
Naomi memandikan putra nya di kamar yang kemarin dia tinggalkan, tapi kini dia kembali lagi ke kamar yang menjadi saksi perjuangan cintanya sekaligus penghianatan yang dilakukan oleh suaminya.
Dia menepis segala rasa yang menyesakkan dada nya, dia menguatkan kan hati nya untuk tidak lagi menerima cinta palsu berbalut keindahan.
Kedua putranya telah selesai dia mandikan, kini saat nya mereka memakai baju dan bersiap untuk turun, mereka sudah di tunggu oleh Opa dan juga Oma nya di meja makan.
Sementara Morgan, dia sudah berangkat lebih dulu bersamaan dengan kakak ipar nya, yang tadi menyelinap keluar dari rumah, saat matahari masih malu-malu keluar dari peraduan nya tadi.
Mereka turun dan langsung duduk di meja makan, semua orang sudah berkumpul untuk sarapan dan melakukan tugas mereka masing-masing.
"Papa, papa"
Naomi terdiam mendengar pertanyaan dari Nick yang berada di pangkuan nya, dia menoleh pada mama mertua nya yang di tanggapi gelengan kepala oleh nya.
"Papa sudah berangkat bekerja sayang, sekarang ayo habis makan mu" jawab Naomi sambil menyuap makanan yang dia bawah dari rumah nya tadi.
"Anthy, aku mau itu" ucap Delysa, putri dari adik suami nya yang menunjukkan tempat makan Nick.
"Nah makanlah" kata Naomi sambil menaruh makanan yang sama di piring milik Nick.
"Aku mau itu Anthy"
"Bagaimana maksud nya, apa kamu juga mau di suapi oleh Anthy?"
Delysa mengangguk mendengar apa yang di katakan oleh Naomi, dia juga ingin di suapi oleh Anthy nya yang sejak kemarin tidak terlihat.
Naomi menyuapi ke dua nya hingga makanan yang ada di sana habis tak tersisa sedikit pun, dan itu membuat dia balita itu mengantuk, setelah mandi, makan pasti rasa kantuknya menguasai dan mereka pun di bawah oleh baby sitter nya masing-masing.
Sedangkan Nathan dia sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama mama nya.
"Apa jadwal mu hari ini?" tanya papa San saat Naomi ingin berpamitan.
"Maksud Tuan apa?"
"Tuan? kenapa memanggil ku dengan sebutan itu?"
"Maaf sebelumnya tapi saya memang akan segera mendaftarkan perceraian saya dengan putra anda, jadi saya harus membiasakan diri dengan panggilan itu" jawab Naomi sambil menunduk kepalanya, dia sama sekali tidak berani menatap pada kakek dari putra nya.
"Sebegitu nya kah, kamu ingin keluar dari keluarga ini, apa tidak ada kebahagiaan yang kamu rasakan?"
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan, tapi saya tidak bisa, hati saya sudah terlalu sakit dengan apa yang di lakukan oleh putra anda"
"Aku akan mengusahakan apa pun yang kamu ingin kan asal kamu tidak mengajukan gugatan cerai itu"
"Yang saya inginkan saat ini hanya hidup bahagia bersama kedua putra saya Tuan, tidak ada lagi alasan saya bertahan di sini, Tuan muda juga sudah menjatuhkan pilihan nya bersama dengan cinta pertama nya"
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, dia putra ku"
"Dia memang putra anda, yang bisa anda kendalikan raga nya, tapi tidak dengan hati dan pikirannya"
"Saya permisi, ayo Nathan ikut mama"
"Jangan kurang ajar kamu membawa cucu ku keluar dari sini"
"Ya lebih berhak atas putra saya, anda akan memiliki cucu lagi bukan, dari wanita terhormat kesayangan putra Anda"
"Dia bukan cucu ku"
Naomi terus berjalan meninggalkan mereka yang ada di meja makan, dia tidak ingin perdebatan antara dia dan mertuanya itu di saksikan oleh putranya, jadi dia lebih memilih pergi saja, meski apa yang di katakan oleh papa mertua nya itu menyisakan tanda tanya besar.
Dia masuk keruangan yang menjadi rumah kerja nya, mendudukkan dirinya di kursi milik nya, kepala nya menengadahkan ke atas sambil memejamkan matanya.
Hati nya kembali bimbang dengan keputusan nya, perkataan papa mertua nya yang secara langsung menunjukkan sesuatu yang sama sekali tidak dia ketahui.
Di tambah permintaan dari putranya yang menginginkan mereka kembali seperti dulu, semakin membuat hati nya kalut, di sisi lain masih terekam jelas di ingatan, semua kesakitan yang dia rasakan.
Sebuah rasa yang bisa saja menjadi trauma tersendiri baginya, di mana hati nya yang selalu tersakiti, akibat perselingkuhan suaminya.
Dia menatap sebuah cincin yang melingkar di jari nya, cincin pemberian dari cinta pertama nya yang dulu sangat dia nantikan, tapi semua nya berubah setelah pernikahannya dengan Henry.
Apa lagi waktu itu Rayden tidak ada kabar sama sekali, yang membuat nya menjatuhkan cinta nya pada suami nya, meski dia tahu bahwa sejak awal pernikahan ini suaminya itu terpaksa melakukan nya.
Dia mencoba menjadi istri yang baik untuk suaminya meski tidak pernah menganggap nya sebagai istri. Naomi berharap seiring berjalannya waktu cinta di antara mereka akan tumbuh.
Tapi nyatanya harapan tinggallah harapan, dia tidak mendapatkan apa yang dia harapkan, justru kesakitan dan air mata yang menemani rumah tangganya, selama ini dia bertahan untuk buah hatinya.
Dia tidak ingin kedua putranya merasakan apa yang dia rasakan dulu, hidup dengan ibu tiri bukan sesuatu yang muda, apa lagi jika di lihat Henry begitu percaya pada wanita yang pernah menjadi teman nya.
Entah siapa yang salah di sini, dia yang tiba-tiba di hadirkan di antara dua anak manusia yang sedang jatuh cinta, atau mungkin juga salah dari Erika yang tidak mau melepaskan kekasih nya itu meski restu tidak dia dapatkan.
Atau justru Henry yang tidak tegas dengan dirinya sendiri, dia egois dan ingin melakukan semuanya dalam satu waktu yang hanya akan membuat luka di antara mereka bertiga.
Dia ingin berbakti pada orang tuanya nya tapi dia juga membangkang nya, Henry menggantung dua wanita sekaligus dalam hidup.
Tanpa dia sadari bahwa, apa yang dia lakukan akan menjadi bumerang di waktu yang tidak dia sangka, saat ini satu persatu yang dia taman mulai menyemai dan siap untuk di panen.
Jika saat nya tiba, semua sudah berantakan dan sulit di tata pada jalan nya, yang ada hanyalah penyesalan dan saat itu akan terlihat siapa yang benar-benar cinta sejati atau hanya permainan yang sudah tergambar jelas tapi tersusun indah di mata Henry.
"Mungkin sudah saat nya aku kembali pada cinta ku yang pernah hilang dulu"
"Maafkan aku yang tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu"
Naomi pun melepaskan cincin pernikahan, lalu menaruh nya pada plastik kecil dan memasukkan nya kedalam saku blouse nya.
Dia menghapus air matanya, membenahi riasan diri nya dan kembali keluar dari ruangan nya menuju mobil di mana pengawal yang di perintahkan papa San untuk menjaga nya.
"Dimana Tuan muda mu?"