Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Bertemu



Henry kini berada di rumah milik adik ipar nya, dia duduk sambil mengawasi keponakan nya yang sedang bermain, bukan mengawasi tetap nya karena hanya raga nya saja yang ada di sana, pikiran melayang kembali ke masa lalu, di mana dia yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang sebenarnya dari laki-laki yang dia sangka ayah tersebut.


Dia kan berbaik hati jika ada mama nya, sejak dulu dia menyadari nya, tapi baru setelah dia tahu yang sebenarnya itu lah baru dia membenarkan apa yang selama ini menjadi kemelut di hati nya.


Saat ini pertanyaan terbesar nya adalah, apa yang sebenarnya di rencanakan, mulai papa Alessandro yang tidak pernah mengizinkannya bercerai dengan Naomi saat masih menjalin hubungan terlarang nya dengan Erika, tapi sekarang justru Alessandro lah yang kekeh memisahkan mereka berdua.


Andai dia di berikan kesempatan untuk bertemu dengan Naomi, dia ingin berbicara hati ke hati, tentang bagaimana hubungan mereka, tidak ingin Henry kalau dia sudah menandatangani surat perceraian itu, lalu apa yang dia harapkan saat ini.


Apa jangan-jangan adik tirinya itu menginginkan istrinya, sama seperti ayah nya yang mencintai istri orang, mungkin saja benar bukan melihat kegigihan papa San yang ngotot tidak ingin memisahkan mereka tanpa memberikan pilihan pada mereka berdua, pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui dsn sedang di rencanakan.


Seingatnya, papa San sama sekali tidak pernah menolak keinginan Daniel apa pun itu, dia yang menyadari nya tanpa sadar menggebrak meja yang ada di depan nya, membuat Delysa yang sedang bermain pun terjingkat kaget.


Dia tidak menangis, hanya air mata yang keluar dari mata indah nya. Jessica yang sedang berada di dapur pun berlari menghampiri mereka berdua, tatapan nya tidak menemukan apa pun di sana, sampai dia melihat putri nya menangis tanpa suara.


Dia langsung memeluk nya, memberikan keterangan pada Delysa.


"Apa yang terjadi kak?"


"Maafkan Om sayang" ucap nya penuh sesal pada Delysa yang menunduk kepalanya karena takut dengan sikap Henry.


Delysa memeluk erat leher Jessica, dia menyembunyikan wajah dia sana, Henry yang menyadari ketakutan keponakan nya pun membelai rambut keponakan, yang masih menangis.


"Maafkan Om, Om tidak sengaja"


"Bawa dia ke kamarnya"


"Cerita kan pada ku?"


"Nanti kakak cerita kan, sekarang tenangkan dia dulu, Lysa ketakutan pada ku"


Jessica yang mendengar itu pun, bergegas dari sana, pasti ada yang tidak beres hingga kakak nya itu lepas kendali.


Henry berjalan menuju kolam renang yang ada di belakang rumah itu, dia melepaskan baju nya lalu menceburkan diri nya ke dalam sana, byur.


Sensasi dingin menjalar di seluruh tubuh nya, mendinginkan suasana hati nya yang sedang tidak baik-baik saja itu, apa mungkin yang di pikirkan itu benar-benar terjadi-jadi, lalu bagaimana dengan kedua anak nya itu, apa saat ini mereka tidak lagi mencari nya, apa anak-anak itu bisa tidur tanpa dia sisinya.


Henry keluar dari dalam air, dia mendekat ke arah Jessica yang kini berada di tepi kolam bersama suami nya, dia mendudukkan dirinya di sana, menenangkan hati nya yang tengah berkecamuk itu.


"Apa yang kamu pikirkan kak, jangan merasa sendiri, kita ada di sini bersama kakak"


"Aku tidak habis pikir dengan semua itu, bagaimana kalau Daniel menggantikan posisi ku seperti dia yang menggantikan posisi papa kandung kita"


"Itu tidak akan terjadi lagi putra ku?"


Deg.


Tatapan mereka bertemu, ada rasa membuncah yang tidak bisa mereka ungkapkan, mengingat mereka yang terpisah puluhan tahun lamanya, apa lagi Jessica yang saat itu masih berusia satu tahun.


"Apa kalian tidak merindukan ku?"


Banyak orang yang tidak akan percaya dengan apa yang di katakan, apa lagi tragedi itu sudah tenggelam di makan jaman yang sudah berubah.


Ketiga nya saling memeluk erat satu sama lain, menumpahkan rindu yang tidak pernah ada, Paul mendekati putranya yang menatap ke arah nya, dia mengangguk kepala nya di sana.


Dia yang dulu menikah karena sebuah misi pun kini tak lagi bisa lepas dari jerat cinta putri sahabat ayah nya itu, jalan seseorang menemukan cinta sejati nya tidak pernah sama, tapi semua orang berbahagia atas cinta mereka.


"Kamu hebat, pilihan papi tidak pernah salah kan?"


Senyum di bibirnya Morgan saat mendapatkan pujian dari papi nya, sesuatu yang sangat dia banggakan jika mendapatkan sanjungan dari papi nya.


"Jangan terlalu lama memeluk istri ku"


Mendengar itu, Henry semakin mengeratkan pelukannya pada adik nya itu, sekali-kali dia bisa menggoda anggota kepolisian itu bukan, kapan lagi jika bukan sekarang dan dia pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Merusak suasana saja" ucap Henry yang melepaskan pelukan mereka, saat melihat wajah jengkel aduk iparnya.


"Apa aku sudah punya cucu?" tanya samuel pada Jessica, sambil terus menatap wajah putri nya yang mengingatkan dia pada sosok wanita yang amat dia cintai itu.


"Papa punya tiga cucu, dua laki-laki yang sama-sama menyebalkan seperti papa nya dan satu cucu perempuan yang sangat cantik sama seperti ku yang cantik dan menggemaskan ini"


Henry pura-pura tidak mendengar apa yang di katakan oleh adik nya itu, dia tidak ingin membuat nya marah yang pasti akan sangat menyulitkan nya.


"Di mana dia?" tanya Samuel pada Jessica yang masih bergelayut manja pada papa nya yang baru saja dia temui itu, entah tidak ada kecanggungan sama sekali yang di rasakan Jessica.


Mungkin benar kata pepatah yang mengatakan bahwa darah lebih kental dari pada air, mereka bisa langsung sedekat itu karena darah mereka sama.


"Dia sedang tidur di kamar, tadi ada seseorang yang sedang mengamuk, dan cucu mu itu ketakutan pada nya" adu Jessica pada papa nya.


"Apa benar itu Henry?"


Henry mengangguk, dia menyadari nya semua yang dia lakukan yang membuat keponakan itu ketakutan.


"Aku mengingat semua nya pernah menghantui pikiran ku selama ini, tapi aku tidak pernah mengatakan nya, aku menganggap nya hanya sebagai rasa yang aku sendiri tidak bisa menjabarkan nya"


"Apa kamu mencintai istri mu?"


Sekali lagi Henry mengangguk saat di tanya oleh papa nya mengenai perasaan nya pada Naomi, dia ingin memperjuangkan cinta nya tapi cap tangan nya sudah tertera di kertas tersebut.


"Kamu tidak akan bercerai, serahkan semua pada ku, aku akan mengurus semuanya" ucap Paul


"Kita rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita, apa kamu siap Henry?"


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan lupa mampir ke karya teman ku juga ya 👇👇👇👇👇👇