
Naomi menoleh ke tempat di mana putra nya tapi masih belum sadarkan diri kini telah memanggil.
"Boy kamu sudah bangun, mana yang sakit!"
"Papaaaaa!"
Deg.
Benarkan dugaan nya kalau putranya itu pasti akan mencari papa nya yang entah berada di mana, dia takut kalau suaminya itu juga akan bersikap dingin pada putranya itu.
Semoga saja Henry tidak melakukan itu, dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini terlebih keraguan Henry tentang siapa ayahnya.
Ceklek.
Pintu terbuka lebar dan orang yang membuka pintu pun langsung masuk kedalam sana, wajah yang menahan tangis itu berubah menjadi senyum penuh semangat saat mendapati papa nya itu ada di sana.
Nicholas langsung merentangkan tangan nya meminta di gendong oleh pria yang meragukan darah nya itu, Henry melewati dua wanita yang ada di sana, di raih oleh nya tubuh kecil pria yang sempat dia banggakan sebelum keraguan itu muncul hanya karena golongan darah yang berbeda.
Baik Naomi ataupun Mama Melly bernapas lega saat Henry bersikap biasa saja pada Nicholas yang tidak tahu apa yang Yeng tengah terjadi.
Tapi nafas lega itu tak berlangsung lama saat ada seseorang yang tengah mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok
tok
tok
"Masuk!"
Naomi yang tadi nya bisa sedikit tersenyum kini mendadak menampilkan wajah nelangsa nya, suaminya itu benar-benar meragukan kesetiaan selama ini.
Dokter itu pun masuk ke dalam setelah di persilahkan oleh Henry, dia langsung mengambil beberapa helai rambut milik Henry dan juga Nicolas yang kini berlindung di pundak papa nya itu.
Nicholas bisa di katakan sangat dekat dengan Henry, Nicolas akan merasa aman jika bersama dengan papa nya itu.
Bahkan saat dokter mengambil darah dari mata kaki nya Nicolas hanya terjingkat lalu kembali memeluk papa nya itu, dia tidak menangis sama sekali, usapan dari tangan Henry terasa begitu menenangkan bagi putra kedua mereka itu.
Dokter yang melakukan pengecekan itu sebenarnya sudah bisa memastikan bahwa cucu Tuan Alessandro itu benar cucu kandung nya, hanya saja karena golongan darah yang berbeda itu membuat tuan Henry meragukan nya.
Setelah mendapatkan stempel yang mereka butuhkan untuk melakukan tes DNA mereka pun pamit undur diri untuk segera melakukan tes tersebut.
Henry tidak mau menunggu lama di ingin hari ini juga hasil nya keluar dan dia berharap bahwa kekhawatiran nya itu tidak benar, hanya saja prasangka buruk mengalahkan logika nya sendiri.
Dia sudah terlalu buta dengan wanita bernama Erika yang sebenarnya jika di lihat secara seksama istrinya itu jauh lebih cantik dan berkelas di banding kan selingkuhan nya itu.
Nicholas tertidur dalam gendongan papa nya, Henry sebenarnya juga menyakini bahwa kedua anak yang keluar dari rahim Naomi adalah murni darah daging nya.
mengetahui bahwa Nicolas sudah tidur dia berniat menaruh nya di ranjang dan dia akan kembali ke kantor, Dia tidak ingin papa nya itu menggeser posisi nya yang sebagai pewaris tahta perusahaan ini.
Tapi apa yang di inginkan Henry tidak berjalan lancar saat Nicolas memeluk erat lehernya seakan dia tidak mau di tinggalkan oleh papa nya itu.
"Diam lah di sini pekerjaan kantor biar papa mu uang mengurus semuanya, keadaan putra mu jajah lebih penting dari meeting-meeting yang sudah di jadwal kan itu!"
"Tapi Ma, aku harus mendapatkan proyek itu, kita akan untung banyak saat bekerjasama dengan mereka!"
"Sebelum kamu lahir Papa mu sudah berkecimpung di dunia yang masih asing untuk mu ini, jadi diam dan turuti apa yang aku katakan!"
Henry diam saja dia tidak mau menyahuti perkataan mama nya itu, kini Henry pun naik ke atas ranjang tempat Nicholas di rawat.
Henry tersenyum begitu tulus pada putranya itu, putra yang dia ragu kan kalau kehadiran nya bukan berasal dari benih yang dia tanamkan.
Henry merebahkan diri nya di samping putra nya yang kini langsung masuk kedalam pelukannya, putra nya itu bahkan mengendus-endus aroma tubuh nya, seakan itu adalah parfum yang sangat di sukai.
Naomi dan ibu mertua nya yang melihat itu hanya diam tanpa mau berkata apa pun, mereka bisa merasakan kalau pria beda usia itu memiliki ikatan batin yang kuat, hanya saja Henry belum menyadari bahwa dunia nya itu ada pada Naomi dan kedua anak mereka.
Dua pria itu kini tidur, saling memeluk satu sama lain.
"Mama berharap ini adalah cobaan terakhir kalian, aku ingin melihat kalian bahagia itu saja"
"Kami semua bahagia Ma"
"Kamu bisa membohongi orang lain tapi tidak dengan Mama dan Papa"
Naomi tidak lagi menjawab, sebab apa yang di katakan oleh mertuanya itu memang benar, orang terdekat nya akan merasa apa yang dia rasakan.
"Ma!" panggil Naomi pada mertua nya itu.
"Kalau nanti aku tidak bersama kalian lagi, tolong jaga kedua putra ku Ma!"
"Apa yang kamu bicarakan menantu ku!" ucap Papa San yang kini masuk ke dalam ruang rawat cucu nya.
"Tidak ada pa, hanya saja aku tidak percaya dengan wanita yang nantinya akan menggantikan posisi ku!"
"Sampai kapan pun kamu tetep nyonya besar di keluarga Keith, apa kamu merasa keberatan mengemban tugas yang diberikan Mama mertua mu itu?"
Dengan cepat Naomi menggeleng kepalanya dia sama sekali tidak keberatan bahkan dia sangat menikmati pekerjaan itu, dia bisa bertemu dengan banyak orang.
"Kalian makan lah, aku membawa nya untuk kalian!"
"Kamu sendiri sudah makan?" tanya Mama Melly pada suaminya itu.
"Aku sudah makan, jangan khawatir aku, tapi saat ini aku tidak harus kembali ke kantor ada meeting yang harusnya di kerjakan oleh putra mu itu!"
"Dasar tidak bertanggung jawab, aku yang harus menghandle pekerjaan nya sementara dia di sini malah enak-enakan tidur"
"Aku yang meminta nya untuk tidak pergi ke kantor, jadi kamu urus saja semua!"
"Aku pergi dulu!"
Papa San langsung keluar dari sana menuju salah satu ruangan milik teman lama yang merupakan dokter senior di rumah saja tempatnya bekerja.
"masuk!"
"Sudah datang kamu, duduk lah ada yang ingin aku katakan padamu!" kata dokter itu lagi
"Cepat katakan aku ingin tahu yang ingin kamu sampaikan"
"Aku mendapatkan laporan bahwa putra dan cucumu itu melakukan tes DNA, meski cucu mu itu baru saja sadar dari hemofilia nya!"
"Jangan berbelit-belit cepat katakan apa yang terjadi!"
"Ada seseorang yang ingin menggagalkan ini semua!"
"Dan kamu tahu siapa pelakunya?"
"Siapa?"