
Erika membeli semua barang yang dia ingin kan, dan membawa nya ke kasir dengan senyum lebar, dia juga bergelayut di tangan Henry yang juga tersenyum menatap ke arah Erika.
Barang belanjaan sudah di total dengan mencapai angka ratusan juta itu bukan masalah bagi Henry yang setiap detik nya menghasilkan uang puluhan dolar itu.
Henry menyodorkan kartu kredit nya yang ternyata gagal hingga dia coba beberapa kali, bahkan dia juga mengganti kartu yang lain tapi hasil nya tetap sama.
"Coba ini" kata Henry yang memberikan kartu kredit terakhir yang dia miliki.
"Maaf Tuan, kartu nya limited" Henry mengerutkan keningnya heran, kenapa semua kartu kredit nya tidak bisa di gunakan, pasti itu kerjaan papa nya yang membekukan kartu kredit nya.
Erika sudah cemberut di samping nya, bahkan pegangan tangan nya, sudah terlepas. Kini harapan Henry hanya satu, black card nya yang tidak pernah di gunakan sama sekali.
Erika yang melihat itu pun tersenyum girang saat melihat kartu tanpa batas itu, dia bisa membeli apapun yang dia inginkan, tanpa harus bersusah payah lagi.
Tinggal gesek dan apa pun yang dia ingin kan akan terwujud, pembayaran barang-barang tadi sudah berhasil dan siap di kirim ke rumah pribadi Erika.
Kini mereka keluar dari sana dengan senyum lebar nya, menuju restoran yang tidak jauh dari tempat mereka berbelanja tadi.
Saat Erika akan duduk di sana seorang pelayan yang membawa makanan panas pun tanpa sengaja menumpahkan kuah makanan tersebut pada gaun yang di gunakan oleh Erika.
"Maaf Nyonya, maafkan saya"
"Saya tidak sengaja Nyonya" ucap pelayan tersebut sambil menunduk kepalanya.
Jika tidak ada Henry di sana mungkin dia sudah memakai peluang ceroboh itu di sana, tapi dia menahan semuanya agar tetap terlihat anggun di depan calon suami nya itu.
Erika yakin, bahkan sangat yakin jika kekasih nya itu akan segera bercerai dengan istrinya dan jatuh sepenuhnya kedalam pelukannya.
Dia tinggal memikirkan bagaimana cara melancarkan rencana perceraian mereka supaya tidak terlalu lama dan dia bisa menjadi Nyonya muda Keith.
"Tidak apa, ambil kain dan bersihkan lantai nya, nanti orang bisa jatuh terpeleset"
"Baik Nyonya, sekali lagi saya minta maaf"
Erika tersenyum menawan pada Henry yang semakin jatuh cinta pada pesona wanita di depan nya.
"Kamu tidak hanya cantik di wajah me Amore tapi hati mu juga secantik wajah mu, kamu membuat ku jatuh cinta setiap detiknya" puji Henry pada kekasih nya.
"Kamu berlebihan memujiku, aku jadi tersanjung di buat nya"
"Aku tidak memuji mu, tapi aku mengatakan apa yang aku lihat di depan mata ku"
"Sudah jangan berlebihan, kita belum memesan makanan jadi cepat pesan kan aku makanan, aku akan ke pergi kebelakang sebentar.
"Perlu ku antar?"
"Tidak perlu me Amore, kamu di sini saja"
"Jangan lupa pesan kan makanan favorit ku"
Henry mengangguk saat mendengar permintaan dari Erika yang berjalan menuju kamar mandi.
"Dia sangat baik dan tidak pernah meninggikan suara nya bahkan dia lemah lembut pada semua orang, tapi kenapa keluarga tidak mau menerima nya" ucap Henry bermonolog sambil membuka buku menu yang ada di atas meja.
Selama ini yang dia tahu bahwa kekasihnya itu adalah wanita lemah lembut yang tidak suka berdebat dengan siapapun, termasuk pada nya, dia akan cepat minta maaf jika dia terbawa emosi, dan mudah memaafkan pada orang yang berbuat salah pada nya.
Sungguh Henry merasa beruntung bisa di cintai oleh wanita sebaik Erika, tanpa dia tahu bahwa semua nya itu hanya sandiwara yang dia lakukan untuk menaklukkan untuk menjerat Henry dengan pesona nya.
Pesona wanita idaman yang menjadi incaran banyak pria, karakter yang sangat jauh berbeda dengan asli nya yang tidak di ketahui banyak orang, hanya keluarga nya saja yang tahu sifat asli nya.
Erika kembali duduk di hadapan Henry yang sudah memesan makanan untuk nya, dan semua itu adalah makanan favorit nya.
"Terimakasih Me Amore"
"Cepat makan, aku tidak mau anak ku kelaparan di dalam sini" ucap nya sambil mengelus tangan Erika dan wanita itu tersenyum sambil mengangguk kepala nya.
Mereka pun makan dengan senyum bahagia, mereka tidak peduli akan dunia yang menentang keras hubungan mereka.
Justru mereka menciptakan sendiri dunia indah yang hanya ada mereka di dalam nya tanpa memikirkan orang lain yang sakit hati dengan keputusan mereka.
Tanpa mereka sadari bahwa apa yang mereka lakukan itu tengah di perhatikan oleh seorang yang duduk dari kejauhan, hati nya terasa sangat perih saat melihat suaminya itu menunjukkan kemesraan mereka di depan umum saat mereka masih sah sebagai suami istri.
Bahkan dengan nya saja, suaminya itu tidak pernah mengajaknya makan di luar seperti itu, mungkin karena suaminya itu benar-benar mencintai teman nya itu jadi dia dengan mudah nya melakukan semua itu, tidak seperti pada nya yang terlalu dingin, meski pernah dia merasa kehangatan sikap dari Henry beberapa hari terakhir sebelum kabar kehamilan Erika terkuak.
Dan dia memilih untuk pergi menahan luka yang terus saja di sayat dari dalam oleh suaminya yang memang tidak pernah ada cinta untuk nya.
Perhatian nya teralihkan saat orang yang dia tunggu duduk di depan nya, dengan membawa bunga lili putih yang sangat indah untuk nya, senada dengan gaun yang ia kenakan, Naomi pun berdiri dari duduknya, dia menerima dengan senang hati bunga yang di berikan oleh laki-laki yang pernah memiliki hati nya dulu.
"Terimakasih kak"
"Aku tidak terlambat kan?"
"Tidak, aku juga baru saja sampai" jawab nya
"Bahkan aku belum memesan apapun" lanjut Naomi setelah menghirup wangi bunga yang ada di tangan nya.
"Jadi setelah ini apa rencana mu, eemmm maksud ku, kamu mau kemana?"
"Aku akan menjemput anak ku sebentar lagi, dan membawa nya bermain bersama sampai malam baru aku anak mengantar kan nya pulang" jawab Naomi yang masih sibuk dengan bunga di tangan nya.
"Kamu suka bunganya?"
"Iya, aku menyukai nya"
"Aku kan membelikan untuk mu tiap hari, tapi ada syaratnya"
"Kenapa harus ada syarat nya, tapi katakan dulu apa syarat nya jika aku bisa aku akan melakukan nya, karena aku sangat menyukai bunga lili"
"Syarat nya mudah, kamu hanya perlu menjadi istri ku, maka aku akan memberimu bunga lili yang indah setiap harinya"
"Naomi, Will you marry me"