
Naomi membuka satu persatu album yang di berikan Henry pada nya, di halaman pertama dia melihat foto nya diri nya saat masih berada di bangku kuliah, sampai foto kelulusan nya saat kuliah waktu itu, di sana juga ada Siska yang menemani nya.
Di halaman berikutnya, tampak dia sedang memakai baju wisuda nya plus toga yang ada di kepala nya, berdiri di apit oleh papa dan juga mama tiri nya yang kini sudah berpulang.
Begitu terus sampai dia membuka halaman di mana itu adalah proses lamaran yang dia lakukan dengan seseorang yang ada di hadapannya saat ini, dia menatap lekat pada Henry yang kini duduk di depan nya itu.
Sorot mata mereka beradu di sana, Naomi merasakan sesuatu yang lain di lubuk hati nya, rasa nyeri yang menjalar membuat kepala sakit yang teramat, dia sampai memegangi kepalanya yang berdenyut hebat di sana.
Henry yang melihat itu pun, menghampiri istri nya yang tengah kesakitan itu, dia duduk di samping nya, meraih tubuh Naomi dan memeluknya sangat erat di sana, tidak ada penolakan dari istri nya itu, membuat nya mengeratkan pelukannya.
Naomi yang tadi merasa kepalanya seakan ingin meledak pun berangsur menghilangkan begitu saja setelah mendapat pelukan dari suaminya itu, dia melihat sekelebat bayangan yang membuat nya merasakan kesakitan itu.
Merasa istrinya tidak lagi kesakitan pun, Henry melepaskan pelukannya, lalu meraih kedua tangan Naomi, dia menggenggam nya seakan dia benar-benar takut kehilangannya, dia menyalurkan rasa yang dia miliki untuk istri nya.
Di kecup nya ke dua tangan Naomi yang ada di genggaman nya, sambil menatap penuh penyesalan di sana, sesal karena telah mengabaikan wanita yang mencintainya sedalam samudera.
"Maafkan aku" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, meski dia memiliki ribuan kata yang ingin dia ucapkan pada istri nya.
Naomi yang mendapat perlakuan seperti itu pun menggeleng, dia tidak tahu kenapa atasan nya itu terus saja meminta maaf pada nya, apa yang sebenarnya tidak dia ketahui, kenapa dia merasa sakit sekaligus nyaman saat beras di pelukan laki-laki itu.
"Kenapa anda terus saja minta maaf pada ku Tuan? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naomi yang membuat Henry menatap ke arah nya.
"Apa kamu tidak bisa merasakan siapa aku?"
Naomi menggeleng dia tidak mengingat apapun di sana, hanya saja dia melihat ada sebuah pernikahan yang mana, pernikahan itu sangat mewah dan juga tidak ada sedikitpun kata sederhana di sana, semua berbalut warna emas yang menambah kesal mahal untuk pernikahan tersebut.
"Kalau aku mengatakan bahwa aku adalah suami yang jahat pada mu dulu, apa kamu akan mempercayai nya?"
Naomi tidak menjawab dia hanya diam dan bergelut dengan hati nya sendiri, di sisi lain dia merasa ada rasa yang tak bisa dia jelaskan, dan di sisi lain hatinya dia merasakan sakit yang teramat di sana.
"Apa kita dulu adalah sepasang kekasih?" tanya Naomi ragu, yang di jawab gelengan kepala oleh Henry yang kini meraih album yang tergeletak di lantai.
Dia membuka halaman di mana, itu adalah acara pemberkatan yang mereka lakukan dia salah satu tempat peribadatan terbesar di kota mereka, dia menunjukkan pada Naomi bahwa itu adalah mereka yang tengah mengucapkan janji suci sehidup semati.
"Kita sepasang suami istri, kita bahkan sudah mempunyai dua orang putra yang sangat lucu dan menggemaskan, apa lagi saat mereka berdua berebut perhatian ku saat mereka akan tidur di malam hari"
"Benarkah? lalu dimana mereka sekarang?" tanya Naomi yang mulai masuk ke dalam pembicaraan yang cukup serius.
"Apa mereka tidak mencari? anda bilang saya adalah ibu mereka?" ucap Naomi
"Mereka selalu merindukan Mama nya setiap pagi, mereka akan menangis mencari kemana Mama nya, mereka tentu merindukan mu, dsn juga masakan yang kamu olah dengan tangan mu sendiri, juga saat kamu memandikan mereka berdua"
Henry terus menceritakan semua tentang putra mereka, dengan harapan Naomi bisa mengingat mereka perlahan, dia tidak akan memaksa Naomi untuk mengingat semua nya saat itu juga, tapi setidaknya istrinya akan terus terngiang dengan apa yang di ucapkan oleh nya.
Henry juga menunjukkan foto saat dia melahirkan Nathan yang sangat tampan dan menggemaskan itu, bayi laki-laki yang sangat mirip dengan papa nya, bahkan tidak ada satu pun yang meniru Naomi meski dia yang mengandung nya selama sembilan bulan lebih itu.
"Apa benar dia putra ku?"
Henry yang mendengar itu pun tersenyum saat istrinya itu bertanya sambil mengelus Nathan yang ada di dalam foto tersebut, dia pun membelai rambut panjang istrinya yang tertata rapi seperti wanita pekerja pada umumnya.
Yang sebenarnya membuat dia kesal setengah mati, saat wajah cantik istrinya itu menjadi pusat perhatian para karyawan nya, untung saja mereka masih menyayangi pekerjaan itu, jadi mereka memilih untuk menundukkan kepalanya, saat berpapasan dengan istri pewaris tahta perusahaan tempat mereka mengantungkan hidupnya.
"Dia memang putra kita, sifat dan wajah nya sangat mirip dengan ku, coba perhatikan baik-baik" perintah Henry pada Naomi yang kini tengah kebingungan itu.
Naomi pun melakukan apa yang di katakan oleh atasan nya itu, dia menatap cukup lama mendalami getaran yang mengusik hati nya, dia yang tidak mau jatuh dalam pesona atasan nya pun, mengalihkan pandangan pada foto anak laki-laki yang berada dalam gendongan nya.
Terlihat mirip bahkan tidak ada perbedaan sama sekali, dia bahkan sempat berpikir kalau itu adalah foto saat Henry masih kecil, tapi anggapan itu langsung terbantahkan saat dia melihat siapa yang tengah menggendong bayi tersebut dan siapa yang berdiri sambil mengelus pipi bayi tersebut dengan senyum yang merekah di sana.
"Apa putra kedua anda juga mirip dengan anda juga?" tanya Naomi yang penasaran.
"Dia sedikit mirip dengan ku, tapi hidung, iris mata dan juga rambut nya mirip kamu" jelas Henry sambil menunjuk foto Nicholas yang sudah bisa tengkurap.
Naomi yang melihat itu tertegun, benar apa yang di katakan oleh Henry jika anak laki-laki itu memilik iris mata yang sama dengan nya, sekilas mirip dia versi laki-laki tapi kulit nya mewarisi pada gen papa nya yang putih sedikit memucat.
Dia terus membuka satu persatu foto itu, banyak moments yang ada di sana, kebanyakan foto tersebut di ambil secara candid dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Apa saya boleh bertemu dengan mereka?"
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Mampir di karya teman ku juga 👇👇👇👇👇👇👇