Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Kenapa suka mengancam



Dengan penuh kelegaan ke dua orang yang tadi berpikir nyaris kehilangan pekerjaan nya itu pun kembali bisa bernafas lega.


Ucapan Tuan muda nya yang meminta mereka untuk keluar ternyata meminta mereka untuk membeli makanan untuknya dan juga Nyonya muda nya yang memang tadi berniat untuk makan bersama dengan suami nya itu.


Tapi bukan nya makan siang dengan nasi, Naomi hanya masam siang sehat, yaitu pisang dan juga susu yang tidak membuat perut nya kenyang tapi kenyang yang berada dari yang bisa orang lain rasakan pada umum nya.


Sedangkan Henry mungkin dia bisa merasa kenyang karena dia meminum susu segar langsung dari sumbernya.


Henry kini berada di dalam ruangan pribadi nya, mengerjakan pekerjaan yang tadi tertunda, papa nya itu tidak memberikan nya waktu untuk mengerjakan nya besok pagi, jadi terpaksa hari ini dia akan lembur, dari pada dia tidak bisa melakukan hal menyenangkan itu.


Tok


Tok


"Masuk"


"Tuan ini pesanan anda" ucap pegawai salah satu butik yang tadi dia minta untuk mengantarkan beberapa potong baju ke kantor nya.


"Taruh di sana"


"Baik Tuan saya permisi" ucap pegawai butik itu yang langsung keluar saat mendengar deheman yang keluar dari mulut Henry.


"Tuan, ini makan siang nya"


"Keluar"


Tanpa perintah dua kali mereka berdua langsung keluar dari sana sebelum terkena semburan pedas dari mulut Tuan nya itu.


"Tutup pintu nya"


Pintu sudah tertutup dengan sempurna, Henry menekan tombol otomatis yang bisa membuat pintu ruang kerja nya mengunci secara otomatis.


Setelah memastikan semua nya sudah terkunci dengan benar, dia berjalan menghampiri istrinya, entah mengapa hati nya sedikit merasa tenang saat melihat wajah istri nya yang sedang tertidur pulas setelah perjuangan panjang mereka tentunya.


Dia bertanya-tanya pada hati kecil nya apa dia mulai mencintai istri nya itu, lalu bagaimana dengan janji nya pada Erika yang akan menikahi suatu hati nanti.


Dan jika dia segera bercerai maka kesempatan nya untuk menikah dengan Erika akan semakin dekat, dan kini hati nya bimbang entah apa yang aja dia pilih.


Istri nya kah,


Atau


Cinta pertama nya yang belum usai.


Henry yang tidak ingin pikiran terlalu pun memutuskan untuk tidak memikirkan itu saat ini, dia akan melakukan apa kata hati nya baik saat ini atau pun nanti.


Meski pada akhirnya keputusan nya itu melukai salah satu di antara mereka, tapi menyatu mereka berdua juga tidak mungkinkan.


Henry kembali memfokuskan pikiran nya pada sosok wanita yang kini ada di samping nya wanita kuat yang tetap menjalankan semua kewajiban nya sebagai seorang istri, meski dulu dia tidak pernah menghiraukan apa pun yang di lakukan oleh istrinya.


Elusan lembut pada wajah Naomi ternyata membangun kan sang empunya raga, dengan malas dia membuka mata nya dan tersenyum begitu manis pada suami nya itu, belum pernah sekalipun dia melihat kemarahan dari istri nya itu meski dia mengetahui tentang perselingkuhan nya.


Sungguh seluas apa hati nya yang masih menerima dengan tangan terbuka pada laki-laki cacat seperti diri nya.


"Ayo bangun makan dulu, maaf sudah membuat mu seperti ini" ucap henry yang kini di tatap lembut oleh istrinya itu.


"Tak apa aku senang jika suami ku senang, jadi katakan saja kapan pun kamu mau aku akan melayani mu dengan sepenuh hati" kata Naomi sambil mencium tangan suaminya yang membelai wajah ayu nya.


"Maafkan aku, selama ini aku sudah menyakiti hati entah masih pantas kah aku memperoleh maaf mu"


"Aku memaafkan mu sebelum suami ku ini minta maaf pada ku, jadi jangan merasa bersalah lagi"


"Aku tahu itu, sejak pertama kita menikah aku sudah mengetahui nya, hanya saja aku tetap diam apa pun yang kamu lakukan"


"Yang aku inginkan untuk menjadi rumah mu sudah terwujud bukan, kamu selalu pulang meski pun kamu sempat singgah di tempat lain"


Mendengar itu entah mengapa hati nya bagai di rajam, bagaimana bisa istrinya itu mengatakan sesuatu yang membuat nya merasa malu pada wanita yang telah mengorbankan kebahagiaan nya hanya untuk memenuhi keinginan papa nya.


Lalu dengan tega dia menghancurkan setiap kepingan hati yang sangat rapuh itu, hingga kini hati nya yang terbiasa menerima semua tempahan itu menjadi sekuat baja yang tidak akan mudah tergoyahkan.


"Aku janji mulai saat ini aku akan memberikan seluruh hati ku ini hanya pada wanita yang kini ada di depan ku, maukah kamu menemani laki-laki bejat seperti ku"


"Aku tidak ingin janji mu, yang aku inginkan hati jiwa dan raga mu untuk ku"


"Kamu akan mendapatkan nya"


"Jika suatu saat nanti aku kembali tersesat bawa aku kembali dalam jalan penuh cinta dan kedamaian yang kamu miliki, bawa ku secara paksa jika aku masih tidak bisa kembali"


"Sudah lah jangan terus membahas tentang ini suamiku, mulai saat ini cari lah aku sat kamu membutuhkan apa pun itu, aku akan menyediakan nya untuk mu"


"Iya, aku akan bahagia kamu dan kedua jagoan kita"


"Sekarang aku lapar, ayo kita makan siang yang sudah sore ini"


"Aku melupakan rasa lapar ku sejak tadi dan sekarang aku kembali merasakannya"


"Ayo pakai baju ku itu dulu untuk menutupi keindahan mu itu, yang ada aku akan kembali makan mu dan tidak akan melepaskan mu"


"Apa kamu juga seperti itu saat bersama nya"


Deg.


Cup.


"Tidak perlu di jawab sekarang gendong aku ke luar aku lapar dan ingin makan di suapi oleh suami ku yang tampan ini"


Mendengar yang di katakan istri nya itu membuat rasa bersalah sedikit berkurang, dia memakaikan baju milik nya yang tergeletak begitu saja di ranjang, tapi tidak langsung mengancing nya tapi lidah panas nya itu mampir terlebih dahulu di landasan yang tegak menantang meski sudah dua kali terkontrak.


"Aaahhh"


"Hentikan ulah nakal mu itu, atau aku tidak akan mengizinkan mu menikmati nya lagi"


"Ssshhhtt"


"Kenapa suka sekali mengancam, kamu itu sudah seperti Tuan Alessandro saja"


"Dia ayah mu"


"Dan dia mertua mu yang paling menyebalkan"


"Aku akan laporkan kamu pada Papa yang telah berani mengatakan itu pada nya"


"Katakan saja, tapi sebelum itu terjadi aku akan lebih dulu membuat mu tidak bisa berjalan menemui nya"


Grep.


"Ayo kita makan, setelah itu pulang lah aku tidak akan menggangu mu nanti malam"


"Aku mungkin tidak akan pulang malam ini, ada yang harus aku kerjakan"


Tes.