Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Ketahuan



Hari ini seperti biasanya Henry pulang dari kantor langsung menuju kamar mandi dan melakukan panggilan video dengan Erika di sana.


Kekasih yang sangat di rindukan seharian ini, terlalu banyak meeting yang harus dia hadiri dan juga undangan makan siang yang tidak bisa di tolak nya.


Mereka saling melepas rindu satu sama lain di tempat yang sama pula, sama-sama di kamar mandi untuk menghindari pasangan sah mereka masing-masing.


Bahkan tanpa sungkan atau mungkin memang sudah terbiasa mereka lakukan jadi tidak ada rasa malu lagi di antara mereka berdua memperlihatkan apa yang seharusnya tidak boleh di pertontonkan.


Sampai di mana Henry yang ingin mengisi air ke dalam bathtub itu, dikagetkan oleh seseorang yang sedang berendam di sana.


"Naomi"


Ucapnya dengan wajah pucat pasi di sana, dia tidak menyangka akan tertangkap basah saat sedang melakukan kegiatan tak pantas itu.


Sedangkan Naomi hanya menyungging senyum tipis nya di sana, dia berdiri membelakangi suaminya lalu menutupi tubuh nya menggunakan handuk yang sudah dia persiapkan.


Dia keluar dari bath up dan masuk ke dalam ruang bilas yang secara otomatis akan menjadi buram saat ada orang yang masuk di dalam nya.


Sampai dia selesai dengan mandinya Henry masih tetap berdiri mematung di tempatnya.


"Jangan terlalu lama di kamar mandi, itu tidak baik untuk kesehatan mu" ucap Naomi pada suami nya yang masih berdiri di sana, bahkan sampai di keluar dari kamar mandi dia masih terdiam di sana.


Sungguh dia tidak menyangka kalau apa yang dia lakukan selama ini akan kepergok oleh istrinya sendiri.


Brak.


Henry terjingkat saat Naomi menutup pintu kamar mandi dengan sedikit kasar, tujuan memang untuk menyadarkan Henry dari keterkejutan nya.


Pintu sudah tertutup sempurna di balik sana Naomi menyunggingkan senyum nya saat melihat wajah panik suami, dengan cepat Naomi memakai baju nya, dia ingin secepatnya keluar dari kamar, terlalu malas bagi nya untuk berada dalam satu ruangan yang sama dengan laki-laki itu, dan sial nya lagi dia adalah suami nya sendiri, ayah kandung dari kedua putra nya.


Saat akan pergi dari sana, langkah kaki nya terhenti di depan pintu masuk menuju tempat tidur nya itu, dia merasa ada yang kurang di sana, tepat nya ada sesuatu yang dia tidak sengaja lupakan.


Dia mondar-mandir di sana sambil terus mengingat apa yang dia lupakan, sampai dia menyadari bahwa dia belum menyiapkan baju ganti untuk suami nya.


Dia berperang dengan dirinya sendiri, antara mau menyiapkan atau tidak, meski selama ini dia selalu menyiapkan nya, namun kadang suaminya itu tidak mau mengenakan nya.


Mengingat kembali semua perlakuan suaminya selama ini dia pun memutuskan untuk mengabaikan tugas nya itu, dia keluar dari sana seakan tidak terjadi apapun di sana.


Dia langsung turun kebawah menghampiri putranya yang tengah bermain bersama Oma dan Opa nya, dia melihat semua orang yang ada di sana begitu tulus mencintai kedua anaknya, bahkan mertuanya itu juga tidak pernah menyalahkan apa pun yang dia lakukan.


Di sana di sayangi lebih dari yang dia dapatkan dari suaminya, setidaknya ini lah yang masih membuatnya bertahan, cinta keluarga yang tidak dia dapat dari keluarga nya sendiri.


Mama nya yang telah berpulang saat dia masih kecil dan papa yang menikah lagi dengan wanita yang menjadi ibu tiri nya itu laha yang membuatnya sampai berada dalam kesakitan pernikahannya.


Dia lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur, untuk memastikan bahwa makanan akan siap dalam beberapa menit lagi.


Hah.


"Me Amore, aku baik-baik saja kan?" tanya Erika di balik layar ponsel nya.


"Ah iya aku hanya tidak menyangka dia ada di sini dan melihat apa yang kita lakukan, sini sungguh memalukan" keluh henry yang kini duduk pinggiran bathtub.


"Apa jadi kamu malu karena dia tahu kamu berselingkuh dengan ku"


"Buuuukkkaan seperti itu sayang tapi keadaan kita yang seperti ini yang membuat ku sedikit malu saat bertemu dengan nya nanti"


"Untuk apa malu kata nya tidak mencintainya kenapa harus malu, seharusnya kamu senang dia tahu apa yang kita lakukan buat di sadar kalau di itu tidak di inginkan di sini"


"Bukan malah sebaliknya, apa kamu mau selama nya kita akan seperti ini terus, dari dulu ku memang tidak pernah serius pada ku"


"Me Amore apa yang kamu katakan, semua itu tidak benar-benar aku sangat ingin hidup bersama mu tapi kamu sendiri tahu kalau aku sama sekali tidak bisa menentang keluarga ku"


"Sudah aku katakan aku bisa hidup sederhana asal itu dengan mu, tidak perlu bergelimang harta"


"Aku tidak ingin kamu hidup sengsara me Amore, tolong mengerti apa yang aku rasakan"


"Terserah mu saja, aku sudah tidak peduli lagi, semakin ke sini aku semakin yakin kalau kamu tidak benar-benar mencintai ku"


Tut


Tut


"Hallo me Amore hallo"


Henry mengacak-acak rambutnya kasar, dia merasa frustasi dengan apa yang terjadi, dia yang ketahuan berselingkuh dengan keadaan yang tidak seharusnya, di tambah lagi wanita kesayangannya itu merajuk sungguh beban sekali bagi Henry.


Jika hanya perkara Naomi dia tidak akan sebinggung ini, tapi ini Erika yang marah pada nya, sungguh Henry tidak akan bisa berkerja dengan tenang jika Erika tidak Isa di hubungi.


Henry sadar apa yang dia lakukan nya salah tapi mau bagaimana lagi, hati tidak bisa di paksakan dan di arahkan pada siapa kita jatuh cinta bukan, jadi siapa yang salah di sini, dia dengan cinta nya pada Erika meski sudah menikah, atau perjodohan yang di atur ayah nya itu


Dia yang tidak ingin kehilangan Erika pun berkali-kali menghubungi nya, tapi rupanya ponsel milik wanita nya itu di matikan, membuat nya mau tidak mau harus menunggu sampai suami dari wanita itu pergi bekerja.


Cukup lama dia di sana sampai dia merasa tubuhnya sedikit menggigil, lalu dia meletakkan ponselnya di meja wastafel, dan masuk ke dalam ruang bilas, mengguyur tubuhnya dengan air hangat di sana.


Setelah semuanya selesai di keluar dari sana, hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, kini dia berdiri menatap meja yang selalu ada baju miliknya yang di siapkan oleh istrinya, tapi saat ini dia tidak lagi menemukan nya.


"Apa dia marah atau kecewa pada ku?"