
Brak
"Kalian"ucap Raina sudah menduga.
"Emak,Bapak"teriak Raina "Bang Edo sama Amel pangku-pangkuan,kawinin aja sekarang"teriak Raina lagi dengan nyaring.
Amel yang mendengar teriakan sahabatnya itu pun terlonjak kaget dan langsung turun dari pangkuan Edo.Ia mendelikkan matanya pada sang calon suami karna ulahnya membuat dia terhanyut tak ingat jika dia memiliki sahabat sekaligus calon adik ipar yang mulutnya seperti panci bocor.
Emak dan bapak ikut menghampiri karna teriakan Raina,sedangkan Ray dibawah menemani Air karna tak mungkin membawa Air naik ke atas melihat situasi yang mungkin tak patut dilihat oleh anak-anak.
"Liat deh Pak,abang tuh kelakuannya.. ck...ck..ck.. (menggelengkan kepala sambil berdecak) Dia lecehin sahabat aku coba"ucap Raina dengan mimik wajah mendramatisir.
Amel dan Edo langsung melotot mendengar apa yang keluar dari mulut Rain.
"Belum juga nikah udah grep ummm…"belum selesai Rain berbicara Edo langsung melompat dan menutup mulut adiknya itu.
"Gak ada mak,bapak.. Rain cuma ngerjain aja,Abang sama Amel gak ngapa-ngapain kok.Serius"ucap Bang Edo gugup.
"Jangan macem-macem bang,kalian belum nikah.. "ucap bapak dengan wajah tegasnya.
"Iya.. bapak,Emak.. Amel sama abang beneran gak ngapa-ngapain"ucap Amel menimpali "cuma cium-cium dikit"lanjutnya membatin.
"Aw...aw...aw.."rengek bang Edo yang mendapat hadiah jeweran dari emak "Ngapain calon mantu emak kamu bang.. Mau emak kawinin sekarang juga"ucap emak dengan menarik lagi telinga bang Edo membuat empunya meringis sakit.
"Iya deh mak,nikahin hari ini juga Edo ikhlas.. Ikhlas banget"ucap bang Edo.
"Dih.. maunya kamu itu mah"toyor emak pada anak sulungnya ini.
Bang Edo malah cengengesan.
"Aduh.. sahabat gue,lu gapapa kan?"tanya Rain menghampiri Amel dengan seringaian yang terpatri di bibirnya.
"Gimana enak digrebek sayangku hehe"bisik Raina saat memeluk Amel.
"Sialan emang lu"bisik balik Amel.
"Ini pembalasan dulu lu sama Niko pernah ganggu gue sama Omte"balasnya dengan berbisik juga membuat Amel melotot.
Sialan memang sahabatnya ini pikir Amel.
🌸
🌸
🌸
"Hoek...Hoek...Hoek.."suara muntahan terdengar saat mereka turun ke lantai bawah.
"Kak,kak Rain.. kak Ray muntah"ucap Air berlari menghampiri Raina yang berdiri di undakan terakhir.Mereka pun dengan cepat menghampiri Rayyan yang tengah muntah di wastafel.
"Mas gapapa?"tanya Raina memijit pelan tengkuk Rayyan.
"Em…I-itu dear,baunya menyengat banget"ucap Rayyan menunjuk keatas meja makan membuat semua orang melihat apa yang berada diatas sana.
"Kamu gak bisa makan telur balado?"tanya Emak.
"Bisa mak"sahut Ray dengan badan yang melemas,saat ia menoleh melihat emak yang meangkat piring telur balado membuat kembali Rayyan memuntahkan air dari mulutnya sampai ia terduduk tak ada lagi yang mampu ia keluarkan membuat semua orang menatap khawatir pada Rayyan.
"Sini,aku bantu.. Kita duduk situ ya"ucap Raina membantu Rayyan berdiri.
🌸
🌸
🌸
"Udah enakan Ray?"tanya bang Edo yang baru kena semprot duduk bersama sang kekasih.
"Masih bang"sahut Ray bahkan ia menyandarkan kepalanya pada bahu sang istri.
"Kelamaan main air nih pasti"cletuk emak kembali dengan membawa secangkir teh hangat.
"Belum juga dua jam main air masa' kedinginan.. Udah gede juga,gak mungkin lah mak"sahut Raina meraih cangkir diatas meja."Minum dulu mas"lanjutnya menyerahkan pada Rayyan.
"Itu mah kamu dek,suami kamu ya beda lagi.Jangan samain suami kamu kayak kamu lah kutilperawan"ucap emak menonyor kepala putrinya yang sebenarnya sudah tak perawan lagi.
"Mantan perawan mak"masih saja Rain menyahuti.Tak taukah keduanya jika ada bocah cilik yang tengah duduk disebelah Rayyan mendengarkan perdebatan mereka berdua yang tak berfaedah.
"Udah diem.. ada anak kecil disini"tegur bapak.Bapak tau bocah cilik ini siapa,tapi bapak bersikap biasa saja.Meski sebelumnya sempat terkejut karna kehadiran bocah itu dirumah dan penjelasan dari emak pada bapak membuat bapak lebih memilih diam dan meakrabkan diri.Sikap pemaaf Rain memang menurun dari bapak Adriano.
"Anak siapa pak?"tanya bang Edo tiba-tiba membuat semua terdiam.
Bahkan Amel juga menanti jawaban semuanya,karna Rain juga belum menjelaskan bocah itu siapa sejak tadi ia bertanya pada Rain.
"Keluarga mas Ray bang"sahut Raina.
"Anak Aldi,kayaknya anak Aldi cewek"ucap bang Edo karna memang suami Rebecca sahabat bang Edo saat kuliah.
"Bukan.."sahut Raina lagi,ia mulai bingung menjawab.
"Dia adik tiri aku bang"ucap Rayyan dengan lemas dan wajah pucatnya membuat semua membelalak kaget.
Tangan Raina menggenggam telapak tangan suaminya.Edo tampak terkejut,begitupun Amel.Otaknya langsung mengingat wanita yang begitu ia benci.Bahkan hanya mendengar namanya saja membuat ia jijik,apalagi kebodohan yang pernah ia buat karna wanita sialan itu.
"Jadi ini anak…"
"Bang.."cegah Raina yang takut abangnya melanjutkan ucapannya.Bocah cilik itu tak pantas mendapat kebencian dari orang lain untuk kesalahan yang tak pernah ia buat sama sekali.Karna kelahirannya didunia bukan sebuah kesalahan,Tuhan sudah mengizinkan bocah itu tumbuh dan lahir didunia berarti bocah itu anugerah dari Tuhan pikir Raina.
"Adek mau ngomong sama abang,sama Amel juga.."ucap Raina "Air jaga kakak dulu ya.. "lanjutnya berbicara lembut pada bocah itu yang diangguki langsung oleh Air.
"Dear,aku gak mau ditinggal kamu lho.. Kamu jangan jauh-jauh"ucap Rayyan menarik pelan baju Raina.
Emak mengulum bibirnya ingin tertawa melihat tingkah menantunya yang bak bocah cilik.Sedangkan Raina menatap bingung pada suaminya,biasanya ia malu jika bermanja dihadapan kedua orangtuanya tapi Rayyan benar-benar bersikap seperti bocah.
Woy.. emakmu meleleh itu liat sikap manis Raina pada sang suami,kebalik ini mah kebalik.Emang dunia udah kebalik apa begimana pikir emak.
"Pak emak baper,mau juga dong digituin"bisik emak ke bapak.
blluusshh
Pipi emak merona,seperti perawan lagi kasmaran.
Tangan Raina terulur,membelai pelan pipi suaminunya "Bentar,cuma kebelakang.. Disini dulu ya mas"ucap Raina mengecup pipi suaminya.
Rain mah masa bodo ada orang tuanya atau tidak,yang penting ia bisa menunjukkan kasih sayangnya pada suaminya.
"Sweet banget sih Rain,jadi pengen di sweetin gitu"Amel ikutan baper menangkup kedua pipinya.
🌸
🌸
🌸
"Rain,lu kalo sama Omte emang gitu ya?? Kok lu sweet banget gitu sih"ucap Anel yang duduk di gazebo dengan Edo dan Raina.
"Ntar lu kalo nikah juga bakal gitu"sahut Raina terkekeh.
Edo tampak masih diam,Rain melirik abangnya itu."Kalo ada yang mau abang tanyain,bisa abang tanyain sekarang"ucap Raina pada Edo.
"Jadi itu bener anaknya wanita itu?"tanya Edo
Raina mengangguk "iya bener bang"
"Dek,lu tau kan wanita itu siapa? Dia iblis dek"teriak marah Edo dengan berdiri,Edo memang paling susah mengontrol emosinya.Raina langsung menarik abangnya untuk duduk kembali.
"Bang,jangan kenceng-kenceng"ucap Rain takut Air mendengar,anak itu begitu tertutup bahkan tampak begitu banyak kesedihan dari matanya membuat Raina iba.
"Iya,kita denger penjelasan Rain dulu Bee"timpal Amel yang menyetujui ucapan Raina.
"Dia cuma anak kecil yang gak tau apa-apa bang.. Jangan salahin semua kesalahan orang lain sama dia"
"Bukan orang lain,Tapi ibunya dan darah iblis ada di dirinya dek"
"Berarti andai anak yang dulu hilang dari perut aku tumbuh abang akan benci juga sama dia,karna darah Elang yang buat adik abang ini hancur mengalir di dalam tubuh anak itu bang.. Iya?"ucap Raina telak.Edo bahkan terdiam tanpa bisa menjawab.
"Bang,dia tumbuh dan hidup sampai sekarang atas izin Tuhan.Dia lahir dengan keadaan suci,sangat gak adil buat dia kalo dia yang nerima semua kebencian orang lain karna kesalahan dan kejahatan orang tuanya.Rain mohon jangan benci dia bang,cuma dia,ayah dan keluarga mbak Becca yang suami aku punya.Aku mau kita menyatu seperti keluarga seutuhnya buat suami aku.Damailah bang,bahkan adek sudah berdamai dengan semua yang terjadi dimasa lalu"ucap Raina akhirnya,sungguh ia ingin semua orang disekitarnya melupakan kenangan pahit yang pernah terjadi.
"Dek,maafin abang"sahut Edo yang tiba-tiba teringat karna dia juga penyebab kehancuran Raina dulu.Direngkuhnya tubuh kecil adiknya yang tak tau hatinya terbuat dari apa bisa memaafkan semua ornag yang jahat padanya.Bahkan pada Elang,lelaki yang pernah menghancurkannya.
"Semua manusia tak luput dari dosa bang"sahut Raina membalas pelukan abangnya.Raina merasakan tambah seseorang yang tengah memeluknya,siapa lagi jika bukan Amel sahabatnya yang mudah baper. "Apalagi dosa adek,adek banyak khilafnya bang.. Sering ngisengin abang kan ya.."lanjutnya dengan candaan yang membuat ketiganya berpelukan dengan tertawa.
"Abang bangga punya adek kayak kamu.. Kamu bahkan begitu dewasa"ucap Edo lagi.
"Jangan kebanyakan dipuji bang,ntar kepala aku gede susah bawanya berat"sahut Raina lalu terkekeh."Rain,boleh minta satu permintaan ke abang gak? Mumpung suasananya kondusif nih"lanjutnya merenggangkan pelukan mereka bertiga.
"Apa?? Bilang ke abang"ucap Edo.
"Petikin mangga di rumah pak Rt bang,tapi abang pake kolor aja.. Jangan pake baju ya"pinta Raina dengan tatapan memohon pada sang abang.
Jederrr
"Salah nyaut nih gue"batin Edo mendesah.
Edo melotot "Minta apaan kamu dek aneh-aneh aja.. Tuh pohon mangga ada,buahnya juga banyak"sahut Edo menunjuk pohon mangga yang berada disebelah gudang.
"Rain gak mau,tadi pas Rain ngajarin mas Ray naik motor liat di pohon mangga pak Rt ada mangga gede banget.. Rain mau itu"ucap Raina tiba-tiba membayangkan buah mangga yang membuatnya meneguk salivanya sendiri.
"Stop...stop,deh Rain.. Gue kok geli ya lu manggil Omte mas..mas gitu.Gak cocok"ucap Amel yang mengernyit mendengar panggilan Raina yang begitu menggelikan.
"Si pe'a,gue lagi belajar jadi bini kalem.. Terinspirasi dari cemcemannya mas Iko ini"sahut Raina dan diakhiri dnegan kekehan.
"Mas Iko siapa?"tanya Amel bingung.
"Si Onyet nih dipanggil cemcemannya Mas Iko gitu"sahut Raina dan memanggil nama Niko dengan mendayu lalu bergidik geli sendiri.
"Niko punya cewek??"tanya Amel kaget "Kok gue gak tau,wah.. bener-bener tu bocah minta di sunat lagi"lanjutnya menggebu-gebu.
"Selow bu haji,ntar dia juga ngasih tau.. Tu masih pedekate juga mereka.Semoga aja sih jodoh"
"Emang kenapa?"tanya Amel penasaran.
"Ntar aja kalo ketemu dia lu introgasi sendiri,capek bacot gue nyerocos terus"sahut Raina "Bang,gimana ambilin sekarang ya?"pintanya lagi pads Edo.
"Inget aja sih"sahut Edo yang merapal dalam hati agar adik ya tak ingat lagi,lah ternyata masih ingat saja. "Tapi abang mau ke butik sama Amel dek"lanjut abang Edo mencari alasan.
"Bisa ditunda ntar,butiknya juga gak bakal lari.Dia gak punya kaki"ucap Raina membuat Edo kicep lalu mendesah pasrah.
Raina menyengir melihat abangnya yang tampak berfikir keras untuk menolak.Tapi teriakan dari seseorang membuat ketiganya menatap pada pintu lebar yang menghubungkan ruangan dalam dengan gazebo di dekat kolam renang.
"Dear"panggil Rayyan nyaring menghampiri Raina"Kamu kok lama sih,aku kangen"lanjutnya memeluk Raina dari belakang lalu mengecup pipinya.
Raina membulatkan matanya,bahkan ribuan kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya saat ini.Sungguh ia sangat bahagia perlakuan lelaki ini padanya,Rayyannya Rain.Suaminya,pemilik hatinya.
...💜💜💜...
...°TBC°...
...💜💜...
...KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...VOTE...
...VOTE...
...JANGAN LUPA YA 🤗🥰...