Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Pisah ranjang



Naomi terbangun dari tidurnya saat pagi sudah menjelang, dia menatap ke arah tempat tidur nya yang ternyata kosong, bukan seperti bekas di tinggal penghuni nya memulai hari tapi tempat itu masih rapi seperti tidak di tempati.


Dia terbangun untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat tidak salah, dia duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menatap ke arah tempat tidur suaminya.


Kini jelas sudah bahwa suaminya itu tidak tidur di kamar dan benar-benar menurut apa yang di katakan kekasih gelap nya itu, dia tersenyum getir di sana, bagaimana bisa di mengorbankan dirinya untuk pria yang sama sekali tidak menghargai nya.


Dia kembali mengingat semua yang terjadi pada nya dulu, sewaktu belum menikah dengan suaminya itu, dan juga bukan dia yang menawarkan pernikahan ini tapi suaminya itu sendiri yang meminta nya untuk menjadi istri nya lalu kenapa jug dia yang menyakiti hati nya.


Bukan dia juga yang ingin menjadi orang ketiga meski dia tahu bahwa hubungan nya dengan suami nya itu lebih kuat di mata hukum di bandingkan dengan wanita itu, tapi hukum bisa berubah saat dia bercerai dengan suaminya.


Hukum bisa di atur tapi tidak dengan cinta bukan, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita bukan, cinta berasal dari hati yang saling bertautan satu sama lain.


Dan dua hati itu pula yang harus saling menguatkan satu sama lain, karena pada hakikatnya cinta adalah tentang dua hati yang saling bertautan, jika hanya satu hati saja iku akan mendatangkan rasa sakit yang tidak bisa di jabar kan dengan kata-kata.


Mungkin itu lah yang kini di rasakan oleh Naomi, dia juga bukan wanita yang mencintai suaminya sedalam itu, dia masih terus belajar mencintai dan menerima segala tentang suami nya, tapi apa yang dia dapatkan suaminya itu sama sekali tidak melihat ke arah nya.


Andai mereka saling mencintai satu sama lain, pasti nya mereka akan menjadi pasangan yang serasi dan membuat itu semua orang yang menyaksikan.


Tapi lihatlah semua jauh dari anggan nya, jangan kan untuk mencintai nya menatap nya penuh cinta pun tidak pernah dia rasakan, tapi justru tadi malam dia menyaksikan sendiri dan mendengar bagaimana suaminya itu memperlakukan nya dengan penuh cinta pada kekasih nya meski hanya lewat sambungan telepon saja.


Naomi menghela nafas lelah, dia bangkit dari duduknya menuju kamar mandi, dia tidak bisa terus seperti ini, yang ada hanya membuat nya bertambah emosi dan dia tidak mau semua orang tahu tentang apa yang dia rasakan.


Cukup dia saja yang tahu tentang semua yang dia rasakan, setelah membersihkan dirinya Naomi, masuk kedalam kamar putra nya itu, di tangkap nya oleh indera penglihatan nya bahwa suaminya itu tengah tertidur sambil memeluk putranya itu.


Dia sungguh tidak sampai hati jika harus memisahkan mereka berdua, terlebih Nick yang sejak dalam kandungan sangat suka di manjakan oleh papa nya.


Naomi mendekat ke arah suami dan Nathan yang masih terlelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


"Suami ku bangun lah" ucap Naomi sambil menepuk lengan suaminya.


Henry menggeliat di sana, perlahan dia membuka mata nya, saat mata itu terbuka dia langsung di sajikan wajah teduh milik istrinya itu, wajah ayu yang bisa membuat setiap laki-laki yang menatap nya ingin menikahi nya saat itu juga.


Tapi entah lah hati nya sama sekali tidak merasakan getaran cinta untuk ibu dari anak-anaknya.


"Apa kamu akan ke kantor hari ini?" tanya Naomi yang berdiri di samping suami nya.


Dia meminum nya sampai habis lalu memberikan nya kembali pada istrinya itu.


"Kenapa tidur di sini?" tanya Naomi meski dia sudah tahu alasan nya, dia ingin tahu alasan apa yang di berikan suami itu pada nya.


"Aku ketiduran di sini dan terbangun hampir menjelang pagi"


"ya sudah cepat mandi jika ingin ke kantor, bangun kan Nathan juga nanti baby sitter nya akan membantu nya mandi"


"Biar aku mandi kan tidak perlu pelayan yang memandikan nya"


" Terserah mu saja, aku akan turun menyiapkan sarapan" pamit Naomi yang kini berjalan keluar dari kamar putra nya


Henry diam tanpa menyahuti apa yang di katakan istri nya itu, dia hanya menatap kepergian nya tanpa tahu apa yang dia pikirkan.


Mereka pun menjalankan tugas nya masing dan kini mereka sudah siap untuk pergi ke tempat tujuan masing-masing, di mana Henry juga dia yang mengantar putra pertamanya itu berangkat ke sekolah.


Setelah itu dia langsung menuju apartemen milik nya, kekasihnya itu pasti sudah ada di sana, menyiapkan sarapan pagi yang tidak dia dapat kan tadi malam jadi dia akan memakan nya untuk sarapan saja.


Mengenai rasa pasti tidak akan ada beda di nikmati kapan pun yang dia inginkan, dengan langkah lebar Henry turun dari mobil nya bahkan dia berlari seakan dia di kejar deadline yang harus di serahkan saat ini juga.


Sampai di lantai tempat tinggal nya dia langsung masuk ke dalam bahkan jas yang dia gunakan dia lemparkan begitu saja di sofa ruang tamu, dia berjalan menuju kamar utama di mana kekasih nya itu tengah menunggu dirinya.


Sampai di sana dia membuka pintu yang hanya tertutup sedikit itu dengan tergesa-gesa, saat pintu terbuka lebar netra nya langsung di suguhkan oleh pemandangan yang menggugah sisi kelelakian bangkit tanpa bisa dia kendali kan lagi.


Dia langsung menerkam mangsanya yang sudah siap untuk melakukan aktivitas yang sangat mereka rindu kan, apa lagi jika bukan kegiatan panas yang harusnya mereka lakukan dengan pasangan mereka.


Namun mereka justru memilih makanan yang ada di luar rumah dari pada hidangan di rumah, bukan bosan tapi sudah tidak berminat.


Mereka berdua lebih memilih melakukan dengan orang yang benar-benar milik hati bukan raga nya saja.


Tanpa mau menunggu lebih lama lagi Henry langsung merobek lingerie berwarna merah menyala yang di gunakan untuk menutupi keindahan alam milik wanita yang selalu membayangi hari nya.


Di Raup nya bibir itu dia menyesap nya saat kuat seakan tidak ada lagi hari esok untuk menikmati keindahan yang di miliki oleh Erika, wanita yang menjadi cinta pertama bagi seorang Henry, yang akan di jadikan sebagai cinta sejati nya suatu hari nanti.