Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Tidak menduga



Brak.


Pintu di buka secara kasar oleh Henry sambil menggendong keponakan nya bangun seorang diri dan menghampiri nya yang sedang berada di dapur, dengan berlinangan air mata di pipi nya menceritakan apa yang dia lihat di kamar.


Terlihat dua orang yang ada di dalam itu terkejut saat mendengar suara pintu, Jessica langsung mendudukkan tubuhnya, tak lupa dia menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam nya saja.


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan, kalian membuat keponakan ku ketakutan" ucap Henry yang marah pada ke dua nya.


Morgan tatap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia malah kembali memejamkan mata nya saat melihat kemarahan kakak ipar nya, ini semua kan akibat ulah nya jadi kenapa dia yang marah-marah harus nya dia yang marah pada kakak ipar nya itu yang membuat istri nya marah yang membuat nya tidak mendapatkan pelepasan nya.


"Tanyakan saja pada adik ipar mu itu" ucap Jessica yang langsung menuju kamar mandi tanpa memperdulikan kakak nya yang berada di sana, dia melenggang begitu saja tanpa menutupi tubuh nya, Henry yang melihat itu menatap malas pada adik nya yang tidak tahu malu itu.


"Selesai urusan kalian, sebelum keluar dari kamar, aku akan membawa Delisa keluar mencari sarapan"


"Belikan aku juga kak, aku mau menu sarapan yang sama dengan mu"


Tidak menjawab Henry keluar dari sana membawa Delisa pergi dari sana, belum jauh dia melangkah, dia mendengar suara Morgan yang meminta bantuan kepada nya, dia pun kembali menghampiri nya dan membukakan ikatan tangan nya.


"Menyusahkan"


Dia kembali meninggalkan Morgan yang menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi, Henry kembali mendengus saat mendengar suara pekikan yang keluar dari mulut Jessica, tidak sadarkah mereka jika dia tidak bisa mengasah pedang nya, akibat masalah yang datang silih berganti.


Sudah lah biar kan saja mereka, lagi pula mereka sudah halal jadi tidak ada alasan dia untuk melarang apa yang menyenangkan bagi mereka, dia turun bersama Delisa tanpa memikirkan apa pun, dia memesan makanan lalu menyuapi keponakan nya itu sebelum dia kembali pabrik milik nya.


Dua jam waktu sudah berlalu dan kini dia berniat kembali ke apartemen nya, saat dia masuk ke dalam, dia hanya mendapati Morgan yang duduk di menjadi makan dengan komputer di tangan nya.


Henry melewati nya yang langsung menuju kamar di mana adik nya itu berada, dia mendudukkan keponakan nya di sofa sebelum masuk ke dalam.


"Bangun"


"Jangan menganggu ku King, aku lelah"


Jawab Jessica yang mengira itu adalah suami nya.


"Apa sekarang kamu tidak bisa membedakan suara"


Mendengar suara kakak nya, Jessica pun semakin merapatkan tubuhnya di dalam selimut.


"Cepat bangun dan makan sarapan mu, aku butuh bekerja, suami mu sedang meeting"


Tanpa memperdulikan keluhan adik nya Henry keluar dari sana, dia juga butuh bekerja, Kenapa malah dia yang harus mengurus keponakannya itu, sedangkan dua orang tua nya malah sibuk menikmati satu sama lain.


Henry keluar dari kamar nya, dia menggeleng kepalanya saat melihat leher adik nya yang di penuhi oleh bekas kemerahan di sana, bukan itu yang membuat nya sedikit merasa kasihan, tapi tentang bagaimana Jessica yang menjawab pertanyaan dari Delisa.


Saat tatapan mata mereka bertemu, Henry langsung keluar dari sana, dia sama sekali tidak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga adik nya.


Henry menghela nafas lega saat berada di luar pintu apartemen nya, dia langsung menuju ke pabrik nya yang jarak nya lumayan jauh tersebut, mungkin dia sampai di sana saat sudah waktunya makan siang.


Karyawan nya yang melihat dia datang ke pabrik pun mendadak gugup, dan bukan karena melakukan kesalahan tapi karena wajah tanpa nya yang mempesona di usia nya yang menginjak kepala tiga.


Dia langsung menuju ruang nya di mana itu akan menjadi tempat kerja nya mulai saat ini, dia benar-benar melepas tanggung jawab nya sebagai pewaris tahta perusahaan Alessandro group, tidak ada alasan nya untuk bertahan di sana, karena apa pun yang dia lakukan selalu salah di mata papa nya.


Biarlah perusahaan raksasa itu di ambil alih oleh adik nya, yang selalu menjadi kebanggaan ayah nya, entah mengapa dia tiba-tiba merindukan kedua putranya, mereka berdua yang tidak pernah jauh dari nya, dia ingin mengambil nya, tapi ada banyak resiko yang akan dia hadapi.


Papa nya itu tidak akan tinggal diam dan akan menghancurkan apa yang telah dia bangun selama ini, jika dia mengambil ke dua anak nya, meski dia yang paling berhak atas ke dua putra nya.


Hanya satu kata yang keluar dari mulut nya, sebuah permintaan maaf pada ke dua putra nya yang mungkin saat ini juga merindukan nya, dia tidak membawa ponsel milik itu, dia meninggalkan semua nya di meja ruang keluarga saat keluar dari rumah.


Bahkan mobil yang dia pakai tadi itu juga mobil dari hasil nya sendiri, mungkin nanti dia akan membeli ponsel yang baru saat pulang dari sini, dia bisa menghubungi baby sitter putra nya untuk melepaskan rasa rindu nya.


Dia pun melanjutkan pekerjaan nya yang selama ini hanya dia pantau dari jauh, dia punya satu orang kepercayaan yang dia minta untuk mengelola usahanya itu, mengingat Pedro bukan orangnya, melainkan orang papa nya yang pasti akan memihak papa nya jika terjadi sesuatu di antara mereka.


...****************...


Waktu masih sekitar pukul tiga, tapi pekerjaan nya sudah selesai, dia pun meninggalkan kantor nya tanpa bertemu dengan orang kepercayaan yang mungkin sedang ada di tempat lain, dia menuju pusat perbelanjaan yang untuk membeli ponsel untuk nya dan juga adik nya yang cerewet itu.


Meski pun cerewet dia sangat menyayangi nya dan berusaha untuk tidak mengecewakan wanita itu, dia pun memilih ponsel dengan merk yang sama, hanya berbeda warna saja.


Henry juga mampir ke salah satu restoran yang menjual makanan favorit adik nya itu, dia tidak yakin adik nya itu masih di sana mengingat dia yang sudah bersuami, juga tidak perlu dia membelikan apapun itu, tapi biar lah tidak ada salah nya dia melakukan semua itu.


Henry keluar dari restoran setelah mendapatkan pesanan yang dia ingin, dia berjalan tanpa menghiraukan sekitar nya itu, sampai netra nya menangkap suatu obyek yang membuat nya merasa semakin di permainkan di sini.


Henry pun meninggalkan mereka yang sedang duduk di kursi yang tak jauh dari kasir restoran tersebut, perasaan semakin tidak baik-baik saja di sana.


Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada papa nya.


"Permainan apa yang sebenarnya dia lakukan"