
Rahang papa San mengeras saat tahu siapa yang melakukan nya, dia harus mengatakan ini pada Henry agar putranya yang terlalu bodoh itu bisa tahu semuanya dan menyadari kekeliruannya.
"Kamu sudah mengurus nya kan?"
"Tanpa kamu minta pasti aku lakukan, apa lagi ini menyangkut masa depan keluarga Keith"
"Bagus kamu memang bisa di andalkan"
"Hey kamu mau kemana?" Tanya dokter dengan name tag Vincent di sana.
"Jangan ikut campur, lakukan saja tugas mu sesuai dengan seragam putih mu itu."
"Kamu tetap saja menyebalkan kan Alle!"
Apa Papa San peduli dengan semua itu tentu saja tidak, dia kembali melangkah kaki nya menuju ke suatu tempat bersama dengan Peter di sana.
...****************...
Sementara di ruang rawat Naomi duduk sendirian di sana, Mama mertua nya tadi pulang ke rumah, dia butuh istirahat yang cukup mengingat usianya yang tidak muda lagi.
Dia merenungi tentang semua yang terjadi pada hidup nya saat ini, tapi entah lah dia bingung harus bagaimana, dia hanya bisa terus bersabar menghadapi semua masalah rumah tangga nya.
Waktu terus berlalu, ini sudah hampir makan malam tapi dua pria itu sama sekali tidak ingin bangun dari mimpi nya, mereka masuk dalam mimpi terdalam mereka.
Dia pun berjalan menghampiri suaminya yang masih terlelap dalam tidur nya.
"Suami ku bangun lah ini sudah hampir malam, sebentar lagi waktu nya makan malam!"
"Biarkan aku tidur jangan menggangguku!"
"Tapi Nick harus minum obat dan membersihkan dirinya"
"Dia akan terus tidur jika kamu mendekap nya seperti itu" kata Naomi lagi.
Perlahan Henry membuka mata nya dia melihat putra nya itu masih terlelap dalam dekapan nya.
"Boy, Boy ayo bangun bersih kan badan mu dulu setelah itu papa akan kembali memeluk mu seperti ini!"
Bukan nya bangun Nick semakin merapatkan tubuhnya pada sang papa, bahkan tangan mungil nya itu kini berada di pinggang kekar milik Henry.
" Ayo bangun dulu, boy nanti kamu bisa tidur lagi bersama papa mu!" rayu Naomi pada putranya.
Tapi apa yang di dapatkan putra nya itu malah menyingkirkan tangan Naomi yang ada di lengan nya, dan itu di saksikan langsung oleh Henry.
Melihat penolakan itu Henry menarik sedikit bibir nya di sana sangat tipis bahkan mungkin tidak terlihat oleh siapapun.
"Siapkan saja alat mandi nya aku yang akan menyeka tubuhnya"
"Baiklah"
Tak butuh waktu lama, Naomi menghampiri mereka di sana dan melihat mereka yang kembali terlelap bahkan posisi tidur mereka pun sana, dan suaminya itu masih meragukan dari mana benih itu.
Naomi menghembuskan nafas nya, mengurai rasa sakit yang dia rasakan atas tuduhan dari suaminya itu.
"Suamiku bangun lah, ini air nya!"
Henry bangun dari tidur, dia menatap wanita yang sejak lima tahun ini menjadi istri nya, istri di atas kertas bagi nya, bukan dia tidak merasakan ketulusan hati istri nya itu, tapi semua pusat hidupnya hanya ada Erika bukan Naomi yang sudah jelas menjadi istri nya.
Dia yang tidak mau jatuh dalam pesona istri nya pun mengalihkan pandangannya, biarlah raga nya terbagi tapi tidak dengan hati nya.
Henry meminta Naomi menurunkan suhu ruang rawat tersebut, satu persatu membuka baju yang di kenakan oleh putra nya itu, meski Nicholas masih memejamkan matanya.
Kain basah yang di usapkan Henry membuat Nicholas terbangun, dia yang tadi nya ingin menangis urung saat melihat bahwa yang melakukan itu adalah papa nya.
Dia terdiam sambil terus menatap kearah papanya, dengan mengerjap lucu, Henry yang melihat nya pun tidak bisa jika hanya melihat nya saja, ciuman bertubi tubi dia berikan pada putranya itu.
"Kenapa menatap papa seperti itu, papa mu ini tampan ya?" tanya Henry sambil tersenyum pada putranya itu, Nicholas yang mendapatkan pertanyaan seperti itu pun menganggukkan kepalanya.
Terdengar tawa bahagia dari mulut Henry, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat putra yang ada di dekapan nya itu bukan darah daging nya, dia bingung harus bersikap bagaimana.
Tak mau larut dalam kekacauan pikiran nya, Henry memusatkan perhatian nya pada Nicholas yang kini ada di depan nya, dia akan menjalani semua itu, dia harus siap dengan hasil nya nanti.
Naomi hanya terus memperhatikan kedekatan mereka dari sana dia ingin mengabadikan setiap momen yang ada, sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Tapi dia juga tidak akan menyerahkan begitu saja, dia akan mempertahankan keutuhan rumah tangga nya, bagaimana pun cara nya.
Nicholas kini sudah bersih dan wangi semua di lakukan sendiri oleh Henry, bahkan Nathan dulu juga sama seperti itu, dia beranggapan bahwa dia bisa tidak mencintai ibu nya tapi kedua anak nya tidak boleh sampai kekurangan kasih sayang dari nya.
Pintu terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu, Henry menatap tajam pada orang yang berani-beraninya masuk tanpa permisi dan itu sangat tidak sopan bagi nya.
"Kaaakkk!" suara Jessica menelan saat mendapati kakaknya itu menatap tajam ke arahnya, senyum kikuk terlihat jelas di wajah Jessica, dia langsung masuk ke sana tanpa di persilahkan oleh pemilik ruangan.
"Di mana sopan santun mu?"
"Kak aku terlalu khawatir dengan Nick jadi aku buru-buru tadi"
"Tidak ada alasan, sekarang keluar dari sana dan ketuk pintu nya seperti orang yang berpendidikan"
"Kak ayo lah, jangan seperti itu, apa-----!"
"Iya, iya aku akan keluar lagi ayo My king, kita keluar dari sini!" ucap Jessica yang berbalik badan tak lupa dia juga menghentak kaki.
"Ada apa ini?"
"Pa, kakak Henry sangat menyebalkan" Adu nya pada Papa San
"Dia melarang aku menjenguk Nicholas!"
"Kamu itu apa-apa Henry, adik mu hanya ingin menjenguk Nicholas saja kenapa kamu melarang nya!"
Sementara itu Naomi hanya tersenyum melihat kedekatan suami dan adik ipar nya itu dengan Nathan yang kini ada di gendongan nya, dia datang bersama kakek dan nenek nya.
Sedangkan Henry yang di tuduh oleh Papa San semakin menatap tajam pada adik nya yang kini bersembunyi di belakang Papa nya.
"Sudah-sudah kalian ini selalu saja bertengkar kalau sudah berkumpul, kalian tidak malu apa sama pasangan kalian!"
"Sudah bisa bikin anak tapi kelakuan masih seperti anak kecil, ini lagi sudah tua masih tidak paham dengan sikap anak-anaknya"
Papa mendelik saat di katai tua oleh istrinya itu, meski pun itu benar ada nya, kenapa juga harus di katakan.
"Apa--?"
"Permisi Tuan, Nyonya!"
Perhatian mereka teralih pada dokter yang kini ada di depan pintu dia membawa map yang dia mereka tebak apa isinya.
"Masuk lah" ucap papa San mempersilahkan.
"Ini Tuan berkas yang ada minta!"
Kata dokter itu sambil menyodorkan map yang di bawa.
Henry menerima bekas itu sambil mendudukkan Nicholas di pangkuan nya.
Dengan cepat Henry membuka nya, dia baca satu persatu tulisan yang ada di sana sampai di tulisan tebal yang ada di sana.
Keterangan yang memperjelas semua keraguan nya, setelah membaca nya dia langsung memeluk dengan erat tubuh putra nya itu tak lupa dia juga menghujani ciuman di setiap wajah yang mirip dengan nya itu.
'Dia putra ku'