
Naomi terdiam saat mendengar apa yang di katakan oleh Rayden, sungguh dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan yang tidak pernah terlintas dalam benak nya.
Mungkin jika status nya sudah ada kejelasan mungkin dia akan mengiyakan permintaan cinta pertama nya itu, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk semua itu.
Dia masih berstatus istri dari Henry meski saat ini mereka tengah menjalani proses perceraian nya.
"Maaf kak, bukan aku bermaksud menolak mu, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk semua ini"
"Kenapa?"
"Aku masih sah sebagai istri dari seseorang yang kakak sendiri tahu siapa dia, jadi aku mohon jangan mempersulit diri sendiri kak"
"Berdiri lah" ucap Naomi yang membantu Rayden.
"Aku akan tetap menunggu mu" kata Rayden pada Naomi yang tidak merespon nya sama sekali.
Dia yang sejak tadi sudah kehilangan selera makan nya pun hanya memesan minuman saja, saat Rayden meminta nya untuk makan, dia beralasan tidak punya banyak waktu untuk makan.
Dia ingin segera pergi dari sana, sakit hati nya bertambah saat melihat wajah kedua orang itu, ya dia memang duduk membelakangi tempat di mana suami dan Pelakor itu duduk di sana.
Tapi dia tetap bisa melihat nya lewat pantulan cermin besar di depan nya, dia terus saja memperhatikan sampai secara tidak sengaja Henry juga menatap ke arah yang sama dengan Naomi.
Deg.
Pandangan mereka bertemu sepersekian detik, lalu keduanya sama-sama membuang muka, Henry merasakan sesuatu yang menjalar di hati nya saat melihat istrinya itu tengah makan bersama laki-laki.
Entah perasaan apa itu, tapi yang pasti dia merasa tidak suka dengan apa yang dia lihat, tidak kah dia sadar bahwa dia lah orang pertama yang menyalakan api di tengah-tengah kehidupan rumah tangga nya.
Dia yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang, dan saat kini Naomi melakukan nya, kenapa dia merasakan sesak di hati nya, apa seperti ini rasa nya melihat orang yang di cintai nya pergi bersama laki-laki lain.
Tunggu,
Tunggu sebentar.
Sejak kapan?.
Sejak kapan dia mencintai istri nya itu, bukan kah selama ini cinta dan hati nya hanya untuk Erika, lalu kenapa dia harus sakit hati, harus nya dia senang bukan, kini dia bisa bebas kemanapun bersama wanita yang dia inginkan.
Sebisa mungkin Henry tidak menunjukkan rasa yang tidak seharusnya ada di hati nya, pikiran nya berpusat pada Erika tapi di sendiri tidak yakin dengan hati nya.
Mungkin kah, mungkin kah dia sudah jatuh cinta pada istri nya itu, istri nya memberikan nya dua orang anak yang selalu mencari nya di setiap malam nya.
Dan pagi hari nya mereka akan mencari Mama nya, bukan kan itu pertanda jika kedua anak nya itu tidak ingin kedua orang tua nya berpisah, tapi sikap egois yang ada di dalam hati nya, tidak bisa membuka mata hati tentang siapa yang harus dia prioritas kan.
Cinta nya atau keutuhan rumah tangga nya.
Jika Henry yang kini sedang berperang dengan hati nya, lain dengan Naomi yang merasa dia juga telah mengkhianati janji nya pada Tuhan nya, janji setia nya pada pasang nya ternoda dengan hadirnya Rayden yang datang terlambat mengambil hati nya.
Jika dia menerima cinta yang dia inginkan dulu lalu apa bedanya dia dengan pria yang terus menatap ke arah nya, tatapan mata yang tidak ada satu pun orang yang bisa menebak nya.
Antara marah dan kecewa tergambar jelas di wajah laki-laki dua anak itu, tapi marah pun pada siapa, bukan dia sendiri yang menciptakan ini semua, lantas kenapa harus marah.
Jangan lupakan satu hal jika wanita bisa terlihat begitu mencintai tanpa melibatkan hati nya, salah jika mereka menganggap wanita selingkuh menggunakan hati, tapi yang kebanyakan terjadi adalah mereka bisa terlihat bucin meski tidak menyimpan rasa sedikit pun.
Lama mereka berada di posisi canggung yang entah kenapa tercipta begitu saja, di antara mereka, Naomi melirik jam tangannya, dan ternyata sudah waktu nya dia menjemput putra nya itu.
Naomi langsung pergi begitu saja, meski Rayden mengatakan ingin mengantar nya, namun Naomi menolak nya secara halus, dia pergi sendirian dari sana, tanpa dia sadari kalau ada seseorang yang tengah mengikuti nya.
Yang langsung menarik tangan nya saat dia sudah berada di lantai dasar pusat perbelanjaan itu, Naomi memberontak saat tangan nya di cekal oleh seseorang itu, lalu menarik nya masuk kedalam mobil.
Namun Naomi enggan untuk di duduk di tempat yang tadi di tempati oleh orang yang sudah menyakiti hati nya.
"Masuk"
"Tidak lepas kan saya, kenapa anda memaksa saya masuk"
"Jangan membantah Naomi"
"Kita tidak saling mengenal Tuan muda, jadi lepas saya"
"Tuan muda"
"Aku suami mu kenapa memanggil ku seperti itu"
"Suami? apa aku tidak salah dengar"
"Anda mengatakan bahwa saya adalah istri anda, lalu siapa wanita yang sejak tadi bersama dengan anda, yang terus saja anda elus perut nya"
"Bukan kah dia wanita yang sangat anda cintai Tuan muda, lalu kenapa mengatakan kalau saya adalah istri anda, asal Anda tahu kalau suami saya telah mati"
"Kamu, kamu menyumpahi ku mati iya" bentak Henry saat mendengar ucapan Naomi.
"Kenapa anda merasa kalau anda adalah suami saya, apa anda mengenalnya, kalau anda mengenalnya tolong tanyakan pada nya apa dia menganggap ku selama ini, aku saja yang istrinya tidak mengenal nya, aku tidak mengenal nya" teriak Naomi di sana sambil meneteskan air mata nya.
"Maafkan aku" ucap Henry dengan suara lirih.
"Kenapa, kenapa Tuan muda minta maaf pada ku, anda tidak salah tuan, saya lah yang salah di sini, karena saya hadir di antara cinta nya bersama wanita lain"
Deg.
Henry membeku mendengar apa yang di katakan oleh Naomi, sebejat itu kah dia pada wanita yang juga tidak menginginkan pernikahan yang sudah di rancang sedemikian rupa oleh penguasa tersebut.
Dia di paksa menikah dengan nya karena papa nya itu sangat menginginkannya menjadi menantu di keluarga Keith, kerja keras nya lah yang membuat papa San menyeret nya dalam pernikahan palsu yang membelenggu mereka berdua.
Naomi yang melihat suaminya itu terdiam pun pergi dari sana meninggalkan suaminya, dia berjalan keluar dari sana.
Tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan
Braaaak
"NAOMI"