
Henry yang tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya itu langsung menghubungi asisten pribadi nya yang kini entah apa status nya.
"Hallo"
"Kamu di mana"
"Saya ada di rumah"
"Katakan pada ku, kalau apa yang di katakan oleh Jessica itu tidak-----"
"Semua benar, untuk lebih jelasnya silahkan anda bertanya pada Tuan besar"
"Papa tidak aka-----"
"Selamat malam Tuan" potong Pedro yang langsung menutup panggilan.
"Sialan, berani-beraninya dia memutuskan panggilan dari ku" geram Henry pada asisten nya.
"Memangnya kamu siapa kak, bukan kan kamu sudah di nonaktifkan oleh papa" ejek Daniel yang langsung mendapat tatapan tajam dari kakak nya.
"Aku merasa kasih pada kakak ipar ku, yang menikah dengan manusia seperti mu"
"Tutup mulutmu, ayo kita kembali kerumah sakit"
"Berangkat saja sendiri aku lelah"
"Aku tidak takut dengan tatapan mu itu, jadi jangan mengancam ku seperti itu lagi karena aku tidak takut sama sekali" lanjut Daniel saat kakak nya itu menatap nya dengan sorot mata yang menyeramkan.
"Terserah kalian mau apa, aku mau tidur sambil memeluk suami saja" ucap nya sambil memutar bola mata nya.
"Aku ikut kak, aku tidak ingin mati sebelum aku menikmati keindahan dunia" ucap Daniel yang langsung mengekor pada kakak perempuan yang masuk ke dalam lift.
Sedangkan Henry hanya menatap datar pada kedua adik nya yang menghilang di balik pintu kotak berjalan itu.
Akhirnya dengan terpaksa dia mengendarai sendiri mobil nya, di ikuti oleh pengawal yang ada di sana, dia menuju rumah sakit tempat istrinya di rawat.
Dia menghampiri Mama nya yang duduk bersandar pada papa nya, rupanya mama nya itu tengah tertidur pulas karena memang sudah hampir tengah malam.
"Pa, pulang lah bawa mama Istirahat kasihan dia sejak kemarin tidak tidur dengan nyenyak"
"Aku pulang tapi awas saja jika kamu berani macam-macam, sampai menemui wanita ****** itu"
"Tidak aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya" ucap nya sungguh-sungguh.
"Bagus, tapi aku rasa perjuangan akan lebih berat anak ku, jadi tabahkan hati mu saat menghadapi wanita yang sudah hilang rasa percaya nya pada pasangan nya" ucap Papa San yang menyeringai lebar penuh kemenangan itu.
"Satu lagi pa, ada yang ingin aku tanya kan"
"Apa, tentang perusahaan milik calon mertua mu yang aku gulung semalam, jika kamu masih berani menanyakan tentang itu, aku benar-benar akan membuang mu kelautan"
Henry terdiam saat mendengar apa yang di katakan papa nya itu, dia sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun lagi pada papa nya.
Papa San langsung menggendong istrinya yang tertidur dalam dekapan nya, dia berjalan meninggalkan Henry yang masih menatap kearahnya.
Dia berhenti tidak jauh dari jauh dari tempat nya tadi, menghampiri dua pengawal nya yang menjaga keluarga nya dari jarak dekat.
"Jaga pria yang sedang berdiri itu, jika dia berani beranjak dari tempat nya saat ini, ikat dia dan buang ke laut"
"Baik Tuan besar" jawab pengawal nya di sertai sunggingan sinis dari papa San.
Henry hanya mendengus kesal saat mendengar ucapan papa nya, bagaimana dia tidak dengar mereka hanya berjarak empat meter saja, jadi mana mungkin Henry tidak mendengar apa yang di katakan oleh papa nya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak kejadian itu Henry sama sekali tidak pernah beranjak dari sana, meski Naomi sudah bisa melewati masa kritis nya, tapi ibu dari dua orang anak itu, tak kunjung membuka mata nya.
Setiap hari Henry selalu mengajak nya berbicara untuk merangsang nya untuk segera sadar, bahkan kedua putranya juga sering datang menjenguk nya dan mengajak nya bermain bersama.
Tapi jika itu Henry, nafas nya memburu seakan dia marah pada pria yang masih menjadi suami nya itu.
Seperti saat ini, Henry seperti biasa mengajak istri nya itu berbincang-bincang, tapi respon yang di berikan oleh Naomi membuat nya langsung terdiam saat itu juga.
Aneh nya lagi, saat dia tidak mengucapkan apa pun, istrinya itu kembali tenang, dia sekaan tidak ingin di ajak berbicara oleh suaminya itu.
"Apa kamu masih tidak bisa memaafkan aku, jika memang kamu masih marah aku bisa memaklumi nya, karena tidak terhitung berapa kali aku menyakiti mu"
"Tapi aku mohon bangan lah, bangun untuk kedua putra kita, mereka merindukan Mama nya"
ucap Henry sambil menggenggam tangan istrinya, dia tetap berbicara di sana meski nafas istri memburu.
"Aku akan pergi dari sini jika kamu memang merasa tidak lagi nyaman dengan ku, aku akan pergi ketempat yang tidak pernah kamu datangi, aku akan ke sana dan menetap di sana"
"Aku pamit, jaga kedua putra kita, aku akan mengabulkan keinginan untuk berpisah dengan ku, meski aku sungguh tidak ingin"
"Semoga nanti nya, kamu bisa mendapatkan pengganti yang bisa menjaga dan meratukan mu, sekali lagi aku minta maaf"
"Aku mencintai mu"
Cup.
Henry mencium kening istrinya itu dengan sangat lembut sampai dia merasa nafas istri nya itu kembali normal seperti sediakala, bahkan jari jemari nya juga ikut bergerak sedikit.
Sampai di mana istri nya itu membuka mata nya perlahan-lahan, netra keduanya bertemu, Naomi menatap bingung pada suaminya yang kini ada di depan mata nya.
Naomi kembali memejamkan mata nya beberapa saat, dia kembali menatap Henry yang kini duduk di ranjang tempat nya berbaring.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Haus"
Henry pun mengambilkan nya lalu membantu Naomi meneguk air putih yang ada di gelas tersebut.
"Sudah"
Henry kembali membaringkan istri, sebelum dia meletakkan kembali air yang tadi di minum oleh Naomi.
Mereka sama diam, tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara, Henry bahkan melupakan tugas nya memberi tahukan dokter tentang apa yang terjadi.
Dia mantap istri yang memegangi kepalanya, dia yang panik pun berusaha menenangkannya dengan mengelus kepalanya.
Bukan nya mereda Naomi semakin merasa kesakitan dengan apa yang di lakukan Henry pada nya, Naomi merasa banyak kilasan yang ada di kepala membuat kepalanya seakan di hantam benda tumpul yang membuah kepalanya serasa pecah.
"Sayang, kamu kenapa"
"Mana yang sakit"
Semakin Naomi mendengar suara Henry sakit di kepala nya semakin berdenyut kencang, Henry yang melihat itu pun menekan tombol yang terhubung dengan perawat di sana.
Henry bertambah panik saat Naomi memukul kepala nya menggunakan tangan nya, Henry yang melihat itu pun menghentikan nya dia memegang kedua tangan Naomi yang terus memberontak.
Dokter masuk kedalam ruang perawatan saat Naomi sudah mulai tenang meski terus saja memukuli kepala nya.
Dia menatap bingung pada suaminya yang ada depan nya.
"Siapa kamu"
Duuuuaaaarrrr
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
jangan lupa mampir ke karya teman ku juga ya 👇👇👇👇👇