Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Masih



Papa San tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh anak dan menantunya itu, bisa-bisanya mereka melakukan kegiatan panas di tengah orang sedang sibuk berlalu lalang untuk menghadiri rapat.


Bagaimana rapat bisa berjalan dengan baik jika yang memimpin rapat saja masih sibuk dengan urusan ranjang nya.


Ya Papa San langsung mengerti dengan apa yang terjadi di dalam sana, apa lagi saat melihat wajah panik dari asisten sekaligus sekretaris putra nya.


Setelah menguasai dirinya di memutuskan untuk pergi dari ruang kerja putra nya itu, dan dia sendiri lah yang akan memimpin jalan nya rapat kali ini, dan itu sedikit membuat asisten yang bernama Pedro itu bukan nya bernafas lega malah di bingung setengah mati.


Bukan hanya dia saja pasti nya nanti semua orang akan merasakan apa yang dia rasakan saat berada satu ruangan dengan Tuan besar nya.


Dengan langkah kaki yang sedikit enggan Pedro pun terpaksa mengikuti tuan besar nya untuk memimpin rapat kali ini, sedangkan asisten Papa San sendiri di pergi menemui client yang sudah di jadwal akan bertemu dengan Tuan nya yang terwakili oleh nya karena suatu hal yang terjadi di luar kehendak mereka.


Ya apa lagi kalau bukan pergumulan panas yang terjadi di salah satu ruang kerja di gedung pencakar langit.


Sampai rapat selesai Papa San kembali ke sana ada sesuatu yang ingin di bahas dengan putra nya itu, tapi lagi-lagi dia harus menahan kekesalannya saat mereka ternyata belum juga keluar dari ruangan tersebut.


Dia tidak habis pikir waktu meeting menghabiskan waktu sekitar satu sampai dua jam dan saat ini meeting sudah selesai tapi new belum juga keluar dari sana.


Seberapa hebat pertarungan mereka sampai sekarang belum juga menyelesaikan kegiatan panas nya.


Dengan wajah penuh kekesalan papa San pergi dari sana menuju ke ruangan nya sendiri, meski kesal di juga berharap bahwa putranya benar-benar mau berubah dan tidak lagi berhubungan dengan wanita penggoda itu.


"Setelah Nyonya mu keluar dari sana suruh suami itu untuk menemui ku di ruang kerja" perintah papa San pada pengawal menantu nya itu.


"Baik Tuan Besar"


"Pergi ke kantin dan makanlah, jangan hiraukan mereka"


"Baik Tuan"


Mereka secara bersamaan keluar dari sana dan berpisah di depan pintu lift yang mana papa San naik ke lantai atas dan mereka turun ke lantai dasar tempat kantin berada.


Sementara di dalam kamar tepat nya di sofa yang menjadi saksi pergumulan di tengah panas nya matahari yang menyengat kulit di luar sana, namun itu tidak menjadi masalah untuk menuntaskan hasrat yang telah lama terpendam.


Bahkan saking hebatnya pergumulan yang mereka lakukan, mereka langsung tertidur setelah gelombang itu datang menghampiri kedua nya.


Mereka saling memeluk satu sama lain hingga pertemuan kedua kulit insan itu kembali membangun sesuatu yang beberapa saat yang lalu baru saja mereka dapatkan.


Naomi yang tadi nya pulas dalam pelukan suami mu pun menggeliat saat merasakan sesuatu yang mengganggu tidurnya, bukan nya mereda sesuatu itu malah menunjukkan pesona nya yang belum bisa dia lupakan.


Gerakan demi gerakan itu bukan hanya membangunkan benda yang baru saja tertidur itu, tapi juga membangun kan sang empunya yang kini dengan cepat naik ke tempat yang kini sudah di kembalikan oleh sang pemilik kontrakan nya.


"Aaahhh"


Suara itu kembali terdengar saat Naomi ingin beranjak dari sana, dia merasa ada sesuatu yang akan akan kembali membawa nya ke angkasa.


"Berhentilah bergerak kalau tidak ingin aku mengulang nya lagi atau kamu memang sengaja menggoda ku" ancam henry saat Naomi terus bergerak menggesekkan tubuh nya di area sensitif nya.


"Nama ada aku seperti itu, itu mu saja yang baperan " sanggah Naomi yang kini tidak lagi menggerakkan anggota tubuh nya.


Tapi bukan nya mengendur justru menampakkan kegagahan nya, Henry yang sudah tidak lagi bisa menahan dirinya pun tanpa aba-aba langsung melesakkan nya menembus pertahanan istrinya itu yang juga sudah sedikit ah sudah lah tidak perlu di jelaskan kalian semua pasti paham soal ini.


Oke, mari kita lanjutkan.


Mereka pun kembali mengulang apa yang baru saja mereka mulai sampai di mana henry menatap jam dinding yang tergantung di atas pintu rumah kerja nya.


Dia pun membulatkan mata nya saat mengingat kembali ada rapat yang harus dia hadiri dan kini sudah terlewat dari jam yang telah di tentukan, bahkan gerakannya juga terhenti dan itu membuat Naomi sedikit bisa mengambil nafas nya dari serangan bertubi-tubi yang dia terima dari suaminya.


Henry yang sedang berada di tengah pun tidak mau mundur sama sekali meski dia tahu masih butuh waktu yang cukup lama untuk menuntaskan hasrat nya itu.


Terserah lah apa jadi nya dengan meeting itu yang pasti dia masih ingin dan masih sangat menikmati pergumulan panas dengan sang istri.


Sedangkan Naomi dia sedikit menyesal telah datang ke kantor suami nya, dia yang tadi nya sangat kelaparan itu langsung di ajak makan siang bersama di dalam ruang kerja yang hanya ada mereka berdua di sana, dan tentunya dengan menu yang berbeda, serta rasa yang tak sama pula.


Cukup lama Naomi menunggu suaminya yang tidak kunjung menggerakkan tubuh nya pun membuat nya harus memprotes suami itu agar segera menuntaskan nya.


Saat ini perut nya lapar dan dia butuh makan yang bisa mengenyangkan perut nya, sebab terong tunggal yang di makan sejak tadi itu tidak bisa mengenyangkan perut nya, tapi justru mengenyangkan yang lain nya.


"Cepat selesaikan aku sangat lapar sekali, dan aku mau makan nasi bukan makan terong mu itu"


Eeehhh.


Apa tadi istri nya itu menyebutkan kan apa pada kebanggaan nya itu, terong yang benar saja, kenal harus terong yang akan lemas jika terkena air panas.


Padahal kepunyaan itu tidak akan lemas jika belum mengeluarkan air putih pekat yang membuat nya merasa di bawah terbang ke ketinggian.


"Akan aku perlihatkan yang kau sebut terong ini akan membuat mu tidak lagi bisa berjalan, kamu terlalu meremehkan suami mu ini"


Henry benar-benar melakukan apa yang di katakan tadi, sejak tadi tidak ada yang keluar dari mulut Naomi selain suara merdu yang semakin membakar gairah Henry untuk membawa istri itu mendapat puncak tertinggi nya.


Deru nafas yang menggema di ruangan itu seakan menjadi saksi dari kisah yang mungkin akan menjadi sesuatu yang tidak akan mungkin mereka berdua lupakan.