Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Saran



Satu bulan sudah Naomi kehilangan ingatan nya, yang membuat Henry kelabakan dengan semua yang terjadi, dia bingung sekaligus menyesali perbuatannya di masa lalu.


Mungkin inilah karma dari apa yang selama ini di lakukan, menyia-nyiakan istrinya saat di sehat dulu, dan kini apa yang dia lakukan terbayar lunas, karena kecelakaan waktu itu.


Dia harus bersabar menghadapi semua nya, apa lagi kedua putranya yang terus saja mencari keberadaan Mama nya yang saat ini tidak mengenali mereka.


Pagi ini, setalah drama yang terjadi di rumah, dia menyempatkan diri untuk menemui istrinya, di rumah orang tua nya, dia sampai di sana, dengan membawakan sarapan pagi untuk istrinya itu.


Namun, lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan nya, lantaran istrinya itu tidak ada di rumah, dia keluar dari rumah mertua nya itu menuju mobil nya.


Dreeeet


Dreeettt.


Ponsel yang berada di saku celananya pun bergetar, dia mengerutkan dahinya saat tahu dari siapa panggilan itu.


"Ada apa?"


"Tahan dia di sana, buat dia menandatangani kontrak nya, aku akan segera ke sana" perintah Henry pada seseorang yang menghubungi, senyum penuh kemenangan tersungging di bibir nya.


Dia langsung masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan panggilan dari mertuanya, dia melaju kencang meninggalkan pelataran rumah mertuanya, di iringi gumaman dari mulut mertuanya.


'Anak itu kelakuan nya sama sekali tidak cocok dengan umur nya'


Papa Frank pun masuk ke dalam rumah nya, dia tidak ada kegiatan pagi ini, baru siang nya nanti dia akan bertemu dengan kolega bisnis nya di kantor milik nya sendiri.


Henry yang tengah terburu-buru pun, harus beberapa kali mengumpat saat jalanan macet di depan nya, berulang kali dia membunyikan klakson nya karena mobil di depan nya tak kunjung berjalan.


Andai saja dia tidak memikirkan nama besar keluarga nya pasti dia sudah menerobos lampu merah yang saat ini sedang menyala di depan nya, bahkan saat lampu sudah berwarna hijau dan masih menunggu giliran pun dia sudah tidak sabar, hingga beberapa kali di di tegur oleh pengguna jalan yang lain.


Setelah melewati drama panjang, akhirnya di sampai di kantor , dan langsung menuju ruang kerja di lantai atas gedung tersebut, dia mendudukkan dirinya di sana saat asisten pribadi nya itu mengetuk pintu ruangan.


"Tuan,"


"Jangan banyak bicara cepat bawa istri ku kemari" perintah nya tak terbantahkan.


"Tuan anda yakin akan mempekerjakan Nyonya muda di sini?" tanya pria yang masih tidak bisa mencerna apa yang tengah di rencanakan oleh Tuan mudanya.


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku peringatkan" ucap nya yang sudah di ujung kemarahan nya.


"Baik Tuan, tapi alangkah baiknya jika kita semua juga pura-pura tidak mengenal siapa Nyonya"


"Apa maksudmu, jangan berbelit-belit cepat katakan" bentaknya lagi pada Pedro.


Pedro pun menyampaikan usulan nya, yang mungkin saja bisa di terima atau justru dia yang akan terkena amukan lagi oleh Tuan nya yang sedang banyak pikiran itu.


Tapi untungnya tuan nya itu menerima saran yang di katakan tadi, jadi dia bisa bernafas lega saat ini.


"Lakukan sekarang, jangan membuang waktu ku terlalu lama"


"Jika rencana mu ini berhasil, aku akan menaikkan gaji mu mulai bulan depan" ujar Henry yang menatap sombong pada Pedro di sana.


"Terima kasih Tuan, saya akan menjemput Nyonya muda sekarang"


"Lakukan dengan cepat, kepala ku serasa ingin meledak"


Ya Naomi tadi keluar pagi-pagi dari rumah, karena dia ingin melamar pekerjaan nya menurut nya cocok dengan apa yang dia pelajari saat kuliah dulu, berulang kali dia melamar pekerjaan di berbagai tema tapi semua nya menolak nya, dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal.


Bukan tidak ada yang mau, tapi semua itu adalah kerjaan Henry yang meminta seluruh perusahaan yang ada di sana untuk tidak mempekerjakan istrinya itu, dia ingin menjerat nya di dalam perusahaan milik nya, di tambah lagi dengan saran yang di berikan oleh Pedro tadi membuatnya semakin yakin, untuk memulihkan ingatan istri nya.


"Masuk"


Orang yang ada di luar pintu pun masuk, setelah di persilahkan oleh si pemilik ruangan yang kini menampakkan wajah datar yang membuat nya ingin pulang, niat nya yang tadi menggebu saat di terima kerja pun mendadak pergi begitu saja, saat tahu siapa atasan nya.


"Duduk" perintah Henry pada Naomi.


"Iiiiyaaa, Tuuuaaan" gagap nya yang langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan suami nya.


Henry menatap lain pada sosok wanita yang kini ada di depan nya itu, ada kerinduan yang mendalam di sana, dia yang secara tidak sadar bahwa dia telah jatuh sangat dalam pada pesona wanita yang pernah dia sia-siakan saat sehat.


Dan dia sesali saat sakit nya kini, mungkin saat ini semesta tengah menunjukkan karma nya atas apa yang di lakukan pada wanita yang setulus hati mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan yang tidak pernah dia sadari.


Dia terus menatap ke arah istrinya yang saat ini tidak mengenal nya sama sekali, sampai tatapan nya teralihkan saat pintu ruangannya terbuka.


"Papa"


"Aku dengar kamu melakukan sesuatu di luar nalar lagi Henry, jangan memperkeruh keadaan saja, biarkan dia pelan-pelan mengingat apa yang dia lupakan"


"Papa diam lah, jangan ikut campur, aku tahu apa yang harus aku lakukan"


"Dasar keras kepala, kalau sampai terjadi apa-apa jangan sampai melibatkan aku"


Brak.


Henry hanya diam saat papa nya itu membuka pintu ruang kerja nya, berbeda dengan Naomi yang terjingkat kaget mendengar suara pintu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Henry saat melihat nafas istrinya itu memburu, dia berjalan menuju dispenser air, menuangkan air di dalam nya dan memberikan pada Naomi di sana.


"Apa kamu takut?" masih tertunduk Naomi menggeleng kepalanya tanpa mau melihat ke arah Henry yang kini ada di samping nya.


"Minumlah, aku tahu kamu terkejut tadi"


"Terima kasih" jawab Naomi menerima gelas berisi air putih dari suaminya.


Henry yang melihat Naomi seperti itu ketakutan dengan suara lantang pun semakin merasa bersalah, apa mungkin istri nya itu juga mengalami trauma akibat perbuatannya dulu.


Tapi seingat nya, dia tidak pernah melakukan kekerasan fisik dalam rumah tangganya, mungkinkah efek dari kekerasan psikis yang dia terima istrinya itu membuat nya seperti ini.


Istrinya itu menjadi pribadi lain saat ini, pribadi yang baru yang penuh ketakutan.


Dia berjanji dalam hati nya akan melakukan segala cara untuk mengembalikan ingatan istrinya itu, jika memang istrinya tidak bisa mengingat nya kembali, maka dia akan mengukir cinta yang baru dia kehidupan mereka kedepannya.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


jangan lupa mampir ke novel teman ku juga ya👇👇👇👇👇