
Naomi kini tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan milik keluarga suaminya, menemani kedua anak nya itu bermain tentu dengan pengawasan yang ketat terutama Nicholas yang masih belum sembuh seratus persen.
Raga nya memang di sini tapi tidak dengan jiwa nya, seakan jiwa nya tertinggal di tempat praktek dokter yang tadi dia kunjungi, dokter muda yang tak lain adalah cinta pertama nya.
Dia kembali mengingat saat menatap wajah pria yang selama ini dia rindukan, tapi tak pernah tersampaikan.
Sampai akhirnya mereka bertemu lagi, tentu dengan status yang berbeda tapi rasa di hati tetap lah sama, sama-sama saling menginginkan satu sama lain.
Naomi yang bertekad untuk melupakan Rayden dan belajar mencintai Henry pun kini pipis sudah, cinta yang dia kubur dalam-dalam itu kembali bersemi saat mereka kembali bertemu.
Pertemuan tidak sengaja yang sangat mengesankan bagi keduanya, Naomi memandangi cincin yang melingkar di jari manis nya tangan kiri nya itu.
Cincin yang di desain khusus bertuliskan kata cinta di dalam nya, yang di bisa di buka tutup dengan rangkaian diamond di atas nya, memberikan kesan mewah di sana.
Apa lagi saat Rayden mencium cincin yang telah melingkar di tangan nya, memberikan kesan yang sulit untuk Naomi jabarkan dengan kata-kata.
Tindakan kecil yang bisa membuat nya melayang tinggi dalam gelora cinta nya, cinta yang tak dia dapatkan dari suaminya.
Mengingat kembali semua nya yang telah terjadi antara dia dan juga Rayden tadi dia merasa telah mengkhianati pernikahan nya dengan suami nya itu.
Tidak Naomi tidak ingin ini terjadi lagi, itu sama saja dia berselingkuh dari suaminya, lalu apa bedanya dia dengan suami nya yang menoreh noktah merah di pernikahannya sendiri.
Di sisi lain juga bukan dia yang memulai nya, tapi suaminya lah yang sudah bermain api sejak dulu, dia bahkan harus menahan sakit nya di khianati selama bertahun-tahun lamanya.
Dia tahu sangat tahu, bahwa suaminya itu tetap berhubungan setelah pernikahan mereka tapi dia memilih diam dan tidak melihat semua, dia berlakon seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Meski pada kenyataannya dia tahu dengan jelas kelakuan suaminya di belakang diri nya, dia juga tahu keluarga suaminya mengetahui semuanya tapi mereka juga masih tidak bereaksi apapun.
Mungkin setelah pengobatan Nicholas selesai dia akan mengajukan permohonan cerai nya dan meminta hak asuh atas ke dua putra nya.
Dia bisa kembali ke rumah orang tuanya yang tinggal seorang diri di sana, mengingat saudara tiri nya itu tidak lagi ada di sana, dia ikut suami yang berasal dari negeri Paman Sam.
Dan ibu tiri nya yang menyebabkan ayah nya itu berhutang banyak pada mertua hingga mengorbankan dirinya sebagai penebus hutang.
Papa nya Daniel Maximus tetap membayar hutang nay sampai lunas dia tidak ingin di anggap menjual putri nya itu demi uang dan menjadi menantu keluarga Keith.
Meski pun tidak akan ada yang berubah dengan di lunasi atau tidak hutang itu, status putri nya itu tetap saja sama yaitu Nyonya muda Keith, bahkan jika bercerai pun panggilan sebagai bekas Henry pun akan tetap melekat pada diri Naomi hingga akhir hidupnya.
"Kamu kenapa melamun!"
Eehh.
Suara itu, bukan kah itu suara kakak tingkat nya dulu, tapi apa mungkin dia tadi masih ada di rumah sakit, apa Sebegitu rindu nya dia hingga suara terniang jelas di telinga nya.
"Arrabella, apa kamu mendengar ucapan ku?" tanya Rayden yang kini berjongkok di depannya.
Naomi memejamkan matanya saat suara itu kembali terdengar di tengah, bukan hanya suara nya saja tapi raga nya pria yang sejak tadi berada di kepalanya itu kini berada tepat di depan nya.
"Mama, siapa Om ini?" tanya Nathan yang menyadarkan Naomi dari lamunan nya.
"Hay handsome boy, siapa nama mu?" tanya Rayden pada anak kecil yang dia tebak adalah anak pertama dari wanita yang di cintai.
Nathan yang terkenal dingin itu tidak menjawab pertanyaan dari Rayden, jangankan menjawab menoleh pun tidak.
"Ma" panggil Nathan lagi.
Naomi yang mendengar panggilan itu pun langsung tersadar dari lamunannya, dia menatap pada putranya yang juga menatap ke arahnya, tatapan penuh keingintahuan terlihat jelas dari sorot mata nya.
"Kenapa sayang?" tanya Naomi pada Nathan.
"Siapa dia?" tanya Nathan sambil menunjuk ke arah Rayden yang berlutut di hadapan Mama nya.
"Dia teman Mama dulu Boy, ayo beri salah pada Om Rayden.
Dengan enggan Nathan menurut perintah Mama nya, meski dia masih terbilang kanak-kanak, Naomi sedini mungkin mengenalkan sopan santun pada kedua putranya itu.
Nathan hanya menyebutkan namanya tanpa mau bersalaman dengan Rayden, dan berlalu begitu saja dari hadapan mereka berdua.
Naomi yang merasa tidak enak hati pada Rayden yang tidak mau bersalaman pun kembali ingin memanggil putra nya itu, tapi sebelum itu terjadi Rayden melarangnya dan memaklumi sikap Nathan yang seperti itu.
Rayden kini duduk di samping Naomi, jika di lihat mereka sudah seperti sepasang orang tua yang sedang mengawasi anak-anaknya bermain.
Mereka berdua saling diam tanpa berkata apapun, tak tahan dengan kebisuan yang ada, sebuah pertanyaan yang tidak pernah dia pikirkan keluar dari mulut Rayden.
"Bella, apa kamu bahagia dengan pernikahan mu?"
"Apa kehadiran ku saat ini hanya membuat mu terbebani?"
"Jika kamu merasa terganggu atas kehadiran dan cinta ku, aku akan kembali pergi dari hidup mu dan tidak akan lagi menampakkan diri di hadapan mu"
Tes
Air matanya Naomi menetes begitu saja saat mendengar ucapan dari pria yang dia tunggu sejak lama itu, dia menunggu nya hadir di saat pernikahan nya, lalu membawa nya pergi dari sini, ketempat yang tidak di ketahui oleh orang lain.
Hidup bahagia sederhana dengan pilihan nya sendiri itu akan jauh lebih membahagiakan dari pada hidup bergelimang harta tapi hanya kiasan saja, tanpa ada cinta kesetiaan dan juga kasih sayang di dalam nya.
Naomi menghapus air mata nya , dia tidak ingin ada orang lain yang melihat nya menangis pria yang bukan suaminya, biar bagaimanapun dia adalah wanita terhormat yang di miliki pria nya secara hormat pula.
Dia tidak ingin ada paparazi yang mengambil gambar nya lalu menulis artikel yang merugikan banyak pihak akibat dari ulah jari yang tak bertanggung jawab.
Wajahnya kini sudah bersih dari air mata lalu kembali menatap pada cinta pertama nya itu.
"Kenapa"