Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Pertolongan Mama



Henry mendesah kesal saat mendengar apa yang di katakan oleh pengawal papa nya itu, ternyata papa nya itu tidak pernah main-main dengan ancaman nya dan sekarang semua terbukti dan dia tidak di izinkan untuk masuk melihat putranya.


Tak mau menyerahkan begitu saja Henry menghubungi Mama nya, ya mungkin saja mama nya itu bisa membantu nya untuk membujuk papa nya agar mengizinkan dia masuk menemui anaknya.


Setidak nya itu dulu, masalah lain nya bisa di bicara kan jika sudah keadaan sudah terkendali.


Tut


Tut


"Hallo kamu di mana, kenapa belum pulang juga"


"Aku ada di depan rumah ma,"


"Kenapa tidak masuk, putra mu ini mencari mu sejak tadi"


"Mama turun lah tolong bukakan pintu untuk ku"


Mama Melly turun dari lantai dua di barengi dengan Omelan yang terus keluar dari mulutnya, bahkan dia yang masih berdiri di teras rumahnya saja suara sudah terdengar sampai di luar pagar tempat Henry berdiri.


Senyum Henry penuh kebahagiaan tersirat di wajah nya saat melihat Mama nya turun menemui nya, mungkin Mama nya ini belum tahu kalau dia sudah di usir bahkan di coret dari kartu keluarga mereka.


"Kenapa kalian tidak membuka gerbang untuk putra ku?" sentak Mama Melly pada dua pengawal yang berdiri di dalam gerbang, seakan mereka menghadang Henry yang ingin masuk ke dalam rumah.


"Tuan besar melarang Tuan muda masuk ke dalam Nyonya besar" jelas pengawal itu pada Mama Melly yang terlihat marah pada mereka berdua.


"Dan kalian menuruti nya, kalian tidak dengar jika cucu ku menangis mencari papa nya, apa kalian bisa mendiamkan nya" teriak Mama Melly yang sudah habis kesabaran nya itu.


Dia di pusingkan oleh empat laki-laki yang membuat nya ingin menenggelamkan mereka semua di kolam renang belakang rumah nya.


"Buka gerbang nya atau kalian aku pecat sekarang juga" ancam mama Melly yang langsung membuat dua pengawal itu membuka gerbang lebar-lebar dan membiarkan Henry masuk ke dalam.


Mama Melly menengadahkan tangan nya pada Henry yang hanya di respon naikan alis oleh Henry.


"Kunci mobil"


Tanpa menjawab Henry memberikan kunci mobil nya pada Mama nya, yang langsung di lemparkan ke arah pengawal yang ada di sana.


"Parkirkan di tempat biasa dan tutup gerbang nya"


"Tapi Nyonya"


"Jangan banyak tapi lakukan saja atau aku yang melakukannya"


"Bagaimana kalau Tuan besar memecat kamu Nyonya"


"Kalau dia berani memecat kalian karena masalah ini, lapor pada ku, aku juga bisa memecatnya"


"Sudah jangan banyak alasan, cepat kerjakan"


"Baik Nyonya"


Dua pengawal itu memiliki tidak membantah lagi perintah dari Nyonya besar nya yang sedang dalam mode singa-nya.


Bisa-bisa dia di lenyapkan hanya dengan sekali hap saja.


"Aduuuhhh, maaaa sakit maaa?"


keluh Henry saat telinga nya di tarik oleh Mama nya menuju kamar tempat kedua putranya berada.


"Sudah tahu kalau anakmu itu tidak bisa tidur jika tidak ada papa nya, kamu masih saja bandel, malah kelayapan gak jelas"


"Sakit ini lagi sakit"


"Aaahhh, ma lepas kan malu sama Nathan dan juga Nicholas jika melihat papa nya di jewer seperti ini oleh Oma nya"


"huuft kamu itu kenapa tidak bisa di atur sudah punya anak tapi kelakuan masih saja seperti anak kecil" gerutu mama Melly sambil melepaskan jeweran tangan nya.


"Ma Erika seharian perutnya kram dan si belum makan sama sekali jadi aku kesana hanya satu jam saja" jawab Henry mengusap-usap telinganya yang tadi di tarik oleh Mama nya.


"Seharian aku di kantor bahkan aku juga ponsel ku ae set ke mode diam biar tidak ada yang mengangguku"


"Ma Erika juga sedang mengandung anak ku jadi aku harus bisa adil di sini, aku minta pengertian mama"


"Papa" teriak Nathan dan Nicholas yang melihat papa nya sudah pulang.


"Hallo boy kenapa belum tidur juga heem?" tanya Henry pada kedua putranya yang kini berada di gendongan nya.


"Kami merindukan Papa" jawab Nathan sedangkan Nick dia memeluk erat papa nya seakan takut di tinggal kembali.


"Maafkan papa yang pulang terlambat, ayo kita tidur di kamar papa saja, di sana lebih luas kasur nya" ucap Henry yang langsung di sambut gembira oleh kedua putranya.


Dia membawa kedua putranya dalam gendongan nya menuju kamar pribadi nya, dia di bantu mama nya membukakan pintu kamar.


Mereka masuk kedalam setelah pintu di buka lebar oleh Mama Melly, Henry mendudukkan kedua nya di atas ranjang besar nya.


"Kalian sudah minum susu?" tanya Henry yang di angguki oleh kedua nya.


"Bagus, sudah sikat gigi belum?"


"Sudah Papa".


"Oke jagoan papa diam di sini dulu, tidak boleh menangis, papa akan mandi dengan cepat"


Baik Nathan atau pun Nicholas mereka tidak ada yang menjawab papa nya, mereka merebahkan diri nya di ranjang besar papa nya itu, perlahan-lahan mereka berdua memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas, hanya setelah melihat wajah papa nya.


Mama Melly yang melihat itu hanya menatap heran saja, sepanjang malam tadi, dia dan juga semua orang yang ada di sana berusaha menidurkan mereka tapi mereka sama sekali tidak menghiraukan nya malah semakin kencang saja saat menangis.


Dan kini apa yang dia lihat membuat nya mendengus kesal pada mereka bertiga, kenapa juga cucu nya itu tidak mau tidur jika tidak melihat wajah dan mencium bau badan papa nya itu, sedangkan putra nya itu malah tidak sadarkan diri jika kedua putranya itu suka sekali menempel pada nya.


Ingin sekali rasa nya Mama Melly menelan kembali putra pertamanya yang selalu membuat kepalanya pecah dengan tingkah lakunya atau perdebatan nya dengan suami nya.


Henry keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan segar kembali, dia berjalan menuju ranjang yang ternyata kedua putranya itu sudah terlelap, pantas saja sejak dia masuk ke dalam kamar mandi tadi dia tidak mendengar suara berisik dari anak-anak nya.


Dia pun menoleh ke arah sofa yang ternyata ada mama nya di sana.


"Mama belum tidur?" tanya Henry yang kini berjalan menghampiri mamanya.


"Aku harus memastikan kedua cucuku tidak tidur karena kamu berikan obat tidur"


Henry yang mendengar itu mencebik saja, bagaimana Mama nya itu punya pikiran seperti itu pada nya.


"Aku tidak gila, untuk meracuni kedua anak ku"


"Siapa tahu kamu tidak lagi menginginkan mereka"


"Mama jangan berbicara sembarangan, mereka putra ku, darah daging ku, mana aku bisa tidak menginginkan nya"


"Tapi kamu tidak menginginkan ibu mereka"


Skak