Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Istri yang tak di hargai



Henry menatap wajah wanita yang menjadi ibu dari anak nya itu sekilas lalu memalingkan wajah nya, dia bertanya kan tadi tapi apa yang dia tanyakan, kenapa dia mendadak salah tingkah saat melihat istrinya yang sudah mandi bahkan memakai baju yang bisa di bilang sangat seksi.


"Aku tidak mendengar apa yang kamu tanyakan?" kata Henry memecah keheningan.


"Dia kenapa kau panggul seperti itu?'


"Ketiduran jadi aku menaruh nya di pundak karena aku ingin memakai handuk" jawab Henry sambil merebahkan tubuh putra nya itu.


Saat Henry akan memakai kan baju Nathan, Naomi mengatakan bahwa dia yang akan mengurus putra dan menyuruh nya memakai pakaian nya juga.


Tak mau membantah henry pun berjalan menuju kamar mandi tak lupa baju yang di siapkan Naomi turut pergi bersama nya.


Naomi pun memakaikan baju untuk putra nya itu, tak butuh waktu lama Nathan sudah memakai baju nya, dia juga menyelimutinya sebatas dada.


Ceklek.


"kenapa masih di sini, kembali lah ke kamar" pinta henry pada istrinya itu, Naomi mengangguk tapi dia juga tidak beranjak dari tempat nya, dia masih berdiri di sana memperhatikan suaminya itu.


Mengerti diri nya di perhatikan dengan tatapan tak biasa pun Henry langsung membuyarkan lamunan Naomi yang tidak bergeser se inchi pun.


"Apa yang kamu tunggu kenapa masih di sini?"


"Aku menunggu mu!"


"Ke kamar lah lebih dulu aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan"


"Tapi---!"


"Jangan membantah ku" ucap Henry dengan nada yang dia tekan di sana membuat Naomi mau tidak mau harus menuruti perintah suami nya.


Tanpa menjawab lagi Naomi segera pergi dari tempat nya saat ini dia keluar dari kamar putra nya tanpa menoleh ke belakang lagi, pintu kamar juga tidak dia tutup.


Sementara Henry dia menatap kepergian istri nya itu tanpa ekspresi sama sekali, seakan apa yang dia katakan tidak berarti apa-apa bagi Naomi ....


Dia keluar dari sana menuju kamar putra keduanya yang tengah tertidur, dia melangkah mendekati Nick putra yang sempat dia ragukan.


Dia berjalan menghampiri nya dan duduk di pinggiran ranjang milik anak nya itu.


Cup.


"Selamat tidur Boy, papa mencintaimu"


Setelah memastikan putra nya itu tidur, dia keluar dari sana, di depan pintu dia merasa bimbang di sana, dia ingin masuk ke dalam kamar nya, tapi di sisi lain dia tidak ingin mengkhianati cinta nya pada Erika yang mulai terkikis.


Di tengah kebimbangan nya itu, ponsel yang ada di saku celananya berbunyi, dengan cepat Henry masuk ke dalam mencari ponsel milik nya yang tengah berbunyi, dia tersenyum senang saat tau siapa yang menghubungi nya meski malam telah larut.


"Me Amore"


"Kenapa lama sekali"


"Maafkan aku tadi aku di kamar Nick jadi aku tidak tahu kalau bidadari ku ini menghubungi ku"


"Kamu memang selalu bisa membuat ku melayang dengan kata-kata receh mu itu!"


"Tapi kamu suka kan!"


"Benarkah kamu merindukan ku?" tanya Henry pada kekasih gelapnya itu.


"Tidak usah perlu bertanya lagi, aku benar-benar ingin memeluk mu saat ini!"


"Sabar lah me Amore nanti kita pagi bisa bersatu, kita tunggu sampai papa merestui hubungan kita dan aku akan menceraikan wanita itu"


Nyes.


Hati istri mana yang tidak sakit saat mendengar ucapan suaminya yang seperti itu, ucapan lembut dan menenangkan yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya, kini dia mendengar kan itu semua tapi bukan pada nya tapi pada wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga nya.


Entah mengapa di sejak tadi gelisah saat menunggu suaminya yang tidak kunjung masuk ke dalam kamar mereka, Naomi pun berinisiatif untuk menyusul nya, tapi apa yang dia dapatkan hanya ucapan menyakitkan yang dia dengar.


Sebegitu mudahkan dia mengatakan akan menceraikan nya, kenapa juga dia ada di sini, kenapa malah menyusul suaminya yang sama sekali tidak pernah peduli pada nya.


"Tapi kapan?"


"Tunggu lah sebentar lagi, kamu harus bersabar demi cinta kita"


"Iya aku akan sabar"


"Besok aku akan menemanimu seharian, bagaimana!"


"Kita ke apartemen saja"


"Baiklah terserah mu saja me Amore aku milikmu!"


"Awas kalau kamu tidur bersama istri mu lagi jangan menyentuh nya, jika ingin cari aku, aku siap kapan pun kamu ingin di manjakan"


"Iya aku tidak akan menyentuh nya jika tidak kamu izinkan My queen!"


Naomi yang mendengar itu hanya bisa memejam kan mata yang sejak tadi tanpa henti mengalir air mata nya, hati nya sakit saat mendengar semua ucapan suami nya bersama selingkuhan nya.


Jika bukan karena papa mertua nya mungkin dia kan menyerahkan saat ini juga tapi itu tidak mungkin bukan, papa mertua nya itu sangat baik pada keluarga nya, jadi biarkan saja dia menumbalkan hati nya itu, sampai di mana dia benar-benar tidak sanggup lagi.


Dia akan menuntut cerai jika anak-anak nya sudah cukup umur, dia tidak bisa egois dengan hati nya sendiri, dia bisa saja membawa kedua anak nya itu pergi dari sana, tapi bagaimana dengan mental keduanya.


Apa lagi kedua anak nya itu bukan anak mama seperti kebanyakan anak di luar sana, mereka berdua anak papa yang begitu dekat dengan papa nya, dan itu bisa di lihat bagaimana kedekatan mereka.


Apa mungkin dia akan se egois itu memisahkan ayah dan anak, dia tidak ingin membuat luka hati di antara keduanya jadi biarlah dia saja yang merasakan bagaimana sakit hati ini.


Meski di sudut hati nya dia masih berharap ada cinta dari suaminya itu untuk nya, dan mau meninggalkan kekasih gelap nya itu.


Naomi berjalan kembali ke kamar nya, dia sudah tidak sanggup lagi mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut suaminya itu, kata-kata yang seharusnya untuk dia bukan wanita bersuami di luar sana.


Naomi pun merebahkan diri nya di atas kasur empuk yang sebenarnya adalah ranjang pesakitan untuk nya, ranjang untuk membuat keturunan keluarga Keith yang akan menjadi pewaris sah.


Tak butuh waktu lama Naomi kini sudah menyelam alam mimpi nya, mimpi yang harus nya indah itu menjadi malapetaka saat wanita lain bertahan di hati suaminya.


Sementara di kamar Nathan, Henry masih bersenda gurau dengan kekasih gelap nya, dia sama sekali tidak memikirkan kalau tiba-tiba ada yang memergoki nya sedangkan berbicara mesra dengan wanita yang bukan istrinya.


Benar memang kadang yang legal tidak semenarik yang ilegal dan itu lah yang kini di rasakan oleh mereka, baik Henry atau pun Erika.


Mereka sama-sama punya pasangan sendiri-sendiri tapi masih saja menjalani hubungan yang salah, bukan perkara nafsu tapi mereka menganggap cinta sejati mereka bukan lah pasangan mereka saat ini.