
Henry keluar dari ruangan tersebut, setelah memindah Naomi kedalam kamar pribadinya. lalu bergegas mandi, tubuh nya terasa lengket oleh keringat yang membasahi tubuh kekar nya.
Saat dia menutup pintu dia langsung di sebut oleh pengawal istri yang sempat di tubuh sebagai ayah dari putranya.
"Ada apa?" tanya nya dengan mode dingin tak tersentuh nya.
"Tuan besar meminta anda menemui nya, jika anda sudah keluar dari ruangan"
"Di mana Tuan besar mu"
"Di ruang kerja nya"
Henry mengibaskan tangannya mengusir pengawal pribadi nya itu, Henry membuka pintu ruang di sebelah ruang kerja nya entah apa yang ingin dia lakukan, yang pasti dia belum siap untuk bertemu dengan papa nya.
Yang pasti nya akan marah besar pada nya karena melewatkan meeting yang harus dia pimpin, dia malah terbuai oleh tubuh istrinya itu.
Ceklek.
"Tuan muda"
"Bagaimana meeting tadi?" tanya Henry sat masuk ke dalam ruang milik asisten pribadi nya.
"Lancar Tuan, semua berkat Tuan besar"
Henry terkejut mendengar ucapan dari asistennya itu, bagaimana bisa papa nya yang memimpin jalan nya rapat itu, dan di kini berada dalam masalah besar.
Tidak mau menunda lagi Henry keluar dari sana, dia menuju ruang kerja papa nya itu.
Ting
Lift yang di tumpangi nya sudah sampai di lantai tepat ruang papa nya berada, dia keluar dari dalam lift dengan langkah berat nya, bukan karena takut tapi lebih ke rasa sungkan yang teramat, karena dia mengabaikan tugas nya.
Kini langkah kaki sudah sampai di depan pintu ruang tersebut, Henry meraup udara untuk mengisi paru-parunya yang tiba-tiba terasa sesak.
Tok
Tok
"Masuk"
Ceklek.
Henry masuk ke dalam ruang yang terasa tidak ada udara sama sekali, dia berjalan menuju meja kerja papa nya, di lihat nya pria yang selalu menuruti apapun keinginan saat dia kecil dulu itu kini tidak segagah dulu lagi, ada beberapa kerutan di wajah tampan nya.
Dia sudah berada tepat di depan papa nya yang masih sibuk dengan setumpuk dokumen yang ada di meja nya.
"Pa" panggil Henry saat dia berdiri cukup lama tapi kehadiran nya seakan tidak terlihat di mata papa nya itu.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut papa nya itu, henry yang merasa kesal karena di abai kan pun berjalan menuju sofa, lalu membaringkan tubuhnya di sana.
Papa San melirik apa yang di lakukan oleh putranya itu membuat darah nya kembali mendidih, di ambil nya remote control yang ada di sana lalu melemparnya sembarang arah.
AAAAUUUUUU
"Sakit pa"
Henry yang tadi nya berbaring itu kini duduk sambil memegang kebanggaan nya itu, remote yang tadi di lembar papa San itu mendarat tepat di tempat yang tidak seharusnya.
Sedangkan Papa San yang melihat itu tidak bisa menahan tawa nya, entah melihat wajah putra nya yang seperti itu kemarahan menguar begitu saja.
"Itu hukuman untuk senjata tempur yang tidak tahu waktu, bangun di saat semua orang sedang bekerja"
"Dia juga sedang bekerja pa, menyenangkan menantu kesayangan mu"
"Aku mengenal dengan baik bagaimana menantu ku, dia tidak akan menggoda singa jantan seperti mu"
"Tutup mulutmu, cepat kerja kan pekerjaan mu aku tidak Sudi membantu mu lagi kalau sampai di jam kerja kau malah bersenang senang"
"Aku tidak janji"
Jawab Henry yang kini berjalan ke arah papa nya.
"Bawa semua ini selesai malam ini juga"
"Pa jangan bercanda ini akan selesai dua hari dan papa hanya memberikan ku waktu semalam saja"
"Sudah sama pergi atau aku akan memotong habis ular mu yang masih suka berkeliaran itu"
"Mana ada, aku hanya dengan istri ku saja saat ini"
"Awas saja kalau berani melukai menantu akan ku coret kamu dari kartu keluarga dan ku potong habis itu mu, apa yang akan kamu banggakan pada selingkuhan mu itu"
"Papa sungguh kejam, aku laporkan pada Mama supaya dia menghukum papa yang berani-beraninya mengancam putra kesayangannya"
"Dasar anak durhaka, keluar kau dari sini" bentak papa San yang tidak terima dengan ancaman putra nya itu.
Dia bisa tidur meringkuk ke dinding dia sofa depan kamar mereka jika istri itu tahu kalau dia memaki dan menghukum anak-anaknya, padahal istrinya itu tidak bisa terhitung lagi berapa kali dia memarahi anak nya, bahkan memukul nya saat mereka masih kecil.
Tapi sekali saja dia memarahi anak-anaknya, dia juga akan kena marah bahkan berakhir dengan nya yang harus berpuasa karena istrinya itu tidak mau untuk memanjakan nya.
Dan itu tidak boleh terjadi dia tidak ingin tidur di luar dan itu akan membuat putra sulungnya itu merasa menang.
Henry mendengar usiran papa nya pun berjalan ke luar dengan membawa setumpuk dokumen yang ada di tangan nya.
Kenapa jika hanya untuk mengambil dokumen itu kenapa tidak meminta asisten atau bawahannya saja untuk mengambil nya, kenapa juga harus dia.
Ayah dan anak itu sama sama menatap penuh permusuhan sebelum kata ancaman yang membuat nya ketakutan itu keluar dari mulut papa nya.
"Kalau sampai berani mengadu pada istri ku aku tidak akan segan-segan lagi untuk memisahkan antara kepala dan buntut nya"
Glug.
Ancaman papa nya itu rupa nya tidak main-main, akan sangat menyiksa jika dia tidak punya sesuatu itu.
"Dasar suami takut istri"
"Keluar kau dasar tidak tahu terimakasih masih berani mengataiku tahu begitu aku akan membantu mu, biarkan saja semua jajaran direksi menggedor pintu saat sedang enak-enak nya" umpat papa San lagi.
Henry benar-benar keluar dari sana dia tidak ingin mendengar lagi umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut papa nya.
Dia turun ke lantai di mana di sana ada lah daerah kekuasaan nya, dia bisa melakukan apa pun di sana termasuk, ya kegiatan yang seharusnya di lakukan di malam hari.
Tapi apa boleh di kata jika hasrat sudah berada di puncak dan butuh pelepasan jadi di mana pun dan kapan pun harus segera di keluarkan kalau tidak kepalanya akan terasa pusing dan pekerjaan nya akan berantakan.
Dia menghampiri salah satu pengawal yang duduk di sana sambil memainkan ponsel pribadi nya, mungkin saking fokus nya mereka tidak menyadari jika Tuan muda nya itu kini berada di samping mereka tengah memperhatikan apa yang mereka lakukan.
Eheeem.
Mereka yang mendengar itu pun langsung menyimpan ponsel nya lalu berdiri dari duduknya.
"Kemari kan ponsel nya"
Haah
"Aku tidak suka mengatakan dua kali"
Dengan terpaksa mereka menyerahkan ponsel nya itu satu per satu pada tuan muda nya itu.
"Keluar dari sini"