Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Semakin jelas



Naomi kembali ke rumah setelah tahu kemana pergi nya suami nya itu, dia menyesal karena sudah mengkhawatirkan suaminya yang ternyata buru-buru pergi ke tempat selingkuhan nya.


Semakin ke sini Naomi merasa bahwa suaminya itu sudah terang-terangan mengumbar perselingkuhan nya, dia juga yakin bahwa papa mertua nya itu pasti tahu apa yang di lakukan oleh putranya itu.


Dia juga tidak tahu alasan kenapa papa San masih belum mengatakan ini pada nya, atau mungkin papa San pura-pura tidak mengetahui semuanya dan membiarkan saja perselingkuhan anak nya itu.


"Kamu dari mana menantu ku?" tanya Mama Melly dengan lembut pada menantu kebanggaan nya itu, saat Naomi baru saja masuk ke dalam rumah.


"Hanya ingin menghirup udara segar saja Ma, aku permisi naik ke atas dulu ma"


Mama Melly mempersilahkan menantunya itu untuk naik ke lantai atas tempat kamar nya berada, tapi sebelum sampai di tangga ke lima dia berbalik arah menatap pada mertua nya.


"Aku sudah masak sarapan kesukaan papa nya anak-anak Nya, tapi di sudah pergi pagi-pagi sekali, jadi kita sarapan itu saja, aku membuat nya cukup banyak!" ucap Naomi lagi.


"Tidak apa, terimakasih kamu dengan suka rela mengurus keluarga ini"


"Tidak perlu seperti itu Ma, aku senang di beri kepercayaan seperti itu oleh Mama, aku permisi"


Mama Melly kini menatap wanita yang di pilihkan oleh suaminya itu untuk menjadi menantu nya, wanita cantik dengan hati yang sangat tulus, pandai menyesuaikan diri bisa dia percaya untuk menjadi pendamping putra nya yang keras kepala itu.


Bukan dia tidak tahu dari mana menantu nya itu pergi hanya saja dia lebih memilih percaya dengan apa yang di katakan oleh Naomi, dia tidak ingin membuat hati menantu nya itu kembali hancur karena pertanyaan dari nya.


Cukup dia merasakan sakit hati karena ulah putra nya, dia dan suaminya tahu kelakuan putra nya seperti apa tapi tunggu lah sebentar lagi dia pasti akan membebaskan nya dari rasa sakit yang di ciptakan putra nya.


Sementara Naomi di sana dia tidak menangis sama sekali, hati nya sudah kebal oleh rasa sakit yang di toreh kan suaminya itu, dia bertahan hanya untuk kesembuhan Nick, saat ini Nick masih harus melakukan segala macam pengobatan agar penyakit yang di deritanya itu bisa di pastikan benar-benar tidak akan muncul lagi di kemudian hari.


Dia bukan terlahir dari keluarga kaya, akan sangat susah untuk nya jika harus mengobati Nick jika dia menuntut cerai pada Henry, dia akan menganjurkan hak asuh atas ke dua putra nya itu dengan sedikit tabungan yang dia dapatkan saat ini bisa dia gunakan untuk menghidupi kedua anak nya.


Naomi yang sudah ada di dalam kamar nya memilih mandi dia harus mengantar putra pertamanya ke sekolah dan Nick juga ada jadwal pengobatan hari ini, dia ingin menemani putra nya itu hari ini.


Mungkin juga nanti dia akan membawa kedua anaknya ke wahana bermain yang ramah untuk Nick yang masih tidak di izin kan untuk bermain dengan bebas.


secepat mungkin Naomi membersihkan dirinya, dia juga sudah bersiap dengan dandanan yang sangat cantik.


Dia masuk ke dalam kamar putra pertamanya yang sudah siap untuk pergi ke sekolah, Nathan menghampiri mamanya dengan tangan yang di rentang kan, mengerti dengan apa yang di ingin putra nya itu, Naomi langsung menangkap dan membawa putranya itu ke dalam pelukan nya.


"My Boy harum sekali" puji Naomi sambil mencium tubuh putra nya, sementara Nathan yang di perlakukan seperti itu dia terkikik geli sambil berusaha menghalang-halangi mama nya yang membuat nya kegelian.


Naomi yang ingin masuk ke dalam kamar Nick pun menghentikan langkah nya saat Nick sudah di bawah keluar oleh baby sitter nya, dia pun mendekati mereka dan mencium pipi putra keduanya itu.


"Apa semua sudah siap?" tanya Naomi.


"Sudah Nona semua sudah saya masukkan kedalam tas"


"Bagus ayo kita turun"


Mereka pun turun menggunakan Lift yang ada di sana, ternyata di bawah semua orang sudah berkumpul hanya tinggal menunggu dia saja yang terakhir turun.


Dengan perasaan bersalah dia mendekati meja makan dan duduk di kursinya.


"Maafkan aku membuat kalian harus menunggu"


"Tidak apa, ayo kita makan saja sekarang" kata Mama Melly.


"Dia mana suamimu?" tanya Papa San pada Naomi dia tidak tahu kalau putranya itu tengah bersama dengan selingkuhannya.


"Dia sudah pergi tadi pa, seperti ada sesuatu yang tidak bisa di tunda lagi!"


Papa San mengerutkan dahinya, antara percaya dan tidak dengan apa yang di katakan menantu nya itu.


Sejak dia bangun dari tidurnya dia belum sala sekali mengecek ponsel nya jadi dia tidak tahu akan yang terjadi, dia buka nya ponsel yang sudah ada di tangan nya, di sana dia tahu kemana perginya putra kurang ajar nya itu.


Dia juga menatap ke arah menantu nya itu, dia juga tahu kalau Naomi tadi menyusul suaminya itu tadi tapi dia memilih tidak mengatakan apa pun pada nya bahkan kini yang dia lihat tidak ada tanda kesedihan di mata menantu nya itu.


Dia juga yakin kalau Naomi sudah tahu perihal Henry yang selingkuh di belakang nya, entah lah dia juga tidak bisa mengambil sikap saat ini, mungkin dia akan benar-benar menyuruh mereka bercerai saja, dari pada hanya kesakitan yang mereka berdua rasakan.


yang terpenting bagi nya saat ini adalah tujuan utama nya sudah tercapai jadi terserah Henry mau berbuat seperti apa, memang terdengar tidak adil bagi Naomi yang hanya dia jadikan sebagai mesin pembuat anak, tapi itu semua dia lakukan agar kekuasaan keluarga nya tidak di ambil alih oleh keluarga Leneva.


Dia juga sudah mempersiapkan kehidupan yang lebih baik untuk wanita yang sebenarnya tidak ingin dia lepas dari keluarga nya, tapi setelah sekian tahun dia sadar bahwa apa yang dia kendali tidak semua berjalan mulus harapan nya ingin membuat Henry melupakan Erika hanya sia-sia saja.


Cinta antara putranya itu dengan putri musuh nya itu benar-benar kuat dan sulit untuk di pisahkan bahkan ancaman yang di berikan pada Henry yang akan menghapus nya dari kartu keluarga pun tidak menyurut kan niat Henry untuk tetap bersama Erika.


Cinta mereka terlalu kuat untuk di pisahkan.