
Henry masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk, pikiran nya masih melayang pada saat di mana dia melihat dua orang yang seperti nya sangat akrab itu.
Dan perubahan sikap nya itu terlihat jelas di wajah adik perempuan nya yang kini tengah duduk sambil memangku anak nya yang baru saja berhenti menangis.
Delysa yang melihat om nya pulang pun langsung menghampiri nya dia mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut oleh Henry lalu memeluknya dengan erat, seakan dia menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada nya.
Jessica pun menghampiri kakak nya sambil memeluk nya dari belakang, dia ingin juga merasakan apa yang di rasakan oleh kakak nya itu, dia tahu ada yang tidak beres di mata kakak sulung nya itu.
"Kakak yang terhebat, jangan merasa sendiri aku dan juga Morgan akan selalu ada di belakang kakak"
Henry mengangguk, lalu merangkul adik nya itu, adik nya yang selalu cerewet pada nya itu.
"Aku membelikan ini untuk mu, aku tahu kamu juga tidak membawa nya kan?"
"Dari mana kakak mendapatkan uang sebanyak ini untuk membeli barang-barang ini?" tanya Jessica penuh selidik.
"Mencuri di bank" ucap Henry yang melangkahkan kaki nya ke kamar nya, dengan Delysa yang ada di gendongan nya.
"Kak aku serius?"
"Kamu pikir kakak mu ini akan se miskin itu hanya karena tidak menganggap black card lagi" jawab nya santai.
"Tidak perlu memikirkan apa pun, yang pasti kamu tetep bisa hidup seperti biasa nya, aku dan Morgan akan memperjuangkan untuk itu bisa hidup layak" sambung nya lagi sebelum dia melenggang menuju kamar mandi.
'Aku berharap saat kamu tahu siapa kita sebenarnya kamu tidak akan menyesali apa yang ada kak'
Batin Jessica yang baru saja mengetahui sesuatu yang membuat nya lebih memilih pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat nya berlindung.
Cukup dia dan Morgan yang tahu untuk saat ini, Morgan sedang melakukan sesuatu yang akan membuat mereka tahu, apa yang sebenarnya terjadi di rumah besar itu.
"Kemana suami mu?"
"Kerja lah, cari uang, kakak tahu kalau aku tidak lagi ada yang memberikan uang jajan saat ini"
Mendengar itu Henry berjalan menuju lemari kamar dan membuka brangkas nya di sana, dia mengambil kartu yang die berikan pada adik nya itu.
Jessica yang mendapat itu pun bersorak kegirangan saat menerima nya, dia tidak perlu bekerja lagi uang dari dua laki-laki nya itu cukup untuk membiayai hidup nya, dia juga menunjukkan kartu kredit yang di berikan oleh Morgan pada kakak nya.
Henry yang melihat itu hanya tersenyum, setidak nya dia bisa melupakan rasa sakit nya saat dua wanita yang di cintai nya itu ternyata sama-sama tidak ada yang me menyayangi nya dengan tulus.
Jessica keluar dari kamar kakak nya saat melihat sekelebat bayangan Morgan yang masuk ke dalam kamar, dia menghampiri nya suaminya yang sedang meletakkan jas nya.
"Hey My king"
"Haloo My queen, aku membeli makanan untuk makan malam kita, tapi kenapa kamu juga membeli makanan"
"Itu kak Henry yang membeli nya, dia juga membelikan ku ponsel baru untuk ku"
"Aku melupakan nya" ucap Morgan dengan wajah bersalah nya.
"Itu tidak penting, aku sudah punya saat ini, jadi katakan pada ku, apa yang kamu dapatkan hari ini"
"Kamu akan terkejut jika mendengar apa yang aku ceritakan" ucap Morgan yang masih sempat-sempatnya mencuri ciuman di bibir istrinya.
Plak.
Aaauu.
"Katakan dulu, baru kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau"
"Aku tadi melihat kak Henry keluar dari restoran, dia seperti marah saat melihat ke arah salah satu sudut, jadi aku pura-pura membeli makanan di sana, kamu tahu apa yang aku dan kak Henry lihat di sana?"
"Jangan"
"Aku melihat Daniel dan kakak ipar di sana, bahkan saat aku melihat Daniel seperti sedang membersihkan sisa saus yang ada di ujung bibir kakak ipar dengan tangan nya lalu memakan nya"
"Apaaa"
Shock.
Itu lah yang di rasakan oleh Jessica saat itu, bagaimana mungkin dua orang itu melakukan tindakan menjijikkan yang tidak pernah dia bayangkan.
"Ada banyak yang harus di kuak, aku juga tidak bisa semudah itu membuka semua nya, apa lagi kekuasaan papa mertua di dunia bisnis sangat berpengaruh meski dia mendapatkan nya dengan cara yang salah, dan seperti itu akan kembali terjadi pada kakak ipar" celetuk nya yang tidak lagi bisa menahan diri.
"Daniel juga posisi nya di atas ku saat di instansi, tidak akan mudah untuk menguak fakta yang ada, bukan mendapatkan nya malah aku hanya akan tinggal nama"
"Jangan berbicara omong kosong, aku tidak mau menjadi janda di usia muda ku, aku masih ingin di bangunkan tengah malam saat adik kecil mu itu tidak mau tidur" jengkel Jesicca yang kini membelakangi.
"Bertengkar lagi, aku kurung di kamar selama satu Minggu baru tahu rasa"
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu"
"Katakan"
"Kita harus keluar dari sini, aku tidak mau semua hancur lagi" ucap nya serius di sana.
"Bukan aku ingin ikut campur kak, tapi ini juga menyangkut masa depan kalian berdua" lanjut Morgan di sana.
"Apa yang kamu ketahui"
"Semua aset punya kakak yang tidak di ketahui oleh papa mertua atas nama siapa?"
"Orang kepercayaan ku, dia yang membangun semua itu dan aku yang mendapat hasil nya, kita bagi keuntungan di sana"
"Syukur lah, tapi apa dia benar-benar bisa di percaya?" tanya Morgan dengan sedikit keraguan.
"Aku rasa bisa, karena waktu aku menolong di pinggir jalan dulu, dia mengatakan kalau dia oleh yang pernah di tipu oleh papa"
"Dan selama ini papa tidak mengetahui hal ini bukan, kalau tahu pasti dia akan menjatuhkan nya, karena semua yang aku miliki itu tidak berlogo perusahaan atau pun anak perusahaan"
"Kamu benar kak"
"Papa mertua memang mengizinkan kita mendirikan perusahaan tapi tetap harus di bawah naungan nya"
"Tunggu, jadi orang kepercayaan mu itu, musuh Papa?" tanya Jessica yang mencerna apa yang di dengar nya.
"Iya"
"Kalau dia juga ternyata hanya ingin membalaskan dendam nya pada papa bagaimana?"
"Kalau memang ingin melakukan nya, dia tidak perlu kan memberikan kakak kartu kredit dan juga hunian meski itu tetep nama nya"
"Jadi siapa dia kak?" tanya Morgan penasaran.
"SAMUEL ANDERSON"
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
jangan lupa mampir ke karya teman ku juga ya 👇👇👇👇👇👇👇👇