
"Kenapa kamu kembali di saat aku sudah menikah dan punya kehidupan baru?" tanya Naomi pada Rayden tapi pandangan nya tetap lurus ke depan.
Rayden terdiam dia tidak ada jawaban yang keluar dari mulut nya, dia bingung dengan segala yang ada, kenapa seakan takdir mempermainkan mereka.
Mereka terpisah tanpa di duga dan kembali bertemu tanpa di rencana, entah apa sebenarnya maksud semesta yang memutar balikan keadaan.
"Sejak lama aku menunggu mu, menunggu kamu untuk membawa ku pergi dari kehidupan ku di sini, tapi ternyata kamu tidak pernah datang untuk memenuhi janji mu"
"Janji yang sangat aku harapkan, meski belum pernah terdengar kata cinta yang keluar dari mulut mu"
"Kamu tahu kan, aku menangis sepanjang malam di malam pernikahan ku, bahkan AQ berdiri di depan jendela kamar berharap kamu datang dan membawa ku pergi dari pernikahan ini"
"Sampai pagi nya saat aku berada di tempat peribadatan, pandangan ku tak lepas dari pintu masuk, dengan harapan kamu datang menyelamatkan aku dari pernikahan ini"
"Tapi ternyata kamu datang sudah sangat terlambat kak, tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini!"
"Kehadiran mu hanya membuat luka lama yang dengan secara sengaja aku tutupi"
"Maafkan aku" kata Rayden yang tidak tahu harus berkata apa saat mendengar bahwa wanita nya itu begitu berharap dia menyelamatkan diri nya.
"Tidak perlu minta maaf kak, mungkin ini jalan takdirku, takdir yang tidak pernah bahagia sepanjang kehidupan ku"
"Jangan katakan itu, sekarang aku sudah ada di sini, aku akan tetap menjagamu sampai kapan mu"
"Sayang nya aku tidak lagi butuh semua itu kak, saat ini aku tidak bisa percaya pada siapa pun"
"Pergilah kak, aku tidak ingin kamu mendapatkan masalah dengan kamu yang ada di sisi ku"
"Aku akan pergi saat suami mu itu juga pergi dari kehidupan Erika"
Deg.
Naomi sedikit terkejut dengan apa yang di katakan oleh Rayden, bagaimana mungkin Rayden bisa tahu tentang apa yang di lakukan Henry di belakangnya.
"Apa yang kamu katakan kak?"
"Jangan kamu berpikir aku tidak tahu bagaimana kelakuan suamimu itu bersama mantan kekasih nya itu"
"Aku tahu semua, bahwa Henry sama sekali tidak mencintai mu, dia hanya mencintai Erika dan menganggap Erika adalah dunia nya"
"Jika kamu tahu, lalu apa bedanya jika aku melakukan penghianatan"
"Aku akan sama busuk nya dengan dia mata tuhan"
"Tapi Bel, apa kamu akan terus sekuat ini menahan rasa sakit yang di berikan suami mu"
"Aku akan jalani semua ini sampai aku benar-benar tidak sanggup lagi"
"Apa itu artinya kamu menolak ku?" tanya Rayden.
"Tidak akan pernah ada yang salah dengan cinta!" kata Rayden yang menarik tangan Naomi dalam genggaman tangan nya.
"Aku akan menunggu sampai kapan pun!" kata Rayden bersungguh sungguh, bahkan tatapan matanya tidak menyiratkan keraguan sama sekali.
Naomi menarik tangan nya dari genggaman tangan Rayden, ini salah dsn ini tidak bisa di teruskan, dia tidak ingin membuat perkara yang bisa membuat nya kehilangan hak asuh kedua putranya.
"Kak aku mohon jangan seperti ini" ucap Naomi menarik tangan yang ada di genggaman Rayden.
Naomi tidak ingin karir Rayden hancur hanya karena dia, di lepaskan nya cincin yang baru saja beberapa jam melingkar di jari manis nya itu m, dia berniat mengembalikan nya pada Rayden.
Naomi tidak ingin Rayden beranggapan bahwa dia memberikan nya harapan dengan cincin yang masih melingkar di jari nya itu.
Namun sebelum itu terjadi Rayden menghentikan tangan nya, dan menatap penuh kekecewaan pada Naomi saat tahu wanita yang dia inginkan itu berniat melepas dsn mengendalikan cincin pemberian nya.
"Aku akan pergi seperti yang kamu inginkan aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapan mu, tapi tolong jangan lepas cincin ini dari jari mu"
"Anggap saja ini sebagai permintaan terakhir ku, aku pergi" pamit nya yang kini sudah berdiri dari duduknya.
Dia melangkahkan kakinya pergi dari sana namun langkahnya kembali terhenti di sana, dia masukkan ke dua tangan ke saku celana bahan yang di pakainya, dia menghembuskan nafas sesak nya sebelum mengatakan sesuatu yang membuat Naomi kembali menjatuhkan air mata nya.
"Ingat ini, bahwa sampai kapan pun aku akan tetap mencintai mu, dan aku akan menunggu mu waktu yang akan mengantarkan mu kembali pada ku, cepat atau lambat semua itu akan terjadi"
"Jaga baik-baik cincin itu, di sana ada nomor ponsel ku yang sengaja aku ukir"
"Selamat tinggal dan aku menunggu mu"
Rayden melanjutkan langkah kaki nya pergi dari sana, tanpa menoleh kembali pada sosok wanita yang kini sedang menangis itu, bukan netra nya yang menangis tapi hati nya yang hancur tak tersisa.
Hancur oleh sebuah penghianatan dan cinta yang tidak bisa di genggam, Naomi menatap tubuh tegap mantan bosnya itu saat dia dulu masih sekolah.
Tatapan sendu yang seakan ingin mengejar dan memeluknya dari belakang, namun lagi-lagi dia harus mempertahankan kewarasan nya untuk tidak melakukan hal gila itu.
Bukan hanya dia yang terkena imbas tapi semua orang akan merasakan dampaknya, yang paling menyakitkan adalah dia akan di anggap wanita murahan yang masih menjalin hubungan saat dia sudah memiliki suami.
Dan itu nantinya akan dia bawa sampai akhir hidupnya, membuat malu bagi anak nya yang memiliki ibu tukang selingkuh, meski pada kenyataannya yang pertama bermain api bukan lah dia, tapi orang tidak akan peduli itu semua dan akan tetap meng-judge diri nya dengan keburukan.
Tubuh tegap yang sejak tadi dia perhatikan itu kini sudah menghilangkan di antara kerumunan orang yang berlalu lalang di sana, kini dia memfokuskan pikiran pada kehidupan nya sebelum kenyataan yang baru saja menamparnya itu mengusik ketenangan hati nya.
Dia mendekati putra nya yang tampak kelelahan di sana, dia tidak ingin terus-menerus larut dalam permasalahan masa lalu nya.
"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Naomi pada Nathan yang sedang bermain-main.
Dia mengangguk antusias pada mama nya itu, bahkan dia tersenyum sangat manis, senyum yang belum pernah Naomi lihat selama ini.
Senyum Naomi mengembangkan di wajah suram nya, seakan senyuman putra nya itu adalah obat dari segala masalah yang dihadapi saat ini.
Saat ini Naomi hanya ingin melakukan apa yang membuat nya lebih tenang dia tidak ingin memikirkan permasalahan rumit di hidup nya, dia ingin memiliki momen yang tidak akan bisa di lakukan lagi di masa depan.