya Rayyan.


"Heem.."sahut Raina kalem.


"Yaudah...tapi.. em.. e**n dulu ya,aku pengen"ucap Rayyan.Membuat mata Raina kembali membulat sempurna menatap mata suaminya seakan memohon itu.


...💜💜💜...


...°TBC°...


...💜💜...


...KOMEN...


...LIKE...


...VOTE...


...VOTE...


...VOTE...


...JANGAN LUPA YA 🤗🥰...