
Naomi sama sekali tidak menghentikan langkah nya saat mendengar apa yang di katakan suaminya itu, dia terus berjalan meninggalkan mereka semua tanpa menoleh kebelakang sama sekali.
Sementara Papa San dan Mama Melly merek mantap tajam pada putra nya yang dengan mudah nya mengatakan ingin memadu menantu kesayangan nya.
Akan jadi apa hati menantu nya itu jika harus berbagi suami, selama ini Erika selalu mendominasi waktu Henry meski status nya hanya selingkuhan saja, apa lagi nanti jika dia menyandang status sebagai istri muda pasti nya dia akan sok berkuasa.
Dan membuat Naomi semakin sakit hati saja, sementara Henry dia berusaha mengajar istrinya itu yang kini sudah berad di rumah tamu.
"Sayang" ucap nya sambil memegangi tangan istrinya.
"Katakan, katakan pada ku aku harus bagaimana, aku tidak ingin kehilangan kamu, tapi aku juga tidak sanggup jika harus membunuh darah daging ku"
"Ceraikan aku, nikahi dia"
"Tapi aku-----"
"Bisa lepaskan tangan saya tuan Henry yang terhormat, saya tidak Sudi di sentuh oleh orang yang tidak bisa memegang janji nya"
"Akuuu, aku minta maaf untuk itu, tolong jangan pergi, bagaimana kalau anak-anak mencari mama nya?"
"Mereka selama ini tidak pernah mencari meski aku tidak pulang, Papa nya saja sudah cukup untuk mereka"
"Kamu jangan khawatir aku sudah menitipkan mereka pada, Oma dan Opa nya, jika papa nya sibuk dengan calon ibu baru mereka"
"Apa kamu rela, anak-anak kita di asuh oleh ibu tiri"
"Kalau begitu aku akan membawa mereka bersama ku"
"Tidak, Nathan dan juga Nicholas akan tetap di sini di bawah asuhan ku" tegas papa San yang masih mendengarkan perdebatan antara anak dan menantunya itu.
"Jika kalian berdua memutuskan untuk bercerai, keluar dari rumah ini, tidak akan aku izinkan siapapun yang bukan orang tua asli nya tinggal di rumah ku"
"Tapi aku tidak ingin bercerai pa"
"kamu tidak ingin bercerai tapi papa dan mama menginginkan perceraian ini" ucap papa San lagi.
"Aku, aku akan pergi ke Australia seperti keinginan papa asal kan Naomi tetap bersama ku"
"Lalu bagaimana dengan anak yang ada di kandungan Erika"
"Apa kamu akan tega begitu saja melenyapkan darah daging mu hanya karena nafsu mu saja Henry" bentak Mama Melly yang sudah tidak tahan dengan ulah putra nya.
"Pergilah ke apartemen milik Mama, kamu tinggal saja di sana, sopir akan mengantarkan mu"
"Tidak ma, aku akan pergi mencari tempat tinggal ku sendiri, Mama sama papa tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus diri ku sendiri"
Kini Naomi benar-benar pergi dari sana tanpa ada lagi yang menahan nya, sedangkan Henry langsung pergi begitu saja saat papa nya itu melepaskan pegangannya.
"Zayn" teriak papa San pada pengawal pribadi menantu nya itu.
"Pergi dan awasi Nyonya muda mu, tapi ingat jangan sampai ada yang menyadari kalau kamu mengikuti nya, pantai setiap kegiatan nya dan laporkan pada ku"
"Baik Tuan"
Zayn pergi dari sana menyusul kemana pergi nya Nyonya muda nya itu, ponsel Zayn Malik terkoneksi dengan GPS yang dia pasang di ponsel milik Naomi.
Di tengah perjalanan nya dia melihat tuan nya itu masuk ke dalam salah satu club malam yang ada di sana, dia langsung menghubungi rekan sesama pengawal untuk menjaga tuan muda nya itu.
Zayn masih terus mengikuti kemana pergi nya Naomi sampai mobil yang di tumpangi nya berhenti di salah satu rumah yang cukup terawat.
Naomi masuk ke dalam sana dengan menggunakan kunci yang dia ambil dari saku cardigan yang dia kenakan.
Alis Zayn mengkerut saat melihat apa yang di lakukan oleh Naomi, rumah siapa yang dia masuki itu, dan lagi kenapa dia punya kunci nya di sana.
Sementara Naomi yang tidak menyadari kalau dia di ikuti oleh pengawal pribadi nya langsung masuk ke dalam sana, dia bukan lagi Nyonya muda Keith jadi tidak ada lagi yang harus pikirkan tentang apa pun lagi.
Sekarang dia akan memfokuskan dirinya untuk melakukan apa yang duku ingin dia lakukan, tugas nya sudah selesai meski sebenarnya dia berat meninggalkan kedua putranya tapi hati nya akan lebih sakit jika trus dia paksa agar terlihat baik-baik saja.
Naomi berjalan mendekati lemari pendingin yang ada di sana, setiap satu Minggu sekali ada seseorang yang dia suruh untuk membersihkan rumah mungil nya ini.
Rumah yang dulu dia beli saat di masih duduk di bangku SMA sampai lulus kuliah, entah apa alasan nya yang pasti waktu itu dia sangat ingin membeli rumah tersebut meski dia harus mengumpulkan sedikit demi sedikit uang saku yang di berikan ayak nya secara sembunyi-sembunyi dari istri muda nya.
Dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil meminum air yang ada di tangan nya, tiba-tiba bayangan kedua putra nya yang berlarian di sana seketika menganggu rasa tenang yang baru saja dia rasakan.
Dia ambil nya ponsel yang ada di tas kecil yang masih tersampir di pundak nya, dia menggeser satu persatu foto kedua putra nya yang sangat tampan menurut nya.
Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja saat mengingat kedua putranya itu yang mungkin saat ini sedang tertidur pulas dalam pelukan Papa nya.
Dia kadang merasa iri pada suami nya yang mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua putra nya, bahkan jika di ingat tidak pernah sekalipun mereka mencari nya meski dia pernah tidak pulang selama dua hari saat menggantikan tugas mama mertua nya yang dia pikul setelah menjadi Nyonya muda Keith.
"Apa kalian akan merindukan mam nanti nya?" tanya Naomi sambil mengelus wajah kedua putranya di layar ponsel genggam nya.
Sementara di rumah besar itu, semua orang di buat kelabakan karena Nathan dan juga Nick yang tak kunjung berhenti dari tangisan nya.
Dua balita itu merasakan apa yang terjadi di antara kedua orang tua nya, ikatan batin seorang anak dan juga kedua orangtuanya itu begitu kuat menjadikan mereka lebih peka dengan apa yang terjadi di sana.
Papa San sampai angkat tangan saat mencoba menenangkan Nathan yang memang begitu dekat dengan Henry, tangis nya sungguh membuat nya ingin memukuli putra nya yang sedang labil seperti remaja yang baru mengenal cinta.
Dia yang sudah kewalahan pun menghubungi salah satu anak buah nya, dia mendudukkan dirinya di atas sofa di luar kamar cucu nya itu.
"Dimana kamu"
"Apa"
"Seret dia sekarang juga, kalau dia memberontak ikat saja"
"Membuat masalah saja bisa nya"