
Kini setelah menumpahkan segala rasa yang selama ini mengekang hati nya sedikit demi sedikit rasa itu tidak lagi terasa berat di hati nya.
Menceritakan tentang apa yang selama ini dia rasakan ternyata memberikan kelegaan dalam hati nya.
Tentang penghianatan yang secara terang-terangan di lakukan oleh suaminya, Siska yang mendengar nya saja sampai meneteskan air mata nya, dia membayangkan jika dia yang ada di posisi sahabat nya itu apa dia mampu bertahan selama itu.
memang kadang yang terlihat indah di luar belum tentu indah juga di dalam nya, siapa yang tidak ingin menikah dengan pria tampan dan bergelimang harta serta penyayang seperti Henry.
Tapi apa yang di alami Naomi belum tentu orang lain tahu, semua hanya sandiwara pernikahan yang terskenario dengan baik oleh sutradara sekaligus pemain handal yang akting nya tidak perlu di ragukan lagi.
"Sudah jangan terus menangis dia yang sama sekali tidak pernah menganggap mu ada lalu kenapa kamu saat kamu sudah bisa pergi dari nya, kamu malah menangisi nya"
"Itu karena aku mencintai nya" jawab Naomi lirih.
"Apa kamu masih ingin kembali pada nya?"
"Entahlah, di sisi lain aku ingin pergi tapi di sisi lain nya aku masih ingin terus berada di sisi nya"
"Tanya kan semua pada hati mu, jika dia benar-benar mencintai mu, dia akan datang pada mu begitu juga sebaliknya"
"Entah apa nanti keputusan mu aku akan tetap mendukung mu"
"Terimakasih, kamu yang terbaik"
"Tapi ini semua tidak gratis"
"Mau apa? aku masih Nyonya muda Keith jadi aku bisa menuruti apa yang kamu inginkan, ayo katakan kamu mau apa?"
"Sombong sekarang ya, tapi aku senang kamu bisa seperti sekarang, setidak nya kamu bisa bebas dari Mama tiri mu yang matre itu"
"Aku bersyukur untuk itu, tapi aku juga kasihan pada papa, dia sendirian saat ini"
"Nanti kita ke sana, sekarang ayo traktir aku makan di restoran yang aku mau"
"Baik Tuan putri" ucap Siska sambil memperagakan cara hormat para putri kerajaan.
"Hahahaha"
Mereka berdua keluar dari ruangan itu, di salon milik Naomi itu di penuhi oleh para pelanggan dari berbagai kalangan, di juga punya beberapa salon kecantikan yang biasa di datang suku bersama Mama mertuanya atau juga dengan adik ipar nya.
"Lihat mereka semua orang sangat puas dengan pelayanan salon ini" ucap Siska dengan bangga.
"Itu semua berkat kerja keras mu sahabat ku"
puji Naomi memeluk sahabat nya.
"Berkat mu juga, aku hanya menjalankan amanah mu saja"
"Ini semua hasil dari kerja keras kita, berdua meski aku hanya bisa tunjuk-tunjuk saja"
"Hahahaha, kau benar sekali"
"Aduuuhh"
"Hey kalau jalan pakai mata" hardik Siska pada seseorang yang menabrak nya.
"Nyonya anda mau kemana?" tanya Zayn saat melihat Nyonya nya itu keluar dari salon kecantikan, tanpa memperdulikan ucapan Siska yang secara tidak sengaja dia tabrak.
"Aku ingin pergi makan siang bersama sahabat ku,----"
"Tidak hanya buta, ternyata dia tuli juga" umpat Naomi pada Zayn bahkan Siska menunjuk tepat di hadapan nya.
Kenapa begitu,
Ya tentu saja jika sampai Naomi celaka atau lecet sedikit saja, bisa dia pasti kan kalau dia akan mendapatkan berpuluh-puluhan kali lipat dari apa yang di alami oleh Naomi.
"Kenapa pengawal keluarga Keith masih saja mengikuti mu, apa dia tidak punya pekerjaan lain" ucap Siska saat menyadari bahwa pria yang menabraknya tadi adalah salah satu pengawal yang menjaga sahabat nya.
"Sudah lah biar kan saja, dia hanya menjalankan tugas nya, untuk mengikuti kemana pun aku pergi"
"Tapi untuk apa mereka melakukan itu, bukan kah kalian akan segera berpisah"
"Aku tidak tahu, jadi biarkan saja itung-itung punya body guard plus sopir gratis" ucap Naomi dengan enteng nya.
"Bagaimana kalau nanti dia minta gaji pada mu"
"Dia masih berada di bawah naungan perusahaan The Alessandro corp, jadi dia di gaji oleh Papa San"
"Terserah lah, yang penting ayo kita makan aku sudah sangat lapar"
"Ayo"
Mereka keluar dari pusat perbelanjaan itu menuju restoran yang di tuju oleh Siska, butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai di sana, restoran dengan pemandangan alam yang di pilih Siska memang sangat memanjakan mata tapi juga butuh waktu yang lama untuk sampai di tempat ini.
"Bagaimana?" tanya Siska yang menanyakan pendapat Naomi tentang restoran yang di pilih nya.
"Sangat cocok untuk menenangkan diri dari kekalutan yang ada, sekaligus bisa mengenyangkan perut"
"Ayo saat nya kita makan"
Siska pun menarik tangan Naomi agar mengikuti nya masuk ke dalam, mereka mencari tempat yang bisa melihat pemandangan secara langsung.
Setelah menemukan nya, mereka duduk sambil memesan makanan nya, sedangkan dua pengawal nya juga ikut duduk di bangku yang berbeda tapi tidak jauh dari Naomi.
Melihat itu pun Naomi memanggil mereka agar bergabung saja dengan mereka.
"Tapi Nyonya"
"Tidak ada tapi-tapian atau aku akan mengatakan pada papa mertua jika kamu tidak benar-benar menjagaku"
Zayn yang mendengar itu tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang di katakan oleh Naomi dari pada berakibat fatal pada karir nya sebagai seorang pengawal.
Mereka pun memesan menu makanan yang mereka ingin dan mulai memakan nya, tidak ada jarak di antara mereka saat ini.
Mereka layak nya seorang sahabat yang kembali bertemu setelah sekian lama berpisah, meski sesekali perdebatan antara Siska dan juga Zayn yang sama-sama tidak mau mengalah satu sama lain.
Zayn yang selama ini mengikuti kemana perginya Nyonya muda nya itu pun baru saat ini bisa melihat tawa bahagia di wajah nya, tawa kebebasan seakan Zayn merasa Nyonya nya itu tengah terbebas dari sangkar emas yang selama ini membelenggu nya.
Apa sebegitu menderita nya kan Nyonya muda nya itu, sampai dia sendiri merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Nyonya nya itu.
Menderita akibat ulah dari suaminya yang masih mencintai bahkan kini mempunyai anak dari selingkuhan nya.
Zayn berharap jika jalan satu-satunya kebahagiaan Naomi adalah perpisahan dengan Tuan nya maka Zayn lah orang pertama yang akan mendukung nya.
Terlepas dari apa pun itu dia akan selalu menjadi Nyonya nya itu meski dengan cara yang berbeda.
Semoga saja Tuan besarnya itu masih meminta nya untuk menjaga Nyonya muda nya meski sudah tidak lagi menjadi bagian dari keluarga Keith.
"Naomi kamu di sini?"