Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Apakah aku salah?



"Papa"


"Dasar kau anak durhaka, jangan bicara kurang ajar, ingat apa yang selama ini kau makan dan nikmati itu semua berasal dari mana"


"Aku tidak percaya dengan semua ini, anak yang ku banggakan membuat ku tidak punya muka di wajah leluhur ku sendiri"


"Sedalam itu dia mempengaruhi mu untuk membenci keturunan mu sendiri"


"Apa pun itu terserah papa, semua itu tidak akan merubah apa pun di antara aku dan Erika"


"Lalu bagaimana dengan istri mu"


"Itu terserah dia mau bagaimana, mau tetap bertahan sebagai menantu menantu kesayangan kalian terserah, mau berpisah dengan ku juga terserah, yang pasti tidak ada siapa pun yang boleh membawa Nathan dan juga Nick keluar dari sini"


Henry berlalu dari sana dan keluar dari rumah di ikuti oleh Naomi di belakang nya, dia berlari mengejar langkah kaki suaminya itu.


"Suamiku, tunggu aku ingin bicara dengan mu"


Henry memejamkan matanya saat mengetahui bahwa istri nya itu berlari mengejar nya, dia memang tidak mencintai nya tapi dia tidak ingin dia terluka karena mengejar nya.


Dia berhenti di sana saat langkah kaki istri nya itu tidak lagi terdengar, dia membalikkan tubuhnya sambil menatap wajah istri nya yang terengah-engah karena berlarian mengejar nya.


Apa itu, apa yang ada di tangan nya, bukan kah itu baju hangat milik nya, kapan dia mengambil nya bukan kah tadi dia juga duduk di samping nya menyaksikan sendiri apa yang dia dan papa nya perdebatan.


Bahkan tadi dia menyaksikan sendiri bahwa dia mencintai sahabat nya itu, lalu apa ini seluas apa hati wanita yang kini berada di depannya, wanita yang masih memikirkan tentang kesehatan di saat hati nya secara terus menerus dia sakiti.


"Pakai lah ini, di luar udara sangat dingin tidak baik untuk kesehatan" kata Naomi memasang kan baju tambahan pada Henry yang hanya diam saja mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Nah sudah, kamu bisa pergi sekarang, tapi jangan lama-lama aku khawatir nanti kedua putra mu itu mencari Papa nya dan aku tidak bisa menenangkan nya"


"Kenapa?"


"Kenapa apa nya, sudah sana pergi tenang kan dirimu, tapi ingat jangan minum terlalu banyak itu tidak baik dan nanti kamu akan kebingungan saat putra mu yang sangat pandai itu bertanya tentang bau itu"


Belum sempat Henry pergi dari hadapan Naomi, dia mendengar suara putranya itu menangis sambil terus memanggil nya.


Huaaaaa


"Papaaaaaa"


"Papaaaaa"


"Aku mau papa aku tidak mau dengan mu"


Nathan terus berontak dalam gendongan baby sitter nya yang cukup kepayahan menenangkan Nathan yang tengah menangis itu.


Bahkan Nathan juga memukuli baby sitter nya itu, dan semua itu di saksikan oleh Henry yang kini mendekat ke arah putra nya itu.


Melihat Papa nya berjala mendekat tangis Nathan mendadak berhenti, bahkan tidak ada segukan sama sekali yang keluar dari mulut nya.


"Papa" panggil Nathan yang mengusap air mata nya dengan kedua tangannya yang kini merentangkan kedua tangannya pada papa nya.


"Kenapa menangis? heem"


"Tidur dengan mama saja Boy, papa ada urusan di luar" kata Naomi yang kini berada di belakang suami berhadapan dengan wajah Nathan yang memeluk leher papa nya.


"No, aku mau papa, aku mau papa" ucap Nathan yang menahan tangisnya dengan kedua tangan yang semakin erat memeluk papa nya.


"Tapi Boy-----"


"Sudahlah biarkan aku menemani nya dulu"


"Let's go Boy, time to sleep" ucap Henry sambil terus mencium pipi Nathan yang tertawa geli akibat ulah papa nya.


Apa yang mereka lakukan sejak tadi tidak luput dari penglihatan Papa San, dia menghembuskan nafas nya, entah apa yang harus dia lakukan untuk menyadarkan putranya itu dari jebakan wanita itu.


Papa San sebenarnya tidak tahu apa kah Erika benar-benar mencintai Henry atau tidak, karena selama ini Erika tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia hanya ingin membalas dendam atas apa yang menimpa leluhur nya dulu.


Tapi jika semua benar-benar cinta maka Papa San lah orang yang akan merasa paling bersalah karena memisahkan cinta sejati itu, di sisi lain dia juga tidak mungkin kalau dia meminta Naomi untuk mundur bukan.


Menantu perempuan nya itu memiliki semua kriteria yang ditetapkan untuk menjadi menantu tertua pemegang kekuasaan tertinggi di rumah besar itu.


Dan semua orang harus patuh tentang semua peraturan yang ada, dan Naomi memenuhi syarat itu, wanita kuat yang mandiri berpendirian teguh dan tidak mudah menyerah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya mama Melly yang kini berada di samping suami nya.


"Tidak ada, hanya saja apa aku salah dengan keputusan ku memisahkan putra kita dengan keturunan Leneva yang sudah membuat nenek ku meninggalkan secara tragis"


"Tidak ada yang salah dengan semua itu, apa yang terjadi saat ini adalah takdir semesta yang sudah di garis kan"


"Kamu benar tapi----"


"Sudah jangan mengatakan apapun sekarang ayo kita beristirahat ini sudah malam, angin malam tidak baik untuk kesehatan"


"Baiklah biar semesta yang mengatur semua nya, kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti nya, kita akan membantu mereka saat mereka meminta bantuan"


Mama Melly mengangguk membenarkan apa yang di katakan suaminya itu, lalu mereka pun ke kamar mereka.


Sementara Naomi kini masuk ke dalam kamar nya sendiri, mengganti baju nya , naik ke atas ranjang nya lalu menggulung tubuh dengan selimut tebal milik nya.


Hari ini terlalu melelahkan bagi nya, bagaimana tidak lelah sepulang dari bekerja tadi dia mendapati suaminya yang tengah melakukan kegiatan tak pantas bersama kekasih gelap nya, dan di lanjut dengan sidang dadakan dari papa mertua.


Di tambah lagi pengakuan suaminya yang sama sekali tidak menyangkal perselingkuhan nya, bahkan secara halus meminta nya untuk mundur dari tempat nya saat ini.


Dia lelah dengan apa yang terjadi hari ini, tapi hebatnya di tidak menangis sedikit pun, dia merasa air mata nya akan terbuang sisa-sisa hanya untuk menangisi laki-laki yang tidak pernah menganggap nya ada.


Naomi yang tidak ingin pikiran nya berkelana tak tentu arah itu langsung memejamkan mata nya menjemput mimpi yang mungkin berpihak pada nya.


Dia berharap mimpi nya indah tak seperti kenyataan hidup nya yang penuh air mata dan kesakitan, ternyata tubuh nya benar-benar lelah hingga dia tidak tahu kalau suaminya itu masuk ke dalam kamar mereka, dia duduk di samping tempat istrinya berbaring.


Di usap nya dengan lembut rambut wanita yang terlalu sabar untuk nya itu, dia menatap dalam dengan perasaan tak menentu.


"Maafkan aku"