Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Pilihan



Naomi sampai di rumah langsung menuju kamar yang selama ini dia tempati, dia menarik koper yang dulu sempat di beli nya, saat akan pergi berlibur seperti janji suami nya itu, tapi kini rupa janji tinggal lah janji suami nya itu tidak pernah berubah dan tetap menjalin hubungan dengan cinta pertama nya itu.


Dia memasukkan baju yang dulu di bawah dari rumah nya, Naomi dia tidak lagi bisa menerima semua perlakuan suaminya, keputusannya sudah bulat dia tidak lagi ingin berada dalam pernikahan palsu yang selama ini dia jalani.


Dia merasa segala perjuangan nya sia-sia saja, karena hanya dia saja yang berjuang tapi tidak dengan suaminya, lalu apakah cinta bisa bertahan jika hanya satu pihak saja yang berjuang.


Dia melepaskan semua barang-barang pemberian dari suami dan juga mertua nya itu, dia tidak ingin membawa apa pun yang akan membuat nya terasa berat untuk melupakan semua nya.


Bahkan dia menggangu baju dengan dress yang pertama kali dia pakai setelah resmi menjadi istri Henry, dia keluar dari kamar nya menuruni tangga yang ternyata mama mertua dan juga papa mertua nya itu sudah ada di bawah.


"Ada apa ini, kamu mau kemana kenapa membawa koper segala?" tanya Mama Melly yang tidak mengetahui apa pun.


Sedangkan Naomi tidak menjawab dia hanya diam saja, bingung apa yang akan dia katakan pada mereka semua.


"Duduklah, kita bicarakan ini sekarang juga, sebentar lagi Henry akan pulang"


"Ada apa ini pa?"


"Tunggu putra mu datang, tanyakan pada nya"


Brak.


Pintu mobil di tutup secara kasar oleh Henry yang kini langsung masuk kedalam rumah, dia menghampiri semua orang yang kini telah berkumpul di sana.


"Sayang" panggil nya saat duduk di samping istrinya, tapi dengan cepat Naomi beranjak dari duduk nya, dia memilih duduk di singel sofa yang ada di sana.


Apa yang di lakukan nya itu cukup menarik perhatian dari mama mertua yang kini menatap ke arah suami nya.


"Apa yang terjadi, tadi pagi kalian berdua masih lengket seperti perangko dan kini bertengkar lagi,sampai mau pergi dari rumah"


Mereka berdua sama-sama diam tidak ada yang menyahuti apa yang tanyakan oleh Mama Melly.


"Pa ada apa?" tanya nya pada suami nya.


Papa San menyorot putra nya itu yang hanya bisa terdiam saat di sidang oleh Mama nya berbeda jika dia yang melakukan dia akan terus membantah hingga membuat tekanan darah nya naik.


"Dia menghamili selingkuhannya" kata papa San singkat padat dan jelas.


"Apa"


Henry semakin tidak berani mengangkat wajah nya saat berita ini sampai di telinga mama nya, dia lupa kalau segala aktivitas nya itu kini di pantau oleh kedua orang tua nya.


Tak terhitung berapa banyak anak buah papa nya yang di turun kan untuk mengawasi setiap aktivitas orang-orang terdekat nya.


"Benar itu Henry?"


"Jawab aku jika aku sedang bertanya" bentak Mama Melly yang sudah tidak lagi punya kesabaran untuk menghadapi putra pertamanya itu.


"Iya ma"


Mama Melly memejamkan mata nya saat mendengar pengakuan dari putranya itu, jika sudah seperti ini semakin sulit mereka untuk memisahkan ke dua nya, mereka sudah memiliki anak yang menjadi pengikat hubungan mereka.


"Pilihan nya hanya dua gugurkan kandungan nya lalu pergi kamu dari sini dan jangan pernah lagi kembali, urus perusahaan yang ada di Australia dan menetap di sana bawa anak dan istri mu"


"Sayang apa yang kamu katakan"


"Aku yang harus nya tidak pernah ada di sini ma, biarkan dia bahagia dengan pilihan nya"


"Tapi bagaimana dengan kamu"


"Aku akan kembali ke asal ku ma, terimakasih sudah menerima ku di sini dengan baik, aku titip kedua putraku"


"Meski aku ingin membawa nya tapi aku tidak yakin Mama dan Papa mengizinkannya"


"Baik lah, papa akan urus perceraian mu, san kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hakim"


"Tidak perlu pa, gunakan saja untuk keperluan kedua putra ku, aku tidak bisa memberikan mereka apa-apa"


"Mereka sudah ada sendiri, lagi pula mereka tidak akan kekurangan apapun di sini.


"Tinggal lah di apartemen yang kamu ingin Ferry akan mengurus nya untuk mu"


"Tidak, dia istri ku dan aku tidak mengijinkan nya pergi dari sini"


"Lalu bagaimana dengan janin yang ada di rahim wanita itu, bukan nya dia juga menuntut pertanggungjawabanmu"


"Maka nya jangan suka kencing sembarangan"


Skak.


Henry tidak lagi bisa menjawab, dia sudah kalah telak, tidak apa lagi alasan yang bisa di pakai untuk mempertahankan istri nya.


Semua orang terdiam di sana tanpa ada yang berani membantah apa yang baru saja di katakan oleh papa San.


Kini Naomi berjalan menghampiri Papa dan Mama mertua nya yang dengan tulus menyayangi nya.


"Naomi minta maaf sama papa dan juga mama keren telah gagal menjadi istri yang baik untuk putra papa sama Mama" ucap Naomi yang kini berada di depan Mama Melly dengan air mata yang terus mengalir.


"Biarkan suami Naomi bahagia dengan pilihan nya ma, pa"


"Selama ini dia sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik tapi dia tidak bisa mencintai ku, cinta dan hati nya hanya untuk cinta pertama nya, jadi seberapa pun aku, Mama dan Papa berusaha memisahkan cinta mereka, tidak akan berhasil karena cinta mereka sangat kuat"


"Biarkan dia bahagia dengan cara nya sendiri dan aku janji aku akan bahagia dengan cara ku, aku tidak menitipkan kedua putra ku pada suami ku tapi aku mohon sayangi mereka secara utuh, jika papa nya lupa akan mereka pasti mereka tidak akan merasa kehilangan karena cinta yang mereka dapatkan dari Oma dan Opa nya yang begitu besar"


"Aku pamit Ma, Pa, jaga kesehatan untuk kedua cucu mu"


"Maafkan Mama dan Papa yang membuat mu merasakan sakit nya pengkhianatan, semoga nanti kamu bisa menemukan pasangan yang benar-benar menjadi kan mu Ratu di istana nya" ucap Mama Melly yang juga berlinangan air mata, sungguh dia tidak ingin kehilangan menantu nya itu, tapi apa boleh buat kelakuan putra nya itu sungguh tidak lagi bisa di maafkan.


"Hubungi papa jika kamu membutuhkan bantuan, Papa sendiri yang akan datang untuk membantu mu"


"Pergi cari kebahagiaan mu"


Naomi mengangguk dia berjalan melewati suaminya yang kini sudah berdiri dari duduk nya, dia tidak ingin kehilangan istri nya itu tapi dia juga tidak bisa melepaskan kekasih nya begitu saja.


"Tunggu, bagaimana kalau dia menjadi madu mu saja?"