
Henry turun dari apartemen milik nya saat mendapatkan pesan dari adik nya yang meminta nya pulang, apa lagi alasan jika bukan karena kedua putranya itu tidak tidur jika tanpa dia di sisinya.
Dia sampai di gerbang rumah, dia sudah di tunggu oleh Jessica yang berdiri di sana yang langsung membukakan pintu saat melihat mobil kakak nya itu sampai di sana.
Henry masuk begitu saja saat gerbang terbuka untuk nya, dia memarkirkan mobilnya di sembarang tempat dan langsung masuk menuju kamar di mana kedua putranya itu berada.
Mereka yang sudah mandi pun langsung menempel pada papa nya yang baru saja datang, untung saja dia tadi sempat mandi terlebih dahulu sebelum menemui kedua putranya yang memeluk saat dia baru saja membuka pintu kamar.
Setelah kedua putranya itu tertidur, dia pun langsung keluar dari kamar itu, dia harus segera pergi sebelum papa nya itu mengetahui nya ada di rumah nya.
Langkah nya terhenti saat dia ingin menuruni tangga, Mama nya keluar dari kamar pribadi nya lalu menghampiri nya, menanyakan tentang apa yang satu hari ini dia lakukan, Mama nya itu tahu kalau suaminya itu juga melarang putra nya itu kekantor dan mencopot jabatan nya di sana.
Henry yang tidak ingin berlama-lama di sana pun menjawab seada dan seperlunya saja, dia tidak ingin bertemu dengan papa nya saat ini, dia kesal dengan ulah papa nya yang mengusirnya dari rumah dan juga perusahaan.
Tanpa dia tahu, kalau semua kartu milik nya juga di bekukan oleh Papa nya itu, jadi dia tidak lagi bisa melakukan apapun saat dia tahu semua nya.
Mama Melly yang tahu bahwa putranya itu tidak nyaman berada di sana pun menyudahi pembicaraan mereka, dengan Henry yang langsung keluar dari sana.
Saat dia akan masuk kedalam mobilnya dia melihat pengawal pribadi istrinya itu ada di sana, dia pun menghampiri nya Zayn yang sedang duduk di pos satpam bersama reka. nya yang lain.
"Zayn" panggil nya.
"Tuan muda, anda berada di sini?"
"Iya, kenapa?"
"Itu, Tuan muda saya ada titipan dari Nyonya muda" ucap nya sambil berlari menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat nya berdiri.
Setelah mengambil nya dia pun memberikan nya pada Henry yang tampak mengerutkan keningnya, dia pun menerima nya, tanpa ada niatan untuk membuka nya.
"Kenapa kamu ada di sini, bukan kah Tuan besar mu itu menyuruhmu memantau keadaan menantu kesayangan nya itu?"
"Nyonya muda tidak ingin kami mengikuti nya lagi Tuan, karena dia bukan lagi nyonya muda keluarga Keith"
Henry tidak menjawab dia langsung pergi begitu saja saat tahu alasan yang membuat pengawal nya itu kembali ke rumah besar, tapi apa papa nya itu akan melepaskan begitu saja pada apa pun yang sudah dia klaim menjadi bagian dari diri nya.
Bisa saja bukan, buktinya dia saja yang darah daging nya saja dia keluarkan dari rumah itu karena tidak mematuhi peraturan yang telah dia tetap kan.
Henry masuk ke dalam mobil nya lalu pergi meninggalkan rumah orang tua nya itu menuju apartemen yang hanya dia saja yang tahu, di turun dari sana lalu masuk ke dalam unit milik nya.
Dia pun memasukkan surat tersebut ke dalam laci yang banyak terdapat surat-surat lain nya, dia merebahkan diri nya di atas sofa di ruang tamu milik nya.
Waktu hampir tengah malam tapi dia masih belum bisa memejamkan matanya, pikiran tertuju pada kekasih nya yang kini entah ke mana, bukan sekali dia kali sebenarnya, Erika pergi tanpa jejak meski tidak lebih dari tiga hari, tapi itu pasti terjadi setiap bulan nya.
Dia tidak tahu apa yang di lakukan oleh Erika, yang pasti Henry tidak pernah tahu apa yang di lakukan dan kemana perginya wanita yang menjadi kan nya kehilangan segalanya.
Di raih nya kembali sebotol red wine yang terjejer rapi di showcase cooler milik nya, dia meneguk nya langsung tanpa menuangkan nya ke dalam gelas yang ada di sana.
Dia benar-benar bingung, dia kehilangan pegangan hidup nya, istrinya yang memilih pergi dan Erika hanya tanpa kabar membuat nya tidak tahu harus berbuat apa.
Apa yang harus dia lakukan, dia ingin memperbaiki semua nya, tapi dia juga bingung dari sisi mana dulu yang harus dia perbaiki.
Melepaskan Erika dan kembali pada Naomi, bukan sesuatu yang muda dia raih, karena dia tahu siapa di balik wanita yang dia inginkan kembali itu, jika semua itu terjadi semua akan berjalan seperti semula, kehidupan mewah yang di persiapkan Papa nya itu akan kembali dalam genggaman tangan nya.
Tapi dia juga tidak sanggup berpisah dengan cinta pertama nya, dan jika dia memilih cinta pertama nya sudah tergambar jelas kehidupan nelangsa yang akan dia lalui, dia tidak akan sanggup jika harus membuat Erika menderita saat hidup dengan nya.
Dia ingin menyuguhkan kehidupan mewah dan berkelas untuk wanita nya itu, tapi jika hanya mengandalkan pabrik milik nya itu, semua tidak akan mencukupi kebutuhan bulan Erika yang sangat jauh berbeda dengan pengeluaran istri nya Naomi.
Pikiran nya kalut, saat ini dia tidak bisa lagi berfikir dengan jernih, dia mendudukkan dirinya di kursi mini bar milik nya, sampai dis tidak sadar kalau di tertidur hingga pagi.
Dia terbangun dari tidurnya pun, karena mendapatkan kabar bahwa Erika sudah pulang pagi ini, buru-buru dia bergegas menuju ke rumah kekasih nya itu, sampai di sana dia langsung di sambut senyuman manis dari wanita yang tengah hamil anak nya itu.
"Aku merindukan mu" ucap nya langsung memeluk Erika yang berada di teras rumah, dia sengaja menyambut kedatangan kekasih hati nya itu.
"Aku juga, maaf meninggalkan mu semalaman"
"Tidak apa, kamu pasti pulang ke rumah besar kan?" tanya Henry yang hanya di angguki oleh Erika, Henry yang merasa ada sesuatu yang di tutupi itu pun langsung menanyakannya.
"Kamu kenapa, apa anak kita nakal di sini?" tanya Henry sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Tidak hanya saja, aku ingin membeli sepatu baru, adik ku punya aku dan aku juga menginginkan nya" rengek nya pada Henry.
"Ayo kita beli sekarang"
Mereka pun langsung pergi menuju pusat perbelanjaan yang menjual berbagai macam barang branded yang menjadi langganan Erika saat menghabiskan uang milik selingkuhan nya.
Tanpa henry tahu satu kenyataan yang sebenarnya.