
Naomi menoleh pada suara yang memanggil nya, di sana dia melihat seseorang yang berdiri memakai baju pelayan di sana.
"Kenapa tidak menghubungi ku jika ke sini, aku pasti akan membuat penyambutan untuk mu"
"Tidak usah----"
"Lepaskan tangan anda dari Nyonya muda saya" ucap Zayn dengan nada dinginnya.
"Kamu siapa?"
"Tidak perlu tahu siapa aku, tapi lepas kan tangan mu atau aku yang melepaskan nya"
"Kak lepas kan, dia pengawal ku"
Rayden pun melepaskan pegangan tangan, lalu memasukkan kedua tangan nya ke saku celana milik nya.
"Bagaimana kamu suka di sini?" tanya Rayden pada Naomi.
"Aku menyukai nya, pemandangan di sini membuat pikiran menjadi lebih tenang"
"Aku akan memasakkan makanan untuk mu, jadi tunggu sebentar"
"Kakak bisa masak, yang benar saja?"
"Ayo ikut aku, akan aku tunjukkan bagaimana cara mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang lezat"
"Apa aku boleh ikut masuk, dan ini kenapa kakak memakai baju pelayan, ke mana jas putih mu kak?"
"Sudah jangan pikirkan itu, sekarang ayo ikuti aku"
"Kalian mengabaikan aku" gerutu Siska saat kedua teman nya itu berniat pergi dari sana tanpa mengajak nya.
"Eeehh, Siska kamu juga di sini"
"Aku dari tadi di sini, kakak saja yang tidak melihat ku"
"Ada yang menutupi pandangan ku dari mu Siska hahahah"
"Iya iya, aku tahu sejak dulu hingga kini yang aku tahu hanya ada dia saja kan di mata mu"
"Jangan mengungkit masa lalu"
"Tenang kak, setelah ini apa yang kamu mau akan terwujud sebentar lagi Naomi akan???"
"Apa?" tanya Rayden penasaran.
"Sudah kak, jangan hiraukan dia, biarkan saja dia di sini, siapa tahu dia mendapatkan jodoh nya di sini" ucap Naomi sambil melirik kearah Zayn yang ada berdiri tidak jauh dari nya.
"Jangan macam-macam Naomi" judes nya pada Naomi yang mengkode pada Zayn.
"Hahahah, Sudah lah kak, ayo"
Mereka pun berjalan menuju dapur di sana, tapi saat sudah hampir mendekati dapur, Naomi menarik tangan Rayden, membuat sang empunya menoleh pada nya.
"Kenapa?"
"Apa kita di ijinkan kita untuk memasak kak"
"Tidak usah takut ayo"
Mereka pun masuk kedalam tempat pengolahan makanan itu, di sana banyak sekali orang yang sedang melakukan pekerjaan nya masing-masing.
"Keluar, aku ingin memakai dapur"
"Baik Tuan"
"Aku hanya menjalankan nya saja, selebihnya ini milik Papa"
Rayden pun mulai memasak masakan untuk Naomi seperti janji nya tadi, tidak butuh waktu lama dua piring di depan nya telah tersaji makanan hasil kedua tangan dari Rayden.
Naomi sampai bertepuk tangan saat makan itu sudah siap di sajikan.
"Ayo mau makan di mana?"
"Di tempat yang tadi saja bagaimana?" kata Siska yang di angguki oleh Naomi.
"Ayo"
Mereka berlima pun meninggalkan dapur menuju tempat mereka makan tadi, semilir angin menerpa wajah ayu Naomi yang tidak pernah lepas dari pandangan Rayden yang sejak tadi terus saja memperhatikan wanita yang saat ini lebih banyak tersenyum.
Tidak seperti saat pertama mereka bertemu saat pengobatan Nicholas dulu.
"Jangan terus memandangi nya kak, nanti kalau kakak jatuh cinta, bagaimana" ledek Siska saat menyadari bahwa Rayden sejak tadi memperhatikan penuh kekaguman pada sahabat nya itu.
"Aku memang sejak dulu sudah jatuh cinta pada nya" jawab Rayden lirih.
"Apa yang kakak katakan, aku tidak mendengar nya" kata Naomi yang duduk berhadapan dengan Rayden, sedang Siska menyungging senyum nya, meski dia tidak mendengar apa yang di katakan oleh Rayden tapi dia yakin bahwa Rayden menyatakan cintanya pada sahabatnya.
Apalagi saat melihat wajah kesal dari pengawal pribadi Naomi yang seperti ingin melenyapkan Rayden dari tempat nya.
Mereka menghabiskan waktu nya di sana sampai malam bertahta di langit yang di hiasi oleh ribuan bintang berteman kan bulan yang bersinar dengan indah.
Bukan Naomi tidak mengingat akan buah hati nya, tapi ini jalan yang di pilih nya untuk kebaikan bersama.
Semoga kedua putranya itu bisa mengerti apa yang di rasakan nya, dan kenapa dia tega memilih pergi dari sisi mereka.
...****************...
Sementara di kantor Henry masih tetap melakukan pekerjaan nya yang bertumpuk di meja kerja nya, memang sudah setengah yang di kerjakan, tapi tumpukan baru juga telah datang lagi.
Memaksa nya untuk bekerja hingga larut malam ini, melupakan tugas nya sebagai seorang ayah yang di tunggu oleh kedua putranya, bukan dua tapi ada lagi satu anak nya yang masih belum di ketahui jenis kelamin nya itu.
Jika Nathan dan Nicholas akan menangis jika mencari nya, itu berbeda dengan anak nya yang berada di dalam kandungan Erika, kram di perut nya seakan tidak berangsur pulih sejak Henry berangkat kekantor tadi.
Bukan Erika tidak tahu, tapi dia juga tidak bisa melarang Henry untuk pergi meninggalkan tanggung jawab nya hanya untuk menjaga diri nya yang sedang hamil muda.
Bahkan sejak tadi pun dia sama sekali tidak menghubungi Henry untuk memberitahu tentang keadaan nya, dia tidak ingin menyulitkan pria nya itu hanya karena kram perut nya.
Tanpa dia tahu, bahwa salah satu pelayan nya itu melaporkan apa yang terjadi pada nya, hanya saja Henry yang tidak tahu karena sejak tadi dia membisukan ponsel milik nya..
Dia sedang mengerjakan tugas nya yang harus segara mendapatkan tanda tangannya, di kejutkan dengan suara telepon kantor milik nya, siapa yang menghubungi nya dengan telepon kantor kenapa tidak ke nomor pribadi nya.
"Hal---"
"Ini jam berapa, kamu lupa waktu apa lupa ingatan kalau kamu punya anak yang tidak bisa tidur jika tidak dengan papa nya, dan ini sudah jam sebelas malam kau belum juga pulang hah"
"Sehebat apa wanita yang kamu banggakan itu sampai kamu melupakan darah daging mu sendiri untuk anak yang belum tentu jelas kamu ayah nya"
"Papa ini kenapa selalu aja marah-marah tidak jelas, aku masih di kantor, tidak sedang bersama Erika"
"Cepat pulang, kedua anak mu mencari mu, aku pusing mendengar tangisan nya"
"Aku akan pulang sekarang" putus Henry yang langsung berdiri dari duduknya, tak lupa dia mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di laci meja kerjanya.
Dia turun dari sana menuju parkiran mobil milik nya, dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan menjalankan nya.
Henry mengerutkan keningnya saat melihat begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk ke nomer nya.
"Erika"