Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Pantai



Henry tidak tahan, di tidak lagi bisa menahan diri saat melihat istrinya itu tersenyum pada orang lain, istri nya itu hanya milik nya dan akan selalu menjadi milik nya.


Apa pun yang ada dalam diri istrinya itu adalah milik nya, dia tidak akan membiarkan laki-laki itu terlalu lama menikmati senyuman dari istrinya.


Dia yang sudah kepanasan melihat itu semua pun tidak lagi bisa menahan diri nya, dia menghampiri istrinya itu lalu menarik nya dari sana.


Naomi yang terkejut pun, reflek mengikuti nya tapi di tahan oleh Rayden yang tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Henry itu.


"Apa yang kamu lakukan" marah nya pada Henry yang masih tidak mau melepaskan genggaman tangan nya pada Naomi.


"Lepaskan, dia harus pulang dan istirahat, kamu itu dokter, harus nya tahu kalau dia butuh istirahat yang cukup"


"Karena aku dokter aku tahu apa yang di butuhkan oleh pasien"


"Kalau kamu mau pulang-pulang lah, tidak ada yang meminta mu di sini" lanjut Rayden yang tersulut emosi.


"Kalian ini apa-apaan sih, mending kalian berdua pulang saja sendiri, ayo kita pergi saja, kita tinggal mereka yang seperti anak kecil itu" ucap Siska yang langsung menarik Naomi dari sana.


Dua orang yang tadi nya bersitegang itu sama-sama terdiam saat pegangan tangan mereka terlepas, dan Naomi yang berada jauh dari tempat mereka berdiri.


Siska membawa Naomi ke salah satu penjual makanan yang ada di sana, dia memesan makanan untuk di nikmati mereka berdua, biarkan saja pikirnya apa yang akan di lakukan oleh dua laki-laki yang seperti anak kecil itu.


Yang satu nya dokter dan yang satu nya lagi calon pewaris tahta perusahaan yang tidak bisa di bilang usia muda lagi itu, malah bersikap layak nya anak kecil yang sedang berebut mainan.


"Mereka itu kenapa?"


"Biarkan saja mereka jangan hiraukan, ayo cepat makan kita harus segera pulang kalau tidak papa mu akan memarahi ku, karena membawa anak gadis nya pergi" ucap Siska sambil mencurutkan bibir nya.


"Tapi aku malas pulang di sana ada mama tiri ku, pasti dia aka minta uang, uang lagi"


"Tidak akan, dia sudah berpisah dengan papa mu" jawab Siska dengan enteng nya.


Siska seakan mengikuti apa yang di rasakan oleh sahabatnya itu saat ini, dia kembali pada masa remaja dewasa nya yang penuh dengan perjuangan.


"Sayang kenapa meninggalkan aku dengan tutup botol ini" keluh nya pada Naomi meski dia tahu kalau istrinya itu tidak mengenali nya.


"Kamu ini siapa kenapa terus saja mengikuti aku" ucap Naomi ketus pada Henry.


"Aku, aku suami mu"


"Sudah aku katakan kalau aku adalah suami mu" jawab nya lembut meraih tangan Naomi di sana.


"Aku belum menikah, aku masih ingin bekerja" bantah nya lagi


"Kalian berdua kalau masih mau ribut, jangan di sini, aku lapar sejak tadi kalian tidak memberikan aku makan sama sekali" ketus Siska yang membuat kedua orang yang sedang adu mulut itu terdiam.


Henry duduk di samping Naomi yang duduk berhadapan dengan Siska, terpaksa Rayden mengalah dia duduk di samping Siska yang sedang menikmati makanan nya.


Kedua orang itu menelan ludah nya saat dia orang di sampingnya itu makan dengan lahap nya, seketika Peru mereka juga membunyikan alarm lapar.


Siska melirik kedua laki-laki yang sedang menatap lapar pada makanan yang dia makan pun langsung memanggil seorang pelayan di sana, lalu memesankan makanan untuk mereka berdua tanpa menanyakan nya terlebih dahulu.


Naomi menggeleng saat tahu sahabat nya itu memesan lagi untuk mereka, meski makanan yang mereka makan belum habis.


"Apa perut mu selebar itu Siska, sampai memesan dua porsi jumbo lagi, kamu sanggup menghabiskan nya?"


Tak butuh waktu lama, makanan yang mereka pesan sudah datang, tapi dia orang itu tidak menyentuh nya sama sekali, mereka hanya menatap datar makanan yang ada di sana.


Naomi yang melihat itu pun, menarik piring milik Henry, dia mengambil bawang Bombay yang ada di makanan itu lalu memberikan nya pada Henry.


"Makan lah, aku sudah memisahkan bawang Bombay nya, jadi kamu bisa makan sekarang"


Semua orang menatap Naomi dengan heran, kenapa Naomi bisa melakukan itu semua, apa memang Henry tidak suka dengan bawang Bombay itu atau mungkin Naomi yang suka dengan bawang Bombay itu.


Sementara Henry dia merasa sedikit bahagia di sana, saat istrinya itu mengatakan hal kecil itu tentang nya, dia menganggap ini awal yang baik di hari pertama nya keluar dari rumah sakit.


Dia akan membuat istri nya itu kembali pada nya apa pun cara nya.


Ya Henry bertekad akan merebut kembali hati istri yang saat ini tidak mengingat nya.


Setelah menyelesaikan makan sore nya, mereka berempat meninggalkan pantai, meski ada drama yang tetep harus mereka mainkan di sana.


Apa lagi jika bukan berebut, siapa yang akan membawa Naomi pulang bersama, lagi-lagi itu yang menjadi perdebatan sampai mereka berdua tidak tidak menyadari, kalau Naomi sudah tidak ada di sana lagi.


Siska membawa Naomi menuju, salah satu mobil milik pengawal, anak buah dari mertua sahabat nya itu, dia langsung masuk kedalam tanpa memperhatikan siapa yang sedang duduk di balik kursi kemudi.


"Jalan"


Perintah Siska yang sama sekali tidak di tanggapi oleh Zayn, betul sekali dia adalah yang pengawal paling menyebalkan bagi Siska, sikap nya yang suka seenaknya sendiri itu membuat nya memberikan nya image yang jelek di mata Siska.


"Aku bilang jalan kan mobil nya, atau kamu memang tuli?"


"Kamu siapa, masuk ke mobil orang sembarang"


Siska memutar bola matanya malas, saat mendengar apa yang di katakan oleh Zayn, apa sekarang pria itu juga buta atau mungkin amnesia seperti Nyonya muda nya.


"Kamu ternyata tidak hanya tuli, tapi juga buta, apa kamu tidak mengenali Nyonya muda mu ini"


Bug.


"Jangan berkata seperti itu, aku bukan Nyonya nya"


Zayn yang mendengar itu pun menoleh ke arah belakang nya, dan ternyata benar Nyonya muda nya itu duduk di kursi belakang nya.


"Nyonya"


"Nama ku Naomi, jadi panggil aku seperti itu, aku buka Nyonya mu"


"Tapi Nyonya"


"Kau bisa diam tidak, dia ini sedang hilang ingatan jadi biarkan saja mau nya seperti apa"


"Aku tidak sedang berbicara dengan mu" sahut Zayn yang masih menatap pada Nyonya muda nya.


"Kalian ini kenapa bertengkar, apa aku menganggu acara jalan-jalan kalian, kali iya aku akan turun dari saja"


"Jangan" teriak keduanya bersamaan.


"Kalian kompak sekali, apa kalian berpacaran?"