
Henry yang tidak mau terlalu larut dalam kekalutan nya pun membuka pintu lemari pakaian mengambil nya, lalu mengenakan nya, kemudian turun ke bawah di mana semua orang sudah berkumpul di meja makan.
Henry duduk di kursi sebelah ayah nya dengan Naomi yang juga di sampingnya, Henry tetap diam tidak mengatakan apapun di sana, dia melihat ke arah istrinya yang bersikap seperti biasa.
Namun itu justru membuat Henry merasa tidak tenang dan di hantu perasaan tidak nyaman, kenapa istrinya itu bisa bersikap setenang itu setelah dia mengetahui perselingkuhan nya.
Apa Naomi juga punya kekasih lain jadi dia tidak merasakan sakit hati saat di selingkuhi, apa dia selama ini begitu tidak memperdulikan apa saja yang di lakukan oleh istrinya itu.
Tapi kalau pun di selingkuhi kenapa anak buahnya tidak ada yang melapor pada nya, apa karena mereka di suap oleh istrinya itu agar tidak melaporkan tentang perselingkuhan nya.
Tapi mana mungkin, jika mereka berani membohongi diri nya itu masih bisa di katakan wajar tapi kalau sudah berurusan dengan tuan besarnya mereka tidak akan berani bukan.
Yang ada mereka hanya akan tinggal nama saja tanpa jasad yang bisa di kenali.
Henry menggelengkan kepalanya mengusir pikiran pikiran itu dari kepala nya.
Apa yang di lakukan dari tadi itu tidak luput dari pengamatan seorang Alessandro yang duduk menikmati makan malam nya.
prang.
Semua orang terkejut saat papa San meletakkan sendok nya dengan begitu kasar yang menimbulkan bunyi nyaring karena bertabrakan dengan piring yang masih terdapat nasi di sana.
Semua orang kini menatap pada satu titik di mana itu lah yang menjadi kekacauan di meja makan itu, jika kalian menganggap dia adalah papa San maka jawaban kalian salah.
Karena perhatian mereka tertuju pada Henry yang hanya duduk di sana sambil mengaduk-aduk nasi nya.
Merasa dirinya di perhatikan Henry mengangkat wajahnya nya, yang kini berada pada mata papa nya itu.
"Kenapa kalian memperhatikan aku seperti itu?" tanya henry yang masih tidak sadar dengan apa yang terjadi di sana.
Tidak kah dia sadar kalau sejak dia turun dari lantai atas tadi, dia sudah menjadi pusat perhatian, di tambah lagi tingkah aneh nya yang hanya mengaduk-aduk sampai semua orang menyelesaikan makan malam nya.
"Jika ingin melamun jangan di sini, keluar saja kemanapun yang kau inginkan" bentak papa San pada putra tertua nya.
Henry yang menyadari nya tidak menjawab apa pun karena itu adalah aturan makan di keluarga nya, ketika makan tidak boleh ada yang berbicara, tidak menghabiskan makanan dan beranjak dari tempat duduknya sebelum semua orang selesai menikmati makanan.
Dia yang tidak mau masalah sepele ini semakin merembet jauh pun, dengan cepat dia memasukkan makanan yang ada piring ke dalam mulutnya, bahkan saking tergesanya di sampai tersedak.
Dengan gerak refleks dia meminta air pada istri nya yang duduk di samping nya, dia langsung meminum nya hingga tandas.
Papa San menyunggingkan senyumnya melihat tingkah putra nya itu, dia masih butuh istrinya saat di rumah tapi seakan tidak membutuhkan nya saat berada satu langkah dari pintu rumah.
"Ternyata dia masih membutuhkan barang rumahan" sindir papa San terang-terangan pada putranya itu.
"Apa maksud Papa?"
"Kau bukan orang bodoh yang tidak mengerti dengan apa yang aku katakan, bahkan kau lebih paham segala di banding aku" ucap Papa San lagi.
"Sayang panggil kan pelayan untuk membereskan semua ini aku perlu bicara pada putra kesayangan ku ini" pinta papa San pada istri yang tanpa menunggu lagi langsung memanggil mereka untuk membereskan makanan itu.
"Dan kalian bawa anak-anak pergi ke kamar nya, dan tidur kan mereka"
Semua diam tidak ada yang berkata apa pun sampai meja makan itu bersih tidak ada apa pun di sana kecuali segelas teh yang baru saja di hidangkan oleh pelayan senior.
"Sekarang katakan apa mau mu?" tanya papa San pada Henry yang kini menatap lurus ke depan.
"Apalagi yang papa ingin kan"
"Jangan terus-terusan menguji kesabaran ku Henry" Teriak papa San yang sudah tidak bisa mengendalikan emosi nya.
"Dari dulu aku diam, melihat perlakuan mu pada istri mu, mau sampai kapan kamu menyiksa nya, mau sampai kapan kamu memberikan nya harapan palsu dengan pernikahan ini!"
"Sejak dulu aku menolak pernikahan ini, kalian saja yang keras kepala sudah aku katakan kalau aku sama sekali tidak mencintai nya!"
Brak
"Keterlaluan kamu Henry, aku tidak pernah mengajarkan mu menjadi pria bajingan seperti itu"
"Terserah papa mau mengatakan apa pada ku yang jelas, aku tidak akan pernah meninggalkan Erika sampai kapan pun, ada dan tidak nya Naomi di hidup ku semua tidak akan pernah berubah"
"Dan satu lagi, jangan pernah menyalahkan aku, karena dia hamil anak ku, itu juga karena kalian yang menginginkan nya"
"Kalian semua egois hanya mementingkan dendam kalian saja tanpa memikirkan kami yang saling mencintai satu sama lain" ucap Henry semakin menjadi-jadi.
"Apa, apa yang bisa kamu banggakan dari wanita yang dia sendiri tidak setia pada suami nya, apa kamu yakin jika dia tidak akan melakukan itu juga saat kalian menikah"
"Aku lebih mengerti dia di bandingkan semua orang yang mengenal nya, aku tahu setiap air mata yang keluar dari mata nya karena di yang tidak bahagia dengan pernikahan nya"
"Kamu memang buta Henry kamu bisa melihat semut di seberang lautan tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat oleh mu"
"Iya aku memang buta, karena aku membiarkan permata ku mengeluarkan air nya, air kesakitan yang selalu mengalir karena laki-laki bajingan seperti ku"
"Tinggalkan dia atau kamu akan kehilangan segalanya"
"Aku tidak takut jika harus kehilangan semua nya, aku bisa hidup sederhana dengan nya di rumah kontrakan kecil dengan penuh cinta di dalam nya"
"Aku tidak peduli sama sekali dengan semua harta ini, untuk apa semua ini jika tidak merasakan bahagia"
"Kamu memang keras kepala, kamu pikir bisa hidup hanya dengan cinta, kamu tahu itu semua pembodohan"
"Aku tidak peduli lagi pa, sekarang semua orang tahu apa yang aku lakukan jadi terserah apa yang kalian inginkan"
"Apa selama ini kalian tidak menyadari bahwa ada banyak hati yang tersakiti karena keegoisan kalian"
"Tapi kenapa harus dia Henry?" tanya Mama Melly yang sejak tadi hanya diam melihat pertengkaran suami dan putra nya.
"Apa dengan membalas dendam nenek buyut akan hidup lagi?"
Plak